
Zahirah berhambur memeluk Zaidan, ia menagis terisak di dada Zaidan. Dan Zaidan hanya diam, ia tidak bergerak sedikitpun ia takut bahwa ini semua hanya halusinasi.
Semua orang memalingkan wajahnya sedih menatap Zaidan dan Zahirah. Sejahat itukah takdir untuk mereka
"Tolong jangan bangunkan Aku, Aku tau ini hanya mimpi" Lirih Zaidan. Zaidan merengkuh tubuh Zahirah. Zaidan menitikkan air matanya
Zahirah melepaskan pelukannya, menatap wajah Zaidan Rindu. Mengusap wajahnya yang basah "Ini bukan mimpi Mass." Ucap Zahirah di tengah isakan nya
"Sayangg... Zahirah maafkan Aku maaf" Zaidan menggenggam tangan Zahirah kuat. Zahirah menganggukkan kepalanya
"Mba terimakasih" Zaidan menatap Raissa. Raisa tersenyum
"Mas berkelahi sama siapa. Wajah Mas Zaidan sampai jelek begini" Tanya Zahirah mengelus lembut wajah Zaidan. Zaidan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Zahirah barusan.
"Bubur nya masih utuh, belum di makan ya?" tanya Zahirah kembali. Zaidan masih dengan senyum nya tanpa menjawab
"Tiga hari ini Zaidan belum makan sama sekali Zah. Boleh tidak tolong bujuk supaya Zaidan mau makan" Mohon Raisa pada Zahirah. Zahirah yang mendengarnya pun kaget
"Ya Allah kok nggak mau makan? kenapa?" Tanya Zahirah kesal menatap Zaidan. Zahirah mengambil mangkuk tersebut. melihat bubur uang seperti sudah dingin. Jangankan yang sakit ia yang sembuh saja tidak mau kalau di suruh memakannya...
"Sepertinya ini sudah tidak enak di maka Mba" Zahirah menatap Raisa sambil menunjukkan mangkok yang sedang ia pegang "Zahirah buatkan sup jagung mau tidak?" Tanya Zahirah berbalik menatap Zaidan
"Biar Mba saja yang buatkan, kamu disini okey" Cepat Raisa menjawab pertanyaan Zaidan
Panji dan Raisa keluar dari kamar yang di tempati Zaidan. Meninggalkan Zahirah Zaidan dan Tante Rissa....
"Demam Mas tinggi" Zahirah mengusap pipi Zaidan "Kita ke Rumah Sakit ya" Zahirah menatap Zaidan khawatir
"Obat sama dokternya udah ada disini. Ngapain harus ke rumah sakit" jawab Zaidan tersenyum menatap Zahirah. Tante Rissa senang melihat betapa bahagianya Zaidan hari ini. senyuman itu sudah lama sekali tidak ia lihat....
"Yaudah mana dokter nya kamu harus di periksa dulu Mas" Ucap Zahirah celingak-celinguk
"Ini" Zaidan menarik tangan Zahirah. menggenggam nya "Ini Dokter plus obatnya"
__ADS_1
Zahirah tersipu malu. Mereka bertiga mengobrol saling melepas rindu, seperti biasa yang banyak bicara ialah Zahirah. Tante Rissa dan Zaidan hanya menjadi pendengar...
Ceklek pintu terbuka menampilkan. Raissa membawa nampan yang. Dan Panji menggendong bayi "Asyik bener nih ngobrolnya" Raisa menaruh nampan di atas meja
"Aku nggak ngeuh kalo Mba Raisa udah lahiran" Ucap Zahirah memperhatikan bayi yang ada di gendongan Panji. Raissa hanya tersenyum menanggapinya
"Assalamu'alaikum bayi Cantik" Zahirah menghampiri Panji lalu memangku bayi tersebut perlahan... "Ma syaa allah Mba lucu banget ini" Zahirah mencium pipi Raina gemas
"Namanya Raina" Zaidan tersenyum menatap Zahirah. Zaidan mengambil handphone di sebelahnya. Ia tidak ingin menyiakannya kesempatan emas ini. Zaidan mengarahkan camera handphonenya pada Zahirah yang sedang tersenyum lepas bersama Raina
"Yah kok nangis gini Mba"
"Baru bangun Zah. sepertinya Rania lapar" Raisa menghampiri Zahirah. Zahirah menyerahkan Rania kepangkuan Raissa
Zahirah berjalan menghampiri tempat tidur Zaidan. "Kok belum di makan?" Tanya Zahirah pada Zaidan. Zahirah mengambil mangkuk yang berisi sup yang masih mengepul
"Aku suapi ya" Zaidan menganggukan kepalanya. Zahirah menyodorkan sendok ke mulut Zaidan, Zaidan patuh membuka mulutnya
Hingga lamun mereka bertiga di kejutkan dengan derring telpon milik Zaidan. ketiganya melirik handphone yang ada di atas nakas.
Zahirah berdiri mengambil handphone tersebut. Dahi Zahirah berkerut melihat nama si penelepon tersebut " dokter psikiater?" Tanya Zahirah menatap Zaidan.
Tante Risa melirik Zaidan seperti minta jawaban. Zaidan menunduk. Telon kedua kalinya masih sama seperti tadi
"Mas angkat" Zahirah menyodorkan handphone yang ia pegang. Zaidan menatap Zahirah dan Tante Risa bergantian
"Angktmat Zai" Perintah tegas Tante Rissa.
Zaidan menghela nafas gusar. lalu ia tekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut. lalu me laudspaker
"Selamat sore pak Zaidan. Hari adalah jadwal anda untuk datang ke rumah sakit" Suara perempuan yang di sebrang sana terdengar lugas
Zahirah dan Tante Risa menatap Zaidan butuh penjelasan
__ADS_1
"Saya sedang ada urusan penting, bisa di undur besok Dok"
"okey baiklah. Maaf mengganggu waktu bapak"
Zaidan mematikan teleponnya secara sepihak..
Zaidan menghela nafasnya pelan. menatap dua wanita kesayangannya. Sebenarnya ia tidak ingin ada satu orangpun yang tau keadaan dia sekarang seperti apa "Dua bulan ini Aku secara selama seminggu sekali aku menemui dokter psikiater"
Zahirah terduduk lemas. Tante Risa menghampiri Zaidan tidak percaya. Menggenggam tangannya kuat...
"Aku tertekan.. Benar-benar tertekan. Tidak ada satu orangpun yang mengerti betapa terlukanya aku karena pernikahan ini. Dan Aku sepanjang hari harus tetap mempertahankan kewarasan aku agar tidak gila" Ucap Zaidan sendu
"Aku merasa hidup sendiri. aku merasa hanya aku yang harus mengerti mereka. Tante, Zahirah. Keadaan aku tidak baik-baik saja" Lanjut Zaidan menatap Zahirah dan Risa bergantian
Deggg
Jantung Zahirah berdenyut ngilu ketika Zaidan menyebut tentang pernikahan. beberapa saat yang lalu ia terbawa suasana, ia lupa laki-laki di hadapannya ini sudah memiliki istri.
Zahirah menatap Zaidan dengan perasaannya yang campur aduk. Khawatir, iba, kecewa, dan takut.
"Apa Mas Zaidan tidak pernah belajar untuk menerima pernikahan ini?" Tanya Zahirah lirih
"Zah" Ucap Zaidan pelan
"Terima Mba Sarah pelan-pelan mau bagaimanapun Dia istri Mas. Wanita yang sepatutnya Mas muliakan. Dia baik Cinta nya juga besar Untuk Mas, Zahirah bisa melihat itu" Lanjut Zahirah pelan...
Zaidan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tante Risa menatap Zaidan sedih
"Aku, kalaupun Cinta Mas Zaidan besar untuk Aku. Apa aku masih layak?" Zahirah menatap Zaidan intens "Tidak Mas! Aku bukan siapa-siapa lagi Di hidup Mas Zaidan" Zahirah menitikkan air matanya
Zahirah mencengkeram erat tangannya...
"Kamu akan selalu menjadi wanita yang layak menerima cinta Aku Zah!" Zaidan melepaskan tangan Tante nya menghampiri Zahirah lalu memeluknya " Maaf sayang, aku tidak bisa menerima pernikahan ini. Seberapapun aku memaksakannya. Semakin aku belajar menerima wanita itu, malah semakin membuat aku tertekan" Zahirah terisak di pelukan Zaidan
__ADS_1