
"Jika kita kehilangan, ingat Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya"
"Jika yang hilang datang kembali?"
"Allah akan menjadikannya versi yang lebih baik lagi" Haidar menatap wajah Zahirah penuh dengan suka. Tidak, bukan hanya wajahnya, segala sesuatu yang di miliki Zahirah ia menyukainya.
Zahirah manggut-manggut mengiyakan ucapan laki-laki di depannya ini "Dok, bagaimana hukumnya jika seorang wanita mencintai Laki-laki yang sudah memiliki istri?" Tanya Zahirah sedikit Ragu
"Mencintai seseorang itu naluriah Aina dan itu tidaklah dosa. Kita tidak bisa memaksakan diri kita untuk mencintai siapa, orangnya seperti apa, dia bagaimana. Makanya ada yang namanya cinta buta, " Haidar menatap lembut wajah Zahirah, sebelum ia meneruskan ucapannya kembali
"Yang salah itu, jika seorang wanita mencintai suami dari wanita lain. Lalu merebutnya dengan ada niatan ingin merusak rumah tangga mereka, nah ini dosa yang paling bahaya. Bahkan Allah dan rasulnya pun sangat membenci perbuatan semacam ini" Lanjut Haidar serius
"Aina Zahirah, kamu tidak sedang mencintai suami orang dan memiliki tujuan seperti itu kan?" Tanya Haidar menatap lekat wajah Zahirah
"Astaghfirullah enggak lah dok" jawab Zahirah cepat. ia menundukkan wajahnya gugup
"Ya Aku tau, kamu wanita mulia. Kamu tidak akan pernah memiliki pikiran atau niatan seperti itu, makanya aku menyukaimu" Ujar Haidar. Zahirah mendongakkan kepalanya terkejut
"Kadang mencintai seseorang tidak perlu memiliki alasan, kamu masih ingat dengan ucapan Saya barusan kan, Cinta itu NALURI. Sepertinya naluri saya memliki kasta tinggi, hingga dapat mencintai seseorang seperti kamu"
"Dokter Haidar" Ucap Zahirah pelan
"Saya tipe laki-laki yang tidak suka basa-basi Aina Zahirah, inilah saya dengan apa yang saya cintai saat ini. Kamu balik menyukai saya tidak nya kembali lagi ke hati kamu, siapapun dia pemiliknya saya tidak akan mempermasalahkannya, karena saya tau cinta tidak akan bisa di paksakan" Ucap Zaidan serius
"Sarah ingin tinggal seminggu di sini Ayah"
__ADS_1
"Apa ada masalah di rumahmu Nak?" Tanya pak Hamdan cemas
"Kenapa sih Ayah selalu berfikiran negatif terus. Ya emang apa salahnya jika Sarah ingin menginap disini? Ini kan Rumah kita ya Rumah Sarah juga"
"Bukan begitu Bu, Ayah hanya sedang khawatir apa salahnya bertanya"
"Tapi pertanyaan yang Ayah lontarkan selalu seperti itu, sampai muak Aku mendengarnya"
Kekhawatiran Ibunya tentang pernikahan nya membuat ia sering berpikir beberapa kali untuk bercerai. Sarah tidak bisa membayangkan seberapa kecewa nya ibunya karena ia
Kepala Sarah terasa semakin ingin pecah, jika memikirkan segala sesuatu yang sedang terjadi saat ini. Apalagi memikirkan foto Zahirah di handphone suaminya membuat hatinya semakin bergemuruh kencang.
Siapa yang tidak akan sakit hati jika suaminya menghabiskan waktu bersama wanita lain, apalagi ini wanita yang di cintai ya, dan wanita yang selalu menjadi alasannya untuk ingin berpisah.
__ADS_1
"Aku harus menemui mu sesegera mungkin Mba" pikir Sarah
"Sarah tadi pamit sama Bunda, katanya dia ingin menginap di rumah Ibunya selama seminggu ini, apa Kamu sedang bertengkar Zai" Tanya Bunda Irma
"Dia ingin menginap saja Bun, sudah izin Sama Zaidan" Jawab Zaidan tanpa menoleh
"Bunda selalu berdoa agar rumah tangga anak-anak Bunda baik-baik saja. Apalagi Bunda berharap Kamu segera mungkin memliki keturunan Zai"
Mendengar ucapan Bundanya barusan membuat Zaidan tersedak dengan kopi yang sedang ia minum. Zaidan menatap Bunda nya penuh tanda tanya . Keturunan, tidak ada sedikitpun terlintas di pikirannya untuk memiliki keturunan dari Istrinya sekarang
Mengingat seperti apa rumah tangga yang sedang di jalani Zaidan, mustahil itu bisa terjadi. Zaidan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apakah selama ini orangtuanya masih tidak mengerti dengan apa yang sudah terjadi selama pernikahan ini berlangsung. Kalau bukan karena terpaksa dan berbakti ia tidak akan Sudi untuk menikahi Sarah.
Raisa sudah mulai waspada terhadap situasi sekarang ini, ia takut akan adanya pertengkaran kembali. Kerena perbuatan kedua orangtuanya pada Zaidan, ia juga jadi merasa terseret setiap ada permasalahan di rumahnya
"Bunda sudah tahu situasi pernikahan aku seperti apa, jadi tolong jangan berharap lebih" Ucap Zaidan tegas menatap Bunda Irma
"Zaidan memang apa salahnya jika ka-"
"Aku tidak ingin bertengkar" Ujar Zaidan tegas, berdiri lalu berlalu
"Bunda.. tolong jangan bicara tentang pernikahan Zaidan, aku lelah jika setiap hari harus mendengar pertengkaran yang sama dan terus berulang-ulang. Aku takut ini akan mempengaruhi Anak Aku kedepannya" Raisa menatap Bunda Irma, matanya sudah memerah menahan tangis
"Kenapa ucapan Bunda selalu salah, entah itu di telinga kamu atau Zaidan. Bunda sudah memiliki cucu dari Kamu bukan berarti Bunda tidak ingin memiliki cucu dari Zaidan. Akhir-akhir ini kalian semakin tidak menghargai Bunda sebagai orang tua kalian"
"Bukan seperti itu Bun maksudku, Aku tidak pernah punya niatan ingin kurang ngajar sama Bunda, tapi situasi sekarang ini memang kurang baik untuk Zaidan jika kita terus menerus menyinggung soal rumah tangga Dia Bun"
Bunda Irma hanya diam mendengarkan, ada benarnya apa yang di katakan Raisa. sampai detik ini Zaidan belum bisa menerima Sarah sebagai istrinya
__ADS_1