Zahirah

Zahirah
Episode 30


__ADS_3

Dua hari berlalu. Hari ini, adalah hari terakhir Zaidan keluar dari rumah sakit. Dan sialnya Zahirah pun hari ini di izinkan pulang


"Kalau mama ngga percaya aku jatuh di motor sama Reza gimana dong Fit" Telinga Fitri terasa panas dengan pertanyaan yang berulang terus dari mulut Zahirah


"Tenang Zah, aku yang jadi taruhannya okey" Reza mengusap pelan kepala Zahirah, dan Fitri pun mengangguk menanggapi perkataan Reza barusan


Zahirah merenggut, lucu menggemaskan. mereka bertiga saling menggoda satu sama lain. Ketiganya tertawa seperti tidak ada beban. Ketika Reza menatap ke arah pintu keluar rumah sakit, ia mendapati Zaidan dan keluarganya keluar.


Reza melotot menatap Zaidan dengan sorot mata penuh dendam. Zaidan tidak menanggapi itu ia terus menatap Zahirah pilu, ada beberapa perban di wajah dan tangannya. Dan semakin ia perhatikan ia merasa Zahirah lebih kurus dari sebelumnya ia bertemu.


Dan Sarah masih terus memapah Zaidan agar mengikutinya, walaupun Sarah merasa Zaidan selalu menepis bantuannya. Lama berdiam diri memperhatikan Zaidan yang menatap Hanya pada satu arah, Sarah pun ikut menatap apa yang suaminya lihat.


Zahirah sedang tertawa bersama kedua temannya, Sarah dapat melihat betapa terpancar aura kebahagiaan dari wajahnya Zahirah. Sarah menatap wajah Zaidan, mata Zaidan sedikit berembun. Sarah menunduk, lalu kembali menatap Zahirah, demi tuhan ia tidak pernah merasa iri kepada siapapun dalam hidupnya, dan hari ini Sarah mematahkan itu, ia sungguh iri terhadap apa yang Zahirah miliki.


Zahirah mendapatkan cinta yang begitu besar dari suaminya sendiri, bahkan iapun tidak sedikitpun mendapatkannya.


"Jangan biarkan Zahirah menatap ke arah pintu keluar rumah sakit fit" Reza bicara pelan di telinga Fitri


Fitri menatap tempat yang Reza sebut barusan, ia mendapati orang yang benar-benar ia ingin Bu*uh pada saat itu juga.


"Loh kok pada bengong disini Ayo ayah kamu udah nunggu di depan" Ucap Tante Risa menepuk bahu Zaidan


"Aku sedang melepas Rindu Tante" Jawab Zaidan tanpa melepaskan tatapannya dari Zahirah.


Risa mengikuti arah mata Zaidan, Risa menghela nafas pelan "Zai kalau dari salah satu mereka melihat kita, permasalahannya tambah runyam" Ucap Rissa memelas menarik tangan Zaidan perlahan


"Masih kuat kamu bertahan, setelah banyaknya masalah yang sudah kamu lakukan?" Risa berucap lirih tepat di telinga Sarah, tanpa mempedulikan sesakit apa Sarah karena ucapannya. Sarah meremas tas yang ia pegang, lagi-lagi aku yang di salahkan..


Zaidan pasrah ketika tangan nya di pegang Risa, namun tatapan nya tidak pernah lepas dari Zahirah, ia terus memperhatikan mereka hingga hilang dari wajahnya.




Setelah menunaikan sholat isya, semuanya berkumpul di meja makan. Risa sibuk melayani keponakannya. Dan Sarah hanya menatap tanpa ingin membantu, karena ia sudah tahu jawabannya, yaitu PERCUMA



Bunda Irma menatap Adik Iparnya dengan kesal "Zaidan memiliki Istri Ris!" Namun Rissa tidak menanggapi sama sekali



"Bisakah kita makan tanpa ada perdebatan" semuanya menoleh ke arah Panji, laki-laki pendiam itu juga sepertinya sudah muak dengan semua drama keluarga istrinya ini.



Semua makan tanpa ada yang angkat bicara sepatah katapun. Mereka sibuk dengan semua makanan atau pikirannya masing-masing.



Sarah bangun ingin memberikan air hangat pada suaminya, tangannya yang licin atau keseimbangannya yang kurang, air itu rumah mengenai tubuh Zaidan. Zaidan berdecak kesal

__ADS_1



"Mas maaf Sarah ngga sengaja" Ucap Sarah penuh penyesalan.



Semua menoleh ke arah Sarah dan Zaidan, Risa semakin sebal melihat Sarah



"Jika kamu tidak bisa menjadi Istri, seenggaknya kamu harus berusaha layak jadi babu" Ucap Rissa



Bbraaaakkkkk.... Bunda Irma memukul meja penuh emosi



"JAGA UCAPAN MU ITU RISSAAA" Bunda Irma berteriak.



semuanya terlonjat kaget, Namun hanya Risa dan Zaidan saja yang acuh. Rasi masih tetap sama dengan kegiatan makannya, dan Zaidan masih sama sedang membersihkan pakaiannya.



Sedangkan yang lainnya menatap menghela nafas panjang karena kesal,




"Sehari saja tanpa ada ribut, Zaidan baru pulang dari rumah sakit. Tolong biarkan ia makan dengan tenang" Ucap Panji memelas menatap Bunda Irma.



"Sudah lah Tante, Aku mau istirahat sekarang" Zaidan berkata dingin



"Apa perlu Tante antar?" Tawar Rissa, namun Zaidan menggelengkan kepalanya, ia berjalan tanpa permisi kepada siapapun, dengan keadaan pakaiannya yang basah.



Pak Yusuf memijit pelipisnya, sungguh ia lelah dengan semua jenis perkelahian yang tidak ada habisnya. ia sangat merasa gagal sebagai kepala rumah tangga, semakin hari ia merasa keluarga nya tidak harmonis seperti dulu.



Ia sangat merindukan kehangatan keluarganya, Ia rindu dengan istrinya yang lemah lembut, rindu dengan anak laki-lakinya yang penurut, rindu pada setiap momen yang selalu Meraka habiskan hanya untuk bercengkrama, dan sepertinya sekarang sangat susah untuk memulihkannya.


__ADS_1


Satu persatu meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanannya, Disana hanya tersisa Risa Raisa dan Bunda Irma. Bunda Irma menghampiri Sarah yang sedari tatapan nya kosong, ia memeluk Sarah erat, mengelus punggung Sarah lembut.



Sarah menitikan air matanya, ia lelah, sangat lelah. Ia merasa menjadi sampah yang benar-benar tidak berguna.



"Maafkan keluarga bunda" Lirih Bunda Irma



Sarah mengusap tangan Bunda Irma lembut, Pelukan yang ia dapatkan sekarang ini adalah pelukan yang benar-benar ia rindukan, walau tak sama, tapi ini sama tulusnya seperti ibunya



"Sarah tidak apa-apa Bunda" Sarah tersenyum mengusap air mata Bunda Irma dengan lembut



Bunda Irma semakin merasa bersalah, Ia merasa anaknya itu sangat bodoh, bagaimana istri sebaik ini ia campak kan, jika saja me\*\*unuh tidak akan menjadi dosa. Ingin rasanya ia me\*bunuh setiap orang yang menghalangi pernikahan anak nya ini.



"Bunda bisa tidak untuk menahan diri, untuk tidak selalu terpancing?" Raisa menatap dua wanita yang sedang berpelukan di hadapannya



Bunda Irma menatap Raisa dengan sorot mata yang tajam "Apa Bunda harus berdiam diri kita ada orang yang menghina adik iparmu Raisa?"



"Jangan kira aku ngga pernah mikirin keadaan keluarga kita Bun, aku malu sama suamiku sendiri. Yang setiap hari menyaksikan pertengkaran kita yang tidak ada habisnya" Ucap Raisa pelan



"Lalu setiap ada pertengkaran apa Bunda yang perlu di salahkan?"



"Bukan seperti itu hanya saj-"



"Stop Bunda benci kalau kalian semua membenarkan segala tindakan Zaidan dan Tante mu itu!" Bunda Irma berteriak menatap Raisa kesal



Raisa menggelengkan kepalanya "Aku nggak kenal Bunda yang sekarang!" Raisa bangun lalu meninggalkan mereka berdua


__ADS_1


"Sebaika Sarah juga istirahat ya, jangan banyak pikiran masalah ini nanti bunda selesaikan" Bunda Irma kembali mengelus pundak Sarah, Sarah hanya mengangguk pasrah...


__ADS_2