
Seorang wanita paruh baya tidak berhenti terisak, menatap kaca besar di depannya, beberapa peralatan medis menempel di tubuh anak kecil yang tidak berdaya
"Maaf Ummi Zahirah telat datang" Ummi Hanna menatap pada suara yang begitu ia kenal
Ummi Hanna memeluk Zahirah, ia semakin saja terisak-isak
"Ummi sabar ya, Aisyah anak yang kuat dia pasti bisa melewati semua ini" Zahirah terus mengelus bahu wanita yang memeluk nya erat ini
Ceklek
Haidar keluar dengan beberapa dokter dan perawat yang mungkin telah selesai menangani Aisyah barusan. Tidak bisa di sembunyikan raut wajah kelelahan, takut, dan putus asa di wajah sang dokter tampan itu
"Abang bisa menyembuhkan beberapa orang yang hampir saja meninggal, kenapa untuk Aisyah Abang seperti orang bodoh" Ummi Hanna membentak Haidar
"Ummi maafkan Abang" Haidar ingin memeluk wanita yang selalu menjadi cinta pertamanya itu, tapi secepatnya di tepis
Interaksi mereka berdua tidak luput dari penglihatan Zahirah, sesayang itu Haidar dan orang tuanya pada Aisyah.
"Haidar, ummi takut" Suara Ummi Hanna melemah
"Ummi... Haidar akan melakukan semua kemampuan Haidar untuk membuat Aisyah sehat kembali Haidar ak-"
"Apakah Ummi tidak di perbolehkan Allah untuk mempunyai anak perempuan?" Ummi Hanna menatap Zaidan dengan terus air mata yang berlinang
"Ummi tidak boleh bicara seperti itu, Ummi harus ingat takdir, kalau ummi terus-menerus merasa seperti ini, sama saja ummi sedang menyalahkan Allah" Ucap Zahirah menggenggam tangan Ummi Hanna
"Ummi sejauh mana dokter Haidar berusaha, jika Allah masih belum mengizinkan Aisyah untuk sembuh, Dokter Haidar harus bagaimana. Segala sesuatu yang terjadi hari ini hingga seterusnya, tidak luput dari campur tangan Tuhan kita sendiri. Yang perlu kita lakukan hanya berdoa, meminta kesembuhan untuk Aisyah, selebihnya Allah yang akan menentukan, dokter hanya sebagai perantara" Lnajut Aisyah panjang lebar
"Astaghfirullah aladzim" Ummi Hanna tertunduk merasa bersalah dan malu
Ia hanya takut untuk kedua kalinya di tinggalkan anak perempuannya. walaupun Aisyah lahir bukan dari rahimnya, Ummi Hanna menyayangi Aisyah sama persis menyayangi anak-anaknya.
Zahirah terus mengelus lembut tangan yang ada di genggaman nya. Hingga menjadi pemandangan yang begitu menyejukkan Haidar
"Sarah Zaidan sangat mencintai Zahirah, tolong untuk ini kesampingkan dulu egomu untuk alasan membahagiakan ibumu, dengan menjadi bagian dari keluarga Kita"
__ADS_1
"Bukan hanya karena ingin membahagiakan Ibuku, Aku juga sangat mencintai ponakan Tante Itu" Sarah berucap memalingkan wajahnya
Risa dan Raisa menatap tidak percaya kepada wanita yang ada di hadapannya ini, mencintai?
apa mereka tidak salah dengar
"Awalnya Mba mengira dengan berjalan waktu Zaidan akan menerima kamu sebagai istri nya. karena Mba tahu Zaidan pria yang baik dan penurut. Tapi sampai beberapa bulan ini keadaan keluarga Mba semakin kacau, bukan nya Mba melihat cinta di mata Zaidan, tapi mata yang selalu memancarkan kebencian pada kamu Sarah" Raisa bicara dengan nada yang marah
"Zaidan laki-laki baik Zai-"
"Jika Mas Zaidan Laki-laki baik dia tidak akan berselingkuh di belakang istrinya!" Sarah menatap tajam keduanya
"Maksud Kamu berselingkuh apa?" Tanya Raisa heran, Sarah berdecih mendengar ucapan Kakak Iparnya itu
"Jaga ucapan Kamu" Risa Menunjuk wajah Sarah
"Disini bukan Aku yang gila, bukan aku yang tak tau malu, Tapi kalianlah manusia-manusia yang tidak memiliki moral"
Raisa menggelengkan kepalanya tidak percaya, sebelum Sarah menjadi bagian dari keluarganya, ia sangat mengagumi wanita ini, sampai meyakinkan Zaidan untuk menerima pernikahan ini
"Mba pikir saja, kalau Mba mengharapkan pernikahan ini berlangsung baik. Mba tidak mungkin menjurumuskan adik Mba dalam kubangan dosa!"
__ADS_1
"Apa yang Kamu maksud wanita sialan?" Ingin sekali Risa mencakar wajah wanita sok alim yang ada di hadapannya ini
Sarah melemparkan handphone yang sejak tadi ia genggam, terlihatlah di layar itu wajah Zahirah yang sedang memangku Raina
"Pada Hari itu kalian tidak tahu betapa cemasnya Kami setelah kalian meninggalkan rumah. Bunda dan Ayah tidak berhenti-henti nya selalu menunggu Mas Zaidan di depan Rumah. Dan apa yang kalian lakukan, berzina bukan?"
Plaaakkk
Ketiga wanita itu kaget, terutama Sarah yang kembali mendapatkan tamparan keras di wajahnya
"Saya berada di sana, dan Saya juga yang memberikan usulan agar Istri Saya membawa Zahirah pada hari itu! Jaga ucapan Kamu! Jangan seenaknya memfitnah mereka. Jika kamu tidak tahu seperti apa sebenarnya yang terjadi, sebaiknya kamu diam!"
Panji menatap nyalang Sarah. Beberapa menit yang lalu Panji menguping pembicaraan mereka, hingga akhirnya ia tidak tahan karena Sarah terus menerus memojokan istrinya.
"Selama ini Saya selalu sabar dengan kegaduhan yang selalu terjadi di rumah, dan tidak lain kamu lah sumbernya!" Ucap Panji dengan suara amarah yang tertahan
"Ayo Sayang, Tante kita pulang. Tidak akan ada selesainya berbicara dengan wanita bodoh dan keras kepala seperti dia" Panji menarik tangan Raisa paksa
Sarah tertunduk nyeri. Tamparan yang berkali-kali ia dapatkan dari orang berbeda tidak seberapa sakitnya di bandingkan dengan ucapan mereka.
__ADS_1
Nangis? air matanya seperti enggan keluar kembali secara terus-menerus