Zahirah

Zahirah
Episode 26


__ADS_3

Zahirah berjalan terburu-buru sambil membuka tas Memasukan kunci mobilnya. Ia tidak memperhatikan jalanan di sekitar lalu


Bruuuuuk


"Astaghfirullah" Zahirah menegakkan kepalanya.


" Maaf sekali Mas saya tidak sengaja"


Zahirah menatap seorang laki-laki, di depan nya ini yang memakai Jas Dokter. Zahirah di buat menyesal ketika melihat pakaian yang seharusnya putih bersih. Ini malah kotor, penuh dengan tumpahan kopi miliknya.


"Tidak apa-apa Mbak" Balas laki-laki yang ada di depannya ini dengan memaksakan senyum.


"Aduh tapi ini kotor" Ucap Zahirah lirih


"Nanti bisa saya bersihkan di rumah" Haidar mengibas-ibaskan bajunya yang basah.


Dokter itu berjongkok mengambil sesuatu, lalu menyodorkan nya kepada Zahirah


"Kuncinya jatuh mba"


"Ma Syaa Allah makasih Mas" Jawab Zahirah senyum malu


"Sama-sama. Mau cek up atau jenguk atau apa?" Tanya Dokter menatap Zahirah


"Mau donor dok" jawab Zahirah masih dengan posisi tangan yang sibuk, mengelap bajunya yang sedikit basah


"Jantung, ginjal, hati atau apa" Tanya Dokter itu kembali


"Maksudnya?" Zahirah balik bertanya


"Kamu ingin mendonorkan apa?"


"Donor Darah lah dokter" Jawab Zahirah terkekeh-kekeh..


Dokter tersebut pun tersenyum mengangguk mengerti " Ouhh iya panggil Haidar saja Mba"


Zahirah menoleh menatap heran Laki-laki di depannya ini


"Emmm kita duduk di bangku sebelah taman sana. Ya hitung-itung mengakrabkan diri, dari tragedi barusan" Haidar mencairkan suasana


Zahirah tertawa kecil menanggapinya. Lalu Zahirah berjalan mengekor di belakang dokter tersebut


Ketika mereka sampai. duduk bersebelahan. Beberapa saat mereka terdiam.


"Haidar Nama saya Haidar" Haidar menatap Zahirah tersenyum


"Iya kan tadi Mas Haidar sudah bilang" Jawab Zahirah, tanpa menatap Haidar


"Saya kira kamu lupa. Nama kamu siapa"


"Zahirah, Aina Zahirah Putri " Zahirah menatap Haidar dengan senyum nya yang manis. Hingga menampilkan kedua lesung pipi diwajahnya. Membuat Haidar terpaku akan kecantikan yang di miliki wanita di hadapannya ini.


"Dokter?" Zahirah menatap Heran manusia di depannya ini. mengibaskan tangannya beberapa kali di wajah Haidar, sampai Haidar tersadar. Lalu menormalkan kembali keterpakuan nya


"Kamu bukan pasien saya. Panggil saja saya Haidar"


"Ya kan tetap kamu Dokter" Jawab Zahirah kekeuh..


"Yaudahlah terserah kamu" timpal Haidar masih tetap tersenyum..


"Kamu bilang tadi mau donor darah. Sekarang tanggal berapa emang?"


Zahirah merogoh handphone nya di dalam Tas " Sekarang tanggal 14" Jawab Zahirah menatap Zaidan sambil menyodorkan handphone miliknya.


"Kamu lihat spanduk di depan sana" Tangan Haidar menunjuk spanduk yang ada. di pelataran parkiran rumah sakit,


Zahirah memperhatikan nya seksama. menepuk keningnya.


"Aku kira jadwalnya hari ini" Ucap Zahirah lemas


Haidar yang melihat ekspresi wajah Zahirah pun merasa gemas. ingin sekali ia mencubit pipinya.


"Tidak apa-apa. Tidak jadi donor darah, tapi kamu jadi bertemu dengan saya, itu bukan salah satu musibah kan?"


Zahirah terkekeh, menggelengkan kepalanya. mendengar penuturan Haidar barusan


"Aku baru masuk kerja sehari, Izin untuk hari ini mau mendonorkan darah. Bahkan teman aku meminta antar ke toko buku saja, aku menolak untuk menemaninya. eh ternyata jadwal donor nya besok"


Haidar tersenyum menanggapi keluhan Zahirah barusan.


Mereka mengobrol seperti seorang teman pada Umumnya. padahal baru beberapa menit mereka kenal.


Haidar di buat takjub oleh seorang Zahirah. wajahnya, Karakter, tutur kata dalam bicara, semua yang ada pada Zahirah membuat iya merasa ingin memilikinya.


Kemana sifat Haidar yang biasanya. Yang paling susah mengakrabkan diri dengan seseorang.


"Aduh Udah satu jam lebih aja kita ngobrol"

__ADS_1


"Iya. Asik juga ternyata ngobrol sama kamu. Ouh iya Aina, boleh ngga Aku minta nomer ponsel kamu?" Haidar menatap Zahirah penuh harap


"Untuk Apa?" Tanya Zahirah heran


"Ya Sekarang kan kita teman, masa nomer telpon saja tidak saling punya" Sungguh Haidar merutuki kebodohan nya barusan. ia akan merasa malu sekali jika Zahirah tidak memberikan nya...


Zahirah tersenyum. "Sini pinjam Handphonenya" Tangan Zahirah terulur


Haidar buru-buru merogoh saku jasnya. memberikan handphone ke tangan Zahirah dengan senyum bahagia..


"Udah Ya, Aku pulang dulu. terimakasih Mas Haidar untuk waktunya" Zahirah tersenyum lembut menatap Haidar, Haidar yang di tatapun hanya menganggukkan kepalanya...




Bunda Irma mencengkeram erat tangan Zahirah, ke arah belakang rumah sakit. Ia tidak sengaja melihat Zahirah berjalan melewati ruangan rawat inap Zaidan, dan iapun pastikan Zahirah pasti sudah menemui Anaknya.



"Bu.. Tolong lepaskan tanganku, ini sakit"



Zahirah merintih kesakitan, tapi Bunda Irma tidak memperdulikannya. ia terus menarik tangan Zahirah ke arah tempat yang sepi.



"Berhenti berhubungan dengan anak saya, jika tidak ingin saya permalukan di depan umum" Bunda Irma menatap Zahirah benci



"Apa maksud Ibu?" Aku ngga ngerti"



"Jangan pura-pura Bodoh kamu wanita sialan!" Bunda Irna semakin geram menatap wajah Zahirah..



"Untuk apa kamu berkeliaran di rumah sakit ini jika bukan untuk menemui Anak saya? Kamu kesini untuk menemui Zaidan Kan?" Lanjut Bunda Irma



"Sumpah.. Saya tidak tahu kalo Mas Zaidan ada di disini" Jawab Zahirah dengan suara yang tegas.




"Jangan pernah merendahkan orang tua saya. Anda tidak tau banyak kehidupan seperti apa yang saya alami" Zahirah memotong ucapan Bunda Irma.



Zahirah menatap bunda Irma dengan Amarah yang begitu memuncak. ia tidak akan marah, jika hanya dirinya saja yang dihina. Tapi, jika sudah menyangkut pautkan Mamanya, apalagi sampai menghinanya Zahirah tidak akan pernah terima.



Zahirah memberanikan diri mendekati Bunda Irma " Apa Anda khawatir Mas Zaidan masih mencintai saya? Asal Anda tahu Mas Zaidan menikahi Mba Sarah bukan semata-mata ingin menuruti perintah Anda, justru dia ingin melindungi saya karena anda dan Tante Rosi akan mencelakai saya jika Mas Zaidan tidak bersedia menikahi mba Sarah"



Plaaaaakk



Bunda Irma menampar Zahirah kencang, pipi yang tadi masih mulus kini terpampang jelas bekas tamparan nya, bahkan di sudut kanan bibirnya sampai mengeluarkan darah.



Zahirah sampai terduduk di tanah. memegang pipinya yang terasa begitu panas. Bunda Irma mendekati Zahirah kembali, menarik jilbabnya, merobek-robek nya di depan Zahirah. Menginjak nya di tanah



Air mata yang sedari tadi ia tahan. Luruh sudah,



"Penutup kepala ini tidak pantas di pakai oleh seorang \*\*\*\*\*\*" Bunda Irma mencengkeram dagu Zahirah keras. hingga kukunya menancap di pipi mulusnya Zahirah..



Zahirah sama sekali tidak merasakan sakit, dengan apa yang sedang di lakukan orang yang di hadapannya ini. Justru ia masih menatap kosong jilbab yang sedang di injak oleh kaki Bunda Irma..



Brukkkk

__ADS_1



Bunda Irma tersungkur keras ke tanah.



Haidar membuka jas yang sedang ia pakai, lalu menutupkannya ke kepala Zahirah. Zahirah masih diam.. ia masih terus menatap kerudung nya.



Sedari tadi Haidar memperhatikan pertengkaran antara Zahirah dan Bunda Irma dari lantai atas, Haidar mendengar jelas apa saja yang di katakan Bunda Irma kepada Zahirah, sebenernya ia ingin segera melerai keduanya, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan rekan kerjanya yang sedang membahas jadwal operasi yang akan di lakukan siang ini



Haidar menatap Zahirah pilu. Luka di pipi Zahirah seperti nya dalam, ketara sekali dari banyak nya darah yang masih keluar.



Haidar menatap Bunda Irma dengan kilatan Amarah.



"Saya akan menindaklanjuti perlakuan Anda terhadap teman saya" Haidar menunjuk tangannya tepat di wajah Bunda Irma



Bunda Irma yang mendapatkan perlakuan seperti itu pun, sedikit takut. tapi ia berusaha menenangkan diri nya..



"Aina kamu tidak apa-apa" Haidar mengusap air mata Zahirah pelan



"Aku dan Mama bukan wanita sehina itu Haidar" Ucap Zahirah lemah sebelum kesadaran nya menghilang..



Haidar memangku tubuh Zahirah, dengan jas yang masih menutupi kepalanya...



Ketika sampai ke dalam rumah sakit, banyak orang-orang yang memperhatikan nya. Bahkan beberapa suster yang kebetulan berpapasan dengan Haidar merasa sangat aneh..



Fitri berlari menghampiri Haidar.



"Apa yang terjadi" Tanya Fitri cemas



Haidar sama sekali tidak memperdulikan apa yang di ucapkan perempuan yang terus mengikutinya ini, yang ingin secepatnya sampai di UGD, agar ia langsung mengobati luka Zahirah..



"Apa yang terjadi dengan teman saya dokter SIALAN" Fitri bertanya berteriak.



Ia bukan kesal karena ucapannya tidak mendapatkan jawaban, tapi ia benar-benar cemas melihat Zahirah yang pingsan. Bahkan dapat Fitri lihat bahwa keadaan Zahirah sungguh berantakan.



Jangan tanyakan, kenapa Fitri ad di rumah sakit ini. Dari pagi perasaan nya memang sudah tidak enak. mengingat Zahirah, apalagi beberapa kali ia menelpon tapi Zahirah tidak mengangkatnya. Bahkan acaranya untuk ke toko buku saja ia rela batalkan...



Haidar berhenti, lalu menatap Fitri, dapat Haidar lihat jika wajah Fitri saat ini sedang cemas.



"Kamu hanya perlu mengikuti saya ke ruang UGD, saya harus secepatnya mengobati luka teman saya. jika Ingin menanyakan apa yang terjadi. Nanti saya ceritakan sedetail nya" Ucap Haidar panjang lebar..



Fitri pun menganggukkan kepalanya mengerti. lalu mengikuti Haidar dari belakang



ketika Sampai di ruang UGD, Haidar menidurkan Zahirah perlahan. Fitri yang sedari tadi mengekor. Terkejut melihat wajah Zahirah penuh darah



Fitri menghampiri tempat tidur Zahirah. memperhatikan wajah Zahirah seksama... Fitri meneteskan air matanya. Tangannya meremas tempat tidur hingga kukunya memutih.

__ADS_1



"Siapa yang berani melakukan ini?" Fitri bertanya dengan suara yang tercekat


__ADS_2