Zahirah

Zahirah
Episode 09


__ADS_3

Ketika Zahirah membuka jendela kamarnya. Ia Di suguhkan dengan matahari yang menerobos masuk. Embun pagi masih terlihat segar di rumput-rumput pekarangan rumahnya.


Zahirah menatap lurus ke depan, Memandang beberapa burung kecil yang terbang bebas.


Termenung sesaat, memikirkan beberapa penggalan kejadian yang datang selama Tiga hari berturut-turut ini..


Sungguh dia tidak menyangka, bahwa hubungannya bersama Zaidan akan berakhir seperti ini, Mereka berdua sudah banyak merancang masa depan mereka akan seperti apa.


Tapi, sayang takdir berkata lain...


Dering ponsel di atas nakas terdengar nyaring. hingga membuyarkan lamunannya, Zahirah mengambilnya lalu mengangkatnya..


"Assalamu'alaikum mba, Iya ada apa?"


"Wa'alaikumussalam.."


"Zahirah mba minta tolong, kamu jangan terlalu siang ya berangkat ke butiknya. Hari ini ada beberapa customer, yang mau melihat-lihat gaun pengantin kita"


"Dan tolong kamu pisahkan beberapa gaun pengantin muslimah, Rekomendasikan yang menurut kamu cocok di badannya"


"Oohh.. siap mba Indah, sebelum jam Sembilan Zahirah sudah sampai di sana"


"Baiklah.. terimakasih Zahirah. Saya tutup telpon nya ya, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam mba"


Zahirah menghela nafas dengan kasar. Sulit sekali rasanya ingin melupakan Zaidan.. Pagi-pagi begini pun, sudah teringat dengannya


"Kamu bisa Zah. Masih ada Mama yang perlu kamu bahagiakan...."


Zahirah bangun lalu berjalan memasuki kamar mandi dengan gontai.


Sudah di bayangkan betapa sibuknya hari ini..



"Ngapain sih Bun pagi-pagi bertamu ke rumah orang?"



Zaidan berbicara dengan suara jengkelnya..



"Aishh... Anak ini.. apa kamu lupa hari ini akan mengantarkan Sarah pergi ke butik, untuk memilih baju pengantin kalian?" Bunda Irma menjawab dengan sedikit kesal..



"Kenapa bukan Bunda aja yang antar? Zaidan males" Zaidan menjawab dengan cuek

__ADS_1



"Pokoknya tidak ada penolakan! Selesai sarapan kita langsung berangkat ke rumah Tante Rosita!"



"Masih pagi Bun bertamunya, Nanti aja. kalo sekarang pokoknya aku ngga mau ikut" Zaidan menjawab dengan sebal...



Bunda Irma menatap Zaidan dengan tajam "Sebelum kalian ke butik, Ada beberapa obrolan yang perlu Bunda dan Ayah sampaikan sama Tante Rosita dan Om Hamdan.. Dan bunda mohon sekali pengertian kamu. Agar kamu mau ikut Sekarang, Zaidan!" Bunda Irma berucap dengan suara tertahan..



Pak Yusuf yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, lalu mengangkat Suaranya



"Zaidan.. sebaiknya kamu turuti Apa perkataan Bunda!"



Pak Yusup berkata dengan tegas menatap Zaidan, Zaidan tau arti tatapan itu. Tatapan yang tidak boleh ia bantah.



Zaidan hanya bisa menghela nafas pasrah..



Sarah merias wajah cantik nya di depan cermin, memakai Baju dan Hijab yang paling bagus menurutnya, Hari ini calon suami, dan calon mertuanya akan datang berkunjung..


Dia tidak akan melewatkan momen ini, yang pasti nya Sarah ingin Zaidan, Terpesona olehnya


Bu Rosita mengetuk pintu dengan pelan Lalu membukanya. "Sayangg ayo, Zaidan sama orangtuanya sudah datang.." Ia menghampiri anaknya dengan senyum..


"Sudah Cantik, jadi tambah cantik"


Bu Rosita memandang pantulan wajah Sarah di depan cermin. Membuat Sarah semakin melebarkan senyumnya..


"Makasih Bu.. Bagaimana penampilan Sarah hari ini Bu? Ada yang kurang ngga?"


"Sama sekali ngga ada yang kurang sayang.. Ayo cepetan ngga enak.. mereka nungguin kamu" Bu Rosita menarik tangan Sarah dengan lembut. mereka berjalan berdampingan menuju ruang tamu..


Sesampainya di Ruang tamu, Sarah menghampiri Bunda Irma dengan bahagia..


"Yaampuun sayang.. Tambah cantik aja kamu" Bunda Irma berdiri menghampiri Sarah lalu memeluknya


Sarah membalas pelukan Bunda Irma, dengan wajah yang tersipu malu

__ADS_1


"Bagaimana kabar Tante?"


"Alhamdulillah sayang sangat baik. Tante bahagia dengan pernikahan kalian ini.. Emmm calon suami kamu ngga di tanyain nih kabarnya?" Bunda Irma melirik Zaidan dengan tatapan jahil..


Dengan malu-malu Sarah menghampiri Zaidan, dengan mengulurkan tangan kanannya


"Halo Mas Zaidan.. Bagaimana kabarnya?"


Zaidan yang enggan menerima uluranan tangan Sarah pun, di sikut oleh ayahnya..


"Saya baik Sarah" Zaidan menjawab dengan sedikit senyum yang di paksakan. Sarah membalas senyum Zaidan..


Obrolan-obrolan yang menurut Zaidan tidak penting pun berlangsung setengah jam lebih.. Dia ikut bicara jika ada yang bertanya saja, lalu menjawab dengan sekenanya..


"Zaidan tidak ingin ada pesta resepsi pernikahan"


Bu Rosita yang mendengarnya menatap Zaidan dengan sorot mata yang aneh


"Ini Hari bahagia buat kalian berdua. Dan terjadinya hanya seumur hidup sekali. Sayang jika tidak di adakan pesta resepsi"


Bunda Irma menimpali perkataan Bu Rosita "Mungkin, maksud Zaidan, pesta resepsi nya tidak terlalu megah. Dan jangan terlalu banyak mengundang tamu Ros"


Bunda Irma menatap Zaidan dengan tajam


"Maklum Zaidan orangnya sedikit pemalu.. Iya kan Nak?"


"Jika pernikahan ini masih di harapkan ingin berlangsung, Zaidan hanya mau Ada Akad saja! Tidak ingin ada pesta lainnya" Zaidan menatap mata Bundanya dengan tegas..


Bu Rosita memandang wajah Zaidan dengan memincingkan matanya. apa-apaan ini hanya akad saja. Dia sudah merencanakan pernikahan yang megah. Dan mengundang banyak tamu..


"Mana ada pernikahan tidak ada pesta resepsi? Tante ingin mengundang teman-teman Tante dan Bundamu ! Zaidan perlu di ingat Anak Tante dan Om cuma hanya Sarah saja. Dan Tante ingin memberikan yang terbaik untuk Sarah di hari bahagia nya ini!" Bu Rosita bicara dengan sedikit marah


"Zika Bunda dan Tante Rosi masih ngotot mau mengadakan pesta, silahkan saja. Zaidan tidak akan datang" Zaidan menjawab dengan cuek...


Sarah yang kaget mendengar ucapan Zaidan, Ia duduk dengan tegak melihat Ibu Dan Bunda Irma matanya di kabuti dengan kemarahan.. Sebelum datang nya pertengkaran, Sarah buru-buru menimpali ucapan Zaidan


"Buu Tante... Sarah tidak apa-apa hanya di adakan Akad.. Toh yang penting Sarah sama Mas Zaidan sudah SAH menjadi suami istri!"


Sarah berkata dengan pelan, memandang Wajah Bunda Irma dan ibunya secara bergantian. Lalu beralih memandang Zaidan dengan senyum yang sedikit di paksakan


"Bunda. Tante dengar kan? Sarah saja tidak keberatan." menatap Bunda nya dan Tante Rosi bergantian, dengan senyum yang menyebalkan..


Pak Hamdan yang sedari tadi bungkam pun angkat bicara


"Sudah jangan bersitegang, Ada atau tidak ada nya pesta. Kita sebagai orang tua yang penting mendoakan kebaikan untuk rumah tangga anak-anak kita, Lagipula Sarah tidak keberatan dengan hal itu.. Mungkin Nak Zaidan kurang suka dengan keramaian."


"Baiklah IBu ikut saja apa Maunya Zaidan dan Sarah" Bu Rosita bicara dengan suara yang sedikit lemas


"Ross.. Maafkan Anakku ya"

__ADS_1


Bunda Irma merasa bersalah. Jika tau bakalan terjadi seperti ini. Dia Tidak akan memaksa Zidan ikut kesini..


"Tidak apa-apa Ir" Bu Rosita menatap Bunda Irma dengan sedikit senyum


__ADS_2