
Lelah, hanya lelah yang di rasakan Zahirah saat ini. Semalaman Dia tidak berhenti menangis, seperti enggan menerima kenyataan pahit yang terjadi padanya saat ini.
"Allahu.. Aku yakin engkau tidak mungkin mengecewakan Hambamu, apalagi seorang hamba yang lemah sepertiku. Zahirah hanya meminta agar engkau senantiasa memberi kekuatan, agar Zahirah ikhlas menghadapi ujian apapun itu" berkata dengan lirih hingga menjatuhkan air matanya..
Suara derring telpon terdengar nyaring. Ketika melihat siapa yang menelpon. Mas Zaidan, Iya nama Zaidan terpampang jelas di layar telpon, Rasanya Zahirah ingin langsung saja mengangkat, dan mengumpat segala hal yang tertahan semalaman ini kepada Zaidan.
Untuk beberapa saat Zahirah terdiam lalu mengangkat nya.
"Assalamualaikum sayang.. kenapa handphone mu baru aktif pagi ini? aku mengkhawatirkan mu dari kemarin, Aku menanyakan mu kepada Fitri tapi Dia bilang tidak tau, aku menelpon Mama mu tapi tidak di angkat-angkat. Zahirah apa terjadi sesuatu padamu saat ini?" terdengar sangat khawatir.
Pertanyaan beruntun Zaidan seperti menandakan bahwa seperti tidak terjadi apa-apa. Zaidan tidak tau atau memang pura-pura tidak tau bahwa ada hati yang terkoyak saat ini.
Zahirah menitikkan air mata nya, mendengar suara Zaidan.
"Mas.. apakah tidak ada sesuatu yang ingin kamu jelaskan sekarang kepadaku?" dengan suara bergetar, sekuat tenaga, Zahirah menahan suara agar tidak terisak.
"Apa yang harus aku jelaskan? justru kamu yang harus menjelaskan, kemana kamu dari kemarin? aku sangat mengkhawatirkan mu zah" dengan suara lembut..
__ADS_1
Habis pertahanan Zahirah dia terisak "Sayang kenapa menangis? Apakah kamu sedang sakit?" suara Zaidan terdengar sangat Khawatir
"Mass.. kenapa kamu mengecewakan aku?"
"mengecewakan apa sayang? mengecewakan, apa yang kamu maksud?"
"Kenapa kamu ingin menikahi mba Sarah? apakah aku tidak pantas di jadikan istri olehmu? Dua Tahun yang kita jalani ini apa mas? Kamu janji Enam Bulan lagi akan datang meminang ku?"
dengan suara terisak Zahirah meneruskan perkataannya "Keadaan ku tidaklah baik-baik saja mas.." Zahirah menahan nafas sebentar "Dan tadi kamu menanyakan apakah aku sakit. Iya aku sakit.. sangat sakit mass.."
Zahirah semakin terisak-isak "Mass kamu tidak tau sehancur apa hati aku saat ini, Aku kecewa dengan kalian semua, aku kecewa dengan keadaaan, Bahkan aku sedikit kecewa dengan semua takdir yang aku jalani saat ini! Dimana selalu aku yang terinjak, dimana aku yang harus mengalah"
dengan menangis tersedu Zahirah meneruskan ucapannya "Bolehkah sekali ini saja aku memilih egois mas? aku ingin kamu memilihku, dan membatalkan pernikahan mu dengan mba Sarah? apakah bisa kamu melakukannya mas Zaidan?" Suara Zahirah sedikit melemah...
Zaidan juga sama, Berada di posisi yang sama sekali tidak dia inginkan, Dia hanya mencintai kekasihnya saja, Zahirah. tidak ada yang lain. Tapi kesalahpahaman kedua orang tuanya membawa Zahirah di tempatkan pada tempat yang tidak boleh ia pilih.
"Sayang... sungguh aku tidak pernah ada niat untuk mengecewakan mu sedikit pun itu tidak ada. Tapi, maaf aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua Zah" dengan berat hati Zaidan mengatakan ini
__ADS_1
"hahaha" dengan tertawa sumbang "Aku sudah yakin dengan hal ini, Aku tidak akan pernah menjadi sesuatu yang akan terpilih, Apalagi menjadi pilihan antara aku dan Mba Sarah."
"Mau bagaimana pun aku tetap mencintaimu Zahh, tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun itu. Sayang.. Zahirah ayo kita bertemu, akan aku jelaskan kesalahpahaman ini semua"
"Mas Zaidan.. Aku selalu di tempatkan pada tempat yang salah, Mau bagaimana pun alasannya disini aku pihak yang salah. Dan, aku mohon tidak perlu menjelaskan apapun dan tentang apapun itu. Jawaban mu mempertegas bahwa kamu tidak bisa menghindari pernikahan ini. Mari kita sudahi hubungan kita!" suara Zahirah bergetar dan melemah..
"Terimakasih untuk Dua tahun ini, Mari kita jadi orang asing jika kita tidak sengaja bertemu"
tanpa menunggu jawaban Zaidan, Zahirah mematikan telpon nya dan terduduk dengan lemah. terisak dengan pilu, bagi siapapun yang mendengar tangisan zahirah saat ini, sungguh amat menyayat hati..
Tanpa di sadari, di celah kecil pintu yang terbuka ada seseorang yang mendengarkan dan menyaksikan, kesakitan yang di rasakan Zahirah. Mama Rina, mendengar semuanya dengan sangat jelas.
niat hati ingin mengajak anak sarapan bersama, tapi malah dia menyaksikan, keadaan yang begitu menyesakkan dada.
Sejak tadi, ia membekap mulutnya agar tangisnya tidak sampai terdengar oleh anaknya... Apa tidak cukup dengan semua penderitaan Dia dan Anaknya selama ini?
"Sayang.. Zahirah maafkan mama.." Mama Rina turun ke bawah dengan keadaan hati yang berkecamuk...
__ADS_1