
"Saya ingin bicara penting sama Mba Zahirah"
"Sepenting apa?" Tanya Fitri
"Saya hanya ingin bicara berdua" Sarah menatap Zahirah seperti meminta persetujuan.
"Zahirah nggak bakalan bisa pergi kalau Gua gak ikut" ujar Fitri menatap kesal wajah sok lugu Sarah
"Jika Mba ingin bicara bersama Saya, maaf teman Saya juga akan ikut" Jawab Zahirah balik menatap Sarah
"Baiklah" Ujar Sarah pelan
mereka bertiga berjalan beriringan menuju tempat yang Sarah tunjukkan. sampailah mereka bertiga, di salah satu meja yang sudah Sarah pesan
Lama mereka terdiam dengan segala lamunan dari kepalanya masing-masing
"Jangan membuang-buang waktu kita deh loh" Ucap Fitri jutek, Sarah mengangguk menatap Fitri
"Saya bingung harus memulai dari mana. Tapi Saya akan langsung ke intinya saja ya Mba" Sarah menghela nafas pelan menatap Zahirah serius.
"Rumah tangga Saya dari awal memang tidak baik-baik saja. Mas Zaidan selalu mengacuhkan Saya, Saya berfikir mungkin karena Kami sama-sama belum mengenal dengan baik dan Saya sangat memaklumi itu. Tapi pikiran Saya ternyata Salah, suami Saya masih mencintai seseorang di masa lalunya" Sarah menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
Fitri mendengarkan dengan seksama, apa Sarah sudah mengetahui tentang Zahirah pikirnya. Dan Zahirah meremas tangan nya kuat, ia gugup benar-benar gugup
"Sudah kali berapa Saya menyuruh Agar suami Saya menikahi wanita itu, tapi ia selalu menolak dengan alasan. Dia ingin menceraikan saya terlebih dahulu, ia tidak ingin membagi cintanya terhadap wanita itu, pada wanita lain"
"Mba Zahirah jika saya yang memohon agar Mba mau menikah dengan Mas Zaidan, dan Mba meminta pada Mas Zaidan tanpa menceraikan Saya, apa Mba mau melakukannya?" Sarah menatap wajah Zahirah dengan mata yang hampir menangis
Zahirah dan Fitri menatap wajah Sarah terkejut, benar Sarah sudah mengetahui bahwa manta suaminya itu Zahirah.
"Heh teman gua nggak bakalan mau melakukan hal seperti itu, mau memohon seperti apapun loh Dia tidak akan mau!" Fitri angkat bicara
"Tapi Saya hanya ingin mencegah sesuatu yang tidak di inginkan terjadi, mau bagaimanapun hubungan Mba dan Suami Saya itu sangatlah tidak etis. Dia sudah berkeluarga"
"Maksud loh apa hah? Loh berfikir teman Gua seperti itu?" Fitri tersulut emosi menatap Sarah bengis.
Sarah menyodorkan Handphone nya, memperlihatkan beberapa foto Zaidan dan Zahirah hari itu, yang ia ambil dari handphone suaminya secara diam-diam
__ADS_1
Fitri memperhatikan satu persatu gambar tersebut, bahkan di sana tertulis tanggal pengambilan gambarnya. Baru tiga hari pikirnya tak percaya
"Saya tidak tahu kisah Mba Zahirah dan Mas Zaidan bagaimana waktu sebelum menikah bersama Saya, yang Saya tahu Mas Zaidan sekarang adalah suami Saya. Dan Saya tidak ingin Suami Saya berada dalam kubangan dosa bersama kekasihnya. Maka dari itu maukah Mba menikah dengan Suami Saya?" Sarah bicara dengan suara yang setenang mungkin. walaupun dadanya bergemuruh hebat
Zahirah masih terdiam dengan pandangannya yang kosong. Sekarang ia merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini, bagaimana bisa ia masih mencintai seseorang yang sudah memliki Istri.
"Kenapa loh bisa melakukan ini Zahirah? Loh tau kan ini tuh SALAH! Tolong berfikir sebaik mungkin Zaidan sudah menikah" Lirih Fitri menatap Zahirah kecewa
"Ini tidak seperti yang kalian bayangkan" Jawab Zahirah bergetar
"Laki-laki dan perempuan berdua di kamar. Saya tidak menyangka Mba bisa semurahan itu" Ucap Sarah pelan. Tapi masih terdengar di telinga keduanya
"Jaga mulut loh" Hardik Fitri
"Apa Mba tahu seberapa tersiksanya Mas Zaidan karena menikahi Mba?" Tanya Zahirah menatap Sarah serius.
"Saat ini Mas Zaidan tidak baik-baik saja karena keegoisan orang tuanya, mental dan tubuhnya hancur Mba. Sudah kali berapa Mas Zaidan meminta Mba agar menyetujui perceraian, namun Mba sangatlah egois mementingkan kebahagiaan orang tua Mba dengan mengorbankan suami Mba sendiri Seharusnya mba meng-"
Plakkkk
Sarah menampar keras wajah Zahirah "Memang dasarnya Kamu itu Murahan ya Mba Zahirah"
"Satu tamparan ini balasan tamparan tadi"
Plaakkk
"Dan ini tamparan karena loh udah bilang murahan sama Sahabat gue"
Fitri menampar kedua pipi Sarah keras, dan Zahirah masih terdiam bisu memegang pipinya yang memerah karena tamparan Sarah tadi.
Fitri bangun menarik paksa tangan Zahirah agar mengikutinya. meninggal Sarah yang menunduk terisak
"Jelasin Zah"
__ADS_1
"Hari itu Mba Raisa datang ke butik, memaksa Aku untuk ikut menjenguk Mas Zaidan Fit di apartemennya. Aku menolak sebisa mungkin, sampai pada akhirnya Aku luluh karena melihat Mba Raisa berlutut memohon"
"Di sana bukan hanya ada Aku dan Mas Zaidan. Tapi, ada juga Mas Panji Mba Raisa dan Tante Rissa, di kamar itupun Aku bertiga sama Tante Rissa. Jika Kamu sama berfikir seperti Mba Sarah kalau Aku ini hanya berdua saja. Sungguh itu tidak lah benar Fit"
Zahirah menjelaskan secara rinci tanpa ada yang tertinggal, Fitri mendengarkan dengan baik. Tapi mau bagaimanapun menurut pemikirannya apa yang di lakukan Zahirah tetaplah Salah. Seharusnya ia tetaplah kukuh pada pendiriannya sendiri jika ia bertekad ingin melupakan Zidan secara sungguh-sungguh.
"Mas Zaidan sekarang salah satu pasien dokter psikiater"
Fitri terkejut mendengar ucapan Zahirah barusan
"Iya Dia sekarang mengalami depresi" Ucap Zahirah dengan matanya yang berkaca-kaca
"Dia tidak bahagia, dan sudah beberapa kali ia melakukan percobaan bunuh diri, namun selalu gagal. Aku takut keadaan dia akan semakin parah kedepannya, jika ia masih di hadapi dengan situasi seperti ini secara terus menerus. Keinginannya sederhana Dia hanya ingin di mengerti dan di dengarkan ketika bercerita"
"Bukan di pojokan, di salahkan dari setiap permasalahan yang terjadi"
"Terlepas apa yang di lakukan Mas Zaidan padaku, tidak memungkiri sampai detik ini dengan lancangnya aku masih mencintainya Fit" Zahirah menunduk terisak
__ADS_1
"Mencintai itu tidak lah Salah Zah, tapi cinta loh itu akan menjadi aib jika mencintai seseorang yang salah" Fitri mengelus pundak Zahirah lembut.