Zahirah

Zahirah
Keluarga Zaidan


__ADS_3

Rumah Zaidan begitu ramai oleh sanak saudara. Pengajian sudah selesai sedari tadi. Mereka bercengkrama bersama. Dari mimik wajah semua keluarga sangat ketara sekali bahwa mereka bahagia..


Sarah, dari tadi ia hanya memperhatikan Zaidan. Dari pertemuan pertamanya, hingga hari ini. Sungguh ini kali pertamanya Sarah melihat senyuman Zaidan secara lepas. ketara sekali bahagianya..


Sarah juga melihat sepertinya Zaidan sangat menyukai anak-anak. Dari Bermain, mengajak ngobrol, bahkan menggendong secara bergantian. Zaidan juga tertawa lepas, sungguh tawanya ini melipat gandakan ketampanannya.. Tapi Sayang di hadapannya Zaidan belum pernah menampakkan wajah seperti ini.. Jangankan tertawa, tersenyum tulus saja tidak pernah..


"Loh jadi Zaidan menikah bukan sama Neng Zah Mba Irma?"


Fokus Sarah, teralihkan dengan pertanyaan wanita yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


Adik Ipar Bunda Irma bertanya menatap Sarah bingung. Sarah menatap Balik, bahkan adik Papa mertua nya saja tidak mengetahui kalo ialah yang jadi istri keponakannya ini.


"Bukan jodoh!" Jawab Bunda Irma ketus..


"Iya juga ya.. Mau lama bagaimanapun pacaran, kalo bukan jodoh ya tetap kandas. Terkecuali yang jodoh di paksakan"


Sindir Risa menatap Sarah dan Irma sambil menyunggingkan senyum remeh


"Dan untungnya ini bukan jodoh-jodohan. Bahkan anak Mba sendiri yang melamar nya, Yang pastinya menantu yang duduk di samping Mba ini wanita baik-baik. Bukan seperti wanita itu! " Bunda Irma menatap Zaidan, menggenggam tangan Sarah lembut..


"Neng Zah juga baik kok Mba! Kadang kita tidak perlu menilai seseorang dari masa lalu keluarganya! Manusia juga ada Berubah nya. Rasabya kiita tidak pantas menilai orang baik atau tidaknya!"


Risa Menatap wajah Bunda Irma intens,


Bunda Irma yang di tatap Risa merasa kesal.


Risa bukan tidak tau pernikahan keponakannya ini, hampir tiap malam Zaidan bercerita bahwa ia tidak ingin menikahi Sarah. Tapi Bundanya benar-benar memaksa hingga banyak ancaman yang di layangkan terhadap Zaidan. Sampailah Zaidan menerima pernikahan ini.


Zaidan hanya memperhatikan tanpa ingin ikut berbicara, biarlah toh ia sudah biasa menyaksikan. Bunda dan Tantenya adu bicara seperti ini.


"Kamu tidak tau apa-apa!" dengan sorot mata yang tajam dan penuh penekanan


Risa tersenyum mengembang, menghampiri Bunda Irma, memegang kedua bahunya.


"Justru aku kenal baik! Ingat Zaidan lebih sering membawa dia ke rumahku, di banding ke rumah orangtuanya sendiri! Mba akan menyesal, memaksa Zaidan untuk menikahi wanita pilihan mba ini! Aku tau Zaidan akan tetap mencintai Zahirah!" Bisik Risa


Risa pergi menyusul saudara yang lain untuk berkumpul, meninggalkan Sarah dan Bunda Irma dengan keadaan dada yang bergemuruh menahan marah..


"Sayang jangan terlalu di ambil hati ya ucapan Tante mu tadi. Ia memang suka gitu" Bunda Irma tersenyum menatap Sarah. mengelus bahunya lembut. Sungguh ia tidak enak dengan perkataan Risa barusan...


Sarah menganggukkan kepalanya, memaksakan senyum. pikiranan nya mulai terusik, apakah nama perempuan yang di sebut barusan oleh Tante Risa itu perempuan yang sama seperti yang pernah Zaidan ceritakan.


Sarah termenung di kursi taman di belakang Rumah mertuanya. Zaidan sama sekali tidak mengenalkan nya kepada saudara jauhnya. Jangankan untuk memperkenalkan, mengajak Sarah mengobrol saja tidak. Kalau bukan Bunda Irma yang mengenalkan nya, ia merasa seperti orang asing tadi ketika acara berlangsung.


Apakah Zaidan benar-benar tidak bisa menerima nya sama sekali...


Apalagi melihat keluarga Papa mertua nya seperti kurang suka pada Sarah. Bahkan Tante Risa sekalipun, seakan enggan untuk berbasa-basi saja. Membuat Sarah canggung jika terus berkumpul di sana..


"Sayang" Usapan lembut ini sungguh yang selalu membuat ia kuat


"Ibu mau Izin pulang, Nyari kamu kemana-mana taunya ada disini"


"Di dalam panas banget bu, Sarah kurang suka" Jawab Sarah memaksakan senyum..


"Apa kamu ada masalah sama suamimu?" Ibu Rosita bertanya menatap wajah Sarah serius


"Tidak ada kok Bu! Memangnya kenapa?"


"Tadi ibu memperhatikan kamu dan Suamimu. Zaidan sepertinya mengacuhkan mu Sarah!"


Sarah menggenggam tangan Ibunya kuat, Apa ia harus berterus terang sekarang tentang rumah tangga nya..


"Kamu bahagiakan disini?"

__ADS_1


Bibir Sarah kelu untuk menjawab pertanyaan Ibunya. Walau sebaik apapun mertua dan iparnya. Jika suaminya sama sekali tidak menyukai nya, ini sangat menyakitkan.. Sarah hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum yang masih di paksakan


"Jika kamu tidak bahagia, jangan sungkan untuk menceritakan nya kepada Ibu"


"Tidak bahagia kenapa Bu? Ibu lebih tau baiknya Tante Irma itu seperti apa, di bandingkan aku"


"Zaidan?"


"Mas Zaidan kenapa Bu?"


"Apa Zaidan mencintaimu? Apa Zaidan memperlakukan mu dengan baik?"


"Doakan saja Bu" Jawab Sarah lemas. Sarah bingung harus menjawab apa.


"Jadi, Zaidan tidak mencintai mu?"


Sarah gelagapan dengan pertanyaan Ibunya. Mau bagaimanapun, Sarah tidak ingin ibunya di Bebani dengan hal ini..


"Bukan begitu Buu... Doakan saja Mas Zaidan dapat mencintai Sarah selamanya, bukan Mas Zaidan tidak mencintai Sarah"


Sarah berkata dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal...


"Kebahagiaan kamu selalu menjadi prioritas utama Ibu. Jika ada satu orang saja yang tidak sengaja menyakitimu, ibu tidak akan ikhlas" Ucap Bu Rosita sungguh-sungguh


"Terimakasih bu untuk usaha ibu semuanya" Sarah memeluk ibu Rosita erat


"Sayang apakah sudah ada tanda-tanda kamu hamil" Ibu Rosita bertanya penuh harap, mengelus perut Sarah lembut


"Ini juga sedang berusaha. Doakan saja ya Buuu..."


Bu Rosita mengangguk..


Padahal tadi ketara sekali, Zaidan seperti mengacuhkan Sarah. jangankan dirinya orang lain pun pasti dapat merasakan nya




"Tidak mba! Jika jam segini mba Zahirah belum datang, itu tandanya mba Zahirah mengajukkan cuti mba" Jawab Nessa panjang lebar



Fitri pergi meninggalkan Nessa tanpa permisi dan terimakasih.. Nessa hanya menggelengkan kepalanya.. Ahhh sudah biasa....



Hati dan pikiran Fitri dari kemarin sangat tidak enak. ia merasa bersalah, apalagi setelah menceritakan nya kepada maminya hingga berujung dapat lemparan majalah tebal di kepalanya. Bahkan sedari kemarin sampai tadi pagi ia seperti tidak di akui anak Papi nya



Fitri pikir Zahirah akan seperti biasanya, bekerja tanpa memperdulikan permasalahannya. Makanya tadi ketika Mami nya menyuruh datang menemui Zahirah ke rumahnya, ia menolak. Toh di tempat kerja ia bisa bertemu, dan meminta Maaf..



Nyatanya Ucapan Fitri kemarin tidak ada toleransi lagi. Zahirah mengajukan cuti tanpa memberitahu Fitri. Sekecewa itu kah Zahirah.



"Jangan banyak melamun kamu kerjanya" Ucap indah tegas



Fitri mendengus kesal "Mba Indah, Zahirah mengajukan cuti ?"

__ADS_1



Indah menganggukkan kepalanya, seraya berjalan meninggalkan Fitri. Ia tahu Fitri sangatlah merasa bersalah atas kejadian kemarin, ia tahu Fitri hanya terbawa emosi karena Zahirah membela Zaidan, tapi mau bagaimana pun ucapan Fitri kelewatan jika sampai membawa masa lalu kedua orangtuanya Zahirah...



Fitri masih termenung memikirkan Zahirah. Pokoknya sepulang kerja, Fitri harus ke rumah Zahirah



"Assalamu'alaikum Mama Rina.... Zahirah?"


Fitri mengetuk pintu seraya berteriak memanggil pemilik Rumah tersebut..


"Zahhhh... Maa.... Ini Fitri"


Ceklek pintu terbuka, menampilkan Mama Rina yang memakai mukenah. Sungguh Fitri lupa bahwa saat ini waktunya sholat Maghrib, padahal sepanjang jalan ia mendengar adzan dari beberapa masjid yang ia lewati. saking semangatnya Ia ingin bertemu Zahirah, sampai melupakan waktu.


Fitri cengengesan menatap Mama Rina


"Mama udah mau dua raka'at ini sholat" Mama Rina berucap dengan nada yang sedikit kesal


" Berhubung ada Tarzan teriak-teriak kaya di hutan, mama batalin.. daripada ganggu tetangga lain kan"


"Maaf Mam" Timpal Fitri seraya menggandeng tangan Mama Rina masuk kedalam Rumah


"Sana.. Ambil wudhu terus sholat"


"Fitri selonjoran dulu dah Mah bentaran yaa" Ucap Fitri dengan suara yang sedikit memelas


"Tidak ada penolakan! jika datang bertamu ke rumah Mama di jam waktunya sholat, maka harus sholat!" jawab Mama Rina tegas


"Iya iya ini wudhu" Fitri pasrah..


Sesudah sholat Fitri celingukan mencari Zahirah.. Apa Zahirah tidak ada di rumah. sedari tadi ia memperhatikan seisi Rumah tapi orang yang ia cari sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya..


"Zahirah ngga mau ketemu kamu Fit!" Bunda Irma datang dari arah belakang, membawa nampan berisi teh dan cemilan


Fitri menunduk, semarah itukah Zahirah. Hingga ia datang jauh-jauh, Zahirah sampai tidak mau menemuinya.


Mama Rina memperhatikan Fitri serius. sebenarnya Zahirah lah yang memberitahunya jika Fitri datang kemari, dan Zahirah berpesan agar Mamanya melarang Fitri menemui nya.


"Kamu punya masalah Fit sama Zah?"


"Memang Zahirah tidak bercerita sama Mama?" Fitri balik bertanya, dengan keadaan kepalanya yang masih menunduk..


"Zahirah tidak akan bercerita, sekali pun masalahnya besar! Namun jika Mama memperhatikan ini kali pertamanya, Zahirah marah sampai tidak mau bertemu denganmu!"


"Fitri yang salah Mah" Jawab Fitri menatap Mana Rina dengan mata yang berkaca-kaca


"Fitri yang keterlaluan membentak Zahirah. Tapi sungguh Fitri merasa bersalah, dari kemarin hingga detik ini!"


Mama Rina mengerti, berarti dugaan nya benar. Bahwa kemarin Zahirah menangis bukan karena Film di bioskop yang mereka tonton. Pasti karena mereka bertengkar...


"Fitri marah, Fitri pikir Zahirah sudah melupakan Zaidan. Namun nyatanya belum. ketika Fitri mengumpat Zaidan, Zahirah membelanya dan saat itu Fitri kesal. terlontar lah perkataan Fitri yang buat Zahirah sakit hati. Fitri tidak sengaja Mah! Fitri hanya tersulut emosi pada saat itu. Sungguh! Mama percaya kan sama Fitri?" ucap Fitri panjang lebar. Untuk meyakinkan Mama Rina


Mama Rina mendekati Fitri, lalu memeluk, mengelus pundaknya lembut..


Mama Rina tidak akan berpihak kepada siapapun. Ia sama-sama sayang terhadap keduanya. mereka berdua sama-sama memiliki keras kepala yang sangat susah untuk di ubah.


"Kamu tau sendiri Zahirah kalo marah tidak akan lama, nanti juga baik sendiri apalagi sama kamu. Mama jamin pokoknya!"


Fitri mengangguk lemah.

__ADS_1


__ADS_2