
Zahirah memukul-mukul stir mobilnya. Hati nya tersayat mendengar semua keluhan Zaidan tadi. Bagaiman Zaidan menjalani kehidupannya setelah menikah. Zahirah pikir selama ini Zaidan baik-baik saja.
Hikss hiks hiks.....
"Kenapa bisa serumit ini?" Lirih Zahirah
Tok... Tok... Tok...
"Zah lagi ngapain Kamu?" Mama Rina mengetuk pintu mobil Zahirah cemas.
Zahirah buru-buru mengusap wajahnya pakai tisu, dan merapikan kembali jilbabnya yang sedikit berantakan. Zahirah melihat pantulan wajahnya melalui kaca spion sebelum membuka pintu mobilnya...
"Darimana saja jam segini baru pulang Zah?"
"Handphone nya pakai tidak di aktifkan segala, bikin cemas tau nggak!"
Zahirah hanya terkekeh geli mendengar semua deretan pertanyaan yang sedang di lontarkan wanita anggun di depannya ini.
"Zahirah habis jenguk teman lama Mah, dan lupa ngabarin Mama dulu" Zahirah berjalan menggandeng tangan Mama nya untuk segera masuk ke dalam Rumah.
"Kamu nggak tahu saja seberapa cemasnya Mama nunggu Kamu pulang, udah banyak pikiran jelek muter-muter di kepala Mama Zahirah!" Ucap Mama Rina sedikit membentak
"Iya Mah Iya! Sekarang kan Zahirah sudah pulang Mah. Sudah tidak khawatir lagi kan?"
"Zah hargain orang-orang terdekat Kamu. Usahakan kasih mereka kabar kalau semisalnya kamu telat untuk pulang. Ingat Zahirah Kamu itu perempuan!" Tegas Mama Rina menatap Zahirah
"Mah please Zahirah sudah besar, jangan khawatirkan Zahirah secara berlebihan" Balas Zahirah menatap Mama nya
"Zahirah capek Mah"
Zahirah melenggang pergi meninggalkan Mama Rina di teras rumahnya, Mama Rina menggelengkan kepalanya merasa tidak mengerti dengan sifat anaknya barusan. Ia merasa tidak biasanya Zahirah bersikap seperti itu padanya
Zaidan berjalan beriringan bersama Raisa dan Panji, sejak pertemuan nya tadi bersama Zahirah senyum di wajah Zaidan tidak pernah luntur. Raisa yang memperlihatkan nya pun ikut merasa bahagia, ia merasa bahwa keputusan nya untuk mempertemukan Zahirah dan Zaidan itu keputusan yang benar.
Tiba mereka di ruang keluarga, di sana ada kedua orangtuanya dan Sarah, yang sepertinya belum menyadari kehadiran mereka bertiga. Zaidan lebih dulu menghampiri mereka
"Bunda"
__ADS_1
Bunda Irma menatap Zaidan dengan helaan nafas lelah "Kemana saja Kamu Zai" Lirih Bunda Irma
Mau sekecewa bagaimanapun dia pada Zaidan, tetap dialah Anak laki-laki satu-satunya. Apalagi tiga hari tanpa tau keadaannya seperti apa. membuat dirinya di selalu di rundung rasa bersalah.
Sarah dan Pak Yusuf memperhatikan keduanya dengan senyum yang mengembang "Mas mau Sarah ambilkan minum apa? Mas Panji dan Mba Raisa" Sarah bertanya menatap mereka bergantian
"Apa saja Sarah" Panji angkat bicara
"Yasudah Sarah ke dapur dulu" Ucap Sarah berlalu
"Maafkan Ayah Zai" Pak Yusuf menggenggam
tangan Zaidan lembut, ketara sekali dari raut wajah Pak Yusuf penuh dengan penyesalan, Zaidan menganggukkan kepalanya pelan.
Zaidan berjalan menuju arah kamarnya. Tiga hari ini, ia merasa ada sedikit kebebasan walaupun perasaan nya di liputi dengan segudang permasalahannya yang tidak kunjung usai. sejujurnya ia malas sekali jika harus satu ruangan dengan seseorang yang begitu ia benci.
Zaidan sampai di sofa lalu membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang ia rasa keseluruhan nya di penuhi dengan wajah Zahirah. Zaidan tersenyum mengingat kebersamaannya siang tadi.
"Mass"
"Astaghfirullah" Zaidan bangun terkejut mendengar suara Sarah barusan "Tolong ketuk pintu dulu bisa kan?" ujar Zaidan cuek
__ADS_1
"Maaf mass" ucap Sarah tersenyum, Zaidan hanya acuh.
Sarah menghampiri Zaidan pelan "Kita mulai semuanya dari awal ya Mas"
"Maksud Kamu?" Tanya Zaidan tidak mengerti
"Iya kita mulai hubungan Kita dari awal, maaf jika selama ini Sarah belum bisa menjadi istri yang seperti Mas inginkan, sehar-"
"Cukup!! Saya tidak ingin memulai apapun Sarah! Kita tidak ada hubungan apapun selain di atas kertas!" Zaidan memotong ucapan Sarah "Hari ini saya benar-benar ingin istirahat dengan baik, tolong jangan memulai pertengkaran yang ujungnya Saya yang akan di salahkan" Zaidan berucap panjang lebar, menatap wajah Sarah tegas
Sarah menunduk dalam, lagi dan lagi ucapan Zaidan begitu menyakitkan di dengarnya.
Zaidan bangun, berjalan menuju kamar mandi meninggalkan Sarah yang masih terdiam
"Selalu seperti ini" Sarah menghela nafas kesal, Sarah pikir selama tiga hari ini Zaidan merenungkan segala kejadian yang melukai perasaannya, setidaknya ia merasa bersalah atau memiliki rasa ingin meminta maaf. Nyatanya sama saja seperti yang kemarin-kemarin. Zaidan tetaplah Zaidan, yang membencinya tanpa alasan
Dringgg Dringggg
Lamunan Sarah teralihkan dengan bunyi nyaring yang terdengar dari saku sweater Zaidan. Sarah ambil handphone tersebut, sebelum Sarah melihat siapa penelpon tersebut tapi lebih dulu terputus.
Sarah memperhatikan look secreen handphone Suaminya, ia membekap mulutnya terkejut jantungnya terasa terhenti. di sana ia melihat seorang wanita berhijab yang ia kenal sedang menimang Raina dengan senyumnya yang mengembang.
"Bodoh Kamu benar-benar murni Sarah, tiga hari ini kamu mengkhawatirkan Suamimu, dan Dia bersenang-senang dengan selingkuhannya" Sarah memukul-mukul dadanya yang semakin terasa sesak.
__ADS_1
"Mba Zahirah" Ucap Sarah parau.