
Di lain tempat, Ada seseorang yang keadaan nya tidak jauh berantakan seperti Zahirah, Dia merutuki setiap kebodohan yang dia lakukan kepada Zahirah.
Aarrgghhh dengan berteriak frustasi. Zaidan melemparkan gelas ke dinding dengan keras, hingga menimbulkan suara yang mengagetkan orang-orang yang ada di rumah,
Bunda Irma berlari menaiki anak tangga, Mendorong pintu kamar Zaidan dengan kencang..
"Zaidann... apa-apaan ini? kamu membuat mama beserta penghuni rumah kaget dengan kelakuan kamu ini!" Bunda Irma sedikit meninggikan suaranya. Namun Zaidan tidak memperdulikan sang Bunda sama sekali. Pikiran nya melayang kepada sang gadis pujaan hatinya, yang saat ini keadaannya tidak baik-baik saja.
"Bundaa.. Zaidan hanya mencintai Zahirah Bun. Zaidan sama sekali tidak mencintai Sarah. Bisakah Bunda bicara kepada ayah, agar membatalkan pernikahan ini Bun"
Bunda Irma terlonjak kaget dengan perkataan Zaidan, Ini adalah pertama kalinya Zaidan menolak permintaan orang tuanya.
"Zaidan.. Apakah kamu sadar dengan ucapanmu ini? Apakah Kamu mau membuat Bunda malu? Zaidan. Bunda dan Ayah sangat dekat dengan keluarga Sarah, apa lagi Tante Rosita. Apa jadinya jika kita membatalkan pernikahan yang di gelar sebentar lagi ini ? Bukan hanya Ayah dan Bunda yang malu, Tapi keluarga besar kita" Bunda Irma mendekati Zaidan dengan sedikit emosi..
Zaidan menatap Bundanya dengan sorot mata yang sayu "Bunda.. Aku mencintai Zahirah, aku ingin Bunda melamar anaknya om Hamdan, yaitu Zahirah, bukan Sarah."
"Anak om Hamdan hanya Sarah. dan adiknya Sarah yang sudah meninggal! selebihnya tidak ada" menatap Zaidan dengan sorot mata yang tajam.
"Mencintai tidaknya Sarah, pernikahan ini akan tetap berlangsung. Bunda harap kamu menurut sama seperti Biasanya. Bunda tidak ingin ada pembantahan yang kekuar dari mulutmu itu" Bunda Irma meninggalkan Zaidan yang terdiam lesu dengan keadaan nya saat ini.
"kenapa... kenapa jadi seperti ini?"
~~
Lain halnya dengan keadaan Sarah yang saat ini. Dia begitu semangat dalam melakukan pekerjaan nya, Masih terbayang wajah calon suaminya, yaitu Zaidan. Dia yakin Zaidan adalah Doa yang selalu ia minta sama Allah di setiap usai sholat..
__ADS_1
Riska teman bekerja nya dari tadi memperhatikan Sarah dengan seksama, Riska juga tidak kalah bahagianya dengan Sarah, Karena bagaimanapun juga baru pertamakali dia menyaksikan Sarah jatuh cinta seperti ini.
"Eekheeemm..." Riska berdehem, Sarah yang kaget atas kedatangan Riska tiba-tiba sedikit terlonjat.. "Kamu tuh ya.. kalo mau ketemu orang Sallam dulu.. jangan tiba-tiba berdehem seperti itu.. aku pikirnya kamu itu anak gendereuwo tau"
"tega banget ya kamu Sar. Untung kamu lagi bahagia, kalo ngga aku toyor kepala kamu itu"
Sarah sedikit terkikik geli mendengar temenannya merajuk seperti ini.
"Iya iya maaf.. Ada apa gerangan, Saudari Riska Datang menemui saya seperti ini?" jawab Sarah dengan sedikit mencubit dagu Riska
"Kamu tuh ya" dengan tersenyum " Bagaimana perkembangan hubungan kamu sama Mamas mu itu Sar"
Sarah tersenyum dengan lembut "Alhamdulillah Ris, besok aku mau fitting baju pengantin. Doain ya Ris.. semoga mas Zaidan benar-benar jodoh yang Allah kirimkan untuk ku, supaya bisa membawa aku ke jalan yang lebih baik lagi" dengan sedikit tersipu "Aku mengagumi mas Zaidan dari pertama bertemu Ris. Dari tutur katanya yang lembut, Ramah, murah senyum, yang pastinya dia itu anak yang berbakti sama orang tuanya, Idaman aku banget ini Ris" Sarah menerawang jauh sambil tersenyum simpul, membayangkan semua yang ada pada Zaidan.
"Aku dukung kamu 100% Sar, asal kamu bahagia pastinya.. Aku cuma bisa doain kamu. semoga ketika kelak kamu membina rumah tangga, kamu benar-benar menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah.. dan jangan lupa secepatnya kasih gua ponakan okey"
"apakah Ibu masih marah dengan ayah atas kejadian pagi tadi bu?" pak Hamdan dari pagi tidak enak hati karena di diamkan terus
"maafkan ayah jika salah bicara"
"Bisa tidak Ayah fokus dengan kebahagiaan Sarah? Aku hanya memiliki dia saja saat ini. Dari kecil sampai sekarang, Sarah tidak pernah menuntut atau meminta hal yang berlebihan kepada kita, walaupun kita mampu untuk menurutinya. Untuk saat ini Ibu hanya mohon Dukung sepenuhnya pernikahan Sarah dengan Zaidan..." Bu Rosita berucap dengan berderai air mata, dengan mengatupkan kedua tangan nya di dada di depan Suaminya..
__ADS_1
pak Hamdan menghela nafas "Buu.. bukan ayah tidak mendukung pernikahan Sarah sama Zaidan. Tapi, Ibu tau kan pak Yusup kesini melamar siapa? Zahirah Bu.. bukan Sarah! Disini akan ada dua pihak yang terluka jika pernikahan ini tetap berlangsung" Pak Hamdan berbicara dengan nada frustasi..
Bu Rosita menatap tajam Suaminya "Anakmu di rumahku hanya Sarah! Tidak ada siapapun lagi. terkecuali adiknya Sarah yang meninggal, gara-gara Kalian. Aku tidak memiliki anak selain mereka! jika ada yang datang melamar ke rumahku berarti melamar Anakku. yaitu Sarah! Lagipula pak Yusuf tidak keberatan kalo yang nikah sama Zaidan itu Sarah. Apalagi dengan Irma. Ingat mereka tau, Dari rahim siapa siapa Zahirah di LAHIRKAN! " ucap Bu Rosita dengan menggebu-gebu.
Pak Hamdan yang terpancing emosinya sejak tadi lantas membentak "Tidak bisakah kau untuk tidak mengungkit masa lalu, yang bahkan aku telah menyesalinya dan meminta maaf kepadamu, dengan cara bertahan hidup di samping mu hingga saat ini Rosita!"
"Apakah selama ini kamu masih merasa terbebani oleh aku dan sarah Yah? apakah kesakitan yang selama ini aku rasakan tidak bisa membuat mu menyayangiku sebagai istrimu yah? Apakah selama ini pengabdian ku kepadamu masih kurang? Iya j\*\*\*\*g itu memang telah membutakan mata mu. Membuat aku dan Sarah menderita atas perlakuan kamu Yah!"
"DIAM.. PLAKKKK" dengan wajah yang memerah Pak Hamdan menampar Bu Rosita dengan kencang "Aku sudah katakan berkali-kali padamu kalo Rina adalah wanita baik-baik, tidak sepantasnya kami menyebut nama dia dengan bahasa kotormu itu" Dengan tersulut emosi pak Hamdan meninggalkan ibu Rosita dengan begitu saja tanpa melirik ke belakang sedikitpun...
"Lantas panggilan apa yang pantas untuk wanita yang telah merebut suamiku. dan yang telah menyebabkan kematian orang tua ku dan anakku sendiri.. apakah aku egois jika ingin melihat Sarah bahagia bersama Zaidan"
__ADS_1
Bu Rosita tersungkur menangis dengan memegang pipi nya yang begitu terasa perih...