
"Saya mohon Zahirah" Raisa menangkupkan kedua tangannya seraya menunduk. Zahirah terdiam. Ia tidak bisa mengiyakan permintaan perempuan tersebut. Jujur ini berat, tapi di dalam hatinya sungguh ia khawatir akan kondisi Zaidan sekarang...
"Aku tidak mungkin menemui suami orang Mba" Lirih Zahirah yang masih terdengar di telinga Raisa
"Aku akan mempertanggungjawabkan jika ada sesuatu yang terjadi Zah. Aku mohon untuk kali ini saja" Raisa bicara pelan sambil meneteskan air matanya. Zahirah yang melihatnya pun terkejut, separah ini kah kondisi Zaidan.
Zahirah menghela nafas gusar "Baiklah, tapi hanya sebentar ya Mba. Zahirah akan izin pada atasan. Nanti Mba tunggu di persimpangan jalan sana"
Raisa langsung berhambur memeluk Zahirah "Terimakasih Zahirah, Terimakasih" Ucap Raissa bahagia di sela isakan nya. Zahirah hanya menganggukkan kepalanya tersenyum
Zahirah mengemudikan mobilnya tepat di belakang mobil Raisa. sedari tadi ia menimbang apakah yang di lakukan nya ini tidak akan berdampak buruk kedepannya.
"Ahhh.. Tadi kan Mba Raisa bilang bukan di rumahnya"
Zahirah merasa asing dengan jalan yang ia lewati. Hingga mobilnya sampai di parkiran sebuah gedung besar. Zahirah memarkirkan mobilnya tepat bersebelahan dengan mobil Raissa.
Sebelum Zahirah keluar ia menonaktifkan handphonenya, merapikan pakaian dan jilbabnya...
"Ini apartemen Mas Panji Zah" Ujar Raissa tiba-tiba seperti mengerti apa yang sedang di pikirkan Zahirah. Zahirah mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Raisa menggenggam tangan Zahirah, menuntun Zahirah "Zahirah maafkan Zaidan dan keluarga Mba ya" Raissa menatap Zahirah dengan matanya yang berkaca-kaca
"Zahirah sudah memaafkan, jauh sebelum kalian meminta Maaf" Jawab Zahirah
"Terimakasih Zah terimakasih" Raisa memeluk Zahirah, Zahirah balik memeluk Raissa...
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan, menaiki lift. Zahirah melihat Raissa menekan tombol angka 20. Zahirah memegang dadanya yang sedari tadi tidak berhenti berdetak kencang.
Ting suara lift menandakan bahwa mereka sudah sampai pada lantai tujuan. Raisa menarik tangan Zahirah. "Tangan kamu dingin Zah" Zahirah yang mendengar ucapan Raisa hanya tersenyum kikuk
Ketika mereka berdua sampai di depan pintu Zahirah berhenti, Raisa menatap Zahirah heran "Kenapa Zah?" Tanya Raisa
"Mba aku takut" Ucap Zahirah pelan
"Saya yang akan menjamin keselamatan kamu Zahirah" Ujar Raisa meyakinkan Zahirah "Ayo"
Raisa membuka pintu lebar, menarik tangan Zahirah paksa
Mata Zahirah celingukan kesana kemari. Ketika sampai di ruang tamu Zahirah melihat ada dua orang yang sedang duduk. Dan Zahirah mengenali keduanya. Mas Panji yang duduk dengan laptop dia atas pahanya. Dan Tante Risa menyenderkan kepalanya pada kursi
"Sayang" Tante Risa menatap tidak percaya
Zahiraah menghampiri Tante Rissa, mengambil tangan kanannya lalu menciumnya "Apa kabar Tante Risa?" Tanya Zahirah basa-basi
"Tante baik Zah" Jawab Tante Rissa "Tapi Zaidan" Lanjut Tante Rissa lesu
"Tante tolong biarkan Zahirah duduk" Ucap Panji Gemas melihat Tante Rissa
"Ya ampun sampai lupa, saking bahagianya ini Tante" Tante Risa menarik pergelangan tangan Zahirah, menuntun Zahirah duduk di sofa
"Tante kangen banget Zah sama Kamu, Maaf untuk yang di rumah sak-" Sebelum Tante Risa melanjutkan ucapannya, Zahirah lebih dulu memotong "Aku baik, dan aku sudah lupa sama kejadian itu" Jawab Zahirah cepat, sedikit tertawa
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, mereka sedikit bercerita tentang keadaan masing-masing.
"Kamu akan tetap menjadi keponakan Tante" Ucap Tante Rissa mengelus pucuk kepala Zahirah. Zahirah terharu mendengarnya.
Tidak ada yang berubah pada sosok wanita cantik yang ada di hadapannya. Dari awal bertemu sampai saat ini. Dulu ketika Zahirah dan Zaidan pacaran tidak sekali dua kali Zaidan menceritakan bahwa Tante nya adalah superhero dalam hidupnya... .
"Bolehkah kamu menemui Zaidan sekarang Zah?" Tanya Tante Risa hati-hati. Zahirah menganggukkan kepalanya hingga membuat Ketiga orang yang ada di sana tersenyum lega
"Boleh tolong tunjukan dimana mas Zaidan sekarang?" Tanya Zahirah menatap satu persatu
Tante Risa bangun, menarik tangan Zahirah agar mengikutinya, Zahirah hanya patuh kemana ia akan di bawa. hingga mereka berempat sampai di salah satu pintu kamar, dan Zahirah pun yakin pasti Zaidan ada disini
Raissa membuka pintu perlahan-lahan. hingga menampakkan Zaidan yang sedang bersandar di atas kepala ranjang dengan matanya yang setia tertutup
Mereka berjalan beriringan, Zahirah menggenggam tangan Tante Risa erat. Ketiak Zahirah sampai tepat di hadap Zaidan, Zahirah membekap mulutnya tidak percaya
Zaidan bukan seperti Zaidan yang terakhir ia temui. Keadaannya begitu memprihatinkan, tubuhnya sedikit kurus ada lebam juga di wajahnya. Lingkaran hitam dibawah mata. menandakan bahwa sepertinya ia kurang tidur. Zahirah meneteskan air matanya. Seberapa ia kecewa pada Zaidan pada akhirnya kecewa itu tidak bisa mengalahkan cintanya yang begitu besar
Zahirah pikir disini hanya dialah yang terluka. Tapi nyatanya Zaidan sama terlukanya seperti dia. Tadi ketika Raisa menceraikan keadaan Zaidan yang sekarang, Zahirah pikir Raisa hanya melebih-lebihkan. Tapi apa ini yang ia lihat
"Mass" Zahirah memanggil Zaidan dengan suaranya yang bergetar
Zaidan merasakan jantungnya bergemuruh kencang. Apakah telinganya tidak salah dengar. Zaidan membuka kedua matanya, dan yang pertama kali Zaidan lihat ialah wajah yang setiap waktu tidak pernah lekang dalam ingatan nya.
Zaidan melihat wanita itu menangis terisak.
__ADS_1