World Of Animation

World Of Animation
Kecemburuan Keira


__ADS_3

~Kau menahanku agar selalu bersamamu, tapi di saat yang bersamaan, kau juga menyakitiku dengan sangat kejam~


Grizzy


"Keira, kau sudah besar, tapi mengapa Levy lebih sempurna darimu? Apa kau tidak belajar?" Keira kembali menunduk kala mendengar ucapan Bibi Ellia yang selalu terulang hanya untuknya.


Dibelakang Bibi Ellia, ada Levy yang berdiri dan hanya melihatnya datar, tanpa ada ucapan penyemangat atau apapun itu.


"Levy, tunjukkan cara seorang Lady berjalan!"


Levy berjalan dari tempatnya dengan sangat anggun nan elegan, tak lupa dengan kepalanya yang terangkat menatap kedepan. Setelah berhenti, ia membungkuk hormat.


Prok ... prok ... prokk


Bibi Ellia memberi Levy sebuah tepuk tangan bangga, "Lihat? Seperti itu lah yang benar, Keira. Angkat kepalamu, buat dirimu tidak pantas untuk di kasihani."


Keira mulai berjalan mengikuti gaya Levy tadi, mengangkat kepala, perlahan dan perlahan Keira berjalan.


Brughh


Ia tersandung oleh kakinya sendiri dan terjatuh. Bibi Ellia hanya menghela napas, lalu memghampiri Keira.


"Kita sudahi pelajaran hari ini," ucap Bibi Ellia sambil membantu Keira.


Didalam hati, Bibi Ellia sangat kecewa dengan Keira. Seorang Putri Raja tidak bisa berjalan dengan benar, mau taruh dimana harga diri anggota kerajaan?


"Di waktu senggang nanti, belajarlah dengan Levy. Ah, kau tidak punya kesibukan, kan? Jadi, kau pasti akan sering belajar."


Keira merasa tertohok mendengar penuturan Bibi Ellia. Sakit, akibat perlakuan Bibi Ellia padanya. Sekuat tenaga Keira menahan tangisnya agar Bibi Ellia tidak mencemooh-nya lagi, tidak membandingkannya dengan Levy lagi, dan, tidak memandangnya kecewa lagi.


Bibi Ellia telah pergi, meningalkan Levy dan Keira berdua.


"Mari ku ajar. Ah, maaf, apa kau sibuk?" Ucap Levy.


Keira menatap tak suka pada Levy, "aku tidak ada kegiatan hari ini,"jawabnya.


"Sepertinya, Bibi Ellia benar."


"Apa kau bilang?"


"Tidak ada, mari kita belajar."


Mereka belajar sudah hampir dua jam, dan Keira masih juga sama. Terkadang, ia terjatuh dan sering menundukkan pandangannya. Levy tidak seperti Bibi Ellia yang langsung mengomentari Keira, Levy hanya menatap Keira tanpa minat.


"Ada apa denganmu, Keira?" Jengah Levy, ia sudah capek harus berulang-ulang mengajari Keira.


Keira tersenyum sinis, "harusnya aku yang bertanya seperti itu, Levy. Ada apa denganmu? Mengapa kau terlihat sombong? Apa karena Bibi Ellia sangat perhatian padamu? Panggilanmu untuk Ayah juga telah berubah," ujar Keira.


Alis Levy hampir hampir menyambung karena dahinya berkerut, rasa heran menyelimuti hatinya.


"Mengapa kau tidak menjawabku? Oh, apa itu benar?"


Mendengar itu, Levy mulai berdiri dengan angkuhnya, "ya, itu benar. Lalu, kenapa? Apa kau iri? Heh, buatlah dirimu pantas untuk di bangga kan, Keira. Jangan hanya menaruh rasa iri di hati tanpa usaha," ucap Levy.


Keira mengepalkan tangannya, "kau pikir yang selama ini ku lakukan apa, hah? Aku sudah berusaha, Levy. Tapi, kau selalu saja menyombongkan semua bakatmu, agar terlihat hebat di hadapan semua orang!" Seru Keira.


"Orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh tidak akan mengeluh, Keira. Kau hanya berusaha karena iri, bukan karena sungguh-sungguh. Kau selalu bermain dengan Kyllin, di saat aku belajar. Yang kau lakukan selama ini hanya bermain, apa kau pikir kau akan selamanya berada di istana ini? Tidak, Keira. Kau akan menikah nantinya." Kesal Levy.


Keira terdiam cukup lama, masih dengan tatapan yang mengarah langsung pada Levy. Tangannya terulur untuk melepas aksesoris yang melingkar indah di lehernya. Itu adalah kalung pemberian Levy.

__ADS_1


"Aku tidak butuh kalung jelek ini," ujarnya sambil membuang sembarang kalung itu.


Keira meninggalkan Levy begitu saja. Sementara, hati Levy terluka. Memang benar, awalnya Levy hanya membuat kalung itu tanpa memikirkan apapun. Tapi, seiring berjalannya waktu, kalung itu menjadi awal dari ikatan persaudaraan mereka.


Tanpa pikir panjang, Levy memungut kalung itu. Membersihkannya dari debu lantai. Tersenyum miris mengingat pertama kalinya ia memberikan kalung itu pada Keira.


"Ini menyakitkan, tapi hanya dengan cara ini, aku bisa pulang. Jika berada disini terus, aku akan terbiasa dengan harapan dan mulai melupakan kepastian," ujar Levy.


***


"Levyanna, mau kemana kau?"


Levy berbalik mendapati Sang Raja beserta pengawal yang setia menemaninya.


"Kembali ke kamar," jawab Levy.


Mata Levy tak sengaja menangkap sosok yang berada jauh dibelakang Sang Raja. Itu Keira yang sedang mengamati percakapan mereka. Buru-buru Levy mengubah mimik wajahnya.


"Ayah, aku ingin naik perahu berdua denganmu," ucap Levy dengan girangnya.


"Baiklah," balas Raja Ishid.


"Maaf, Yang Mulia. Tapi, anda ada rapat dengan Grand Duke Marzeek." Sahut salah satu pengawal.


"Batalkan sekarang juga," Sang Raja lalu membawa Levy ke danau, tanpa menghiraukan para pengawalnya.


Angin, berembus. Beberapa ekor kupu-kupu tak bertuan, saling berkejaran satu sama lain, melintasi danau yang jernih. Daun kering berjatuhan dari pohon, berterbangan di tiup angin sepoi-sepoi. Perahu sederhana, tapi indah kini menggerakkan badannya melintasi danau.


Bukannya merasa senang, Levy malah nampak termangu didepan Sang Raja. Dadanya masih merasakan perih, ingatan tentang Keira, membuatnya tersiksa. Ia sudah menganggap Keira sebagai saudari kandungnya, tapi ia juga masih ingin bertemu dengan, Jinyoung, adiknya.


"Ada apa denganmu, Levyanna?" Tanya Raja Ishid.


"Menurutku, anda sudah sangat sempurna, entah itu sebagai Raja maupun Seorang Ayah ...." ucap Levy sambil menatap sendu manik emas Sang Raja.


"Apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu, Levyanna?"


"Anda tidak akan mengerti,"


"Ayah akan berusaha untuk mengerti, apapu-"


"Berjanjilah." Potong Levy.


"Apa?"


Hening langsung menyapa mereka berdua, kala Levy telah mengatakan janji yang harus di tepati Sang Raja. Sepi, tak ada percakapan apapun, hanya hembusan napas yang telah menyatu dengan angin.


Senja datang lagi, tapi ia hilang begitu cepat. Terbawa arus mendung, kumpulan awan-awan hitam menggantung. Hari ini langit tampak sangat suram.


Dalam gelap, Keira menatap langit-langit. Masih dengan perasaan hampa yang sama dihati. Wajahnya begitu pahit, tidak terlihat senang. Bibir lembutnya datar tak berucap. Matanya sesekali menipis.


Aku senang menjadi diriku sendiri, mereka juga bahagia dengan sosok ku yang seperti ini. Tapi, mengapa tiba-tiba aku begitu takut dengan kehampaan? Apa aku melakukan kesalahan? Batin Keira.


Sesekali ia mengubah posisi tidurnya, mencari posisi yang nyaman.


"Apa aku akan terlupakan lagi?" Tanya Keira pada dirinya sendiri.


Suara jam semakin kencang, menari memenuhi telinga Keira. Ingatan tentang siang tadi membuat hatinya gundah.


Levy. Ini semua karena Levy. Dia mengambil semua kasih sayang yang seharusnya untukku. Bahkan, Bibi Ellia juga telah di ambilnya. Batin Keira.

__ADS_1


Kebencian di hati Keira makin lama makin menguasai dirinya. Pikiran jahat memenuhi kepalanya.


Aku tidak boleh kalah dari Levy. Batin Keira.


***


Mentari pagi telah menampakkan binarnya di ufuk timur, cahaya menyeruak masuk melalui celah tirai di kamar Keira. Gadis itu masih enggan beranjak dari tempatnya, masih ingin tidur, sepertinya.


Tok ... tok ....


Seorang Maid mengetuk pintu sebelum memasuki kamar Keira. Ia berjalan santai kearah tirai, lalu, menyibakkannya.


"Enghh ...." Keira mendudukkan dirinya bersandar bantal.


"Air untuk mandi dan peralatan lainnya sudah siap, Putri." Ucap Maid itu sopan.


"Baiklah, kau boleh pergi." Balas Keira, lalu beranjak dari tempatnya menuju kamar mandi.


Cukup lama Keira berada di dalam kamar mandi, akhirnya ia keluar juga. Saat keluar, ia langsung disambut oleh Maid yang berbeda lagi. Maid itulah yang akan membantunya memakai gaun dan mendandani wajahnya.


"Sarapan telah siap. Yang lain sudah berada di meja makan, Putri." Ucap seorang kepala pelayan yang baru datang.


"Aku mengerti." Begiti selesai berpakaian, Keira langsung menuju ke ruang makan.


"Selamat pagi," sapa Keira, saat dirinya sampai di ruang makan.


"Selamat pagi, Keira." Hanya Levy seorang yang membalas sapaannya.


Sang Raja dan Bibi Ellia tak berekspresi, hanya melirik sekilas pada Keira. Dan, hal itu sukses membuat hati Keira merasakan sakit.


Keira tak bisa makan dengan lahap, ia hanya meminum susu dan memakan sedikit roti. Lalu, ia pamit untuk kembali ke kamarnya.


Keira menggigit bibir bawahnya, berharap, jika semua ini hanyalah mimpi. Namun, ia tak juga berhasil bangun dari mimpi buruknya ini.


"Keira," sahut seseorang dari belakang.


Drapp ... drap ... drapp


Keira langsung berlari menghampiri pemilik suara tersebut, di peluknya orang itu dengan sangat erat.


"Tuan Kyllin!" Kata Keira.


"Hei, hei, ada apa denganmu? Cepat lepaskan. Ini, aku membawa buah untukmu." Kyllin menaruh kain yang berisi buah-buahan itu di tangan Keira.


"Untukku?" Tanya Keira.


"Sudah kubilang, kan? Ini untuk mu," kesal Kyllin.


Keira memakan apel pemberian Kyllin dengan airmata yang menetes.


"Hei, jangan menangis. Ada apa denganmu?" Kyllin menghapus airmata Keira.


"Levy ... Levy mengambil segalanya dariku. Kasih sayang Ayah dan Bibi Ellia tak lagi ada untukku. Aku ... aku sendirian disini,"


Seketika, raut wajah Kyllin menjadi aneh. Ia mengulurkan tangannya yang berbulu itu untuk mengelus surai lembut milik Keira.


"Kau tidak sendirian, Keira. Masih ada aku, Asgaf, dan yang lainnya," ucap Kyllin.


"Tapi ... tapi ...." Keira menangis sesegukan hingga kesusahan untuk berbicara.

__ADS_1


"Tenanglah, semua ini akan berakhir cepat. Tapi, aku tidak tahu akan berakhir buruk, ataukah bahagia,"


TBC


__ADS_2