Zahirah

Zahirah
Episode 34


__ADS_3

Bunda Irma sedikit berlari menghampiri Sarah


"Kamu kenapa Nak?"


Sarah berhambur memeluk Bunda Irma.


"Sehina itukah Sarah hingga Sarah tidak di harapkan" Ucap Sarah terisak di pelukan mertuanya


Wajah Bunda Irma memerah, sudah tau pasti siapa yang melakukan ini pada menantunya. Bunda Irma mengelus punggung Sarah lembut


"Ayo duduk" Bunda Irma menuntun Sarah berjalan ke sofa di ruang keluarga.


"Loh Sarah kenapa" Pak Hamdan bertanya menatap Sarah heran, Dan bunda Irma hanya menyimpan jari telunjuk nya pada bibir, seperti memberi isyarat agar suaminya tidak banyak bertanya


Lama Sarah menangis, dan Bunda Irma dengan tangan setianya yang masih mengelus kepala Sarah di pangkuannya. Pak Yusuf hanya mengamati, karena ia tau pasti siapa yang membuat Sarah menangis kalau bukan anaknya sendiri


Zaidan Raissa dan Panji berjalan beriringan. Keluar dari kamar... Bunda Irma menatap Zaidan penuh dengan kabut amarah.


"Kenapa Bunda menatap Zaidan seperti itu?" Tanya Zaidan heran


Sarah mendongkakan kepalanya, menghapus sisa air mata di wajahnya...


"Dasar anak tidak berguna!" Ucap Bunda Irma kencang, mengejutkan semua orang yang ada di sana. Zaidan mengepalkan tangannya.


"Bunda" Bentak Pak Yusuf


"Kalau aku tidak berguna menjadi anak, aku tidak akan menikahi wanita gila di samping Bunda itu"


"Aku menyesal telah melahirkan anak sehina kamu Zaidan!" Teriak Bunda Irma


"Bunda" Teriak Raissa keras


"Apaaaaa? Kamu juga mau durhaka seperti adik bodoh mu ini Raisa" Tanya Bunda Irma dengan menggebu-gebu


"Ucapan Bunda menyakiti Zaidan" Ujar Raissa lirih


"Apakah perlakuan Zaidan tidak menyakiti Sarah?" Tanya Bundaa Irma menatap keluarga nya satu persatu


Pak Yusuf memijit pelipisnya, "Zaidan apa yang kamu lakukan pada Sarah?" Tanya pak Yusuf pelan


"Memang apa yang di ucapkan wanita itu pada kalian?" Zaidan balik bertanya


"Bunda sepulang Zaidan kerja, Zaidan bersama Raissa dan mas Panji di kamar Raina Zai-"


"Justru setelah dari kamar Raina Bunda mendapati Sarah menangis, Ap-"


"Ouh jadi kamu menguping pembicaraan kami?" Zaidan memotong ucapan Bunda Irma dan beralih menatap Sarah


Sarah menundukkan kepalanya, Zaidan menata Sarah semakin benci...


"Zaidan berhenti menyakiti Sarah, apakah tiga bulan ini masih tidak membuat kamu menerima pernikahan kalian?" Tanya Pak Yusuf


"Belum, dan tidak akan pernah!" Jawab Zaidan tegas


Bunda Irma yang mendengarnya pun bergegas menghampiri Zaidan,


Plaakkkkkkm


Sebuah tamparan keras menghantam Zaidan hingga sudut bibirnya berdarah. Zaidan masih diam. Matanya masih tetap fokus pada wajah Sarah


"Bundaa" Panji menarik tangan mertua kasar


"Cukup. Sudah cukup!" Panji bicara penuh dengan penekanan


Sarah menghampiri Zaidan cemas. ketika Sarah Salangkah lagi di hadapan Zaidan, Zaidan mendorong Sarah. Pak Yusuf menghampiri Sarah lalu membantu Sarah bangun


"Ini kan yang kamu mau?" Ucap Zaidan


"Zaidannnnnn" Teriak Bunda Irma keras


"Apa Nyonya Irma? Iya aku bodoh aku anak sialan aku anak durhaka. Lalu kenapa anda menikahkan saya. dengan wanita sempurna ini, kenapa tidak anda jadikan madu saja bukan menantu?" Teriak Zaidan tidak kalah kerasnya


Sudah habis kesabaran Pak Yusuf ia menghampiri Zaidan lalu


Buughh


Satu pukulan keras mengahantam wajah Zaidan, darah bekas tamparan tadi saja belum mengering kini hidung Zaidan berdarah tidak sedikit...


semuanya terkejut, Sarah membekap mulutnya takut dan tidak percaya, dengan semua kejadian yang menurutnya begitu cepat

__ADS_1


"Ayah stopppp" Panji menarik tubuh mertuanya paksa


"Dia benar-benar kurang ajar Ji !" Ucap pak Yusuf menggebu-gebu


Panji mendudukkan Ayah mertuanya di kursi, Raissa menghampiri Zaidan lalu membantu Zaidan bangun, Raissa terisak melihat wajah adik kesayangannya penuh lebam. berbalik menatap Sarah jijik. benar apa yang di katakan Tante nya bahwa wanita ini pembawa sial


"Ambil Rania" Panji menatap Raissa, lalu menarik tangan Zaidan


"Mau di bawa kemana anak kurang ajar itu Panji?" Tanya Bunda Irma penuh selidik..


Namun Panji hanya cuek, Raissa keluar dari kamar anaknya menggendong bayi mungil yang terlelap itu hati-hati


"Mau kemana kalian?" Tanya pak Yusuf menatap Raissa


"Aku tidak ingin anak aku mendengar perkelahian bodoh ini" Ujar Raisa tanpa mempedulikan orang yang duduk di kursi




"Zah gue paling malas kalau di ajak ke rumah sakit, dan Lo tau itu"



Zahirah hanya terkekeh geli mendengar keluhan sahabatnya ini,



"Kamu kan nggak ikutan donor fit"



"Gue ngga suka bau Rumah Sakit Zahirah, lo-"



"Zahirah" Keduanya serentak menatap orang yang meneriaki nama Zahirah, Fitri hanya memutar bola matanya malas. Dan Zahirah melambaikan tangan nya senang



"Dari tadi?" Tanya orang tersebut




"Lumayan"



"Temen kamu kenapa sih Zah?" Tahya oeria itu menatap Fitri lucu



"Dokter saya nggak suka dengan bau gedung ini" jawab Fitri kesal



"Aku nggak ajak kamu, kamu yang mau ikut aku, Ingat itu okey!" Timpal Zahirah sedikit tertawa



"Fit lihat anak kecil itu" Dokter Haidar menunjuk beberapa anak kecil yang sedang bermain di taman di temeni berapa suster.



"Yang kepalanya botak-botak?" Tanya Fitri spontan, lalu mendapat cubitan kecil dari Zahirah



"Iya Zah anak kecil botak. Kenapa lu cubit gue" ucap Fitri memukul pelan tangan Zahirah



Dokter Haidar terkekeh melihat Dua wanita di hadapannya ini



"Iya botak. Fitri Meraka anak-anak yang kurang beruntung dari segi kesehatan. Rambut mereka rontok karena penyakit yang di deritanya"

__ADS_1



"Kalian perhatikan anak yang sedang menggambar itu yang memakai baju tidur ungu" Tangan Haidar menunjuk pada arah anak tersebut, Fitri dan Zahirah memperhatikan



"Umurnya lima tahun, masih kecil seharusnya untuk melakukan beberapa rangkaian operasi. Apalagi dengan tidak adanya orang tua di sampingnya. Tapi dia kuat hebat dan saya bangga padanya"



"Lalu siapa yang menjadi wali nya ?" Tanya Zahirah yang masih tetap fokus menatap anak tersebut



"Orang tua saya, Ummi saya yang menjadi wali nya. ketika saya pertama kali menceritakan tentang Aisyah Ummi saya langsung jatuh cinta pada anak tersebut, hingga memutuskan bahwa detik itu juga setelah pulang dari rumah sakit Aisyah akan pulang ke rumah saya dan menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga saya" Zahirah beralih menatap Haidar, di matanya penuh dengan ketulusan, kekaguman, dan seperti ketakutan.



"Kemana orang tuanya?" Tanya Zahirah pelan



"Dia anak panti Zah. Aisyah di bawa ke rumah sakit keadaannya sudah benar-benar kritis. Bahkan ketika saya menangani nya kecil haraoa dia untuk sembuh. Tapi melihat dia sekarang saya yakin ia akan sehat kembali" Jawab Haidar semangat



"Apa orang tuanya tau tentang Aisyah?" Tanya Zahirah kembali



"Tidak, bahkan ketika Aisyah bayi pengurus panti menemukan Aisyah di semak-semak ada dalam kardus" Jawab Haidar getir



"Nah gua yakin ini emaknya Aisyah pasti korban Hamil duluan" Zahirah mencubit keras tangan Fitri,



Fitri mengasuh sakit lalu berdiri, mengusap-usap tangan nya yang perih



"Apa-apaan sih Luh dari tadi cubitin gua Mulu heran dahh" Ucap Fitri kesal menatap Zahirah



Zahirah tidak menghiraukan ucapan Fitri, Ia menatap Haidar dengan senyum canggungnya



"Saya tidak tau tentang orang tua Aisyah, apa alasannya meninggalkan Aisyah di panti asuhan tersebut"



"Saya ralat ya dokter. bukan meninggalkan tapi Aisyah di buang" Zahirah menarik kasar tangan Fitri agar duduk kembali



"Apaaa? Mau cubit gua lagi Lu?" Fitri menangkis tangan Zahirah



"Kamu nggak usah ngomong deh please" Lihi Zahirah di telinga Fitri



"Boleh tidak aku kenalan sama Aisyah" Mohon Zahirah pada Haidar



"Tentu boleh. Aisyah pasti akan senang" Jawab Haidar semangat



mereka berjalan beriringan menuju tempat Aisyah bermain.



"Aisyahhh" Teriak Haidar

__ADS_1


__ADS_2