Zahirah

Zahirah
Marahnya Zaidan


__ADS_3

*mungkin aku akan baik-baik saja jika, aku menjadi lautan dan bagian dari ombaknya. Namun takdir menciptakan aku sebagai karang yang harus kuat akan ombaknya*


Zahirah duduk melamun di sebuah kafe yang dekat dengan tempat kerjanya.


Dia menatap lurus ke arah depan, memandang banyak nya kendaraan yang berlalu lalang..


Entah kenapa pikirannya, begitu terikat dengan semua permasalahan yang terjadi saat ini. Padahal, Zahirah sudah menyibukkan dirinya dari berbagai pekerjaan. Tapi.. ah susahnya


"Move on Zah!"


Zahirah di kagetkan dengan kedatangan bosnya. Indah duduk di depan Zahirah, meletakan tas branded nya begitu saja, sambil membawa sebotol minuman.


Zahirah menatap Indah dengan kesal.


"Kalo yang ngomong mah gampang, Tapi yang jalaninya yang susah" Zahirah memalingkan wajahnya


"Coba mba kalo ada di posisi Saya! pasti tau gimana rasanya"


Indah tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Zahirah. Zahirah sudah yakin, Bos nya ini pasti mentertawakan ia kembali..


"Asal kamu tahu Zah! Saya pernah ngerasain ada di posisi kamu. malah lebih dari ini".


Zahirah cepat-cepat memandang bos nya kembali. Menakjubkan sekali, ini adalah pertama kalinya Indah cerita tentang pribadinya. Yang Zahirah tau, Indah memiliki jiwa yang tertutup. Bahkan selama Zahirah bekerja, tidak pernah tuh mendengar desas-desus kalo bos nya ini punya pasangan.


"Yang kamu rasain sekarang, menurut saya tidak seberapa, Zah!" pandangan indah seperti menerawang ke jauh..


Zahirah hanya bisa memperhatikan dengan seksama, dengan terus memandang wajah serius Indah..


"Saya dulu memiliki kehidupan yang bebas. Tidak pernah memikirkan uang, keluarga, apalagi bekerja. masa remaja saya dulu hanya di habiskan untuk bermain dan berfoya-foya"


"Saya memiliki kekasih, yang sangat saya cintai. Dia hidup dalam keadaan kurang mampu. Hingga saya memaksa mami untuk membayar uang kuliahnya, dan mencukupi kebutuhan sehari-hari nya dengan uang saya"


Indah menghela nafasnya, meminum sedikit minuman nya lalu meneruskan ucapannya kembali..


"Hingga setelah lulus kuliah. Saya dan kekasih saya berencana untuk menikah." Indah menghela nafas sebentar "Mami paling bahagia menyiapkan segala sesuatu dengan sukarela. Dia ingin di hari bahagia anaknya memberikan yang istimewa menurutnya"


"Namun kejadian yang tidak terduga pun terjadi. Ketika besoknya saya akan menikah, malam-malam paman saya datang ke rumah, dengan wajah yang begitu marah. Saya dan Mami saya di kagetkan dengan kenyataan, bahwa anaknya paman saya, hamil oleh calon suami saya, dan meminta pertanggungjawaban nya, malam itu juga"


"Mami saat itu begitu syok. Hingga mengalami serangan jantung mendadak, saya dan beberapa pekerja di rumah, Buru-buru melarikan mami ke rumah sakit. Namun naas nya nyawanya sudah tidak dapat tertolong lagi"


Zahirah menatap Indah dengan sedih sekaligus Iba. Tapi herannya yang ia tatap, sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih atau kecewa..


"Berhenti menatap saya seperti itu Zah! Saya paling tidak suka di kasihani"


Indah menjawab dengan sedikit jutek..


"Maaf mba" Zahirah bicara seraya menunduk merasa bersalah..


"Terus calon suami mba gimana?" Zahirah begitu penasaran dengan kelanjutan cerita bos nya itu..


"Ya tentu sekarang mereka hidup bahagia bersama anak-anak nya"

__ADS_1


"Kamu ngebayangin apa Zah? mereka cerai?"


Indah menatap Zahirah dengan tatapan yang menyelidik. Zahirah hanya bisa gelagapan..


"Ya memang awalnya, Dia seperti tidak ingin berpisah sama Saya, memohon-mohon agar Saya memaafkan kesalahannya, dan mau kembali bersama dia. Saya menolak dengan tegas. Saya paling tidak suka dengan sesuatu yang bekas"


"Jika saya mengingat kejadian itu. Saya sama sekali tidak mengingat batal nya pernikahan saya! Saya hanya selalu merasa bersalah sama mami.. baru beberapa hari mami meninggal, saya di hadapkan dengan begitu banyaknya tanggung jawab. Hingga membuat saya sedikit frustasi untuk menangani nya"


Suara Indah sedikit melemah


"Saya yang di kenal sebagai wanita Manja, Bandel, Mau enaknya sendiri, Tiba-tiba di hadapkan dengan sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam pikiran saya. Dan, saya harus menjalani nya tanpa penolakan"


Menakjubkan. Ini benar-benar menakjubkan. Untuk pertama kalinya Zahirah melihat Indah seperti manusia pada umumnya.


Zahirah langsung teringat Mama nya. semenjak kandas nya hubungan Zahirah dan Zaidan, Setiap pagi, atau setelah pulang bekerja, Zahirah sering memergoki Mamanya sedang melamun. Apa Mamanya memkirkan ini? Ahh jadi merasa bersalah kan..


Indah meneruskan ucapannya kembali..


"Makanya setiap anak-anak mengajak liburan akhir tahun ke Bandung, saya tidak pernah mau ikut. Bukan karena saya cemburu atau Iri melihat kebahagiaan Mantan pacar saya. Tapi saya terus di hantui rasa bersalah sama Mami saya karena tidak becus menjadi anak yang baik"


"Makanya Tadi pagi saya bilang sama Kamu Zah. Fokus saja untuk membahagiakan Mama mu. Tidak untuk yang lain. Pada akhirnya Zaidan akan bahagia dengan kehidupannya yang saat ini"


"Dan kamu apakah akan hidup dengan menyedihkan seterusnya?"


Nyesss hati Zahirah begitu tersentil, sama ucapan terakhir nya Indah. Apakah benar Zaidan akan bahagia hidup bersama Sarah? Lalu disini Dia?



"Makasih ya Mas udah mau anterin Sarah" Sarah tersenyum menatap Zaidan..




"Mas Zaidan ngga mampir dulu? Kebetulan sepertinya Ayah ada di rumah deh."



"Tidak perlu Sarah. Saya langsung pulang"



Tanpa menunggu jawaban Sarah Zaidan buru-buru melenggang masuk ke dalam mobilnya. Lalu melajukan sedikit cepat, Heran Kenapa wanita ini begitu cerewet..



Sarah yang masih berdiri, Masih terus memandangi mobil Zaidan sampai menghilang. Cuma perasaan Sarah, atau memang Zaidan sifatnya begini.. Sarah merasa dari tadi pagi sepertinya Zaidan enggan dekat-dekat dengannya..



Zaidan keluar dari mobil. jalan dengan agak tergesa, lalu membuka pintu rumah dengan sedikit keras

__ADS_1


.


"Loh kok Kamu udah pulang Zai? mana Sarah?


Sarah ngga ikut kesini"


Baru Zaidan melangkah masuk sudah di sambut dengan pertanyaan beruntun Bunda nya, yang membuat keadaan hatinya semakin kesal


"Sudah Zaidan antarkan pulang!"


"Kamu jadi kan Fitting baju pengantin nya?"


Bunda Irma bertanya dengan mata yang meng itrogasi


"Jadi!" Zaidan menghela nafas sebentar " Kenapa Bunda tidak memberitahu Zaidan kalo fitting baju nya di butik Zahirah bekerja?"


Zaidan bertanya dengan sedikit Marah. Mau bagaimanapun kejadian beberapa jam tadi sangat menyita firkiran nya. Zaidan sudah membayangkan seberapa hancurnya perasaan Zahirah saat ini..


Bunda Irma yang sedikit kaget akan kemarahan Zaidan pun buru-buru menetralkan tubuhnya..


"Okey Bunda salah, Bunda lupa tidak memberitahu mu" Bunda Irma bicara dengan lembut


Zaidan tertunduk lesu, bahkan tubuhnya ambruk di kursi


"Bunda tidak tahu sekecewanya Zahirah sama Zaidan seperti apa!"


"Nak Bunda mohon lupakan Zahirah.. Tolong cintai Sarah, seperti kamu mencintai Zahirah! Sarah dan keluarganya begitu bahagia akan pernikahan ini" Bunda Irma berbicara dengan memohon


"Bunda perempuan! Seharusnya, Bunda mengerti akan perasaan Zahirah sekarang. Zaidan tidak akan pernah mencintai Sarah. Sampai kapanpun!"


"Bunda mementingkan kebahagiaan orang lain. Sampai mengorbankan kebahagiaan Anaknya sendiri, Apa Bunda pantas di sebut orang tua yang bijak? Sedari dulu Zaidan menuruti semua keinginan Bunda dan Ayah. Apakah Bunda pernah memikirkan perasaan Zaidan menerima tidaknya?"


"Zahirah wanita baik-baik! Zaidan belum pernah mendapatkan kenyamanan dari orang lain selain Zahirah! Zahirah--"


Sebelum Zaidan meneruskan ucapannya, Bunda Irma yang dari tadi terpancing emosi nya pun lekas menampar pipi Zaidan dengan kencang


"Sudah berapa kali kamu me***uri anak wanita ja**ng itu? Sampai kamu berani membentak orang tua mu sendiri? Bunda hanya ingin kamu menikahi wanita baik-baik. Bukan wanita s**l itu!"


Bunda Irma bicara dengan sangat marah. Raisa yang dari tadi di dalam kamar pun buru-buru menghampiri Adik dan Bundanya


"Jangan pernah menghina Zahirah dan Mamanya! Bunda tidak tau masalah yang sebenarnya! Bunda hanya di butakan oleh sahabat Bunda yang pic**k itu"


Zaidan berkata dengan dada yang bergemuruh. Wajah Zaidan di liputi kemarahan yang menggebu-gebu. Bagaimana tidak. Ucapan Bunda Irma itu begitu kelewatan. Mengehina Zahirah secara berlebihan..


Bunda Irma memegang dadanya yang begitu sesak. Ini pertama kalinya Zaidan bersikap seperti ini, memarahinya Demi membela perempuan lain.


Zaidan adalah anak kebanggaan Dia dan suaminya. Zaidan tidak pernah menolak apa yang Dia mau, di kalangan keluarga besarnya, Zaidan terkenal sebagai anak yang penurut. Dan hari sikap Zaidan mematahkan semuanya...


Raisa datang ke ruang tamu dengan tergopoh-gopoh, menghampiri Bundanya lalu menuntunnya untuk duduk di kursi..


Zaidan yang melihat keadaan Bundanya seperti itu pun, melenggang pergi menaiki tangga menuju kamar nya..

__ADS_1


Raisa yang menyaksikan sikap acuh Zaidan pun meneriaki Namanya


"Zaidan mau kemana Kamu? Zaidan? Zaidan jangan jadi Anak kurang ajar kamu!"


__ADS_2