Zahirah

Zahirah
Episode 44


__ADS_3

Dia masih heran, sebagian banyaknya dari orang-orang yang ia temui sangat tidak menyukai hujan. Padahal menurutnya hujan membawa kedamaian. Ia banyak belajar dari hujan.


Hujan membagi rata Airnya untuk semua tumbuhan yang ada di bumi, bahkan rumput yang sering di injak-injak, atau menjadi pelepas dahaga bagi hewan yang mungkin sedang dalam kehausan.


Disinilah Zahirah, memandang hujan di jendela kafe yabg sedang ia kunjungi, hujan deras menjadi pemandangan yang indah menurut Zahirah.


Tiba-tiba Zahirah ingat ucapan Haidar tempo lalu


"Kamu tahu Aina, wanita itu mulia sebagaimana Allah memuliakan wanita. Aku lebih senang mengejar wanita daripada wanita yang mengejar pria"


"Emmm sombong" Zahirah mencibir pria yang ada di hadapannya itu


Hahahaha suara tawa terbahak-bahak memenuhi ruangan itu


"Carilah laki-laki yang berbakti atau yang mencintai ibunya Zah. Jika laki-laki itu memuliakan Ibunya sudah pasti dia Akan memuliakan Istrinya" Ucap Haidar serius menatap Zahirah


"Seperti Aku misalnya" Haidar kembali tertawa terbahak-bahak


"Pesanan nya Mba" Ucap pelayan menaruh beberapa makanan dan minuman di meja Zahirah hingga membuyarkan lamunannya


"Terimakasih Ya Mas" Ucap Zahirah menatap pelayan di hadapannya itu


"Sama-sama, selamat menikmati" Zahirah menganggukkan kepalanya sebagai jawaban




"Sarah di bawah ada Zaidan " Bu Rosita membuka pintu putrinya



Sarah kaget, Zaidan datang kesini "Yang benar Bu?"



Bu Rosita mengulas senyum "Sepertinya dia sudah rindu berat nih, mau jemput pulang katanya" Sarah bukan main bahagianya



Bu Rosita dan Sarah beriringan berjalan menuruni anak tangga, tapi ia melihat Zaidan dan Ayahnya seperti sedang bersitegang dalam obrolannya, apa lagi melihat ayahnya yang begitu marah menatap Suaminya



"Hai" Ucap Sarah gugup Hingga membuat kedua lelaki kesayangan itu menatapnya.

__ADS_1



pak Hamdan menatap Sarah seperti ingin menangis, tapi Zaidan kembali acuh



"Aku tidak ingin berlama-lama disini, kerjaan ku masih banyak" Ucap Zaidan tanpa menatap Sarah



Bu Rosita datang membawa nampan berisi makanan " Hujan loh ini Dan, masa pulang?"



"Kerjaan Saya masih banyak Tante" Ucap Zaidan berdiri



"Yaudah Aku Ambil tasku di atas" Ujar Sarah meninggalkan mereka



Selama perjalanan pulang dari keduanya tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun.


Zaidan yang tetap Fokus melajukan mobil, beberapa kali Sarah mendengar Zaidan berdecakan kesal karena macet. Tapi Sarah tidak menghiraukan, Dia menatap kosong kaca mobil yang sedang mereka tumpangi.




Zaidan tidak menjawab satu patah kata pun, ia masih tetap fokus menatap jalanan



"Apa yang tadi Mas obrolkan bersama Ayah?" Tanya Sarah yang sejak tadi mengganjal perasaannya



"Kenapa tidak menanyakannya langsung sama Ayah Kamu?" Zaidan balik bertanya tanpa menatap lawan bicaranya



"Sarah tidak sempat" cicit Sarah pelan


__ADS_1


Keduanya kembali terdiam.



"Sarah kemarin bertemu Zahirah" Ujar Sarah



Zaidan menghela nafas panjang, mengingat itu Zaidan ingin sekali melemparkan Sarah keluar dari mobilnya.



"Sarah tahu beberapa Minggu kemarin Mas pergi menemui Dia kan?" Ucap Sarah pelan



"Kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya diam Sarah. Yang ada akan semakin memperburuk suasana. Jika sampai masalah ini terdengar oleh Bunda, Kamu pasti akan tau mereka akan melakukan apa kepada saya" Zaidan menjeda ucapannya



"Saya sudah lelah jika lagi-lagi harus bertengkar dengan orang tua Saya. Saya sadar semua perlakuan saya ini ialah dosa, kepada Kamu, maupun orang tua Saya" Ucap Zaidan panjang lebar



Sarah seperti mendapatkan angin segar di dalam hati, sejak mereka bertemu hingga sekarang. Ini adalah kali pertama Zaidan bicara tidak ketus atau berteriak seperti biasanya. Sarah tersenyum menatap Zaidan



"Bukan berarti Saya sudah menerima pernikahan kita ini Sarah! Hanya saja saya tidak ingin memupuk banyak dosa lagi kedepannya, walaupun apa yang sering saya lakukan ini akan ada yang mempertanggungjawabkan nya"



"Maksud Mas?" Tanya Sara, ia tidak mengerti



"Sebelum Saya menikahimu, Saya sudah membicarakan hal ini, jika terjadi sesuatu kedepannya antara saya dan Kamu, Saya ingin mereka bertanggungjawab atas itu. Buktinya Kita menikah sampai hari, berarti mereka menyanggupi bukan?" Zaidan tersenyum kecut



"Jika Kamu ingin menyalahkan pernikahan impianmu hancur, jangan salahkan Saya! Salahkan saja orang tua kita"



Sarah menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan semua ucapan laki-laki di sebelahnya ini. Dan sialnya dia mencintai laki-laki tersebut

__ADS_1



Sepertinya memang benar-benar tidak ada celah. Untuk Dia memasuki bagian penting dari kehidupan Zaidan.


__ADS_2