
Fitri turun dari mobilnya dengan sedikit berlari. Ketika sampai di depan pintu Rumah yang megah. Fitri menekan bel berkali-kali dengan raut wajahnya yang tidak sabar..
Tidak lama pintu terbuka menampil kan seorang wanita paruh baya. Menatap bingung ke arahnya. Dan Fitri sama sekali tidak memperhatikan nya
Fitri langsung menerobos masuk ke dalam
"Assalamu'alaikum neng" Mbo Atun mengucapkan salam dengan suara yang kesal
"Waalaikumussalam Mbo. Tolong cepat panggilkan mba indah dong. Sekarang keadaannya darurat banget nih"
Fitri bicara dengan wajah khawatir. membuat Mbo atun juga malah ikut khawatir
"Bentar atuh ya.. si neng tunggu disini si mbo ke atas dulu panggil nyonya"
Setelah Mbo Atun berkata. ia langsung meninggalkan Fitri sendiri di ruang tamu, menaiki satu persatu tangga. dengan sedikit tergopoh-gopoh...
Tidak lama kemudian datanglah, mba indah dengan masih memakai piyama tidur. Wajahnya sedikit acak-acakan seperti baru bangun tidur.. Fitri langsung berdiri lalu menghampiri Indah dengan tergesa..
"Pokoknya Hari ini Saya sama Zahirah mengajukan cuti selama Tiga hari ke depan"
Indah menguap, tanpa memperdulikan perkataan Fitri barusan. Ia duduk di kursi lalu melihat wajah Fitri dengan seksama
"Mba Indah dengar aku kan? Tapi mau Mba Indah kasih Izin ngga nya, Saya akan tetap cuti sama Zahirah"
Indah berdecak sebal melihat pegawai bar-bar yang satu ini. Bayangkan ini masih pukul Setengah Enam pagi. Dan pegawai nya sudah datang sepagi ini hanya untuk mengajukan cuti secara pemaksaan.
Fitri menghampiri Indah lalu berjongkok di dekat tempat duduk Indah..
"Hari ini, adalah hari patah hati terdalamnya Zahirah. Dan saya harus mengamankan Zahirah ke Kota lain. Untuk mengalihkan pikiran dan hati nya, agar Zahirah tidak fokus memikirkan hari pernikahan nya Zaidan. Mohon belas kasihnya mba kepada Zahirah. Kita sesama manusia hidup apalagi kita perempuan alangkah baiknya kita mengerti perasaan sesama kita"
Fitri berbicara dengan suara yang memelas..
"Bukan nya kamu bilang tadi, kalo saya ngga Izinin juga, kamu bakalan tetap ngambil cuti?"
Saya heran deh yang putus cinta siapa yang uring-uringan siapa! Jangan-jangan kamu suka sama Zaidan?"
Fitri menatap Mata Indah dengan tajam. Mulut laknat bosnya ini perlu dapat Bogeman mentah sepertinya. Selain senang menghina ia juga Gemar sekali memfitnah..
"Astaghfirullah sabar ya Allah. Masih pagi. Marah-marah tdi oagi hari tidak baik untuk kesehatan"
ucap Fitri Lirih, ia Fitri mengelus dada sambil menggelengkan kepalanya..
"Yaudah kalo begitu saya permisi pulang dulu. Saya mau siap-siap pergi berlibur bersama sahabat saya"
"Eh Fit kamu belum dapet izin saya loh?"
Fitri berjalan dengan cuek tanpa menjawab pertanyaan Indah, meninggalkan bosnya yang sedang kesal . Selain ia takut kesiangan. Ia juga harus mengamankan mentalnya dari mulut nenek sihir itu. Pagi-pagi gini dia sudah mendapatkan kata-kata mutiara. yang membuat emosinya meluap-luap..
"Mana jas yang kamu beli kemarin?" Bunda membuka lemari anaknya satu persatu.
"Ke bawa ke rumah Sarah?" Zaidan hanya duduk dengan cuek.
__ADS_1
Ketika Ibunya membalikan badan ke balakang, alangkah kagetnya melihat penampilan Zaidan. masih dengan rambutnya yang basah dan handuk terlilit di pinggangnya tanpa memakai baju..
"Astaghfirullah Zaidan. Pakai celana sama pakaian mu sekarang juga!"
"Zaidan tidak beli jas, baju, celana. untuk acara hari ini!" Zaidan menjawab sambil menyisir rambutnya
"Yang benar kamu?" Zaidan mengangguk
"Terus ngapain aja kemarin ke butik?"
Zaidan mengedikkan kedua bahunya malas
Bunda Irma keluar menutup pintu dengan kencang.. berjalan ke bawah menghampiri keluarganya yang sedang berkumpul
"Ayah atau Panji punya Jas yang belum di pakai tidak?" yang empunya nama pun menoleh ke asal suara
"Itu masa Zaidan sekarang belum pakai apa-apa. Kemarin Dia datang ke butik tidak beli pakaiannya Yah!" ucap Bunda Irma dengan sebal
"Udah kok! kata siapa aku belum pakai apa-apa?"
Semua orang menoleh kea arah Zaidan dengan tatapan kagetnya. Bagaimana tidak, Zaidan datang dengan memakai, celana Levis selutut, baju kaos oblong berwarna putih, pakai topi dan kacamata hitam. Ini bukan seperti orang yang akan menikah. tapi ini kostum mau berlibur
Bunda Irma menarik tangan Zaidan dan suaminya menuju kamar pribadi nya
"Pilihkan pakaian yang cocok untuk Zaidan. Tidak perlu yang baru. Ambil Kan mana yang di badan nya cukup! Bunda udah capek"
Bunda Irma berkata sambil memijit pelipisnya, Pusing sekali rasanya dengan sikap Zaidan..
__ADS_1
"Janga berpikir, jika dengan kamu malas-malasan seperti ini akan membatalkan pernikahan kamu!"
Bunda Irma menatap wajah Zaidan dengan sorot mata yang tegas.. Zaidan yang di tatap seperti itu pun hanya pasrah...
"Zaidan. bisa, tidak bisanya kamu. Pokoknya Bunda tidak mau tau, kamu harus bisa melupakan Zah-" belum selesai Bunda Irma meneruskan ucapannya Zaidan lebih dulu memotong
"Jangan mengucapkan nama Zahirah lagi Bun"
Bukan. bukan Zaidan tidak ingin mendengar Nama Zahirah. melainkan dia sudah yakin jika nama Zahirah keluar dari mulut Ibunya, sudah pasti hanya Hinaan yang akan keluar..
Bunda Irma mengangguk dengan tersenyum...
"Tidak terasa Sarah anak Ibu, yang rasanya baru kemarin Ibu timang-timang. sekarang sudah mau menjadi Istrinya orang.Ibu do'akan Anak cantiknya ibu ini. mendapatkan kebahagiaan yang utuh.. Semoga kamu sama Zaidan menjadi sepasang suami istri yang di Rahmati Allah"
Ibu Rosita bicara dengan mata yang berembun.. Sarah memeluk Ibunya dengan erat, perkataan Ibunya membuat ia begitu sedih..
"Terimakasih Ibu sudah membesarkan Sarah dengan baik. Sarah bahagia lahir dari rahim wanita hebat seperti Ibu, Walaupun setelah menikah surga Sarah beralih pada Mas Zaidan. Namun Nama ibu tetap Berada di urutan pertama ketika Sarah berdoa"
Sarah dan Rosita berpelukan dengan Rasa haru yang membuncah. Sampai terdengar Isak tangis ibu Rosita,
"Bu Rosi keluarga mempelai prianya sudah tiba" mereka di kaget kan oleh suara Riska...
Bu Rosita mengangguk lalu merapikan make up nya yang sebelum keluar..
"Sarahhh Akhirnya kamu menemukan cinta sejatinya juga.. Aku bahagia dengan pernikahan kamu ini! kamu juga harus bahagia tanpa kecuali okey"
Sarah hanya mengangguk dengan senyum bahagianya. Riska memeluk Sarah dan mencium kedua Pipinya.
"Yaudah Ayo kita keluar. penghulu sama Mamasmu jangan di biarkan menunggu lama" cicit Riska dengan senyum Jahil...
Acara pernikahan Zaidan dan Sarah hanya di hadiri dengan beberapa kerabat dekat.. mereka menuruti kemauan Zaidan, melakukan akad dengan sederhana. Malah ini lebih sederhana dari perkiraan para ibu-ibu
Sarah dan Zaidan duduk dengan bersebelahan. dikirinya di dampingi oleh orang tua masing-masing..
"Baiklah saya mulai sekarang acaranya ya" penghulu berucap meminta persetujuan dan di anggukan oleh para hadirin semuanya
"Saya nikahkan dan kawinkan Muhammad Zaidan Maulana bin Bapak Yusuf Maulana dengan Sarah Fujiyanti Binti bapak Hamdani, dengan maskawin berupa emas dua puluh lima gram, seperangkat alat sholat, dan uang sebesar tiga puluh sembilan juta rupiah, di bayar tunaiiii"
"Saya terima nikah dan kawin nya Aina Zahi-"
Sebelum Zaidan meneruskan ucapannya, Bunda Irma lebih dulu mencubit kaki Zaidan hingga Zaidan mengaduh sakit. Lalu tersadar bahwa ia salah menyebut nama
Bunda Irma wajahnya merah menahan malu, Sama halnya dengan Ibu Rosita. wajahnya malu bercampur kesal menatap Zaidan Tidak bisakah ia melupakan wanita si*lan itu?
Zaidan balas menatap Bu Rosita dengan senyum mengejek. sungguh ia benar-benar salah menyebut nama. Tapi melihat wajah kesal calon mertuanya ini, sedikit menjadi hiburan baginya...
__ADS_1
"Selamat datang karma untuk keluarga benalu. Aku akan membalaskan kesakitan Zahirah di mulai hari ini. anakmu yang polos ini, yang akan menanggung seluruh dosa kedua orang tua nya. Berbahagialah untuk hari ini. Karena aku akan menyiksa batinnya hingga sampai ia menyerah sendiri menjadi istriku"
Zaidan berucap lirih dalan hati.