Zahirah

Zahirah
Air Mata Bersalah Fitri


__ADS_3

"Sudah dong sayang nangis nya... Baju Mami basah nih kena ingus kamu"


Mami Lena mengusap kepala Fitri lembut. Dua jam lebih anaknya menangis terisak-isak seperti ini.


Papi Teddy datang dari arah dapur membawa segelas jus kesukaan Fitri. Matanya seperti bertanya, belum bereskah anaknya menangis. Tapi Mami Lena hanya mengedikkan kedua bahunya sebagai jawaban.


"Inget loh Fit.. kalo kamu nangis Ingus yang lebih banyak keluarnya, di banding air mata kamu itu"


Mami Lena memukul pundak suaminya sebal. Sudah tau anaknya galau, bukannya di hibur malah di ejek. mengesalkan....


Papi Teddy hanya cengengesan.. sebenarnya ia tidak tega melihat Anaknya menangis seperti ini. Fitri, jangankan menangis terisak. Meneteskan beberapa air mata saja Fitri tidak akan bisa..


"Minum dulu jus favorit kamu buatan Papi tercinta ini" Papi Teddy menyodorkan gelasnya..


Fitri bangun dengan mata yang begitu sembab. mengambil jus yang di sodorkan Papinya meneguknya hingga tandas.. sungguh menangis seperti ini membuatnya sangat haus..


"Wahhh.. hauss Bu haji" Gurau Papi Teddy menatap Fitri pura-pura kaget


"Pa..Pi.." Fitri kembali terisak. Bukan karena gurauan Papinya. melainkan ia merasa semakin bersalah sama Zahirah. Zahirah benar, cinta pertama dirinya masih tetap kokoh di depannya. hingga ketika ia sedih pun tidak berhenti untuk menghiburnya...


Zahirah jangankan ada ayahnya untuk menghibur. Bercerita ke Mama nya saja yang setiap hari ada di sampingnya, Zahirah tidak akan bisa.


Seharusnya Fitri mengerti, Zahirah tidak akan bisa melupakan Zaidan begitu saja. mau bagaimanapun Zaidan lah laki-laki pertama yang selalu mengkhawatirkan Zahirah, yang selalu ada buat Zahirah, yang menemani Zahirah suka maupun duka...


Tapi kekecewaan Fitri terhadap Zaidan, hingga mampu melupakan kebaikan Zaidan kepada Zahirah. Ia kesal kenapa Zaidan bisa begitu saja menerima pernikahan itu, seharusnya Zaidan mempertahankan Zahirah. Sampai Zahirah Benar-benar di terima oleh keluarganya..


Mami Lena memukul kesal suaminya. Tidak bisakah serius sedikit.. sungguh ia lelah membujuk anaknya agar berhenti nangis...


"Sini peluk Papi Nak" Papi Teddy merentangkan kedua tangannya. Hingga mendapatkan sambutan baik dari Fitri...

__ADS_1


"Menangis boleh. Tapi jangan berlebihan! Papi tau kamu anak baik. dan Papi bangga dengan hal itu" Papi Teddy mengelus pucuk kepala anaknya dengan sayang


"Sifat keras Papi juga menurun sama Putri Papi. dan Papi kurang bangga dengan yang ini!"


"Nak kamu yang lebih tahu Zahirah di banding Mami dan Papi. Jika Zahirah sampai tidak ingin menemui kamu, berarti ada ucapan kamu yang sulit untuk di maafkan! Kamu selalu menjadi tameng untuk Zahirah dari apapun itu, yang ingin melukai nya, seharusnya kamu jangan pernah menyakiti Zahirah, sebagaimana kamu tidak ingin melihat Zahirah di sakiti oleh orang lain"


"Papi benar. kesalahan Fitri pasti sulit untuk Zahirah maafkan. Fitri sudah menyinggung masa lalu Mama nya Zahirah Fitri bahkan terang-terangan mendukung Zahirah agar jadi pelakor.. Fit--"


Pluuulkk Sebelum Fitri meneruskan ucapannya bantal sofa terlebih dahulu mendarat di kepalanya


"Ya ampun Fit... ya pantas saja Zahirah semarah itu sama kamu. Ucapan kamu itu pasti bikin Zahirah sakit hati banget, jangankan Zahirah Mami aja yang dengernya panas ini kuping!"


Mami Lena menatap Fitri nyalang. Semalam Fitri hanya cerita bahwa ia memarahi Zahirah, karena Zahirah belum bisa melupakan mantan pacar nya. Jika ucapan Fitri seperti ini. Ini benar-benar kelewatan..


Fitri yang mendapatkan amukan Mami nya pun.. memendamkan wajahnya di dada ayahnya, lagi dan lagi memang ia pantas di salahkan..


"Fit bukan berarti kita dekat sama orang lalu seenaknya berucap! menghargai perasaan teman kita tak kalah pentingnya. Menjaga ucapan itu lebih penting dari segalanya.. karena ucapan itu mencerminkan hati kita sendiri"


"Bukan dua atau tiga tahun kamu mengenal Zahirah. dan kamu tahu masa lalu dia seperti apa! Terkadang ucapan teman sendiri itu lebih menyakitkan Fit daripada orang lain!"


"Kamu yang dari dulu sering membela Zahirah, jika teman sekolah kalian menghina Zahirah. Seharusnya kamu paham kata-kata itu sangat menyakiti Zahirah! Dan kamu sendiri mengucapkan. Apa bedanya kamu sama mereka?"


Mama Lena berucap dengan mata yang berkaca-kaca, ia tidak menyangka Fitri bisa mengucapkan hal seperti itu. Ia sangat tahu sekali kehidupan Zahirah dahulu. bahkan tetangngga di rumahnya pun tidak sekali dua kali mereka menggosipkan Zahirah dan Mamanya.


"Mami tidak akan membantu kamu. Renungkan segala ucapan kamu yang menyakiti Zahirah. Jangan mentang-mentang Zahirah gampang memaafkan kesalahan orang lain, hingga kamu tidak berusaha untuk meminta maaf! Jika sifat keras Papi menurun sama kamu, seharusnya sifat tanggungjawab pun ada pada diri kamu!"


Mami Lena berjalan meninggalkan Fitri dan suaminya. Fitri Masih terisak di pelukan Papinya..


"Fit semua yang di katakan Mami kamu itu benar! Tidak ada yang salah sedikit pun.. jika kita bisa melukai seseorang kita juga harus bisa menjadi penawar nya" Ucap Papi Teddy lembut

__ADS_1


"Menyakiti seseorang itu, seperti melemparkan batu ke lautan. Kita tidak akan pernah tau batu itu tenggelam sedalam apa"


"Bahkan Ucapan yang menurut kita biasa-biasa saja, jika sampai melukai perasaan orang lain, dapat menjerumuskan kita kedalam api neraka. Jika kamu sudah memahami hal ini, menjaga perasaan orang lain itu tidak kalah penting nya daripada mengutarakan isi hati kita sendiri."


"Papi yakin kamu bisa mendapatkan Maaf dari Zahirah. Kamu mau berusaha kan?"


Fitri mengangguk lemah masih dalam keadaan terisak. Papi dan Maminya saja benar-benar menyalahkan atas ucapannya terhadap Zahirah, apalagi Mama Rina jika mengetahui nya.


"Bagus anak Papi memang harus seperti ini!"


Papi Teddy memandang wajah Fitri, menyeka air matanya lembut. Matanya begitu bengkak memerah.. Ia dapat melihat bahwa dari raut wajah Anaknya yang penuh penyesalan..


"Mau Papi kompres matanya biar tidak bengkak besok?" Tanya Papi Teddy, masih terus menyeka air mata yang berjatuhan di kedua pipi Fitri..


"Tidak perlu Pi.. Nanti Fitri bisa sendiri" jawab Fitri lesu


"Biar Papi saja.. kamu tunggu disini Papi mau mengambil es batunya ke dapur"


Papi Teddy bangun berjalan ke dapur meninggalkan Fitri yang masih terisak..


Semua ini gara-gara anak macan tutul itu. Jika saja ia tidak datang ke butik itu, mungkin ia dan Zahirah tidak akan bertengkar sejauh ini. Menyebabkan hati Zahirah terluka karena ucapannya..


"Baring di pangkuan Papi sini.. Biar Papi gampang kompres nya!"


Fitri menatap Wajah Papi nya terharu... Ia bersyukur Cinta pertama nya selalu ada di sampingnya. Dalam hal sekecil ini pun sangat peduli. Fitri tiduran di pangkuan Papinya menatap Wajah Papinya sayang..


"Kalo ngga di kompres, entar anak gadis Papi matanya akan bintitan, seperti orang yang baru mengintip anak bujang yang pada mandi di kali! kamu ngga mau kan di curigai orang seperti itu?" Gurau Papi Teddy


"Papi apaan sih" Fitri mendengus kesal

__ADS_1


Papi Teddy mengulum senyum di wajahnya.


__ADS_2