
Levy, Keira, dan Sang Raja kini sedang menikmati tea time mereka. Namun, kali ini mereka memilih tempat di dekat danau.
Pohon besar yang berada tak jauh melindungi mereka dari binar sang mentari. Dedaunan melambai-lambai tertiup angin, menguping percakapan ayah dan anak itu.
Cemilan lezat telah tersedia, tersusun rapi di wadahnya. Kepulan asap yang keluar dari cangkir teh dengan ukiran yang indah itu, mengeluarkan aroma yang harum. Semua tertata rapi di atas meja bundar.
"Kapan Bibi Ellia akan datang, Ayah?" Tanya Keira antusias.
"Dia akan datang saat dia sudah sampai." Jawab Raja Ishid.
Apa aku harus menjauhi Keira? Atau aku harus bersikap baik pada Bibi Ellia? Atau saat ini juga, aku harus keluar dari istana? Batin Levy.
Levy tenggelam dalam pikirannya. Mengabaikan apa yang sedang terjadi di depannya. Membisukan telinga dan hanya berbicara pada dirinya sendiri.
Mungkin, aku harus menyerah pada takdirku. Aku tidak boleh merasa nyaman di dunia ini, disini bukan tempatku. Batin Levy.
"Levyanna, ada apa denganmu?" Tanya Raja Ishid.
Levy tak bergeming, Keira berulang kali memanggil namanya, tapi tak ada sahutan dari Levy.
"Akhh ...." cangkir teh yang sedang di pegang oleh Levy terlepas dari jemarinya, akhirnya terjatuh mengenai meja dan pecah.
"Levy, kau tidak apa-apa?" Tanya Keira yang sudah berdiri di sebelah Levy.
"Aku hanya terkena percikan tehnya, jangan khawatir." Ucap Levy, sambil mengibaskan gaunnya.
Sang Raja mengulurkan tangannya, ia mengeluarkan sihirnya untuk membersihkan gaun milik Levy, sedangkan pecahan gelas itu di bereskan oleh Maid.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Levyanna?" Tanya Raja Ishid.
Keheningan mulai menghiasi taman. Kicauan burung semakin keras, memenuhi gendang telinga. Levy kembali duduk di kursinya, menghirup udara dalam-dalam.
"Yang Mulia, apa anda menyayangiku?" Tanya Levy menatap lurus manik emas Sang Raja.
Sang Raja terheran, alisnya hampir saja menyatu, "mengapa kau menanyakan itu?"
"Tolong jawab."
Keira sudah tahu apa yang akan di katakan oleh Levy, tapi ia juga tidak berniat untuk menyela pembicaraan itu. Jujur saja, Keira juga penasaran. Apa Sang Raja menyayangi mereka?
"Ayah menyayangi kalian. Tidak kah yang Ayah lakukan selama ini membuktikan rasa sayang Ayah?"
"Terimakasih untuk perhatian anda selama ini, tapi jangan menyayangiku. Cukup Keira saja, karena aku tidak membutuhkan rasa sayang dari anda."
"Apa?" Tanya Raja Ishid.
"Haruskah ku ulangi ucapanku? Sepertinya, tidak. Yang Mulia tidak memiliki gangguan pendengaran, kan?"
"Keira, apa yang di katakan saudarimu ini?" Terlihat jelas dari suara Sang Raja, kalau ia kesal.
"Sepertinya anda perlu waktu untuk mencerna penjelasan dari Keira ...." Levy berdiri, lalu membungkuk hormat.
"Saya permisi, Yang Mulia." Salam Levy, lalu meninggalkan Ayah dan anak itu.
"Keira?" Keira menatap Sang Raja.
"Aku tidak tahu, Ayah. Levy juga mengatakan hal itu padaku," ucap Keira.
Keira tidak ingin menceritakan yang sebenarnya, karena ia tahu, Sang Raja tidak akan percaya dengan 'takdir' yang di katakan oleh Levy. Bagi Sang Raja, takdir hanyalah omong kosong yang di percayai oleh manusia bodoh. Jalani hidup sesukamu, karena itu hidupmu. Lakukan apa yang kau mau, karena kelak kau akan mempertanggung jawabkannya. Begitulah Sang Raja menjalani hidupnya.
***
"Bibi!!" Seru Keira, lalu berlari menghambur pelukan pada wanita paruh baya yang baru saja melewati pintu utama.
Wanita itu, Ellia Reinhart, adalah seorang Duchess di kerajaan tetangga. Pernikahannya adalah pernikahan politik yang dapat mempererat hubungan antar kerajaan. Sayangnya, mereka tidak di anugerahi seorang buah hati. Itu sebabnya, Bibi Ellia sangat menyayangi Keira.
"Keira? Wah, kau sudah besar sekarang ...." ia membalas pelukan Keira tak kalah erat, "dulu, kau sangat kecil." Lanjutnya sambil terkekeh.
"Selamat datang, Ellia." Sambut Raja Ishid mengakhiri acara pelukan itu.
__ADS_1
Keira melepaskan pelukannya.
"Segala keagungan dan berkat kepada cahaya Claude." Salam Bibi Ellia.
Bibi Ellia melirik tajam pada Levy. Tergambar jelas di wajahnya jika ia tidak menyukai keberadaan Levy.
"Selamat datang," sambut Levy menunduk hormat.
"Kau sudah besar ya," Levy hanya tersenyum kecil.
Jangan berbicara padaku jika kau tidak ingin. Batin Levy.
"Mari kita ke ruang tamu," ajak Keira.
Mereka ber-empat pun berjalan menuju ruang tamu istana. Di sana, telah tersaji cemilan dan teh hangat. Keira duduk berdampingan dengan Bibi Ellia, di depannya ada Levy dan Sang Raja dengan wajah datar. Saat seperti itu, mereka terlihat sangat mirip.
Mereka berbincang cukup lama. Ah, bukan mereka, tapi hanya Keira dan Bibi Ellia. Levy hanya berbicara saat di tanya, begitu pun dengan Sang Raja. Keira terlihat sangat bahagia, mungkin, karena ia sudah menganggap wanita yang di sampingnya itu seperti ibunya sendiri.
Langit senja mulai tergambar indah di bumantara, menandakan kedatangan sang rembulan. Binar sang mentari telah redup. Malam yang kelam seperti jeda, bagi manusia yang lelah dengan misteri dunia.
Levy berdiri di balkon kamarnya. Menatap lekat pada rembulan dan bintang-bintang. Angin malam yang dingin, membawanya pada kenangan masa lalu bersama Jinyoung. Ia sangat rindu dengan percakapan tidak jelasnya bersama Jinyoung yang selalu membuatnya tersenyum.
"Bagaimana kabarmu?"
Levy sangat berharap agar Jinyoung bisa mendengarnya. Di ceritakannya kenangan masa lalunya pada malam dan kesendirian, dengan airmata yang membasahi pipi dan ukiran senyum di bibir agar terlihat kuat.
Tok ... tok ....
Ketukan pintu membuat Levy menghentikan ceritanya. Dengan segera, ia menghapus jejak airmata di wajahnya. Di bukanya pintu itu, menampilkan sosok wanita yang sangat elegan.
"Ada keperluan apa, Bibi Ellia?" Tanya Levy.
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu,"
Levy pun mempersilakan Bibi Ellia masuk, lalu menutup pintu kamarnya. Mereka berbincang dengan serius, sesekali wajah Bibi Ellia terlihat aneh. Perbincangan itu tidak berlangsung lama, Levy membuka kembali pintu kamarnya untuk Bibi Ellia keluar.
Begitu Bibi Ellia telah hilang dari pandangannya, Levy segera menutup pintu. Bukannya berjalan ke tempat tidurnya, Levy malah berjalan ke arah balkon. Di bukanya tirai balkon itu.
"Perjanjian macam apa yang kau lakukan dengan wanita tua itu, Levy?"
"Aku tidak melakukan perjanjian,"
"Berhentilah bersikap seperti itu, Levy. Keira sangat menyayan ...."
"Sudah ku katakan padanya untuk berhenti menyayangiku, kan? Aku tidak ingin terbiasa dengan harapan, dan melupakan kepastian."
"Jangan melakukan hal bodoh yang akan kau sesali nantinya,"
"Aku sudah pernah melakukan hal bodoh yang membuatku hidup seperti ini. Dan, aku akan melakukan hal bodoh lain yang dapat mengembalikan hidupku."
"Bisakah kau berhenti mengatakan hal aneh? Kau selalu saja mengatakan hal yang tidak dapat di mengerti, Levy."
"Tenanglah, suatu saat nanti, kau akan mengerti masalah ini. Suatu saat nanti, masalah ini akan masuk akal dan terselesaikan."
"Tapi, pada saat yang sama, akan muncul masalah yang lain."
Levy terdiam sejenak, lalu menutup kembali tirainya. Di langkahkan kakinya menuju tempat tidur. Berusaha melupakan apa yang baru saja di dengarnya dengan cara melabuhkan dirinya di pulau mimpi.
***
"Bibi, lihatlah buatanku ini. Bagus, kan?" Keira menunjukkan sulaman bunganya pada Bibi Ellia.
"Sangat bagus, Keira. Tapi, pemilihan warnamu masih keliru. Lihatlah milik Levy, itu adalah sulaman yang sangat sempurna." Ucap Bibi Ellia dengan senyum palsunya.
"Terima kasih," sahut Levy tanpa mengalihkan pandangan dari sulamannya.
Keira penasaran dengan sulaman milik Levy. Ia pun mendekatkan dirinya.
Wah, sulaman Levy sangat bagus. Sejak kapan dia bisa menyulam sebagus ini? Batin Keira.
__ADS_1
"Keira, kemarilah." Panggil Bibi Ellia.
Keira pun berbalik, tanpa sengaja ia menyenggol tangan Levy, hingga akhirnya, Levy tertusuk jarum di jari lentiknya itu.
"Akhh ...." ringis Levy, sambil memegang jarinya.
"Ah, maaf, Levy. Aku tidak ...."
"Astaga, Keira. Apa yang kau lakukan?" Bibi Ellia meniup jari Levy penuh kasihsayang.
"Bibi, aku tidak sengaja menyenggolnya." Ucap Keira.
"Hufft ... bagaimana bisa kau menyenggolnya? Bukankah saat pelajaran etika sudah di ajarkan cara seorang Lady untuk bergerak?" Bibi Ellia menaikkan sedikit volume suaranya.
"Itu ... aku ... bibi, aku ...." cicit Keira yang terdengar seperti orang bergumam.
"Aku tidak apa-apa, jarum kecil ini tidak akan membunuhku," sahut Levy.
"Keira, panggil Maid untuk mengobati Levy."
Keira mengangguk dan segera keluar. Beberapa saat kemudian, Keira datang bersama Maid. Hati Keira sedikit teriris, kala melihat pemandangan di depannya. Bibi Ellia berbincang dengan Levy dengan senyum yang terukir di wajahnya. Senyum yang tidak pernah di lihat Keira.
Apa yang kau pikirkan, Keira? Bukankah bagus, jika Bibi Ellia menyayangi Levy? Ya, itu bagus. Batin Keira.
Keira membuang jauh-jauh pikiran negatif yang sempat singgah di kepalanya. Ia duduk di hadapan Bibi Ellia dan Levy.
"Sudah selesai, Tuan Putri." Ucap Maid yang mengobati jari Levy.
"Terima kasih," balas Levy.
Maid itu mengangguk, lalu menunduk hormat sebelum meninggalkan ruangan. Bibi Ellia mengelus sayang kepala Levy.
"Hari ini sangat cerah, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?" Usul Bibi Ellia.
"Itu ide yang bagus. Keira, kau mau ikut dengan kami?" Tanya Levy.
"Te-tentu saja, mari kita pergi ke taman," jawab Keira sedikit gugup, entah apa yang membuatnya seperti itu. Mungkin, karena ia melihat pemandangan di depannya.
Bunga-bunga bergoyang di hempas sang bayu. Melambai, mengintip apa yang sedang di lakukan oleh ketiga wanita cantik itu. Di taman yang luas itu, aroma bunga sangat harum tercium.
Levy berjalan mendekati bunga Dandelion, di petiknya bunga itu. Ia meniup bunganya hingga terbanglah bibit-bibit Dandelion. Bunga lily yang berada di sebelah, berhasil mencuri perhatian Levy. Levy memetik beberapa batang. Lalu, memberikannya pada Bibi Ellia.
Pada saat yang bersamaan, Keira baru saja datang membawa mawar putih untuk Bibi Ellia. Keira segera menyembunyikan mawarnya kala melihat Bibi Ellia sudah menerima bunga dari Levy. Senyum pahit terukir di wajah cantiknya, lalu, membuang bunga mawarnya sebelum menghampiri Levy dan Bibi Ellia.
"Lihat, Keira. Bunga Lily ini sangat cantik, seperti Levy," ujar Bibi Ellia dengan senyum yang mengembang.
Keira berusaha tersenyum mendengarnya, "iya, Bibi. Bunganya sangat cantik," balas Keira, sambil meremas jemarinya di belakang gaunnya.
"Terima kasih," sahut Levy tersenyum.
"Ternyata, kalian berada di sini," sahut seseorang dari belakang.
"Ay ...."
"Ayah!" Seru Levy memotong ucapan Keira.
Sejak kapan dia menyebut 'ayah'? Batin keira.
"Kami sedang jalan-jalan. Apa Ayah mau ikut?" Ajak Levy sambil memegang tangan Sang Raja.
Tak ingin kalah, Keira langsung menghampiri Sang Raja lalu memeluk tangan yang kosong.
"Apa Ayah sibuk?" Tanya Keira.
"Tidak, mari kita jalan-jalan," ujar Raja Ishid.
Mereka pun berjalan-jalan, sesekali mengurai gelak tawa, layaknya sebuah keluarga yang utuh. Tapi, bagi Keira hari itu adalah hari yang membuat hatinya teriris. Ia merasa kasih sayang Sang Raja dan Bibi Ellia sangat berat sebelah. Mereka terlalu perhatian pada Levy, seakan tidak ada dirinya di antara mereka.
Keira juga ingin di perlakukan sama dengan Levy, ia juga butuh kasih sayang yang sama. Ia tidak ingin di abaikan, di lupakan, dan di tinggalkan. Tanpa Keira sadari, dalam hatinya telah tumbuh benih kebencian terhadap Levy.
__ADS_1
TBC