
Zahirah duduk memangku laptop nya di ruang tamu. Mama Rina membawa piring yang berisi makanan dan segala jus di tangan sebelahnya, menghampiri Zahirah, lalu meletakkan nya di atas meja. Zahirah melirik Mama nya sekilas dan tersenyum
"Makasih Mama"
"Sama-sama Sayang"
"Maafkan Mama ya Zah"
Zahirah menoleh, Memandang wajah Lelah nya Mana Rina dengan intens. Padahal seharusnya Dia yang meminta maaf.
"Coba kalo Mama dari pertamanya tau. Kalo Ayahmu Menikahi Ibu Rosi, pasti Mama sudah memutuskan hubungannya dari jauh-jauh hari. Tidak terbesit sedikitpun di benak Mama, untuk mengganggu hubungan rumah tangga orang. Mama Pacaran Empat tahun lebih sama Ayahmu. Dia tidak pernah mengatakan kalo dia sudah di jodohkan oleh orangtuanya"
"Setiap Mama meminta di nikahi oleh Ayahmu! Ayahmu sering berkilah, hingga pada saat itu Mama ingin memutuskan hubungannya, Ayah memohon-mohon untuk tidak melakukannya. Hingga Mama memaksa Dia untuk menikahi Mama jika tidak mau, Mama tinggalkan"
"Ayah menyanggupi untuk menikahi Mama. Tapi di adakan dengan akad yang sederhana dan tertutup. Bahkan pihak dari keluarga Ayah tidak ada satu orangpun yang datang. Alasannya semua keluarga Ayah tinggal di luar kota"
"Beberapa tahun Mama membina Rumah tangga, Mama merasa seperti selingkuhan. dan yang paling anehnya ayah tidak ingin, Mama secepatnya mengandung. Hingga Mama harus melakukan KB beberapa tahun"
"Dan selang beberapa tahun Mama punya kamu. saat usia kamu genap 2 tahun. Mamah di kagetkan dengan kenyataan bahwa Ayahmu memiliki Istri lain selain Mama. Bu Rosi datang bersama ibunya ke Rumah"
"Dalam keadaan hamil Bu Rosita melemparkan barang-barang yang ada di rumah, ke tubuh Mamah, Mama hanya diam memelukmu, melindungi mu agar kamu tidak terluka. Untung saat itu Abah buru-buru datang untuk melerai ke marahan Ibu Rosita"
Ibu Rosita berbicara dengan dada yang begitu sesak. Kejadian itu Tidak dapat ia lupakan dari memori ingatan nya..
Sebelum Mama Rina melanjutkan ucapannya Zahirah lebih dulu menyela
"Zahirah mohon jangan ungkit masa lalu Mama yang itu. Bukan Zahirah tidak ingin mendengarkan Mama bercerita. Tapi Zahirah ngga mau hati Mama terluka kembali"
Entah kali ke berapa, Mamanya menceritakan ini. Bukan Zahirah bosen mendengarnya. Hanya saja, pada akhirnya Mama akan menangis, merasa bersalah, lalu menyalahkan dirinya sendiri..
"Mulai saat ini, Zahirah yang akan menjaga Mama, melindungi Mama dari siapapun yang ingin menyakiti Mama. Maaf Zahirah belum bisa menjadi Anak yang Sholehah yang berbakti sama mama"
Mama Rina menghampiri Zahirah, memeluk nya dengan sangat erat. Beruntung sekali dia memiliki Zahirah.
Sedari dulu Zahirah adalah alasannya untuk selalu kuat. Di saat banyak nya manusia yang mengolok-olok, menghina, membenci, bahkan mefitnahnya dengan kejam. Zahirah lah yang selalu menjadi tempat nya untuk bersandar..
Pak Hamdan? Sejak saat kejadian itu. Mama Rina meminta cerai, mengancam Pak Hamdan Untuk meninggalkan nya. Jika tidak, Mama Rina tidak akan pernah mengenalkan Zahirah kepada Ayahnya.
Pak Hamdan menuruti keinginan Mama Rina dengan terpaksa, Lagi pula orang tuanya sendiri sama halnya mengancam dirinya. Jika Pak Hamdan Tidak meninggalkan Mama Rina. keluarga nya sudah bersiap akan membuat Mama Rina dan Anaknya menderita....
"Ayah apakah Bunda tidak perlu kita bawa ke Rumah sakit?"
Raisa bertanya sambil menatap Bundanya yang sedang tertidur dengan raut wajah khawatir. Setelah kejadian tadi Zaidan Bertengkar dengan Bundanya Raisa menelpon Ayahnya agar segera pulang. Raisa Takut terjadi apa-apa sama Bundanya..
"Tidak perlu! Jika Bunda sudah bangun minum kan lagi obatnya! Ayah mau ke atas, Mau menemui Zaidan"
Raisa buru-buru mencekal lengan ayahnya dengan khawatir
__ADS_1
"Ayah jangan ngelakuin apa-apa ya sama Zaidan!"
Raisa Khawatir takut Ayahnya memukuli Adiknya. Mau bagaimana pun, pertengkaran ini tidak seratus persen Zaidan yang salah.
Ayah melirik cekelan tangan Raisa, lalu melepaskan nya perlahan "Tidak janji!"
Tanpa menunggu jawaban dari Raisa Ayah berjalan menuju pintu keluar, menaiki tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di depan pintu kamar milik Zaidan, Pak Yusuf memegang handle pintu, ternyata pintu nya tidak di kunci.
Ceklek Ayah membuka pintu. Mata pak Yusuf Langsung di suguhkan pemandangan Zaidan yang begitu memperihatinkan.
Zaidan duduk termenung, menghadap pada jendela yang terbuka, Pak Yusuf melihat kedua mata anaknya yang sembab...
"Zaidan sudah makan?"
menghela nafas..
"Anak laki-laki Seumur hidupnya, Surga akan tetap ada di bawah telapak kaki Ibunya.. Jangankan untuk meninggikan suara, tidak menoleh ketika di panggil saja itu dosa!"
"Zaidan pasti pernah mendengar istilah. Bahwa setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya! Ini bukan tentang keegoisan semata. Kadang pilihan orang tua, itulah yang tepat"
"Kita sebagai anak tidak akan pernah bisa membalas semua jasa dari ibu kita, Mau kita menjadi penurut atau sekaya apapun. Jasa seorang ibu tidak bisa kita balas! Terkecuali dengan cara kita berbakti"
"Hari Ini banyak para malaikat yang melaknat mu. Karena apa? Karena telah menyakiti ladang surgamu hingga dia meneteskan air mata nya"
Zaidan mendengarkan ucapan Ayahnya dengan seksama.
__ADS_1
"Bunda sudah sangat kelewatan Yah. Menghina Zahirah dengan tuduhan yang tidak senonoh! Bahkan memfitnah anaknya sendiri melakukan Zina. Ayah percaya Zaidan kan? Zahirah wanita baik-baik dan Zaidan pun tau batasan norma agama kita! Tidak mungkin Zaidan berani menjatuhkan harga diri wanita yang Zaidan cintai! "
"Kenapa ketika Orang tua kecewa. Tangan nya langsung menunjuk ke anaknya. Sedangkan ketika Anaknya yang kecewa, jangankan menunjuk, untuk membantah saja. Seorang anak langsung mendapat kan cap, sebagai anak yang Durhaka?"
"Kapan Zaidan tidak pernah menuruti keinginan Bunda dan Ayah!"
Pak Yusuf menghela nafas. Dia sudah tau sikap isterinya jika tidak menyukai seseorang. mulut dan tindakan nya tidak bisa di tahan. Dan bukan berarti Pak Yusuf memaklumi keduanya. Antara Zaidan yang memarahi Bundanya. Dan istrinya menghina orang lain..
Pak Yusuf menatap Zaidan sedih. Benar, Zaidan selalu menuruti keinginannya dan istrinya. Dan pak Yusuf tidak pernah meminta persetujuan Zaidan mau atau tidaknya..
"Zaidan sangat tersiksa dengan pernikahan ini! Tidak cukup kah Bunda dan ayah dari dulu mengatur kehidupan Zaidan?"
"Maafkan Ayah karena tidak bisa melakukan apapun untuk Zaidan, Ayah hanya bisa mendoakan agar Zaidan bisa menerima ini dengan lapang, Menikah adalah ibadah terpanjang umat Islam. Dan lagi dengan kita menikah berarti kita telah menyempurnakan separuh agama kita"
Zaidan tersenyum miris mendengar penuturan Ayahnya barusan. Justru ini adalah ibadah terpanjang, Zaidan hanya ingin menikahi wanita yang ia cintai. membangun rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah. Dan Zahirah lah orang nya!
"Jika terjadi sesuatu dalam pernikahan ku ini. Zaidan Harap Ayah dan Bunda akan ikut serta mempertanggung jawabkan nya nanti di hadapan tuhan. Zaidan hanya Akan mengikuti Keinginan Bunda dan Ayah, untuk menikahinya. Tapi tidak untuk mencintainya!"
Perkataan Zaidan barusan. Membungkam Mulut ayahnya.
"Jika Ayah bicaranya sudah selesai. Keluar lah dari kamar Zaidan"
"Baiklah jika Zaidan tidak ingin Ayah temani. Jangan lupa minta maaf sama Bunda!"
Zaidan tidak ingin menjawab ucapan Ayahnya, Zaidan masih terus memandang keluar jendela. pikirannya masih terus Merawang kenangan yang ia habiskan bersama Zahirah..
"Maafkan aku sayang. Aku telah melanggar janjiku sendiri, untuk menjadikanku sebagai ladang pahala surgamu"
Zaidan berucap dengan suara yang parau. lagi dan lagi air mata nya menitik tanpa permisi..
__ADS_1
Kenapa ia lemah sekali jadi laki-laki. Kenapa ia tidak bisa menolak keinginan kedua orangtuanya. Dan kenapa tidak ada satupun keluarga yang mengerti perasaanya ...