Zahirah

Zahirah
eps 24


__ADS_3

Sudah cukup tiga hari ini untuk Zahirah mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya, terutama hatinya. Zahirah tidak marah kepada siapapun, hanya saja ada beberapa perkataan yang membuat ia kecewa.


Zahirah meraih handphone di atas nakas. Selama ia tidak masuk kerja, Handphone nya sama sekali tidak ia sentuh. Ada banyak pesan masuk, bahkan ada puluhan panggilan yang sengaja tidak ia jawab. Fitri, Mbak Indah, Papi, Mami, dan beberapa rekan kerja yang menanyakan kabarnya.


Zahirah memasukan handphone nya ke dalam tas dan memasukkan beberapa barang lainnya yang biasanya ia bawa. Zahirah memandang wajahnya di depan cermin.


"Kamu tidak tahu diri Zah! Jika bukan karena mereka, kamu tidak memiliki siapapun selain Mama. Seharusnya bersyukur masih ada beberapa orang yang mau menerima kamu"


Zahirah berjalan ke arah pintu, ia keluar kamar dengan menggendong tas kerjanya,


Ketika sampai di meja makan, ia melihat Mamanya yang sedang membaca buku.


"Mama ngga sarapan?" Zahirah menghampiri Mamanya


"Loh Zah mau kerja kamu sayang?" Mama Rina balik bertanya, memperhatikan penampilan Zahirah pagi ini


"Iya Ma, kerjaan Zahirah udah numpuk banget kayaknya"


"Kirain Mama kamu bakalan libur lama, ini Mama ngga masak jadinya, di bikinin nasi goreng mau ngga?" Mama Rina duduk di sebelah Zahirah.


"Ngga usah Mah! Roti aja udah cukup. Nanti makan siang Zahirah nyari sama Fitri " Zahirah tersenyum balas menatap wajah Mamanya


"Kamu udah baikan sama Fitri Zah?" Mama Rina bertanya dengan wajah yang serius


"Emangnya aku sama Fitri kenapa Mah?"


"Tiga hari ini Fitri ngga berhenti sepulang dari kerja datang kesini. Tapi kamu selalu ngga mau ketemu sama dia, kalo kaya gini bukan berarti kamu ngga ada masalah kan sama Fitri"


"Mama kepo!" Zahirah terkekeh-kekeh dengan ucapan panjang lebar Mama nya


"Bukan kepo Zah! memang kenyataan nya begitu, Fitri yang cerita sama Mama kalo dia buat salah sama kamu. Terus kamu marah sama Dia kan, sampai ngga mau ketemu begitu"


"Aku ngga bakalan bisa marah sama Fitri, dan Mama pasti tau itu!" Ucap Zahirah yang masih tetap serius memakan rotinya


"Mama seneng dengernya kalau memang benar kamu ngga marah sama Fitri. Mama ngga mau kalo kalian sampai ngga berteman lagi Zah" Mama Rina berucap dengan suara lirih


"Ngga bakalan terjadi Ma. Percaya sama Zahirah" Zahirah menggenggam tangan Mama Rina lembut


"Zahirah berangkat ya Ma, udah kesiangan banget ini"


"Iya Zah hati-hati ya. Kalo ada apa-apa jangan lupa kasih kabar Mama" Zahirah tersenyum menanggapi Ucapan Mama Rina meraih tangan nya lalu menciumnya lembut


"Assalamu'alaikum Mah"


"Wa'alaikumussalam sayang"



Ketika sampai di parkiran mobil tempat nya bekerja, Zahirah turun, berjalan dengan sedikit tergesa. Dari kejauhan Fitri memperhatikan Zahirah seksama takutnya ia salah melihat.



Tepat di depan pintu masuk. Zahirah mendapatkan pelukan mendadak, Fitri memeluk Zahirah sangat erat.



"Astaghfirullah fit kamu bukan hanya bikin aku kaget, tapi ini bikin aku sesak banget" Zahirah berusaha melepaskan pelukan Fitri, tapi Fitri malah semakin memperkuat pelukan nya.



"Gua takut lu ngga mau ketemu gua lagi Zah"



Zahirah kaget dengan ucapan Fitri, mana mungkin dia bisa menghindari teman satu-satunya ini, tiga hari tidak bertemu saja sudah membuat rindu yang memuncak.



Fitri melepas kan pelukan nya memegang kedua tangan Zahirah. memukul-mukul kan ke wajahnya

__ADS_1



"Ayoo Zah pukul Gua yang kencang. Pukul gua sepuasnya yang lu mau! Tapi gua mohon jangan marah lagi sama gua Zah"



Fitri berucap dengan suara yang sedikit terisak. Zahirah melepaskan cekalan tangannya dari Fitri.



"Kamu apa-apaan Fit? Ngga ada yang marah sama kamu kok Fit!"



Zahirah menarik tangan Fitri ke arah teras butik.


Ketika sampai di depan bangku, Zahirah mendudukkan Fitri dan dirinya. mereka duduk bersebelahan, Zahirah menggenggam tangan Fitri lembut.



"Dengan sikap lu yang seperti tidak ada apa-apa, malah membuat gua semakin merasa bersalah Zah. lu berhak memukul, mengumpat gua sepuasnya. Karena gua sadar, ucapan gua tempo lalu itu benar-benar kelewatan. Tiga hari ini benar-benar bukan seperti tiga hari biasanya yang kita lewatin bareng-bareng. Gua tanpa lu hampa Zah. Gua ngga pernah bisa kalo Tanpa ada lu di hidup gua" Fitri berucap panjang lebar, meremas tangan Zahirah.



Zahirah yang mendengarnya pun merasa terharu, dia bukan marah, Zahirah hanya kecewa saja dan itu tidak banyak.



"Emang aku bisa marah sama kamu KAKAK?" Zahirah menekan kata Kakak, hingga membuat seulas senyum di wajah Fitri. Sebenarnya Zahirah sangat geli ketika mengucapkannya..



"Ucapan kamu yang tadi, yang pas kamu ngga bisa hidup tanpa aku. Itu hati-hati loh bilangnya, kalau sampai ketahuan mba Indah, bukan cuma kamu yang jadi bulan-bulanan dia, aku juga pastinya" Fitri melepaskan tangannya repleks memandang Zahirah yang cengengesan.



"Bodo amat. gua mah sama sekali ngga peduli atas penilaian orang lain, Yang sekarang gua butuhin cuma kata maaf dari lu doang Zah. Lu masih mau kan maafin gua Zah?" Fitri menatap Zahirah penuh harap




"Makasih banget Zah, Gua janji nggak bakalan terjadi kesalahan seperti kemarin lagi. Maaf juga buat segala kesalahan gua yang lainnya"



Zahirah langsung memeluk Fitri. Sungguh hari ini ia merasa sangat bahagia.



"Zah... Sayanghh.... Zah...."


Ini adalah kali pertamanya Zaaidan memeluk Sarah bahkan sangat erat. Bukan nya bahagia, tapi ia seperti di tusuk sebilah pisau.


Dari semalam Zaidan demam, dan ia terus menerus memanggil nama wanita itu. Secinta itu kah Zaidan, hingga ia isteri nya yang setiap hari selalu menemani nya di anggap seperti angin lalu. Sakit ini sakit, dan tidak ada satu orang pun yang tau keadaannya saat ini. Sarah melepaskan pelukan Zaidan perlahan, Zaidan malah semakin memeluk nya erat


"Jangan tinggalin Mas sayang, Mas benar-benar rindu Zah!" Zaidan berucap hingga meneteskan air matanya, dan pemandangan ini malah semakin membuat luka Sarah menganga


Sarah memaksa melepaskan pelukan Zaidan, wajahnya mulai basah dengan air mata. Zaidan yang merasa tidurnya terusik pun perlahan-lahan membuka matanya, dan ia di kejutkan dengan keadaan dirinya yang memeluk Sarah. Ia buru-buru tersadar, melepaskan Sarah lalu duduk. Memijit pelipisnya. Sungguh tubuhnya sangat lemah. kepalanya pun terasa pening


Sarah menghapus air matanya, lalumenghampiri Zaidan, tangannya terulur ingin menyentuh kening Zaidan, tapi sebelum tangannya sampai, Zaidan lebih dulu menepisnya


"Mas tadi memeluk Sarah begitu posesif, kenapa sekarang Sarah hanya ingin mengecek suhu tubuh Mas saja, Mas Zaidan langsung menepis nya?" Sarah berucap dengan suara yang mengejek, Zaidan hanya acuh mendengar nya...


"Seistimewa apa wanita itu?" Sarah bertanya menatap Zaidan serius


"Apa aku di mata Mas benar-benar tidak ada apa-apanya di banding wanita itu"


"Jika Mas sakit karena merindukan nya, ayo Sarah antar untuk menemuinya" Sarah berucap dengan senyum yang di paksakan.

__ADS_1


"Jika Mas ingin menikahi wanita itu detik ini juga, Sarah akan menemaninya"


Zaidan terkekeh geli mendengar ucapan Sarah barusan.


"Jika saya meminta kita harus bercerai apa kamu akan mengabulkan nya?" Zaidan balik bertanya menatap Sarah serius


"Tidak akan!" Sarah menjawab dengan tegas


"Tadi kamu bertanya kepada saya, seistimewa apa wanita yang saya cintai. Jawabannya dia yang paling istimewa dan tidak akan pernah ada yang bisa menggantikan keistimewaan nya dalam hidup saya!" Zaidan menatap Sarah dengan senyuman, senyum yang meremehkan Sarah


"Kamu bertanya, kamu tidak ada apa-apanya bagi saya. Itu benar Sarah! Dan jika saya menganggap kamu sebagi sampah apa kamu marah Sarah?"


"Sadar lah Sarah, kamu berhak bahagia, kamu wanita baik seharusnya mendapatkan suami yang baik pula. Saya tidak mencintai kamu sedikit pun! Dan menyerah lah untuk pernikahan konyol kita ini"


Sarah masih tetap mempertahankan air matanya agar tidak keluar detik ini juga. Perkataan Zaidan ini memang benar-benar keterlaluan.


"Jika seorang istri ingin mempertahankan rumah tangga nya apa salah Mas?"


"Rumah tangga seperti apa yang kamu maksud ?" Zaidan balik bertanya.


"Mas bisakah kamu belajar menerima Sarah sedikit saja. Demi orang tua kita" Sarah menatap Zaidan penuh harap


"Tidak bisa!" Zaidan menjawab dengan suara yang tegas


"berapa puluh kali wanita itu me****kang di depan kamu Mas? berapa kali kamu meniduri wanita ja**Ng **alan itu" hingga kamu masih bertekuk lutut mencintai nya sampai detik ini juga?"


Sarah berteriak di depan wajah Zaidan


Zaidan yang mendengarnya pun, wajahnya merah menahan amarah. Zaidan mengambil pas bunga yang ada di dekatnya melemparkan kepada Sarah. Namun Sarah lebih cepat menghindar. Zaidan menghampiri Sarah lalu menampar pipi Sarah kencang.


Plaaakkkk...


Lalu Zaidan mencekik Sarah


"Wanita yang kamu hina barusan ia adalah wanita yang suami kamu cintai. Jangankan kamu, orang tua saya saja tida saya izinkan untuk menghinanya. Apalagi sampah seperti kamu ini Sarah!"


"Barusan kamu menghinanya, memfitnahnya, kamu merendahkannya juga Sarah. Bahkan kamu tidak sadar bahwa kamu lebih hina daripada dia, Mengemis cinta kepada laki-laki yang jelas tidak mencintai kamu!" Zaidan berucap dengan suara yang tertahan.


Dengan sekuat tenaga Sarah melepaskan cengkraman tangan Zaidan, lalu mendorong nya. Zaidan tersungkur ke lantai yang banyak pecahan kaca. Hingga menyebabkan beberapa luka di tangan dan wajah nya.


Yang membuat Sarah terkejut bukan banyak darah di beberapa tubuh Zaidan. Tapi ia terkejut mendapati Zaidan yang sepertinya pingsan. Ia menghampiri Zaidan, dan benar saja jika suaminya pingsan.


Braaakkk suara pintu terbuka kencang. Sarah menengok mendapati kedua mertuanya di ambang pintu. Bunda dan Ayah Yusuf buru-buru menghampiri mereka. Alangkah terkejutnya mereka mendapati anaknya bersimbah darah


Bunda Irma menutup mulutnya tidak percaya,. Pak Yusuf gegas menghampiri Sarah. mendorong Sarah kasar


"Kamu apakan anak saya hingga seperti ini Sarah?" Pak Yusuf bertanya dengan suara geram


"Yah ini tidak seperti yang kalian kira. Kalian salah paham sama Sarah"


Pak Yusuf tidak memperdulikan ucapan Sarah. ia benar-benar khawatir dengan melihat keadaan Zaidan yang sekarang ini..


"Bun panggilkan Panji tolong bantu ayah membawa Zaidan ke rumah sakit" Bunda Irna mengangguk, Sarah mencekal tangan Bunda Irma


"Bunda percaya sama aku kan? Aku ngga mungkin ngelakuin semua ini Bunda"


"Bunda percaya sama kamu Sarah. kamu tenang ya"


"Bunda kita tidak punya banyak waktu. cepetan"


Bunda Irna melepaskan Sarah, lu berjalan tergesa keluar


"Jika sampai terjadi sesuatu kepada anak saya, sungguh saya tidak akan memaafkan mu Sarah!"


"Ayah mohon percaya sama Sarah, Sarah tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa membahayakan Mas Zaidan Yah" Sarah berucap dengan berderai air mata


"Lalu ini apa Sarah. Anak kecil saja akan mengerti bahwa saat ini sedang terjadi kekerasan"


"Lihat wajah Sarah Ayah. Tamparan ini siapa yang melakukan nya"

__ADS_1


Pak Yusuf menatap wajah Sarah. pipinya sedikit membiru, bahkan di lehernya pun seperti ada bekas cekikan. Pak Yusuf memalingkan wajahnya.


"Tolong percaya sama Sarah"


__ADS_2