Zahirah

Zahirah
Marahnya Zahirah


__ADS_3

"Dunia benar-benar sempit ya?" Lirih Zahirah.


Matanya menatap ke luar kaca kafe. ia memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Tangannya tetap fokus mengaduk-aduk minumannya di atas meja..


"Iya bener banget Zah! Saking sempitnya hampir tiap hari gua ketemu sama Lo" Fitri berbicara dengan mulut yang penuh makanan


"Ya kamu ketemu sama aku, karena memang Kita satu pekerjaan!" Zahirah melemparkan sedotan yang ia pegang ke wajah Fitri..


Fitri mengusap wajahnya yang terkena sedikit minuman Zahirah. lalu menatap Zahirah tersenyum. Lalu melanjutkan makannya kembali.


"Sepertinya semesta tidak mendukung aku untuk melupakan Mas Zaidan deh"


Fitri tersedak makanan nya. Lalu buru-buru ia minum


"Makanya makan nya pelan-pelan Fit!"


"Gua makan pelan-pelan ya! Tadi gua tersedak bukan karena makan nya buru-buru"


"Lalu?"


"Ya karena ucapan lu barusan Zahirah!"


"Emang ucapan aku kenapa?" Tanya Zahirah polos


"Zah elu jujur sama gua! jadi selama ini elu belum melupakan Zaidan kampret itu?" Tanya Fitri dengan sorot mata yang tajam


Zahirah kikuk mendengar pertanyaan Fitri. Bukan tidak melupakan Zaidan. ia masih sedang berusaha. Tapi dengan pertemuan nya tadi, ia jadi susah kembali untuk melupakan nya


"Aku sedang berusaha Fit. Kamu kan selalu tau kalo Mas Zaidan suka menelpon atau memberi pesan. Tapi aku tidak pernah membalas nya! bahkan ia sering datang ke butik kita, aku selalu menghindari nya! Itu juga kan termasuk usaha. Hanya saja dengan pertemuan ku tadi sama Mas Zaidan. nanti malam pasti aku mengingatnya. Tapi besok aku akan mencoba ngelupain dia lagi kok" Jawab Zahirah panjang lebar. Semoga saja Fitri mengerti..


Fitri menggelengkan kepalanya tidak percaya. menatap Zahirah heran. Berarti selama ini ia tidak salah, memberi Lebel kalo sahabat nya ini bodoh. Malahan sangat bodoh.


Di sakiti, di tinggal nikah, di perlakukan buruk oleh keluarganya. Seharusnya Zahirah benar-benar membenci Zaidan. Sama halnya seperti dirinya, malahan harus lebih!..


Tapi apa ini. Masih mengingat nya. Ingin sekali Fitri meng-install otak yang baru untuk Zahirah. minimal kualitas otaknya sama seperti dirinya.


Zahirah yang di tatap Fitri seperti itupun hanya Cuek. kalo sampai di layani bahaya nanti tambah panjang urusan nya


Mereka Fokus kembali dengan makanannya


"Hay" Zahirah dan Fitri menoleh ke asal suara. Zahirah tersenyum ramah. Dan Fitri hanya cuek seperti biasanya...


"Enak ya makan sambil santai begini!" Ucap Indah seolah menyindir mereka berdua


"Tenang aja Mba pekerjaan kita sudah selesai" Zahirah menjawab dengan senyum, lalu mengangkat kedua jempolnya


"Baguslah! Saya tidak ingin mempekerjakan pegawai yang malas!"


Indah menatap Fitri. yang di tatap hanya mengedikkan kedua bahunya cuek tidak peduli.


"Zahirah, Fitri kenapa?" Tanya Indah pada Zahirah


"Emang Fitri kenapa Mba? Bukannya emang begitu wajah nya?" Jawab Zahirah terkekeh


"Iya juga ya!" Indah manggut-manggut mengerti


Fitri mendengus kesal. Beralih menatap Indah intens

__ADS_1


"Coba mba, tolong ajarkan Zahirah cara melupakan pengkhianat itu harus seperti apa caranya" Ucap Fitri Tegas. Menatap Zahirah dan Indah secara bergantian


"Kamu belum bisa lupain Zaidan Zah?" Tanya Indah menatap Zahirah Serius


"Sebulan ini tidak cukup kah?" Lanjut indah


"Sedang berusaha Mba! Minta doanya saja agar di beri kelancaran" Jawab Zahirah berusaha cuek


"Saya saja, Satu hari cukup! Emang sehebat apa tuh cowok Zah?" Tanya Indah sembari menggelengkan kepalanya


Zahirah menatap wajah Indah intens


"Tidak perlu membandingkan antara penyelesaian permasalahan aku dan Mba! Kita itu Beda!" Emosi Zahirah mulai terpancing


"Kalian boleh menasehati, tapi tetap disinilah aku pemeran utamanya. Aku yang paling ngerasain semuanya. Kalian boleh kasian sama aku. Tapi aku mohon jangan terlalu berlebihan!" lanjut Zahirah dengan suaranya yang memelan


Zahirah mulai meneteskan air mata, sungguh setiap hari ia kesal menjadi bulan-bulanan mereka berdua. Zahirah beralih menatap Fitri


"Kamu lebih tau sakit apa yang belum pernah aku rasakan! Kamu tau aku tidak pernah percaya sama laki-laki. Dan ketika aku bertemu Mas Zaidan, Dialah orang yang pertama membuat aku bisa jatuh cinta! Dan aku tidak bisa melupakannya begitu saja!"


Indah dan Fitri terdiam mendengarkan perkataan Zahirah. Zahirah menghapus air matanya kasar..


"Kamu boleh membenci dia. Tapi, tidak perlu mengumpat banyak hal! Kamu tau posisi dia bukan, menikahi mba Sarah karena apa?" Ucap Zahirah dengan menundukkan kepalanya


Fitri berdiri menatap Zahirah tajam.


"Jadi Lo masih belain dia Zah? Lo masih mengharapkan dia? Lo mau ngulang kisah percintaan orang tua Lo begitu?" Fitri menatap Zahirah sinis


"Jangan bodoh karena Cinta Zahirah! Jangan berfikir seperti tidak ada laki-laki lain lagi! Jangan seperti wanita yang mau di budakkan oleh cinta pertamanya!"


Zahirah menunduk terisak. Indah mengelus pundak Zahirah, tapi Zahirah menepisnya


"Adakah laki-laki yang menyayangi ku secara tulus seperti Mas Zaidan?"


"ZAHIRAH!" Fitri membentak Zahirah


"Apa?" Zahirah menantang Fitri


"Jika Lo mau hidup sengsara seperti Mama Lo. Lakukan! gua dukung Lo menjadi pela-"


Plaakkk Zahirah menampar pipi Fitri. Matanya menatap tajam, penuh kekecewaan


"Aku tidak se hina itu. Dan kamu tau!"


"Jika sampai kata-kata kotor itu keluar dari mulutmu lagi. Berarti kamu sama gilanya seperti mereka yang selalu menghinaku!"


Zahirah mengambil tasnya secara kasar. Menatap Indah dan Fitri bergantian.


"KITA BEDA! Dan jangan pernah membandingkan permasalahan hidup kita!"


Zahirah berlalu meninggalkan mereka berdua. Tanpa menunggu jawaban..


Fitri memegang pipinya yang merah, menatap punggung Zahirah dengan perasaan yang bersalah. Sungguh ia tidak sadar mengucapkan hal seperti itu. Apalagi sampai menyinggung Mamanya, ia refleks karena emosinya terpancing.


"Kamu benar-benar kelewatan Fit! Jika kamu berbicara pada saya, mungkin saya tidak akan tersinggung. Ini Zahirah! Seharusnya kamu lebih tau Dia. Jika kamu ingin menasehati, tidak perlu mengungkit permasalahan yang lalu! Apalagi menyangkut pautkan masa lalu orang tuanya!"


Indah pergi begitu saja. Tanpa menoleh ke arah Fitri..

__ADS_1


Fitri masih sama. Memegang Pipinya, ini tidak ada apa-apanya di bandingkan ucapannya yang menyakiti Zahirah. Fitri mengacak-acak rambut nya Frustasi..


"Maafkan gua Zah!" Lirih Fitri penuh penyesalan




"Sayang kok sudah pulang?" Mama Rina bertanya menghampiri Zahirah yang berjalan terburu-buru..



"Iya mah ini pulang cepat" Zahirah menjawab ucapan Mamanya dengan kepala tertunduk



"Zahirah ke atas ya Mah" Mama Rina mencekal tangan Zahirah



"Kenapa nangis? Ada yang nyakitin kamu kah?" Mama Rina bertanya dengan nada suara yang khawatir..



Zahirah terkekeh "Emang keliatan ya Mah? ini aku tadi kan liat bioskop sama Fitri, film nya bikin melow Mah, eh kebawa nangisnya sampai pulang" Ucap Zahirah dengan memaksakan senyumnya



Mama Rina menatap Zahirah serius "Dari suaranya saja Mama sudah tau Zah! Kamu tidak sedang membohongi Mama kan?" Tanya Mama Rina menyelidik



"Emang pernah aku bohongin Mama?" Zahirah balik bertanya



Mama Rina menggeleng tersenyum.



"Iya iya... yaudah kamu istirahat dulu ya! Nanti pas makan sore Mama panggilkan"



Zahirah menganggukkan kepalanya. berlalu meninggalkan Mama Rina masuk ke kamar mengunci pintunya..



Ketika Sampai di tempat tidur Zahirah merebahkan tubuhnya. Hari ini ia merasa begitu kecewa terhadap orang-orang yang ia temui



Dari Zaidan yang sepertinya sudah bahagia karena pernikahan nya. Mba Indah yang setiap hari membandingkan permasalahannya. Bahkan Fitri sekalipun. Perkataan Fitri begitu menyakitinya..



"Padahal aku sudah terlatih sejak kecil akan setiap hal yang mengecewakan. Tapi kenapa ketika dihadapkan kembali, rasanya masih sama. Sakit, dan air mata bodoh ini susah sekali untuk di kendalikan nya" Zahirah berucap Parau mengusap air mata di wajahnya secara kasar

__ADS_1



"Orang bilang setelah hujan akan ada pelangi, lalu kapan pelangi itu datang? Mengapa mencintaimu bisa sampai sesakit ini Mas?"


__ADS_2