
Mereka tahu, bahwa Levy berbohong ingin melihat sesuatu. Rupanya, ia hanya ingin berbicara dengan Loki. Bahkan, tempat mereka berbicara dapat dilihat dengan jelas oleh keempat orang yang mereka tinggalkan.
Mula-mula, mereka terlihat berbicara serius, namun diakhir, mereka sesekali mengurai gelak tawa. Loki juga mengelus surai lembut milik Levy, dan dengan sihirnya, ia mengambilkan Levy setangkai mawar merah tanpa duri.
"Ternyata, kalian butuh waktu yang lama hanya untuk bercanda gurau, ya," cibir Zero, melirik sekilas pada Loki yang baru datang bersama Levy.
"Urus saja urusanmu sendiri," sahut Jin.
"Harusnya, aku yang mengatakan hal itu," balas Zero.
Tatapan kedua pemuda itu seakan mengeluarkan listrik. Suasana diantara mereka sangat mencekam.
Kapan mereka akan berhenti. Batin Magma.
Tak sengaja, Magma melihat Levy yang tersenyum. Bukan senyum manis ataupun sinis, melainkan senyum yang seperti mengatakan kedua pemuda itu hanya mengeluarkan sampah dari mulut mereka. Magma yang merasa lucu dengan eskpresi Levy, akhirnya menegurnya, "Levy, tolonglah, kontrol ekspresimu," ucap Magma sambil terkekeh.
Levy tersentak, mimik wajahnya langsung berubah. Ia segera menampilkan senyum yang lain pada Magma, "Apa maksudmu?" Tanya Levy dengan senyum simpul.
"Kau tahu, kan. Kau sangat tidak cocok tersenyum seperti itu,"
"Tidak, hanya kau yang tahu,"
"Ya, kau benar. Lagipula, hanya aku yang tahu arti senyumanmu itu,"
"Aku tidak tahu, aku harus senang atau marah." Ucapannya itu mengundang gelak tawa untuk Magma.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Elzel.
"Bukan apa-apa. Bagaimana kalau kita pulang saja?" usul Levy.
"Aku setuju," sahut Zero.
"Bagaimana dengan misimu?" Tanya Loki.
"Biarkan saja," balas Levy.
"Levy, kau akan meninggalkanku?" Tanya Jin.
"Disini adalah sarangmu, mengapa Levy harus mengajakmu?" Balas Zero.
"Sepertinya, mencampuri urusan orang lain adalah hobimu," sinis Jin.
"Heh! Kalian bukan anak kecil lagi, berhentilah bertengkar. Levy dan Elzel sangat membenci makhluk seperti itu." Perkataan Loki berhasil membuat kedua pemuda itu terdiam.
Akhirnya, Jin melepas kepergian Levy. Walaupun beberapa hari setelahnya, ia selalu datang ke Guild untuk bertemu dengan Levy. Hanya untuk melihat Levy.
Anggota Guild banyak yang penasaran dengan hubungan Levy dan Jin. Namun, mereka tak langsung bertanya, melainkan menyimpulkannya sendiri. Menurut Levy, itu hal biasa. Terserah mereka ingin berbicara apa, toh itulah yang namanya hidup. Tak ada hari tanpa membicarakan seseorang.
Jin selalu mengikuti kemanapun Levy pergi, bahkan saat menjalankan misi. Ia selalu berada tak jauh dari Levy. Dan, hal itu, membuat salah satu dari teman Levy, merasa kesal dengan tingkahnya. Seperti sekarang, Jin sedang beradu mulut dengan Zero.
Hanya orang bodoh yang mau menghentikan pertengkaran itu. Pertengkaran yang hanya akan berhenti sejenak, dan saat mata mereka bertemu, pertengkaran pun terjadi lagi.
__ADS_1
"Kalau ingin bertarung, cukup katakan saja. Aku akan meladenimu, walaupun kau lemah," ucap Zero sambil mengeluarkan pedangnya.
"Oho ... kau sangat sombong rupanya. Baiklah, tapi jangan menangis kalau aku mengalahkanmu," balas Jin, dari telapak tangannya terukir lingkaran sihir kecil, lalu keluarlah pedang.
Bermula dari adu mulut, dan berakhir dengan adu jotos. Itulah kebiasaan Zero dan Jin. Setiap bertarung hasilnya selalu seri. Keduanya tumbang bersamaan atau pertarungan itu dihentikan oleh Master Kilua. Namun, saat ini, Master Kilua tidak bersama mereka, yang artinya kedua rival itu akan bertarung sampai mereka lelah.
"Levy, aku sudah lelah melihat tingkah mereka," rengek Elzel.
"Bukan hanya kau, Elzel. Tapi, kami juga," sahut Magma.
"Hentikan mereka, Levy. Buat mereka pingsan," ujar Loki menatap lelah pada dua rival di hadapannya.
Levy menghela napas, lalu memanggil makhluk sucinya, "Datanglah, Dreamy"
Muncullah sosok gadis kecil dengan sedotan besi di tangan kanannya, "Akhirnya, kau memanggilku, Levy," ucapnya.
"Sering-seringlah datang dengan kekuatanmu sendiri, Dreamy," balas Levy cuek.
"Kau tahu,kan. Itu hal yang sulit bagiku. Dasar bocah," kesal Dreamy.
"Terserah kau saja. Tolong buat mereka pingsan." Levy menunjuk Zero dan Jin yang masih bertarung.
"Apa mereka orang bodoh?" Tanya Dreamy.
"Walaupun mereka bodoh dan entah dimana mereka menjual otaknya, tapi kau jangan menghina mereka," balas Levy.
"Levy, kau manusia paling kejam yang pernah ku temui," sahut Magma, membuat Elzel dan Loki tertawa.
Tak mau berlama-lama, Dreamy langsung menaruh sedotan besinya di mulut. Salah satu ujungnya mengarah pada Zero dan Jin. Terlihat ia menarik napas, lingkaran sihir muncul di ujung sedotan. Hampir tak terlihat, sebuah jarum kecil langsung melesat cepat kearah Zero dan Jin. Setelah tertusuk, mereka tak dapat bergerak. Sedetik kemudian, kesadarannya pun hilang.
"Kerja bagus, Dreamy. Sampai ketemu lagi," ujar Levy sebelum menutup gerbang Dreamy.
"Bye-bye," balas Dreamy.
"Hufftt ... sekarang apa?" Tanya Elzel.
"Mengikat mereka. Lebih bagus lagi, menggantung mereka." Magma berjalan kearah dimana Zero dan Jin pingsan. Di tangan kirinya, sudah ada tali panjang yang entah darimana.
Loki ikut serta membantu Magma mengikat kedua rival itu. Mereka menyeret dan mengikatnya di pohon yang cukup besar.
Loki menepuk-nepuk kedua tangannya, "Nah, sudah beres. Ayo kita pergi, misi kita belum selesai," ucapnya girang.
"Bagaimana kalau mereka di terkam binatang buas?" Khawatir Elzel.
"Kau mengkhawatirkan hal yang percuma, Elzel." Levy mendahului mereka pergi ke tempat misi.
Walaupun khawatir, tapi Elzel tetap pergi dengan mempercayai perkataan Levy. Mereka ber-empat pun menuju keluar hutan untuk mencapai kota selanjutnya.
"Mengapa kita tidak berteleportasi saja?" Tanya Magma yang mulai merasa pegal di kakinya.
"Terlalu boros sihir, dan kakuatanmu akan bertambah dengan berjalan kaki," jawab Loki, membuat Magma mendengus kesal.
__ADS_1
"Datanglah, Manticore"
Tiba-tiba, Levy memanggil makhluk mitos yang baru saja membuat kontrak dengannya. Makhluk itu muncul dari bawah kaki Magma, akhirnya, Magma pun naik diatas punggung Manticore.
Tak sampai disitu, Levy menarik kerah bagian belakang baju Elzel, lalu membuangnya keatas tubuh Manticore. Untung saja, Magma dengan sigap menangkapnya.
"Kau membuatku terkejut, Levy," sungut Elzel.
"Kapan lagi kalian bisa menaiki makhluk yang hampir membunuh kalian," ujar Levy.
Magma tersenyum penuh arti, "wahh ... Levy, rupanya kau seperti itu toh," ucap Magma.
"A-apa?" Tanya Levy curiga.
"Ucapanmu saja yang kasar, tapi kau baik dengan caramu sendiri. Hmm ... itu membuatku terharu, kau bahkan rela berjalan disaat kami menaiki makhluk kontrakmu,"
Mendengar itu, Levy langsung memalingkan wajahnya. Telinganya terlihat memerah. Ia tidak menanggapi perkataan Magma.
"Hei, apa kau malu? Hahaha ..." ejek Magma.
"Di-diamlah!" Teriak Levy.
"Kau sangat imut, Levy." Loki mengacak-acak rambut Levy.
"Hoho? Ada apa dengan kalian? Apa kalian berpacaran?" Tanya Elzel mulai menjahili mereka.
"Nice, Elzel," bisik Magma.
"Hm? Mengapa kau ingin tahu?" Loki menurunkan tangannya. Melatakkannya di bahu Levy.
Elzel dan Magma saling pandang, "begitu rupanya," ucap mereka bersamaan, tak lupa dengan senyum mereka.
"Apa yang kau lakukan?" Kesal Levy pada Loki.
Tanpa berniat untuk menarik tangannya, Loki hanya tersenyum menghadap Levy, "Merangkul seorang wanita. Oh, apa kau tidak nyaman? Mau ku gendong?" Balas Loki.
"Uwaaah ... apa-apaan cahaya pink itu?!!" Seru Magma sambil menutup matanya.
"Apakah ini yang dinamakan benci jadi cinta? Seperti di novel!!" Seru Elzel dengan mata yang berbinar.
Elzel sangat menyukai kisah romantis, ia banyak membaca buku cerita romantis. Dan, ia sangat ingin melihatnya langsung. Hari ini, mimpinya menjadi kenyataan.
Levy terkekeh, lalu bergumam. "Tentu saja seperti novel, ini kan memang animasi yang diangkat ... dari novel? Eh? Hah?"
Levy bingung sendiri dengan apa yang diucapkannya.
"Ada apa, Levy?" Tanya Loki.
Levy menggeleng, "bukan apa-apa," balas Levy.
Novel? Animasi? Apa hubungannya dengan ingatanku? Batin Levy.
__ADS_1
TBC