
Reza terus menarik kerah pakaian Zaidan. Sampai mereka menjadi perhatian, dari beberapa pengunjung rumah sakit tersebut. Reza menarik Zaidan sampai di pekarangan rumah sakit
Zaidan hanya pasrah, tidak melawan sama sekali. Ia hanya menahan cekalan Reza agar ia tidak terlalu tercekik, ia mengekori kemana Reza membawanya.
Reza melepaskan kasar tangannya dari kerah bajunya Zaidan. tanpa menunggu, Reza langsung memukul wajah Zaidan. Zaidan yang tidak siap akan pukulan Reza pun terjatuh jatuh ke tanah
"Lu dengar semuanya kan bajingan?" Teriak Reza di depan wajah Zaidan.
Sekilas ucapan Zahirah begitu terngiang di kepalanya. Ingin Reza meneriaki kebodohan Zahirah yang masih tetap mempertahankan perasaannya pada Zaidan, entah karena peduli atau cemburu. Yang pasti Reza sakit ketika melihat Zahirah menangis.
Apalagi mengingat apa yang di lakukan orang tua temannya ini terhadap Zahirah, semakin memupuk kebenciannya terhadap Zaidan.
"Zai. Lu tau gua mencintai Zahirah seperti apa. Gua juga sakit hati ketika lu sakitin Zahirah dengan meninggalkan dia begitu saja" Ucap Reza dengan suara yang sedikit melemah
"Gua kira itu yang paling menyakitkan. Ternyata tidak Zai! Justru hari inilah yang paling menyakitkan, ketika lu dan keluarga lu nyakitin Zahirah sampai sedalam ini. Dan Zahirah masih tetap mencintai lu sama seperti dulu"
Reza menundukkan kepalanya, Zaidan yang mendengarnya pun menatap menitikkan air matanya. Sungguh perbuatan Mamanya di luar dugaan, ia tidak menyangka Bundanya sampai melakukan hal seperti sekarang terhadap Zahirah
"Gua sakit hati bukan karena tentang perasaan gua yang tidak terbalas. Tapi gua sakit, melihat bagaimana Zahirah mencintai seseorang yang salah. Seseorang yang telah menghancurkan mentalnya sejauh ini!" Timpal Reza.
"Za.. Perihal perlakuan Bunda sama Zahirah, demi tuhan gua ngga tau apa-apa Za!" Tutur Zaidan, sungguh ia juga menyayangkan apa yang Bundanya lakukan
"Lalu perlakuan lu?" Reza menatap Zaidan
"Lu tau posisi gua Za!"
"Zaidan lu bodoh! Gua udah ingetin lu buat ninggalin Zahirah dari beberapa bulan lalu!" Ucap Reza sedikit Marah
"Gua ngga bisa ninggalin Zahirah begitu saja Reza! Sampai detik ini pun perasaan gua masih sama. Gua masih mencintainya, tidak ada yang berubah dalam perasaan gua, sedikitpun!" Ucap Zaidan tersulut emosi
"Tahu diri dengan status yang sedang lu sandang saat ini!" Reza menatap Zaidan dengan mata yang memerah
Zaidan terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Reza barusan. Sungguh tidak ada yang percaya bahwa ia tersiksa dengan pernikahan bodoh yang sedang ia jalani saat ini
"Lu pikir gua bahagia Za sama pernikahan ini?" Zaidan melirik Reza
"Gua gak peduli lu sekarang bahagia tidaknya. Kita tidak sedekat itu tanpa Zahirah! Yang menjadi prioritas utama gua sekarang bagaiman Zahirah bisa bahagia, tanpa terbelenggu dalam cinta Bodohnya ini" Ucap Reza masih tetap sama menatap Zaidan dengan mata yang berkilat marah
"Dan gua memohon dengan sangat, agar lu dan keluarga busuk lu itu jangan pernah menyentuh Zahirah sedikitpun" Timpal Reza
Zaidan menundukkan kepalanya, ia menyesal dengan keputusan yang ia buat sendiri. Benar kata Fitri, seharusnya ia memperjuangkan Zahirah sampai keluarga nya bisa menerimanya...
Saat ini ia semakin membenci keberadaan Sarah. Ia, gara-gara wanita itu dan ibunya ia harus terjerumus di lebah penyesalan sedalam ini, menyakiti Zahirah tanpa ampun...
Zaidan berdiri, lalu meninggalkan Reza yang masih di liputi kemerahan...
"Ingat yang gua katakan barusan Zai!" Teriak Reza kesal
Zaidan masih tetap berjalan tanpa mempedulikan apa yang Reza katakan.
Ceklek suara pintu terbuka
Semua fokus orang yang ada di dalam ruangan itu teralihkan dengan datangnya seseorang. Lelaki yang biasanya, gagah rapih, tampan, bahkan senyuman yang tidak pernah ia lepaskan
Berubah seratus delapan puluh derajat. Sekarang ia begitu berantakan, dengn beberapa kancing baju yang terlepas, wajahnya yang lebam, matanya yang sembab, rambutnya yang berantakan, Senyuman yang hilang dari beberapa bulan lalu
"Mas apa yang terjadi" Sarah menghampiri Zaidan cemas
Zaidan menepis tangan Sarah yang ingin membantunya. Zaidan masih terus berjalan lurus menghampiri orangtuanya
"Apa yang terjadi sama kamu Nak? Kenapa sampai terluka seperti ini?" Tanya Pak Yusuf cemas
Semua orang yang berkumpul merasa prihatin melihat penampilan Zaidan, sekilas mereka tidak akan mengenal bahwa dia adalah Zaidan, anak laki-laki yang selalu menjadi kebanggaan mereka
"Siapa yang melakukan ini sama kamu Zai? Bunda ngga bakalan ridho!" Ucap Bunda Irma membersihkan lebam di wajah Zaidan, yang masih mengeluarkan sedikit darah
"Apalagi Mama Rina jika mengetahui anaknya di perlakukan sehina itu oleh orang lain, mengingat bahwa anaknya itu perempuan. Luka Zaidan tidak seberapa dari luka yang Zahirah alami sekarang. Kita bukan hanya menyakiti perasaannya. Mental dan Fisiknya juga tidak main-main hancurnya!" Zaidan berucap pelan, pandangannya lurus menatap ke depan
Bunda Irna yang mendengarnya pun, melepaskan tangannya dari wajah Zaidan...
__ADS_1
"Perihal apa yang di lakukan Zaidan terhadap Zahirah itu harusnya tidak ada ampun, apa yang di lakukan Bunda pun sama! Tapi Baiknya Zahirah, sedalam apapun luka yang kita toreh kan terhadapnya, ia masih sama. Dengan maaf nya yang seluas samudera" Timpal Zaidan menitikan air mata
Semua orang terdiam mendengar ucapan Zaidan barusan.
Sarah meremas dadanya yang begitu sesak, tiap hari ia selalu mendengar pujian Zaidan untuk Zahirah. Tapi hari ini lebih menyakitkan dari sebelum-sebelumnya, Zaidan memuji Zahirah di depan banyak orang. Dan Sarah merasa bahwasanya memang ia benar-benar tidak di inginkan sama sekali.
"Ayah, Bunda. Zaidan mencintai Zahirah, Sungguh!" Zaidan berkata tegas
Sarah yang mendengarnya pun memalingkan wajahnya, dan Bunda Irma meremas kasa yang ia pegang, sedangkan Pak Yusuf sangat merasa iba. Raisa dan Panji hanya mendengarkan dengan seksama. Ia tidak punya kuasa lebih untuk angkat bicara.
"Entah ke berapa kali Zaidan mengatakannya. Tapi memang seperti inilah keadaan hati Zaidan yang masih tetap mencintai wanita yang sama" Lanjut Zaidan dengan sedikit senyum
"Bolehkah Zaidan menceraikan Sarah?"
Plakkkkkk
Bunda Irma menatap Zaidan nyalang. Nafasnya naik turun. Yang lainnya pun tidak kalah terkejutnya, dari Zaidan yang meminta cerai dan tamparan keras yang di layangkan bundanya, hingga membuat sudut bibir Zaidan mengeluarkan darah kembali.
"Okey Jawabannya berarti TIDAK. Zaidan harus berbakti kepada Bunda, dengan menikahi anak teman Bunda, karena balas budi. Iya kan?" Ucap Zaidan terkekeh. ia lalu berdiri Menatap satu persatu Anggota keluarganya tersebut
"Jangan jadi anak kurang ngajar kamu Zai" Raisa berdiri. menunjuk wajah Zaidan geram
"Jujur Mba, dari kecil aku selalu iri sama kebebasan yang Mba miliki. Mba hidup dengan bebas mau melakukan apapun, sekolah, pekerjaan, pertemanan, bahkan pasangan!" Zaidan balas menatap Raisa
Zaidan Benar, dari dulu Zaidan selalu di tuntut dari berbagai hal. Tidak sekali dua kali Raisa melihat kemarahan orang tuanya terhadap Zaidan, bahkan hal dari sepele sekalipun
"Aku akan seperti biasanya menjalankan apa yang kalian mau. Tidak akan membantah! Tapi Zaidan mohon jangan sampai ada yang melukai Zahirah sedikit pun!" Zaidan menangkup kan kedua tangannya seperti memohon
"Jika sampai hal seperti ini terjadi kembali, Zaidan akan berlaku tegas sekalipun itu Bunda yang melakukan nya" Timpal Zaidan.
Zaidan berjalan berlalu ke kamar mandi. meninggalkan semua orang, tanpa menunggu jawaban dari salah satu mereka.
Sedari tadi Sarah merasa, bahwa pilihannya untuk mempertahankan rumah tangganya ialah salah. Tapi apa boleh buat, bagaiman dengan kedua orangtuanya jika mengetahui bahwa ia akan bercerai. Sarah tidak ingin jika sampai orangtuanya tau apa yang di lakukan Zaidan terhadapnya. Sarah tidak mau jika Meraka membenci Zaidan...
"Anak berbakti itu Memeng perlu. Tapi kita sebagai orang tua harus lebih mengerti apa yang sebenarnya anak kita inginkan, apa yang kalian lakukan tidak jauh berbeda dengan kata menyiksa Zaidan perlahan-lahan!"
Mereka semua menoleh ke asal Suara
"Jangan memperkeruh suasana Ris!" Ucap Pak Yusuf sembari memijit pelipisnya.
kepalanya terasa pening, Mengingat permasalahan keluarga nya yang enggan selesai.
"Bukan memperkeruh suasana Bang. Tapi Risa hanya mengingatkan, sebelum Zaidan jatuh lebih dalam. Kalian salah memperlakukan Zaidan seperti ini!"
"Tau apa kamu tentang mendidik anak?" Ucap Bunda Irma menatap Risa remeh
__ADS_1
Risa yang di tatap pun hanya acuh
"Peristiwa yang sedang di alami Zaidan sama persis ya, sama peristiwa yang di alami Abang tempo dulu" Ucap Risa menatap Satu persatu Kakaknya
"Bedanya Abang berontak dan durhaka terhadap Ibu" Lanjut Risa
"Tau tentang durhaka? Sekarang saya sudah mendapatkan restu dari orangtuamu! Bahkan saya hidup dalam kebahagian!" Bunda Irma menjawab dengan geram.
Dari awal menikah Hinga saat ini, Risa selalu menunjukkan ketidaksukaan nya terhadap Bunda Irma
"Apakah dalam keterpurukan Zaidan, keluarga Abang masih bisa di bilang bahagia?" Tanya Risa serius menatap Pak Yusuf
"Sudahlah tidak perlu membahas kesana kemari. Sekali aja jika kalian bertemu tidak perlu adu bicara seperti ini"
Pak Yusuf menatap adik dan istrinya secara bergantian, Sedangkan yang lainnya hanya menjadi pendengar tanpa ingin ikut masuk kedalam pembicaraan mereka
Pintu kamar mandi terbuka, Zaidan keluar dengan penampilan yang lebih baik dari sebelumnya. Walaupun luka di wajahnya masih terlihat lebam, bahkan dari tatapan matanya yang penuh luka
"Astaghfirullah aladzim. Kamu kenapa Zai?" Tanya Tante Risa berjalan cepat menghampiri Zaidan
"Tidak apa-apa Tante" Zaidan tersenyum, ia senang Tuhan masih menyisakan satu dari keluarganya, yang masih memperdulikan perasaannya
Risa membantu menuntun Zaidan ke tempat tidurnya.
Beberapa menit berlalu keadaan masih tetap hening, hingga suara Risa membuyarkan lamunan semua orang
"Mintalah cerai Sarah" Ucap Risa tanpa menatap Sarah, ia masih tetap fokus menatap wajah Zaidan dengan perasaan pilu
Bunda Irma berjalan menghampiri Sarah, menggenggam tangan Sarah kuat.
"Kau tidak memiliki kekuasaan lebih atas keluarga saya Risa! Saya orang tuanya dan saya yang paling berhak memilih mana pasangan yang terbaik untuk anak saya!" Tutur Bunda Irma dengan suaranya yang tertahan
"Dengan menyiksanya?" Tanya Risa menatap Bunda Irma sinis
Sedangkan yang lainnya hanya diam. Pak Yusuf masih dengan keadaan nya yang menunduk.
"Dia yang bersedia" Jawab Bunda Irma
"Zaidan bersedia karena kalian yang mengancamnya" Teriak Risa
Pak Yusuf yang sedari tadi hanya diam pun berdiri lalu menghampiri ke empat manusia itu
"Apakah tidak ada laki-laki lain yang bersedia menikahimu Sarah?" Ucap Risa menatap Sarah kesal
Plaaakkkkk
"Ayahhhhhhh" Bentak Zaidan
__ADS_1