
Di lain tempat, ketiga insan ini seperti sedang di intimidasi. Bahkan Mereka merasa seperti menjadi buronan kejahatan, saking mencengkam nya ruangan ini, bahkan jarum jam sangat terasa lambat bergeraknya.
Bahkan mereka sudah beberapa kali merasakan pukulan dari sapu yang sedang di pegang ibu negara di hadapannya.
"Sudah berapa kali Mama bilang, kalau naik apa-apa itu hati-hati Zahirah" Mama Rina menatap kesal anaknya.
bagaimana tidak kesal, pulang jalan-jalan bukannya happy, malah mendapatkan beberapa perban di wajahnya, sudah pasti ini jatuh bukan sembarang jatuh. Mama Rina melayangkan sapunya kembali namun Reza buru-buru melindunginya
"Tante please ini murni kesalahan aku, membiarkan Zahirah mengendarai motor itu, aku nggak tahu kalau jalan berikutnya itu rusak parah" Ucap Reza memelas, ia tidak tega jika Zahirah terus menerus mendapatkan pukulan itu, baginya mungkin ini tidak seberapa. Tapi Zahirah baru keluar dari rumah sakit.
"Dan juga Fitri ikut serta, Fitri yang meminta di bonceng Zahirah" Timpal Fitri sembari menggenggam tangan Zahirah
Zahirah melepaskan pegangan tangan Fitri dan Reza, lalu menghampiri Mama Rina sambil terkekeh geli. Sungguh wajah anggun ini tidak pantas menjadi wajah pemarah, bahkan Zahirah merasa geli melihat wajahnya orangtuanya yang menggemaskan seperti ini.
Zahirah memeluk Mama Rina, melepaskan sapu yang mama Rina pegang.
"Zahirah sehat Mah, organ dalam tubuh Zahirah pun masih lengkap" Ucap Zahirah bergurau
Mama Rina menatap Zahirah kasihan, sungguh ia tidak tega mendapati wajah anak nya yang di penuhi beberapa lebam, dan bahkan ada luka yang tertup perban.
"Mama ngerasa Nggak becus jadi orang tua, mama nggak mau kamu terluka Zahirah" Mama Rina berucap lirih, matanya sudah mulai berembun. Zahirah memandang wajah Mamanya.
Reza dan Fitri menunduk dalam. Bukan, bukan Mama Rina yang nggak becus, tapi mereka lah yang ngga bisa jaga Zahirah dengan baik.
"Yang penting Zahirah kan pulang degan selamat. Zahirah nggak apa-apa kok Mah, besok juga ini mah kering" Zahirah menenangkan Mamanya. Jangan lupa senyum palsu nya yang sedari tadi tidak lepas
Mama Rina memeluk erat Zahirah. Menumpahkan air matanya, tiga hari kemarin perasaan nya benar-benar cemas akan Zahirah, apalagi tidak ada satu ponsel pun yang bisa ia hubungi, dan ini kali pertamanya Zahirah keluar rumah tanpa izin langsung darinya.
Lama menangis Mama Rina menatap kedua temannya ini bergantian,
"Loh kok ikutan nangis juga" Mama Rina menatap geli
"Maafin Tante ya Fitri, Reza. Tante udah mukulin kalian berdua" Mama Rina menatap Fitri dan Reza secara bergantian
"Dan terimakasih juga buat kalian udah selalu jagain bocil Tante yang ngeselin ini. Tante bersyukur Zahirah di kelilingi orang-orang baik seperti kalian ini. Semenjak ada kalian Tante tidak pernah merasa Zahirah akan terluka karena orang lain. Terimakasih ya atas segalanya untuk Tante dan Zahirah" Mama Rina berucap tulus.
Fitri yang mendengarnya pun sudah tidak kuat lagi menahan diri untuk tidak memeluk Mama Rina dan Zahirah
"Tante maafkan Aku, Maafkan aku" Fitri menangis sejadi-jadinya, ucapan Mama Rina barusan sungguh sangat membuatnya merasa tidak berdaya. Mama Rina tidak tau saja sejak dari sekolah menengah pertama Zahirah sudah menutup segala luka nya di hadapan Mamanya ini.
Ia yang menjadi saksi dari segala luka yang di hadapi Zahirah, dulu jika terjadi sesuatu atau ada yang melukai Zahirah ia tidak segan-segan membalas lebih kesakitan itu. Tapi untuk yang terjadi saat ini Ia merasa menjadi teman yang tidak berguna untuk Zahirah.
"Justru Tante yang minta maaf karena udah menyusahkan kalian, apalagi Fitri kan" Mama Rina mengelus rambut Fitri sayang
sedangkan Reza masih sama dalam keadaan masih sama, tertunduk dengan segudang penyesalan dan rasa bersalah nya...
__ADS_1
"Jadi melow gini kita, mending kita lihat ruang makan, di meja ada apa aja ya" Zahirah mengalihkan suasana yang sedang terjadi saat ini
"Mama nggak tau kalian mau pulang sekarang, Jadi mama nggak masak, Gimana ini?"
"Mau di pesankan lewat online?" tawar Mama Rina
"Nggak usah mah, Ada mie rebus mah?"
"Ada"
"Yaudah kita masak mie rebus aja" Year Zahirah menatap satu persatu temannya
"Mama saja yang masak, kalian tunggu okey"
"Makasih Mah sebelumnya Tante, maaf merepotkan" Ucap Reza merasa tidak enak
"Uhhh perih ya Zah?" Tanya Reza khawatir, Fitri menatap Reza sebal.
"Pertanyaan lu nggak berbobot banget dah Za! Namanya di cakar macan tutul ya perih ogeb!"
"Ngga boleh gitu Fit" Zahirah memperhatikan Fitri dari ucapannya.
"Inilah bidadari kita dengan hati seluas samudera" Fitri menatap Zahira jengkel, dan Zahirah yang di tatap seperti itu pun hanya terkekeh...
"Auhhh Za pakai apa sih itu?" Tanya Zahirah penasaran
"Lu bisa obatin temen gua nggak si Za?" Tanya Fitri menghampiri Mereka berdua.
__ADS_1
"Bapak gua dokter, emak gua dokter, kakek nenek gua juga dokter jangan lupa!"
"Lah yang lain dokter juga, lu mah kan bukan Za" Fitri menarik paksa kassa yang di pegang Rezaa " Minggir lu" Fitri menggeser Reza paksa
"Ya walaupun gua buka. dokter, masa cumaa kaya beginian gua nggak bisa Fit!" Jawab Rezza berdecak kesal
"Sini deh biar aku sendiri aja yang obatin"
Reza dan Fitri mengalah, mereka memperhatikan Zahirah seksama.
Ceklekkkk....
Pintu terbuka membuat mereka bertiga terkejut menoleh ke asal suara, Zahirah menjatuhkan kasa yang sedang ia pegang menatap mama nya tanpa berkedip
Mama Rina berjalan memabawa nampan yang berisi tiga mangkuk mie rebus. Lalu menyimpan. di meja dekat Fitri,
"Lagi bersihin luka ya? Mama bantu sini"
Mama Rina menghampiri Zahirah tersenyum
Mama Rina terlonjat kaget melihat beberapa luka di wajah anaknya. Yang jadi perhatiannya ia lah dagu kiri dan kanan, lebam biru di sudut bibir sebelah kanan. dan goresan yang sama di beberapa area leher. Dan jangan lupa luka seperti benturan di pelipisnya yang begitu ketara.
"Jatuh nya separah ini kah Zah?" Tanya Mama Rina dengan suara sedih dan cemas nya
__ADS_1
Ketiganya merasa gugup, untuk sekedar menelan ludah pun terasa Sulit. mereka saling menoleh satu sama lain. Zahirah berdoa dalam hati agar Mama nya tidak curiga apapun tentang lukanya...