
Risa memegang pipinya yang memerah karena tamparan Kaka kandungnya sendiri. Risa menatap remeh kepada lelaki paruh baya di hadapannya ini.
Yang lain pun tak kalah terkejutnya, bahkan Sarah hanya menunduk dalam. Sungguh perkataan dari wanita yang barusan mendapatkan tamparan dari mertuanya ini sungguh menyakitkan. Tapi apa boleh buat.
Zaidan menatap sinis ke arah Ayahnya sendiri,
"Jangan sekali-kali lagi Ayah menampar Tante Risa di hadapan Zaidan! Ayah tidak memiliki keluarga selain dia" Zaidan berbicara dengan suara dalam nya
Tangan Pak Yusuf masih gemetar, sungguh ia tidak sengaja melakukan nya. Pak Yusuf ingin menyentuh Risa, tapi Risa lebih dulu menepisnya.
Risa menatap Sarah semakin benci, sungguh kehadiran wanita sok polos di hadapannya ini malah membawa petaka terhadap keluarga kakak nya.
"Aku hanya meminta dia bercerai dari Zaidan, bukan meminta nyawanya, aku sungguh menyayangi anak Abang, sungguh!" Ciccit Risa pelan
"Kalian tidak pernah tau sekeras apa Zaidan bertahan di atas segala keinginan kalian yang bodoh ini. Tidak cukupkah Zaidan menjadi anak yang membanggakan di kalangan keluarga besar kita? Dari segala bidang prestasi yang ia telah miliki?" Risa bicara dengan memelas
Zaidan, Raisa, bunda Irma, pak Yusuf, Panji dan Sarah, hanya mendengarkan seksama, tanpa ada yang angkat bicara.
"Berbakti seperti apa yang kalian maksud? bukankah setalah mba mengandung dan melahirkannya, adalah kewajiban kita sebagai orang tua untuk mendidik merawat dan memberikan segala sesuatu yang layak untuk dia sebagai anak kita? Dan tentang berbakti, apakah kita sama sebagai anak telah berbakti kepada orang tua kita sendiri?" Risa menatap Bunda Irma Dengan sorot mata yang penuh kekecewaan, dan Bunda Irama tak kalah tajam membalas tatapan Risa
"Dan kamu sebagai wanita, seharusnya kamu tahu diri! dengan kamu mempertahankan pernikahan kamu demi kebahagiaan kamu semata, itu salah! kamu menyiksa suamimu sendiri kam-"
"Sarah sudah terlebih dahulu mengizinkan Mas Zaidan menikahi wanita itu, namun Mas Zaidan tidak ingin melakukannya" Sarah memotong ucapan Risa, menatap Rusa dengan sorot mata sungguh-sungguh
"Tidak akan ada perceraian atau Zaidan menikahi siapapun!" Ucap Bunda Irma tegas, Risa menatap Kaka ipar nya tidak percaya
__ADS_1
Zaidan muak mendengar perdebatan gila ini,, kepalanya semakin pening menyikapi obrolan yang menurutnya tidak akan ada selesainya.
"Zaidan mohon dengan sangat, bolehkah kalian keluar semua, aku ingin istirahat tanpa mendengan mendengar perdebatan apapun!" Zaidan manangkup kan keduanya tangan nya di dada seperti hendak memohon.
Lalu mereka keluar satu persatu, Tante Risa menoleh khwatir, tapi Zaidan memberi isyarat bahwa tidak akan terjadi apapun
~~~~~`
"Reza" Lirih Zahirah
Reza menoleh tersenyum mendapati Zahirah bangun yang sedang menatapnya.
"Apa kamu memerlukan sesuatu?" Reza menatap Zahirah seksama
"Bagaimana Mama?" Tanya Zahirah penuh kecemasan
"Tenang, Fitri sudah mengurus nya" Jawab Reza tanpa melepaskan tatapannya dari Zahirah, Zahirah hanya mengangguk lega
"Zahh"
"Iya"
"Jangan terluka!" Reza menggenggam tangan Zahirah lembut
"Demi aku Fitri dan Tante Rina" Tatapan Reza berubah sayu.
__ADS_1
Zahirah memalingkan wajahnya. Zahirah bukan tidak tau kalau Reza menyukainya, namun Zahirah hanya menganggap kalau kebaikan Reza, kabaikan antara kakak pada adiknya.
Zahirah meneteskan air matanya, dari sekian banyak orang-orang yang membencinya. Tuhan sungguh adil. ia di anugerahi teman-teman yang begitu tulus menyayangi nya
Zahirah duduk, lalu memeluk Reza dengan erat. Zahirah selalu menepis seperti apa perasaan Reza terhadapnya, intinya dia akan selalu menganggap Reza sebagai pelindungnya, Reza adalah kakaknya titik!
Reza mengelus lembut punggung Zahirah, ia menyeka air matanya. Kejadian Hari ini sungguh membuat Reza semakin membenci Zaidan Dan Keluarganya. Ingin rasanya Reza menghancurkan mereka semua tanpa sisa
Dibalik pintu masuk kaca, Haidar menatap Zahirah dan laki-laki yang sedang ia peluk di hadapannya sekarang. Entah perasaan seperti apa, sungguh ia tidak suka Zahirah berdekatan dengan laki-laki lain.
Tidak tahu diri emang, padahal baru beberapa jam ia kenal. Tapi dengan gampangnya ia terjerat akan pesona seorang Zahirah
Haidar berjalan perlahan, mendekati mereka
"Ekheeemm" Zahirah dan Reza terkejut, Zahirah buru-buru menyeka air matanya yang tersisa, lalu menatap Reza, bergantian menatap Dokter di hadapannya ini dengan canggung
" Selamat malam dok?" Zahirah menyapa Haidar, Haidar mentap Zahirah tersenyum manis.
"Apa sudah baikan Nyonya Zahirah?" Tanya Haidar
"Alhamdulillah baik, bahkan lebih dari sebelumnya" balas Zahirah tanpa melepaskan senyum
Reza memalingkan wajahnya, orang yang baru mengenal Zahirah akan terpesona dengan senyumannya itu, tapi tidak dengan Reza, senyuman itu sungguh menyayat hatinya. senyuman manis yang menutupi seribu duka. Jika kalian ingin tahu orang yang padai memanipulasi, Zahirah lah pemenangnya.
Ingin rasanya Reza menghentikan drama tuhan terhadap Zahirah. Ia merasa pengatur waktu sungguh tidak adil terhadap orang yang paling ia cintai ini. semesta mempermainkan kesabarannya dengan begitu kejam,
__ADS_1
Menikam Zahirah tanpa henti, dan sungguh yang membuat ia semakin mencintai Zahirah yaitu dengan kesabaran nya, dengan sikapnya yang tidak ingin orang lain tahu kalau dia sedang terluka.
Reza meremas tangan nya kesal, kebencian Reza terhadap keluarga Zaidan sepertinya semakin memupuk, bahkan mendarah daging. Ia bersumpah seandainya terjadi sesuatu buruk lagi terhadap Zahirah, ia sendiri yang akan menghabisinya.