
Zahirah berjalan sambil bersenandung menghampiri Mamanya yang sedang sibuk merapikan kotak bekal.
"Zahirah kan sudah bilang mah, nggak perlu di siapkan bekal" Mama Rina menoleh ke asal suara, lalu tersenyum lembut menatap anak semata wayangnya itu
"Udah nggak suka masakan Mama nih ceritanya?" Mama Rina berucap dengan suara sedih
"Bukan begitu mah... Zahirah nggak mau Mama repot"
"Apanya yang repot? Masa masakin anak sendiri repot Zah"
"Zahirah nggak mau Mama capek!" Zahirah menatap Mama Rina serius
"Mama nggak capek okey! Ntar pokoknya kami makan bareng sama teman kantor kamu yang lainnya" Mama Rina memberikan kotak bekal yang sudah rapih
"Yaudah berangkat sana"
"Okey Zahirah berangkat Assalamualaikum mama" Zahirah mencium tangan Mama Rina, beralih mengecup pipinya dengan lembut
"Waalaikumussalam, hati-hati sayang"
"Sudah tiga bulan Sarah apa masih belum ada tanda-tanda kamu hamil?" Bu Rosita menatap Sarah
"Doakan saja Bu" Sarah hanya menjawab sekenanya
"Apa ada kesalahan kesehatan antara kamu dan Zaidan mungkin? Jika ada coba kamu konsultasi dengan dokter kandungan" Bu Rosita bicara tanpa menatap Sarah.
Sarah menatap Ibunya dengan raut wajah yang tidak terbaca. Tiga bulan ini ia hidup seperti di dalam di penjara, jangankan membicarakan tentang anak. Semenjak kejadian pulangnya dari rumah sakit Zaidan malah semakin menjadi-jadi.
Zaidan bukan hanya mendiamkannya saja, tapi seluruh keluarganya, terkecuali jika Tante Rissa berkunjung. Tiga hari di rumah orangtuanya, sebenernya ia sudah memutuskan untuk meminta persetujuan bagaimana jika ia dan Zaidan bercerai
Tapi melihat kedua orangtuanya yang tidak tau apa-apa tentang masalah rumah tangganya, bahkan mereka sangat mengharapkan seorang cucu, ini sangat membuat Sarah bimbang.
"Apa Rumah tangga kamu baik-baik saja Sarah?" Pak Hamdan angkat Bicara, hingga membuat tatapan ibu dan anak ini fokus padanya
__ADS_1
"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?" Bu Rosita tidak senang mendengar ucapan suaminya
"Aku Hanya bertanya Bu! Gimana Sarah" Tatapan Pak Hamdan polis pada Sarah.
"Baik Ayah sangat baik, tapi untuk perihal anak Sarah dan Mas Zaidan tidak terlalu memusingkan" Sarah menatap kedua orangtuanya secara bergantian.
"Apa yang kamu pikirkan tentang anak kita? Jika saja sampai terjadi sesuatu yang membuat Sarah tidak nyaman di rumah mertuanya, Aku sendiri yang akan turun tangan!" Bu Rosita menatap suaminya dengan sorot mata yang tegas.
"Jangan sungkan untuk bercerita kepada Ibu" Bu Rosita menggenggam tangan Sarah lembut
"Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa, mereka memperlakukanku sangat baik. Jadi, Ibu dan Ayah jangan takut, atau memikirkan tentang keadaan Sarah di sana seperti apa, okey?" Sarah bicara dengan mempertahankan senyumannya sebisa mungkin, ia tidak ingin membuat orang-orang yang ia sayangi khawatir...
"Sarah ke kamar dulu ya Bu. ada beberapa pekerjaan yang harus Sarah periksa" Sarah meninggalkan meja makan, tanpa menunggu balasan dari kedua orang tuanya....
Sesampainya di kamar, Sarah ambruk ke tempat tidur ia menangis sejadi-jadinya. Sarah memukul-mukul dadanya yang sesak. Kebaikan apa yang sebenarnya tuhan janjikan untuknya, Hingga tuhan mempermainkan takdir sampai menyakitkan seperti ini.
Ceklek... Pintu terbuka, Sarah buru-buru menghapus air matanya
"Sarah.. Nakk.. apa kamu baik-baik saja" Ada sorot khawatir di mata pria tersebut
"Ayah... kenapa tidak mengetuk pintu. Sarah sampai kaget"
"Maaf Sayang... Apa kamu baik-baik saja Sarah?" Tanya pak Hamdan sekali lagi
"Sarah rindu menantu Ayah" Jawab Sarah malu-malu
__ADS_1
"Rindu? Sampai menangis seperti ini?" tanya Pak Hamdan menatap Sarah kurang percaya
"Iya yah" jawab Sarah lemas
"Apa Ada masalah?"
"Hanya sedikit Yah. Jadi jangan khawatir Sarah bisa menanganinya" Sarah berucap meyakinkan
"Masalah Apa?"
"Intinya Sarah yang salah Yah, sore nanti Sarah pulang dan akan langsung meminta maaf sama Mas Zaidan" Sarah menggenggam tangan Ayahnya lembut
"Jika terjadi sesuatu pada kamu disana, jangan sungkan untuk bercerita kepada kami Nak. Ayah adalah orang pertama yang akan selalu melindungi mu. Perihal kamu sudah menjadi istri orang, kamu akan tetap menjadi anak kecil Ayah yang harus ayah lindungi" Ucap Pak Hamdan panjang lebar, hingga membuat Sarah langsung memeluk Pak Hamdan terharu
"Ingat kata-kata Ayah, kebahagiaan mu adalah prioritas kami. Jika kamu merasa kurang bahagia dengan pernikahan ini bicaralah kepad kamu Nak" Sarah langsung mendongak menatap wajah paruh baya yang ada di pelukannya ini
"Kenapa Ayah bicara seperti itu?" Tanya Sarah was-was takut Ayahnya tau apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya
"Semenjak kamu menikah tidak tau kenapa, Ayah selalu mengkhawatirkan mu Nak" Pak Hamdan mengelus kepala Sarah lembut
Pak Yusuf selalu terngiang-ngiang dengan ucapan Zaidan pada saat itu, masa sangat jelas bagaimana ia akan memperlakukan Sarah.
Sarah diam membisu, apakah ini yang di sebut ikatan batin antara anak dan orang tua,
"Ayah doakan rumah tangga Sarah baik-baik saja ya Yah. Sarah sangat mengidam-idamkan rumah tangga seperti Ayah dan Ibu" Sarah menatap Pa Hamdan, Pak Hamdan yang di tatap pun hanya tersenyum hambar
__ADS_1
"Jangan pernah memimpikan rumah tangga kita seperti orang lain Nak. Kita tidak tau saja apa permasalahan mereka didalamnya" Pak Hamdan bicara tanpa menatap Sarah.