
"Kenapa dari tadi Kamu melamun terus Zah?"
Zahirah melirik ke asal suara, tersenyum tipis untuk menanggapi pertanyaan tersebut
"Jangan bilang Lo masih keinget sama anak kecil tadi Zah?" Todong Fitri menatap Zahirah serius
Zahirah menundukkan kepalanya sedih. Mendengar penuturan Dokter Haidar tentang kesehatan Aisyah membuat ulu hati Zahirah nyeri.
"Minggu depan Aisyah operasi, Apa Aisyah senang" Tanya Haidar mengelus pundak Aisyah lembut
"Apa setelah di operasi Aisyah akan sembuh? dan rambut Aisyah tidak akan botak lagi Abang Dokter?" Aisyah balik bertanya
"Tentu saja akan sembuh, In syaa Allah" Jawab Haidar cepat
"Kata teman Aisyah, Umur Aisyah tidak akan banyak lagi. Penyakit seperti ini akan habis memakan tubuh Aisyah sampai Aisyah meninggal" Ucap Aisyah sendu
Haidar Zahirah dan Fitri menundukkan kepalanya sedih, memang penyakit yang di derita Aisyah susah sekali untuk mengobatinya.
"Kok Aisyah bicara seperti itu?" Tanya Zahirah lirih
"Kaka cantik, Aisyah sering merasakan sakit setelah operasi. Tubuh Aisyah seperti banyak yang menggigit tapi tidak terlihat" Ujar Aisyah
Zahirah memeluk tubuh mungil Aisyah ia menangis, Benar yang di katakan Haidar tadi. Untuk seumur Aisyah penyakit ini terlalu jahat ada di tubuhnya.
Fitri berjongkok di depan Aisyah, Fitri ingin mengelus pucuk kepala Aisyah tapi ia urungkan
"Apa Kaka juga jijik mengelus kepala botak Aisyah?" Tanya Aisyah menatap Fitri
Fitri gelagapan, Haidar dan Zahirah menatap
"No! Bukan jijik. Kaka cuma takut kamu sakit" jawab Fitri cepat
"Ohh nggak sakit kok" Ucap Aisyah tersenyum
"Rambut Kaka cantik" Aisyah mengelus rambut panjang Fitri yang tergerai di hadapannya
"Apakah jika Aisyah sembuh, akan memiliki rambut seperti ini Abang Dokter?" Tanya Aisyah tersenyum
"Tentu. Aisyah akan memiliki rambut cantik seperti Rapunzel" Ucap Zahirah cepat
"Tapi Rambut Aisyah harus di tutup seperti Kak Zahirah. Aisyah tidak mau kan rambut Aisyah rusak?" Timpal Haidar, dan Aisyah menggeleng kan kepalanya cepat
"Rambut kak Fitri nggak di tutup. apa kak Fitri tidak takut rambutnya rusak" Aisyah bertanya menatap Fitri
Fitri menatap Haidar kesal "Saya orang Kaya Aisyah. Jika rambut saya rusak saya bisa pergi ke dokter manapun bahkan keluarga negri"
__ADS_1
Haidar dan Zahirah hanya terkekeh geli menatap Fitri yang sedang kesal
Percakapan mereka berempat tidak jauh di seputaran tentang Aisyah, mereka bertiga terus menerus menyemangati Aisyah.
"Maafkan Mba hiks hiks hiks"
Zaidan meringis perih, ketika Kalanya membersihkan darah di sekitaran wajahnya
"Sudah berapa kali Mba bilang gini"
Raisa memeluk Zaidan. Pemikiran Raisa tentang pernikahan adiknya tidak jauh seperti orang tuanya, ia pikir seiring berjalannya waktu adiknya akan menerima Sarah. Nyatanya Zaidan malah semakin tersiksa
"Jika kamu ingin menggugat cerai Sarah aku bisa bantu Zai" Panji yang sedari tadi hanya memperhatikan ia angkat bicara.
"Jika Aku bisa sudah aku lakukan Kak" Zaidan menjawab
"Tapi aku memikirkan Zahirah, jika aku sampai melakukan hal itu. Sudah pasti Zahirah lah yang akan semakin terluka. Kalian tidak akan bisa membayangkan apa saja yang akan di lakukan Bu Rosita pada Zahirah" Lanjut Zaidan panjang lebar
"Gila ini si gila! kenapa kamu harus terjebak dalam situasi seperti ini Zaidan" Panji memijit pelipisnya. Ia merasa kasihan pada adik iparnya
"Takdir" Jawab Zaidan singkat
__ADS_1
"Hari ini Kamu tidur disini saja Zai, janga dulu pulang. Kaka juga akan menginap disini" Raissa mengelus tangan Zaidan
Zaidan menatap Panji seperti minta persetujuan, yang di tatap pun seperti mengerti
"Kamu boleh menginap disini semaumu Zai" Ujar Panji.
Dua jam berlalu tapi Zaidan masih terus memandang wajah wanita cantik yang terpampang di ponselnya.
Sedari tadi Zaidan mengscroll akun sosial media Zahirah dengan menggunakan akun palsu yang sudah lama ia buat. Ia selalu antusias dengan kegiatan apa saja yang Zahirah lakukan.
Empat jam yang lalu Zahirah mengunggah sebuah foto dengan seorang dokter anak kecil dan Fitri menyematkan caption \**bersama si cantik yang kuat, Aisyah💜*\*
"Tidak ada yang lebih cantik, kuat, tangguh, selain kamu sayang" Ucap Zaidan lirih
Zaidan meremas bantal kuat. Ia ingin teriak sekeras-kerasnya agar seluruh dunia tahu kalau ia sungguh mencintai Zahirah dengan segenap hidupnya. Ia tidak bahagia, ia tersiksa, ia seperti terkurung di dalam labirin.
Panji mengelus pundak Raissa sayang. Sedari tadi istrinya tidak berhenti menangis
"Sayang Aku sudah memperingatkan kamu dari jauh hari sebelum pernikahan ini terjadi, tapi tidak ada yang mendengarkan pendapat aku" Ucap Panji kesal
"Aku.. aku... hiks hiks .. Aku sakit melihat keadaan Zaidan seperti itu Mas. Bunda sama Ayah keterlaluan hikss.. hikss.."
"Aku akan membawa Zahirah besok untuk menemui Zaidan" Ucap Raissa serius
__ADS_1
"Aku akan bantu kamu sayang" Panji memeluk tubuh istrinya