World Of Animation

World Of Animation
Siapa kau?


__ADS_3

"Levy, apa yang kau lakukan?" Elzel segera memegangi tangan Levy yang mengarahkan pedang ke leher Zero.


"Elzel, menjauhlah. Dia bukan Levy." Kata Zero dengan tangan yang sudah bersiap mengeluarkan pedangnya.


"Jangan percaya padanya, Elzel. Dari awal, akulah yang selalu bersamamu." Levy maju selangkah, menyembunyikan Elzel di belakangnya.


"Kemarilah, Elzel. Levy yang asli berada di dalam gua. Kita harus menyelamatkannya." Kini Zero telah mengarahkan pedangnya pada Levy.


Elzel semakin bingung, tidak tahu siapa yang akan di percayai nya. Dia segera menjauh dari kedua orang itu, sambil tetap waspada.


"Siapa kau?" Tanya Levy.


"Seharusnya, aku yang berkata seperti itu, dasar penipu." Zero melesat, menghantamkan pedangnya kearah Levy.


Dengan sigap, Levy segera menangkis serangan itu, kemudian menyerang balik dengan menendang perut Zero. Tak tinggal diam, Zero kembali melancarkan serangannya pada Levy.


Pertarungan mereka berdua nampak aneh, hampir semua gerakan mereka tidak pernah di lihat oleh Elzel, saat mereka latihan. Elzel selalu berperan sebagai pelindung, tapi kali ini, siapa yang akan dilindunginya? Bisa saja nanti dia salah melindungi orang.


Suara pedang yang saling beradu menghiasi hutan itu, tak ada salah satu dari mereka yang mengalah, ataupun melancarkan serangan pada Elzel. Seakan di dunia hanya ada mereka berdua.


Sudah lumayan lama mereka bertarung, tapi belum terlihat siapa yang kalah. Hanya hembusan napas memburu yang terdengar. Elzel semakin dibuat bersalah, ia bahkan tidak bisa menghentikan pertarungan itu ataupun melindungi keduanya.


Jleb


Jleb


Kedua orang itu saling menusuk dada lawannya, melepas pedang yang tertancap indah di dada lawan, lalu mundur selangkah hingga akhirnya jatuh terduduk di tanah. Elzel segera menghampiri keduanya. Merapal Kan mantra penyembuh, tapi percuma saja. Kedua orang yang disayanginya telah tiada.


Elzel berteriak sangat keras, air mata bercucuran. Menyesali dirinya yang tidak mempunyai keberanian untuk menghentikan pertarungan tadi. Berapa kali pun ia merapal kan mantra, orang yang disayanginya telah pergi.


Teriakannya kembali terdengar, suaranya membuat siapa saja tahu, bahwa ia sedang mengalami sesuatu yang tak ingin di alaminya. Suara yang menyayat hati.


"Elzel!! Elzel, sadarlah!!"


Teriakan itu membuat Elzel membuka matanya, ia mengedipkan matanya berkali-kali. Lalu, menghambur pelukan pada gadis di depannya. Ia kembali mengeluarkan air matanya, memeluk Levy sangat erat.


"Kau ... ku kira kau sudah tiada, Levy," ucap Elzel.


"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Sudahlah, jangan menangis." Levy mengelus punggung Elzel.


Elzel melepas pelukannya, "Kemana Zero?" Ia mengedarkan pandangannya, tapi tak menemukan orang yang di carinya.


"Zero tidak ada disini, Elzel."


"Tap-" Levy menghentikan ucapan Elzel.


"Pria tadi bukanlah Zero ...." Levy sedikit berpindah, membiarkan Elzel melihat seseorang yang terbaring di tanah, "Dia hanya penipu ulung. Mengubah wajahnya agar kita mengira dia adalah Zero. Padahal dia hanya ingin kita mengambilkannya permata hijau didalam gua."


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Elzel.


"Sudah berapa lama kau tinggal bersama Zero? Mengapa kau tidak tahu?" Tanya balik Levy.


"Siapa dia?" Elzel mencoba untuk mengalihkan topik.


"Aku akan memberitahu Zero, kalau kau tidak bisa membedakannya dengan penipu ulung." Kata Levy, lalu menghampiri Zero palsu.


"A-aku bisa membedakannya. Hanya saja, tadi aku terlalu fokus padamu," ucap Elzel mengelak.


"Iya, iya, aku tidak percaya." Levy terkekeh.


"Jadi, apa dia mati?" Tanya Elzel.


"Aku tidak membunuhnya,"


Levy menyeret orang itu ke bawah pohon, menyandarkan tubuhnya di pohon.

__ADS_1


"Bangunkan dia," titah Levy.


Elzel mengambil air di tasnya, kemudian menyiram wajah Zero palsu. Sedetik kemudian, orang itu perlahan membuka matanya. Menggerak-gerakkan tangan dan kaki yang terikat.


"Siapa kau?" Tanya Levy langsung.


"Lepaskan aku atau kau akan menyesal," ancam Zero palsu.


Levy mengarahkan pedangnya tepat di depan mata Zero palsu, "Jangan mengancam ku dengan wajah Zero."


"Apa yang ingin kau lakukan? Membunuhku?" Zero palsu tersenyum remeh.


"Jika itu yang kau mau." Levy menusukkan pedangnya di perut Zero palsu.


"Argghh!!" Teriak Zero palsu.


Tindakan Levy membuat Elzel terkejut, selama hidup bersama Levy, Elzel tidak pernah melihatnya melukai seseorang sampai seperti ini.


Senyum licik tiba-tiba terukir di wajah Zero palsu.


"Kyaaa!!" Teriak Elzel yang di tarik oleh seseorang dari belakang.


Levy dengan cepat menoleh, ia tak mendapati Elzel di sebelahnya.


"Lepaskan orang yang di depanmu atau teman mu akan kehilangan nyawanya." Suara itu menggema dari segala arah, Levy tidak dapat menemukan lokasi pemilik suara itu. Yang pasti, orang itu adalah rekan dari Zero palsu.


"Kau dengar itu? Cepat lepaskan aku ata- akhh!" Zero palsu tak dapat menyelesaikan ucapannya karena tak kuasa menahan rasa sakit yang diberikan oleh Levy.


Levy menusukkan pedangnya semakin dalam, "Akan ku buat kau memilih untuk mati hari ini," ucap Levy dengan tatapan membunuhnya.


"Dasar wanita gila!!" Teriak Zero palsu.


"Hentikan itu, kalau kau tidak mau hal yang sama terjadi pada teman kecilmu." Suara itu kembali terdengar.


Tak tinggal diam, Levy melepaskan tangan dari pedangnya. Ia mengambil pisau kecil yang tersembunyi dibalik pakaiannya. Kemudian, mengarahkan pisau itu ke Zero palsu.


"A-apa yang akan kau lakukan? Heh kau tidak akan berani melakukannya,"


Jlebb


"Argg!!" Levy menusukkan pisau itu di paha Zero palsu.


"Kau gila!!" Teriak Zero palsu.


"Aku bisa lebih gila lagi kalau kau tidak mengembalikan temanku." Levy kembali mengeluarkan pisau yang lainnya.


"Magma! Kembalikan gadis itu!!"


Bukannya mengembalikan Elzel, orang yang di panggil Magma itu malah melancarkan serangan. Sebuah anak panah melesat cepat kearah Levy, untung saja Levy masih sempat menggeser tubuhnya. Senyuman mulai terukir di wajah gadis cantik itu kala melihat anak panah yang tertancap di pohon, lalu ia menoleh kebelakang.


"Di Sana kau rupanya ...." Levy melihat sesuatu di atas pohon, "Keluarlah, sebelum temanmu ini kehilangan nyawanya."


Sreekkk ... sreekkk


Tap


Seorang pria turun dari atas pohon dengan Elzel yang berada di pundaknya.


"Bukankah perbuatanmu itu tidak adil?" Tanya pria itu sambil tersenyum, lalu menurunkan Elzel ke tanah dengan kasar.


"Le-Levy," cicit Elzel.


"Harusnya temanmu ini juga merasak- Akhh!" Levy sangat tidak ingin pria itu menyelesaikan perkataannya, akhirnya ia memotongnya dengan cara menancapkan pisau kecil di kaki pria itu.


"Dia gila, kan?" Sahut Zero palsu dengan kekehannya.

__ADS_1


"Sangat gila," balas Pria itu, Magma.


Levy mencabut sembarang pedangnya yang tadi ia tusukkan di perut Zero palsu. Berjalan pelan tapi pasti kearah Magma. Melihat itu, Magma mengambil posisi siaga. Dugaannya salah, Levy malah berbelok menghampiri gadis kecil berambut merah, Elzel.


Levy mengulurkan tangannya layaknya seorang pangeran yang hendak mencium punggung tangan seorang putri. Elzel menerima uluran tangan itu. Levy mengedarkan pandangannya melihat setiap lekuk tubuh Elzel, berjaga-jaga kalau ada goresan yang terukir.


"Aku tidak melukainya," celetuk Magma menebak arti dari tingkah Levy.


"Bersyukurlah, aku tidak jadi membunuh kalian berdua hari ini, dasar penipu ulung." Levy menarik Elzel agar berdiri.


"Hahahaha ... kau suka bercanda rupanya," tawa Magma.


"Arggghh!" Teriakan Magma seperti mengguncang dunia saking kerasnya, bagaimana tidak, tanpa peringatan atau apa pun, Levy mencabut pisaunya dari tubuh Magma. Bahkan, Levy tak mengucapkan kata "maaf" sekalipun. Ia berlalu begitu saja menghampiri Zero palsu, dengan Elzel yang mengikut dibelakangnya. Zero palsu dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh gadis gila didepannya itu.


"Hoho ... aku bisa mencabutnya untukmu," ucap Zero palsu menghentikan gerakan Levy yang hampir mencabut paksa pisaunya.


"silakan," ucap Levy, lalu membuka ikatan ditangan dan kaki Zero palsu.


Cukup lama Zero palsu berusaha mencabut pisau yang tertancap di paha nya, namun pisau itu tak kunjung tercabut juga.


"Magma, sialan. Bantu aku!" kesal Zero palsu yang melihat temannya hanya berdiri tanpa berniat menolongnya.


"Mau ku cabut kan?" Tanya Magma.


"Tidak!!"


Levy mendengus kasar, "Bisakah kau jangan menampilkan raut seperti itu dengan wajah Zero? Elzel, obati dia," ucap Levy yang tak tahan dengan Zero palsu.


Elzel pun mengangguk, lalu merapal kan mantra penyembuh. Belum terlalu lama Elzel menyembuhkan Zero palsu, Levy kembali menghentikan Elzel.


"Mana-mu tidak cukup, Elzel. Akan sangat berbahaya jika kau meneruskannya," ucap Levy yang sudah mengamati raut wajah Elzel yang nampak sangat berusaha keras.


"Aku masih bisa, Levy." Elzel kembali menyembuhkan Zero palsu.


Levy mendekat, menyentuhkan tangannya di pundak Elzel. Ia melakukan Transfer Mana, agar Elzel tidak kekurangan Mana. Walaupun ia tahu apa akibat dari tindakannya itu, ia tetap saja melakukannya. Elzel juga sudah melarangnya, tapi bukan Levy namanya jika ia tidak keras kepala.


Tanda dari sihir kutukan mulai menampakkan dirinya di atas kulit putih Levy, terlihat kerutan di dahi gadis itu, ia sedang menahan sakit dari timbulnya tanda hitam itu.


"Sudahlah, aku tidak akan mati hanya karena luka kecil ini," sahut Zero palsu yang merasa iba dengan dua gadis cantik di depannya.


"Baguslah," ucap Levy sambil menarik kembali tangannya dari pundak Elzel.


Kini, Zero palsu telah mencabut pisau itu. Levy pun mengambil kembali pisaunya, tak lupa ia bersihkan dari noda darah yang menempel.


"Cih, dasar penipu. Darahku tidaklah sekotor itu," kesal Zero palsu.


"Jangan menyebutku penipu, dasar penipu," geram Levy.


"Lalu, kalau kau bukan penipu, mengapa tidak menunjukkan wujud aslimu? Bahkan, auramu tadi sangat-sangat palsu." Levy dan Elzel tercengang mendengar hal itu.


Apa yang dimaksud oleh Zero palsu? Pikiran Levy kini telah bertualang entah kemana. Seakan jiwa dan tubuhnya terpisah. Beda halnya dengan Elzel, ia masih setia menatap Levy, menunggu jawaban sepertinya. Padahal ia tahu, Levy tak mungkin bisa menjawab pertanyaan itu.


"Kau terlihat memprihatinkan, kawan," ujar Magma dengan kekehan.


"Menurutmu, ini salah siapa, hah?" kesal Zero palsu.


"Tentu saja, salahmu sendiri. Kau terlalu lemah."


Perdebatan antara Zero palsu dan Magma pun berlangsung lama. Namun, hal itu di abaikan oleh dua gadis cantik yang masih memikirkan sesuatu.


Siapa aku? Mengapa dia menyebutku palsu? Apakah semua tentang diriku hanyalah kepalsuan? Batin Levy.


TBC


Heyy … minna~~

__ADS_1


Apa kabar? Semoga baik-baik aja ya.


jangan lupa bantu Grizzy dengan cara meninggalkan jejak kalian~~


__ADS_2