Zahirah

Zahirah
Liburan Yang Berantakan


__ADS_3

Acara akad telah selesai. Walaupun sempat ada kekacauan yang di sebabkan oleh Zaidan, gara-gara salah sebut nama.


Saat ini sedang berlangsungnya acara sungkeman.


Tiba saatnya giliran Zaidan sungkem pada pak Hamdan


"Saya Ridho Sarah di menjadi istri kamu Nak Zaidan. tolong bahagiakan dia, sayangi dia, cukupi semua keperluannya. Jadikan dia wanita yang paling bahagia karena di peristri oleh mu Zaidan"


Zaidan menegakkan kepalanya menatap Pak Hamdan, dengan sorot mata yang tida percaya. membahagiakan apa yang ia maksud? sudah jelas-jelas Zaidan sama sekali tidak mencintai Sarah


"Saya tidak pernah berjanji dengan semua yang om katakan barusan. Om lebih Tau saya mencintai anak om yang lain! Sarah bercita-cita ingin memiliki suami seperti Ayahnya! dan saya akan mengabulkannya dengan suka rela"


Bisik Zaidan dengan suara yang penuh penekanan..


"Jangan main-main kamu Zaidan!" Ucap pak Hamdan dengan suara tertahan..


Zaidan menatap wajah mertua nya dengan senyum mengejek. Apakah orang yang di hadapan nya ini tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia bukan hanya menyakiti Zahirah. Tapi dia sedang memasukkan anaknya yang lain, ke lubang yang sama seperti Zahirah.


"Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya! Saya akan mencintai Zahirah, seperti Om mencintai Mama Rina. Dan menyiksa Hati Sarah,' sama seperti Om Menyiksa Tante Rosita. Anggap saja ini Karma untuk kalian" ucap Zaidan dengan lirih.


Pak Hamdan yang mendengarnya pun tersulut emosi mencengkram kedua bahu Zaidan dengan kencang.


"Sarah tidak pernah tau dengan permasalahan ini. Dan kamu jangan main-main sama saya! jika kamu menyakiti Sarah kamu akan berhadapan dengan saya langsung!"


Zaidan melepaskan kedua tangan Pak Hamdan. mengibaskan pakaian nya, seperti sedang membersihkan debu. menatap Pak Hamdan dengan tatapan yang benar-benar jijik.


"Lihat saja nanti pak!" ucap Zaidan pelan sebelum bangun.


Acara sungkeman pun terus berjalan dengan Air mata haru dan penuh bahagia. Tapi tidak untuk Zaidan seorang. Sedari tadi Pak Hamdan tidak lepas menatap Zaidan. Dan yang sedang di tatap pun, mengacuhkan nya seakan tidak peduli.


Acara berjalan berlangsung lama. Dari akad, sungkeman, makan-makan, dan bercengkrama. Tidak terasa hari sudah beranjak siang. Dan Zaidan memutuskan masuk ke kamar terlebih dahulu. Selain tubuhnya yang lelah, pikiran dan hatinya pun jauh lebih lelah. Zaidan membaringkan tubuhnya, dan menutup wajahnya dengan jas yang tadi ia buka. Beberapa saat kemudian ia mulai terlelap, karena kelelahan.


Ceklek... Pintu terbuka menampilkan Sarah yang masih memakai gaun pengantin nya.. Sarah melirik Zaidan yang sedang berbaring di tempat tidurnya. ia tersenyum bahagia..


Sarah menghampiri Zaidan membuka Jas yang menutup wajah Zaidan. menatap wajah tampan Zaidan dengan senyum yang mengembang. Sungguh seperti mimpi dapat di nikahi lelaki setampan ini.


Sarah mengelus wajah Zaidan dengan lembut. Zaidan yang merasa ada yang mengelus wajahnya pun bangun terkejut, lalu mendorong Sarah secara reflek.


"Apa-apaan kamu menyentuh wajah saya Sarah?" ucap Zaidan menahan marah


Sarah yang merasa kaget, di dorong secara tiba-tiba hingga terjatuh terduduk. Zaidan bukan nya membantu malah menatap Sarah jijik.


Sarah bangun sendiri lalu duduk di sisi tempat tidur. memandang Zaidan antara malu dan sedih


"Maaf kan Sarah mas"


"Kamu sudah lancang Sarah" hardik Zaidan dengan mata yang mendelik


"Lancang? Apanya yang lancang mas? kita sudah Sah kita sudah menjadi suami istri! Apa aku salah menyentuh orang yang sudah halal untukku?"


Ucap Sarah dengan mata yang menatap Zaidan aneh. Masa menyentuh suaminya sendiri di bilang lancang.


"Hentikan omongan kosongmu itu!"


Sarah kaget dengan ucapan Zaidan barusan. Apa sikap Zaidan seperti ini terhadap orang baru? apa dia belum terbiasa dengan kehadiran Sarah?


Sebelum Sarah menjawab ucapannya, Zaidan lebih dulu keluar membanting pintu secara kasar. Hingga membuyarkan lamunan Sarah..


"Biarpun aku orang baru di hidupnya. tapikan tetep saat ini aku istrinya" Sarah menghela nafas dengan kasar....




Sungguh ini bukan liburan yang Fitri inginkan

__ADS_1


apalagi sampai di bayangkan! Berlibur bertiga. yang satunya anak baperan yang satunya anak singa



Jika yang ada di kursi belakang ini bukan bosnya ingin sekali Fitri melemparkan orang itu ke pinggiran jalan yang sedang ia lewati ..



"Mulut kalian sudah tidak berfungsi lagi kah sekarang?"



Indah mengawali percakapan, seperti biasa dengan kata-kata mutiaranya. Sambil merapikan rambutnya di depan cermin



"Masih sangat berfungsi bos. Hanya saja mental Zahirah lebih penting daripada ngobrol! kalau saya sih ngga masalah ngobrol sama siapapun, pasti saya layani. Tapi saya menghargai teman saya yang memiliki hati selembut pantat bayi ini. Gampang baperan"



Ucap Fitri dengan suara kesal. malah membuat Indah tertawa. Zahirah menepuk tangan Fitri dengan kesal.. Apanya yang pantat bayi.



"Ngapain sih mba ikut kita? ganggu banget tau ngga sih!" Ucap Fitri sambil melirik Indah sekilas di kaca spionnya.



"Saya hanya mengamankan kalian. Saya takut terjadi pernikahan Antara jenis"



Fitri mengerem mobilnya dengan mendadak. Menikah antara sejenis. maksudnya dia sama Zahirah gitu?




"astaghfirullah aladzim Mba Indah Fitri.bisa ngga sih bikin Zahirah tenang sehari saja!"



Fitri melajukan mobilnya kembali. menatap bosnya di spion dengan sebal



"Dengar ya mba Indah yang terhormat. walaupun saya belum pernah pacaran. demi tuhan saya ngga doyan sama manusia modelan beginian aku masih normal"



Baru beberapa jam saja satu ruangan dengan Bos nya, emosi Fitri sudah meluap-uap. bagaimana tiga hari ke depan.. sungguh menyiksa sepertinya. Fitri menggeleng kan kepalanya ,memikirkan nya saja sudah membuat kepalanya pening.



"Eh kenapa marah-marah. Saya hanya mengkhawatirkan. Bukan menuduh! Kan setiap hati orang ngga ada yang tau Fit"



"Kalo mba ngga mau saya turunin diam aja itu mulut. Bahaya!"



"Emang kamu berani nurunin saya di tengah jalan seperti ini? Ingat saya Bos kalian loh"


__ADS_1


"Ya berani! kenapa ngga? jangan kan di turunin saya lemparkan aja ke pinggiran jalan berani. Mau nyobain?"



Mata indah mendelik menatap Fitri dengan tajam. Berani sekali anak buahnya ini Sialan..



Sakit sekali kepala Zahirah mendengar perdebatan yang pasti ngga ada selesai nya. Kenapa Zahirah harus di kelilingi dua manusia seperti ini. Tidak baik sekali buat kesehatan jantung dan mentalnya ini..



"Kalau kalian berdua ngga bisa diam Aku aja deh yang turun! Bukannya seneng bisa liburan yang ada mood aku tambah berantakan, ngedengerin kalian debat ngga jelas begini! Kalau kalian prihatin sama aku seharusnya jaga juga perasaan aku! jaga mulut kalian untuk tidak ngomong yang tidak-tidak. Engga enak kalau sampai terdengar orang selain kita!"



"Kembali diam saja seperti tadi jauh lebih baik! tidak perlu ada yang berbicara! Apalagi yang tidak ada sisi baiknya sama sekali!"



Ujar Zahirah dengan suara sedih yang dia buat-buat. menatap wajah mereka satu persatu. ternyata sukses juga menutup mulut dua manusia berbisa ini...



"Alhamdulillah" ucap Zahirah lirih sambil mengelus dadanya "Akhirnya telinga aku dapat istirahat kembali



Mereka bertiga diam, tanpa ada yang bicara satu pun. Indah sibuk dengan handphone nya, Fitri sibuk mengemudi dengan menggunakan handset nya.



Dan Zahirah menatap jalanan menyenderkan kepalanya ke kaca mobil..



Diluar sangat ramai. Apa kabar dengan hati hati ini?? seperti inikah setiap wanita yang di tinggal menikah oleh kekasihnya. Hampa, sakit, sedih, kecewa, semuanya menjadi satu. sekeras apapun untuk berusaha melupakan nya. Sungguh sangat sulit..



"Jika mencintaimu akan sampai sesakit ini. sungguh. menoleh menatap wajahmu saja tidak akan pernah aku lakukan. apalagi menjalin kasih!"



"Mencintaimu sungguh menjerumuskan ku, ke dalam lebah penyesalan. Jika aku tahu bahwa tujuan Tuhan melatih mental ku dalam percintaan. sungguh aku setiap hari akan berdoa meminta, bahwa cintaku jangan sampai berlabuh di asrama hatimu, yang pada akhirnya sangat sulit untuk aku bangunkan kembali untuk pulang "



"Jika tragedi mencintaimu ada sedikit anugerah. Anugrah mana yang perlu aku syukuri?"



"Jika mencintaimu membuat banyak kenangan. Kenangan yang manis mana yang harus aku nikmati? Bahkan satu batang pohon yang pernah kita lewati saja terasa begitu menikam sampai ulu hati. Mentertawakan diri ini yang sedang pilu"



"Tentang ikhlas, Ikhlas mana yang belum pernah aku lakukan. Hingga aku merasa bahwa semesta ingin meluluh lantakkan kehidupan ku"



"Tentang Adil. keadilan mana yang pernah aku dapatkan. Yang ada dunia seperti mencengkeram tubuh ku dari ketidakadilan manusia"



Zahirah menghela nafas panjang, perjalanan hidup yang benar-benar harus ia lewati. Terkekeh geli dengan takdir pilu yang tidak berhenti berujung.

__ADS_1


__ADS_2