
Ada beberapa dokumen yang berantakan di meja bundar besar itu, Ketiga manusia itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing
Reza Fokus memegang selembar laporan penting, terlihat sekali ia beberapa kali ia membenarkan kaca matanya. Ada helaan nafas yang mungkin orang melihatnya seperti sedang gusar
"Gimana Za" Tanya wanita cantik berhijab peach penuh harap cemas. Pasalnya karena dialah mereka sampai berkumpul disini
"Aku nggak bisa pastiin orang tuaku bisa membantu Zah. Hanya saja setelah aku membaca keterangan kesehatan Aisyah ini kecil harapan Dia untuk sembuh" Ucap Reza pelan
"Kok gitu? Kan belum di coba" Ucap Zahirah cemberut, membuat Reza tak enak hati
"Kamu kan dokternya, Kamu jelas tahu perkembangan Anak itu setelah melakukan beberapa kali rangkaian operasi nya. Apa ada kemajuan?" Reza menatap Haidar sedikit kesal
Haidar yang di tatap pun menunduk, Benar cuma ada sedikit kemajuannya menangani Aisyah. Tapi setiap Haidar ingin menceritakan bagaimana kondisi Aisyah kepada orangtuanya, ia merasa takut akan membuat mereka kecewa.
Hingga Haidar selalu beralasan bahwa Aisyah akan sembuh secepatnya.
"Kamu kan bukan Dokter Za. Coba kasih ini dulu ke Daddy kamu" Ucap Aisyah penuh harap
"Walaupun aku bukan dokter. Tapi aku sedikit mengerti Zah, karena aku dulu lulusan kedokteran!" Reza menatap Aisyah kesal
"Kamu ngertinya sedikit, nggak banyak kaya dokter-dokter beneran Reza" Ucap Aisya merapikan beberapa lembaran kertas yang sudah mereka baca
"Zahirah Aisyah sudah di ambang kematiannya, mungkin beberapa bulan lagi Aisyah akan membutuhkan donor jantung, karena beberapa kali melakukan operasi mempengaruhi kesehatan jantung nya" Ucap Reza frustasi
Zahirah melemparkan kertas yang sudah tadi ia rapihkan "Kamu jangan mendahului tuhan Za"
Zahirah tak suka mendengar ucapan Reza barusan, Dia jadi membayangkan di hari Aisyah kritis, bagaiman wajah wanita lembut ini menangis terisak di pelukannya.
Ummi Hanna sangat berharap lebih untuk kesehatan Aisyah, terbukti dengan beberapa kebun teh yang mereka miliki telah terjual, hanya untuk mempertahankan kesehatan seorang gadis kecil yang di buang oleh orangtuanya.
Zahirah mengusap air matanya "Reza berikan dokumen ini sama orang tua kamu, biarkan mereka teliti dengan jelas. Dokter-dokter seperti mereka itu sudah di ambil sumpahnya untuk mengobati orang yang membutuhkan bukan?"
"Okey aku bakalan kasih ke Mereka. Tapi janji jangan berharap lebih ya" Ucap Reza menatap Zahirah lembut
Reza balik menatap Haidar yang sedari tadi hanya diam "Dan Kamu, tolong jelaskan sama orang tua Kamu keadaan anak itu. Bagaimanapun mereka berhak tahu anak itu sekarang penyakitnya seperti apa"
Haidar mengangguk patuh, benar dia harus secepatnya memberi tahu keluarganya.
"Jangan pikirkan untuk pengobatannya. Dari hari ini sampai seterusnya Aku yang akan menanggung semua biayanya" Ucap Reza tegas
Haidar dan Zahirah menatap Reza takjub
__ADS_1
"Makasih ya sahabatku" Zahirah memeluk lengan kanan Reza, Reza hanya berdecih menanggapi Zahirah
Haidar menatap keduanya. Haidar tahu bahwa Reza menyukai Zahirah, terlihat dari tatapannya, dia lelaki dan sangat paham itu
"Saya bingung harus berterimakasih dengan apa, Saya akan kabari kabar gembira ini secepatnya pada keluarga Saya, terimakasih Mas Reza, semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan untuk keluarga Mas Reza" Haidar berucap sungguh-sungguh menatap Reza dengan matanya yang berkaca-kaca
"Simpan doamu untuk keluarga mu, Saya tidak membutuhkan doa dari siapapun" Ucap Reza cuek
Zahirah melepaskan tangannya menatap Reza tak suka, "Kamu di doain orang bukan jawab Aamiin malah nolak"
"Terserah Aku dong wle" Reza menjulurkan lidahnya iseng menatap Zahirah
Makan malam hari ini sedikit ramai, karena anak perempuan dari Tante Risa menginap di rumah mereka
"Makasih Bunda" Ucap Nadira menatap makanan kesukaannya ada di depan matanya
"Mba Sarah sudah isi belum?" Tanya Nadira menatap Sarah dan Zaidan bergantian, pasalnya memang ia tidak tahu bahwa rumah tangga mereka tidak lah baik-baik saja. Yang gadis itu tau, Maminya hanya mengabari bahwa Zaidan menikah di jodohkan dengan wanita pilihan dari orangtuanya.
Suasana sedikit canggung kembali, "Makan yang bener, nggak usah banyak bicara" Maminya yang menjawab
"Aku kan cuma nanya" Cicit Nadira pelan yang masih terdengar orang di sekitarnya
"Kak Nanti kalau ada waktu luang main ke danau yuk?" Nadira menatap Ziadan,
__ADS_1
"Hemmm" Zaidan mengiyakan tanpa menatap Nadira
"Ada beberapa pakaian yang aku bikin kemarin, nanti aku mau foto-foto disana" Ucap Nadira lagi mencairkan suasana
Dan sama sekali tidak ada yang menanggapi terkecuali senyuman dari Sarah Dan Tantenya
"Kalian nggak suka ya Aku pulang" Ujar Nadira sedih
"Nadira bisa diam tidak? Kita lagi makan, jangan banyak bicara!" Risa menatap anak semata wayangnya tegas tak ingin di bantah
"Biasanya juga kalau lagi makan gini kita sering ngobrol becanda-becanda" Jawab Nadira menatap kesal Mami nya
"Aku tuh kalau lagi disana, suasana makan lah yang sering aku kangenin, karena dengan makan bersama, kita bisa luangin waktu kita untuk berkumpul dan ngobrol tentang keseharian kita seperti apa" Ucap Nadira sedih
Zaidan berdiri berjalan menghampiri kursi adik sepupunya itu, mengelus pucuk kepalanya dengan lembut lalu mencium keningnya.
"Dari seminggu kamu sebelum pulang Kakak sudah membeli gitar yang kamu mau, cepat habiskan makanannya. Nanti susul kakak ke balkon" Zaidan berucap sangat lembut, sebelum pergi ia sempat mengecup kening gadis manja nya itu. Zaidan pergi tanpa berpamitan kepada siapapun kecuali Nadira.
Interaksi dari kedua insan tersebut tidak luput dari perhatian Sarah, ia iri dengan wanita yang ada di depannya ini. Sarah menatap Nadira kesal bisa-bisanya gadis itu mendapatkan kecupan dari suaminya
"Tidak usah cemburu, Zaidan memang seperti itu pada adiknya" Ucap Risa menatap Sarah remeh
__ADS_1
Bunda Irma menatap kesal Risa, dan Rissa hanya mengedikan bahunya tidka peduli.