
"Zaidan.. buka pintunya Nak, kamu belum makan seharian ini. Kamu tega membuat Bunda khawatir seperti ini? Zaidann..." Teriak Bunda Irma dari luar.
Bunda Irma tidak berhenti mengetuk pintu kamar Anak bungsu nya itu.
Dia benar-benar khawatir setelah kepulangan nya tadi siang dari luar, Zaidan tidak mau membuka pintu Kamarnya, belum lagi dari malam Zaidan sama sekali belum menyentuh makanan.
"Belum di buka juga Bun?" seorang wanita hamil menghampiri Bunda Irma, dengan membawa nampan berisi makanan..
"Udah Bunda makan duluan! Zaidan biar Raisa yang urus" Raisa berucap seraya megelus bahu Bundanya. Bunda Irma menghela nafas, lalu mengalah
"Baiklah nak, Bunda Turun lebih dulu kebawah. Tolong bujuk Zaidan makan"
ucap Bunda Irma sebelum melenggang pergi, meninggalkan Raisa di depan pintu Kamar Zaidan sendirian
Tok tok tok Raisa mengetuk pintu dengan susah "Zaidan.. dek Buka pintu nya, Mba buatkan sayur kesukaan kamu! ayo makan.. keburu dingin ngga enak loh."
tetap saja Zaidan tidak menggubris perkataan Raisa
"Kamu tega dek ngebiarin Mba berdiri, kamu ngga kesian sama mba. dengan perut buncit seperti ini tidak bagus loh lama-lama berdiri"
Raisa Berkata dengan suara sedih yang di buat-buat..
Ceklek.. Zaidan membuka pintu, Raisa tersenyun menatap wajah Zaidan.. Zaidan berlalu meninggalkan Raisa yang berdiri. Merebahkan badannya kembali di tempat tidur..
Baru Raisa duduk di depan Zaidan.
__ADS_1
"Zaidan tidak mau menikah Mba.. Zaidan sangat mencintai Zahirah" Belum sampai Raisa menjawab, Zaidan lebih dulu meneruskan perkataannya "Zaidan tidak akan mampu meninggalkan Zahirah begitu saja!."
Zaidan memejamkan mata nya, ia berbicara dengan suaranya yang parau..
Raisa mengerti akan perasaan adiknya seperti apa. Tapi ia sendiri bingung harus melakukan apa, sekalipun Zaidan tidak jadi menikah dengan Sarah, mustahil Mamanya menerima Zahirah sebagai menantu.
Karena Raisa tau, Bundanya begitu dekat sama Tante Rosita. Dan, sangat tau permasalahan keluarga Tante Rosita itu seperti apa. Raisa menghela nafas..
"Dek.. Mba tau ini sulit buat kamu, Tapi Nama baik keluarga juga tidak kalah pentingnya. Kamu tau sendiri, gimana Bunda sama tante Rosita berteman. Tidak mungkin Ayah atau Bunda berani untuk membatalkan pernikahan kamu begitu saja"
"Dan lagi, keluarga Tante Rosita sangat bahagia dengan adanya pernikahan kalian. Apa lagi Sarah" Raisa masih terus mengelus bahu Zaidan
"Tapi, aku tidak mencintai Sarah mba, sedikitpun!" Zaidan berbicara dengan tegas
Raisa menghela nafas sebentar, untuk memilih kata yang pas agar adiknya tidak tersinggung dengan perkataannya.
Raisa berbicara, dengan suara yang nyaris tidak terdengar. karena Raisa yakin, perkataan nya yang barusan pasti melukai hati sang adik..
"Zaidan, Mba mengerti sama perasaan kamu sekarang. Tapi bisakah kamu menerima Sarah dengan perlahan-lahan! Sarah tidak kalah baik dari Zahirah, Mba bertemu Sarah beberapa kali, dia anak yang cantik, sopan, yang pastinya dia cocok jadi istri kamu"
Raisa terus berbicara, tanpa memperhatikan raut wajah Zaidan seperti apa..
Dengan tatapan mendelik Zaidan menatap Raisa "Maksud mba, Zahirah tidak layak menjadi istri Zaidan?"
Raisa kaget mendengar perkataan Zaidan. Seperkian detik Raisa menyadari akan ucapannya yang menyinggung Zaidan..
__ADS_1
"Demi tuhan bukan seperti itu maksud Mba"
Ucap Raisa dengan gugup. Raisa mengelus tangan Zaidan dengan lembut.
"Sudahlah tidak perlu membahas tentang pernikahan kamu. Mba kesini hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja, dan yang pastinya kamu harus makan sekarang" Raisa menyodorkan sendok ke mulut Zaidan..
"Zaidan sama sekali tidak lapar mba. sebaiknya mba bawa kembali keluar, Zaidan tidak nafsu"
Raisa mengeluarkan jurus andalannya "Dek.. tega banget kamu! ngga mau makan masakan yang mba buat" dengan suara yang sesedih mungkin. Zaidan menoleh "Setidaknya dengan kamu makan, mengurangi rasa khawatirnya Bunda dan Mba"
Zaidan berdecak sebal "Sini mangkuk nya. Tidak perlu mba suapi, tangan ku masih mampu untuk makan sendiri" Zaidan Meraih mangkuk dengan sedikit kasar..
Raisa tersenyum manis "Nah gini kan enak liatnya, Habiskan ya Dek" sambil mengusap kepala Zaidan dengan sayang..
"Yasudah sana keluar, ngapain masih disini?"
"Habiskan dulu makanannya, Baru mba akan keluar"
"Tidak akan Zaidan buang makanan nya Mba! Malah dengan adanya mba disini mood makan aku jadi hilang"
Raisa bicara dengan sebal. "Segitunya banget kamu sama mba dek"Raisa menunjuk wajah Zaidan dengan telunjuk nya kanan nya " Janji ya jangan di buang!"
Zaidan yang malas untuk berbicara hanya berdehem "hemmm"
Raisa hanya menggelengkan kepalanya. Lalu pergi keluar. Dengan rasa bangga, karena berhasil membuat Zaidan memakan masakan nya..
__ADS_1
Zaidan mencerna semua perkataan Kakaknya. Lagi dan lagi hanya membuat dadanya sesak. membayangkan betapa kecewanya Zahirah kepadanya
"Zahirah.. maafkan Mass.." Zaidan menitikkan air mata nya kembali...