
"Apa? Bagaimana caranya?" Tanya Levy.
"Sepertinya dia melakukan gerakan ini ...." Jin mulai menampilkan gerakan-gerakan aneh dan malah mirip seperti orang yang kesurupan, "... begini!!!" Serunya.
"Ritual apa yang kau lakukan? Memanggil hantu? Dewa? Atau Doraemon?" Heran Levy.
Jin menggaruk kepalanya, "Aneh, seharusnya seperti itu." Bahkan dirinya sendiri ikutan heran.
"Sudahlah, kita cari kekuatan lain saja," usul Levy sebelum Jin kembali melakukan ritual aneh.
"Yah ... kalau kekuatannya sih banyak yang aku tahu, tapi kak, yang tidak kita tahu itu, bagaimana caranya!!!" Jin mulai merasa frustasi.
Levy mengangguk-anggukan kepalanya, "Hm ... hm ... coba saja kau sedikit pintar, pasti kita akan tahu bagaimana caranya," ucap Levy.
"Iya juga, coba saja kakak punya otak, kita pasti bisa," tambah Jin.
"Barusan, kau mengatai kakakmu, hah?" Kesal Levy.
"Tidak, tuh. Kakak salah dengar,"
"Haiihh, sudahlah. Kita tidak punya waktu untuk berdebat." Levy mengalihkan pandangan ke teman-temannya yang sedang bertarung.
"Pergilah, Jin. Aku akan memikirkan cara lain,"
"Cara lain apa?"
"Percayalah pada kakakmu ini." Jin pun menuruti perkataan kakaknya, ia kembali bertarung bersama Irwin. Sedangkan, Levy masih berdiam diri di tempatnya, sesekali ia membantu Keira menyerang ayahnya dari kejauhan.
Krekkk
Levy menghancurkan sebuah batu kecil yang ada di depannya, lalu ia mengulurkan tangannya, mengeraskan tubuhnya, berusaha memperbaiki kembali kerusakan yang ada di batu kecil itu.
"Nghhhh ... nggggg ...." Levy terlihat seperti sedang menahan BAB yang sudah 10 hari tidak keluar.
Srekk
Mulut Levy membulat sempurna, bola matanya seakan mau keluar, bagaimana tidak, retakan yang ada di batu tadi mulai hilang, walau hanya sebesar kotoran cicak.
"Aku berhasil!!!" Seru Levy sembari melihat batu itu.
Namun, sedetik kemudian, raut bahagia di wajahnya pupus. Ia berjongkok dengan jari yang menggambar lingkaran di tanah.
"Kalau hanya segini, sepertinya kami akan mengantri di jalur akhirat duluan," kecewa Levy.
Plakkk
Levy menampar pipinya sendiri dengan keras, "Jangan patah semangat, aku harus mencoba lagi!!!" Seru Levy, ia kembali memikirkan sesuatu yang lain lagi.
"Levy, jangan bermain di tanah!!! Itu kotor!!!" Teriak Keira di sela-sela pertarungan.
"Jangan semangat, tetaplah putus asa, Levy!!!" Tambah Magma.
"Diamlah, kalian. Aku tidak bisa berkonsentrasi!!!" Balas Levy.
"Bisa-bisanya kalian bertengkar disaat seperti ini, aku tidak habis pikir," gumam Kyllin.
Levy kembali berkonsentrasi, ia mengerahkan segala tenaganya hingga kepalanya mengeluarkan asap.
"Nghhhh ... Arghhh!!! Aku tidak tahu lagi!!!" Kesal Levy, ia tidak bisa menemukan cara lain.
__ADS_1
Duarrr
Betapa kagetnya ia saat tepat di depannya terjadi ledakan kecil. Batu yang tadi meledak tiba-tiba.
"Apa aku melakukan sesuatu, barusan?" Heran Levy.
Ia mengamati tempat batu tadi, sangat fokus. Setelah beberapa saat menatap batu itu, Levy beralih menatap telapak tangannya. Sedetik kemudian, terdengar helaan napas lagi dari wanita itu.
"Andai saja aku punya kekuatan super yang sangat luar biasa, yah ... paling tidak seperti omnipotence, eh?" Levy menyadari sesuatu.
"Jinyoung, omnipotence itu apa?!!!" Jin yang sedang bertarung terdiam sejenak, mencari jawaban untuk kakaknya.
"Super power, kekuatan tanpa batas, bermacam-macam!!!" Balas Jin, lalu kembali fokus menghadapi Asgaf.
Levy mencerna sejenak ucapan Jin, "Artinya, kekuatan itu bisa menciptakan tidak mungkin menjadi mungkin, keren juga," gumam Levy.
Levy merentangkan kedua tangannya, tepat di bawah kakinya, terukir lingkaran sihir berwarna putih. Levy mulai membayangkan sesuatu, "Muncullah, Griffin!!!" Seru Levy dengan mata yang terpejam.
"Kwaakkkkkk!!!" Suara melengking itu sukses mencuri perhatian, sosok yang tidak beda jauh ukurannya dengan Manticore, berupa badan singa, tapi bersayap dan berkepala burung rajawali. Makhluk mitologi, Griffin sang Raja hewan buas dan penguasa udara berdiri tepat di hadapan Levy.
"Kyaaaaa!!! Jinyoung, tolong aku!!!" Jerit Levy saking kagetnya.
"Apa yang kau lakukan, dasar bodoh!!!" Kesal Jin, ia tidak habis pikir dengan tingkah kakaknya itu dan ia juga tidak bisa menolongnya untuk saat ini.
"Hai, kawan!!! Ternyata kau bisa juga berkunjung ke dunia ini!!!" Seru Manticore dari kejauhan.
"Ini bagaikan keajaiban bagiku. Aku harus berterima kasih pada manusia ini." Griffin itu menundukkan kepalanya di hadapan Levy.
"Jinyoung, dia bisa berbicara!!!" Jerit Levy, lagi.
"Memangnya apa yang tidak bisa di dunia ini, hah?!!" Geram Jin.
Levy balas membungkukkan badannya pada Griffin, "Aku hanya tidak sengaja memanggilmu," ucapnya.
"Sengaja atau tidak, aku akan mengikuti mu selamanya," balas Griffin.
"Hmm ... kalau begitu, apa kau bisa menolongku?"
"Apapun untukmu,"
"Bisakah kau membantu saudariku? Aku masih ada urusan di sini." Levy menunjuk ke arah Keira.
"Akan ku pertaruhan nyawaku untuk membantunya!!!" Griffin segera melesat menghampiri Keira.
"Itu terlalu berlebihan. Ahhh, aku tidak tahu lagi."
Levy kembali melanjutkan percobaannya, akhirnya ia mulai mengerti bagaimana cara menggunakan Omnipotence. Kekuatan itu lebih berpusat pada seberapa luas imajinasi seseorang, namun ada satu efek samping yang Levy rasakan setelah memanggil Griffin, tubuhnya mulai mati rasa, Mana yang mengalir keluar dan kontraknya dengan makhluk suci perlahan retak.
Levy yang menyadari itu, mengurungkan niatnya untuk mencobanya lagi. Sepertinya tidak baik jika ia terus-menerus mengujicoba kekuatan itu, bisa-bisa ia akan kehabisan Mana sebelum menyelamatkan ayahnya. Kini, ia hanya perlu memikirkan cara untuk menghilangkan aura iblis dari ayahnya, Asgaf, dan Zero.
Levy yang sedang mengamati ayahnya, tidak sengaja melihat penghalang yang tadi muncul karena dirinya, "Sepertinya, itu milikku," ucapnya.
"Bagaimana cara untuk mengubah bentuknya, ya?" Levy kembali dibuat memutar otaknya lagi.
"Levy, awas!!!" Teriak Keira saat Raja Ishid mengubah haluannya. Levy yang sedang tidak siap, tidak bisa menghindari serangan ayahnya.
Jlebbb
Tangan Raja Ishid berhasil melubangi perut Levy, "Matilah kau," ucap Raja Ishid.
__ADS_1
Darah segar mulai mengalir dari perut Levy, juga dari mulutnya. Tangan Raja Ishid masih di tempat yang sama. Anehnya, Levy tidak merasakan sakit, mungkin itu akibat dari memanggil Griffin, tadi.
"Levy!!!" Teriak Keira dan yang lainnya.
Bukannya menjauh, Levy malah semakin mendekatkan dirinya pada ayahnya. Kedua tangannya terulur untuk memeluk pria di hadapannya itu. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Bukankah ayah pernah mengatakan akan melindungi ku dan Keira? Lantas, mengapa ayah melakukan ini pada kami?" Isak Levy.
"Levy, menjauhlah!!!" Keira dan Elzel berlari sekuat tenaga menghampiri Levy.
Seakan tidak mendengar peringatan kedua wanita itu, Levy masih saja mengeratkan pelukannya.
"Sihir cahaya: Rantai kesucian"
Tubuh Raja Ishid, Asgaf, dan Zero kini terlilit oleh rantai emas. Rantai kesucian, biasanya digunakan oleh Raja Ishid untuk menahan para musuh saat di medan perang dahulu. Rantainya akan melilit siapa saja yang diinginkan oleh pemiliknya.
"Griffin, keluarkan semuanya dari penghalang ini, bagaimanapun caranya." Griffin mengangguk tanda mengerti, ia mulai mengambil posisi sempurna, bersiap mengeluarkan jurus andalannya.
"Penjara bayangan"
Keira dan yang lainnya kehilangan pijakan mereka, lalu jatuh kedalam lubang bayangan milik Griffin. Seperti namanya, setelah jatuh ke dalam lubang itu, mereka berpindah tempat, tepat berada di penjara milik Griffin yang berada di luar penghalang milik Levy.
Levy melepaskan pelukannya, juga tangan ayahnya dari perutnya. Satu tangannya ia pakai untuk memegangi perutnya, satunya lagi ia ulurkan ke udara, berniat mengecilkan ukuran penghalangnya. Setelah itu, ia mendekatkan ketiga tahanannya tadi agar lebih mudah baginya untuk mengaktifkan kekuatannya.
"Keluar dari sana, Levy!!!" Teriak Keira.
"Jangan gila kau!!!" Umpat Jin.
"Griffin, keluarkan kami!!!" Geram Manticore.
"Aku tidak bisa menentang perintahnya, Core," balas Griffin tanpa melihat lawan bicaranya.
"Kau pikir sampah ini bisa mengurungku?!!" Kyllin mengendalikan tubuh Keira, ia menghancurkan atau lebih tepatnya memusnahkan penjara Griffin hingga tidak bersisa.
Langkah mereka terhenti oleh penghalang milik Levy, sekuat apapun mereka, mereka tidak bisa melewati penghalang itu. Sampai kapanpun mereka menyerangnya, sekuat apapun kekuatan mereka, penghalang itu tidak juga hancur. Di depan sana, Levy berdiri menghadap ke arah ayahnya, Asgaf, dan Zero, ia menatap mereka sendu.
"Bukankah perkataan akan melindungi ku keluar dari mulut kalian? Apakah perkataan itu keluar begitu saja? kalian bertiga berjanji untuk melindungi ku, tapi kenapa perkataan itu tidak pernah kalian lakukan?!!!" Teriak Levy dengan derai air mata.
"Jawab aku, ayah, Asgaf, Zero!!! Kalian mengatakan kalian menyayangiku, tapi apa? Apa yang kalian lakukan sekarang?!!!" Levy merasa dirinya sangat bodoh, sebanyak apapun ia mengeluarkan air mata, sesakit apapun luka yang ia derita, ketiga orang yang ada dihadapannya tidak akan tahu dan tidak akan peduli.
Levy menghapus jejak air matanya, lalu berbalik menghadap ke arah Keira dan yang lainnya. Tangannya masih terangkat satu, ia menampilkan senyum lebar di wajahnya, "Aku sangat kuat, kan?" Ujarnya.
"Apa lagi yang ingin kau lakukan?!!" Teriak Jin.
"Apapun yang ingin kau lakukan, hentikan itu sekarang, Levyanna!!!" Tambah Keira.
Lingkaran sihir putih terukir lagi, namun ukurannya lebih besar dibandingkan tadi dan bukan hanya satu melainkan banyak lingkaran yang saling menimpa. Lingkaran-lingkaran itu mencakup Levy, Raja Ishid, Asgaf, dan Zero di dalamnya. Levy mulai membayangkan sihir yang akan digunakannya untuk mengembalikan mereka seperti semula.
Masih dengan senyuman yang sama, Levy mengangkat satu tangannya lagi ke udara, "Lihatlah, Jinyoung. Kakakmu ini adalah si jenius terhebat."
"Jenius apanya?!!!" Jin memukul-mukul Penghalang itu sekuat tenaganya.
"Levy ... Power!!!" Seru Levy.
Sedetik kemudian, semua lingkaran sihir itu berputar. Dalam putarannya yang cepat, menimbulkan gesekan yang akhirnya menjadi aliran listrik. Bersamaan dengan itu, Tubuh Levy ambruk ke tanah.
"Levy!!!!" Teriak Keira dan yang lainnya.
"Jangan lagi, kumohon," cicit Jin.
__ADS_1
TBC