Zahirah

Zahirah
Episode 07


__ADS_3

Hari ini begitu melelahkan untuk Sarah. Tapi tidak mengurangi rasa bahagianya, untuk pulang ke rumah..


"Assalamu'alaikum Ibu Ayah.. Sarah pulang."


Panggil Sarah ketika membuka pintu rumah, Berjalan menyusuri ruangan sambil mencari-cari kemana kedua orangtuanya. Tapi keadaan nya begitu sepi..


Ceklek.. Sarah membuka pintu kamar sang Ibu.


"Nak kamu sudah pulang sayang?" Bu Rosita Melirik Sarah dengan lembut..


"Iya bu. Tadi Sarah panggil-panggil ngga ada yang nyaut. eh taunya ibu ada disini"


"Ibuu.. tidur di sore hari itu, kurang bagus untuk kesehatan." menghampiri Bu Rosita sambil mencium tangannya


"Ayah katanya libur, Tapi dari tadi Sarah tidak melihat Ayah Bu? Kemana Ayah?" Sambil membuka Jilbabnya Sarah mendekati saklar untuk menyalakan lampu...


Dan betapa kagetnya Sarah melihat sudut bibir ibunya lebam "Astaghfirullah siapa yang lakuin ini Bu?" Sarah memandang ibunya sedih..


Bu Rosita hanya diam. "Sarah ambil obat dulu ya Bu. sebentar" Sarah sedikit tergesa keluar kamar ibunya.


Sarah kembali masuk ke dalam kamar Ibunya, dengan menenteng kotak obat dan mendekati Ibunya "Tidak apa-apa sayang, tadi ibu tidak sengaja terbentur ujung meja di ruang tamu. Saat membereskan beberapa majalah" Ibu Rosita berkata dengan berbohong..


Mana mungkin dia berani mengatakan, kalau tadi siang dia dan suaminya bertengkar sampai akhirnya Pak Hamdan yang menamparnya.. walau bagaimanapun, Ibu Rosita tidak ingin kalo Sarah tau, permasalahan keluarga nya ini. Apa lagi kalo Sarah tau bahwa Ayahnya memiliki anak dari perempuan lain..


Tidak bisa membayangkan, seberapa kecewanya Sarah. Dan Ibu Rosita akan berusaha merahasiakan segalanya dengan serapat mungkin...


"Sarah buka mukenah nya ya Bu" Sarah berucap dengan suara sedikit parau. "Bagaimana mungkin terbentur meja sampai seperti Bu."


Sarah menatap wajah Ibu Rosita dengan dalam "Katakan kepadaku siapa yang berani melakukan ini? Apa Ibu bertengkar dengan Ayah" Sarah berucap dengan meyelidik..


Bu Rosita terkekeh, menggelengkan kepalanya


" Mana mungkin Ayah tega melakukan ini, Kamu tau sendiri Ibu tidak pernah bertengkar sama Ayah. Kalo misalkan Ayah sampai berani menampar Ibu, sudah pasti anak Ibu Ini yang akan bertindak"


Bu Rosita memegang tangan Sarah dengan erat...


"Sudah.. jangan menampilkan wajah menyedihkan seperti itu. Ayo kita siap-siap bentar lagi Adzan Maghrib"


Sarah hanya terdiam mendengarkan Ibunya berbicara. Ia tau ini bukan luka yang di akibatkan kan meja. Tapi, ini luka pukulan.


"Sayang.. Ayoo cepetan mandi Keburu Adzan Nanti"


Sarah memeluk Ibu Rosita dengan erat "Jangan pernah ada yang nyakitin Ibu, seujung kuku pun Sarah tidak akan pernah Ridho, sekalipun itu Ayah. Sarah tidak akan pernah memaafkan nya" Sarah melepaskan pelukan nya, dan mencium pipi Ibunya "Yaudah Sarah ke atas ya Bu, Sarah mau mandi"


Bu Rosita mengangguk kan kepalanya dengan tersenyum...




Zahirah menyenderkan kepala di sofa kamarnya. pikiran berkecamuk, memikirkan segala sesuatu yang terjadi Dua Hari ini. Sungguh sangat mengejutkan, sekaligus menyakitkan secara bersamaan. menghela nafas dengan pelan, lalu Bangun dari duduknya lalu menghampiri cermin, membuka jilbabnya.



Melihat pantulan wajahnya, yang terlihat begitu lemas, merenung mengingat perkataan Ibu Rosita kemarin



"Zahirah. Kamu terlahir atas dasar kesalahan. antara Ayahmu dan Ibumu itu! Ibumu menghancurkan keluarga saya, Karena kelakuan mereka, Aku harus kehilangan Anakku dan orang tua ku. Jadi, cukup Zahirah disini bukan Kamu atau Ibumu yang terluka. Tapi Saya!"



Bu Rosita bicara dengan menggebu-gebu, sorot matanya penuh dengan kebencian menatap Zahirah



"Keluarga Zaidan datang kesini, untuk melamar Anak dari Ayahmu, Dan Kamu Tau di rumahku Hanya ada satu Anak yaitu Sarah! Memang jika Zaidan menjadikan kamu isterinya, Kamu pikir keluarga nya akan menerima?" berbicara menatap wajah Zahirah dengan remeh..



" Ingat baik-baik Kamu terlahir Atas dasar KESALAHAN" Bu Rosita menekan kata kesalahan, tepat menunjuk wajah Zahirah dengan nyalang...



Jantung Zahirah berdebar kencang. Hatinya begitu sakit. seperti tertusuk ribuan belati.


Walaupun Zahirah mempertahankan pendapat nya, bahwa bukan Mamanya yang bersalah. Apa lagi dirinya sendiri.



Lalu harus menyalahkan siapa? Kedua belah pihak ini sama-sama terluka. Tapi kenapa, Mereka selalu menyudutkan Mama dan Dirinya yang salah...



Ayahnya, Disini Ayahnya lah yang harus bertanggung jawab penuh.. Ayahnya lah yang pantas ia salahkan...



Kadang ada sekelebat rasa cemburu dalam hati Zahirah, kepada Sarah.. Bagaimana tidak cemburu. mba Sarah mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya..


dan di tambah sekarang, mba Sarah akan menikah dengan kekasihnya...



"Mas Zaidan.. Zahirah benar-benar akan berusaha ikhlas" bisik Zahirah



Suara dering ponsel terdengar menandakan ada pesan masuk..



"Mau ngapain Ayah ngajak ketemu malam-malam begini"



Zahirah memakai jilbab nya kembali. keluar dari kamarnya. Ketika sampai di lantai bawah, ia melihat Mama nya masih duduk menggunakan mukena sambil membaca buku.

__ADS_1



"Mama.. Zahirah Izin akan keluar sebentar, Ayah mengajak Zahirah bertemu di kafe biasanya"



Mama Rina meletakkan bukunya di meja, memandang Zahirah tersenyum



"Iya sayang, ngga apa-apa Jangan pulang terlalu malam"



"Tapi Zahirah malas mah bertemu Ayah"



Zahirah sangat yakin sekali, Ayah nya ingin bertemu pasti untuk membicarakan pernikahan Sarah. Meminta maaf misalnya..



"Eh.. ngga boleh kaya gitu! Mungkin Ayah mengajak kamu bertemu ada hal penting yang mau di sampaikan!"



Zahirah menghela nafas sebentar



"Yaudah Zahirah berangkat. Mama hati-hati di rumah" Zahira menarik tangan mamanya lalu menciumnya "Assalamu'alaikum"



"Waalaikumussalam hati-hati sayang di jalan nya ya"



Zahirah menoleh dengan mengangguk



~



Sesampainya Zahirah di kafe yang ia tuju, Zahirah memperhatikan setiap bangku mencari tempat Ayahnya duduk. Ketika matanya sampai di ujung meja, Zahira melihat Ayah ada di situ. lalu menghampiri nya



"Assalamu'alaikum Ayah, Maaf Zahirah telat datangnya Yah"



Pak Hamdan menatap ke asal suara dengan tersenyum. Zahirah mencium tangan Ayahnya lalu duduk berhadapan..




Zahirah mengangguk lalu meminum Air yang ada di meja itu. Lama mereka terdiam..



"Ada obrolan apa yang mau di sampaikan sama Zahirah Yah?"



Zahirah bicara dengan menatap mata Ayahnya, Zahirah yakin Ayahnya mengajak ia bertemu malam-malam seperti pasti akan membahas pernikahan kakaknya.



"Zahirah Maafkan Ayah"



"Tidak perlu meminta maaf. Zahirah sudah terbiasa seperti ini" ucap Zahirah dengan sedikit senyum



Pak Hamdan menatap Zahirah dengan hati yang bersalah



"Nak sungguh. Ayah menyayangi kalian tanpa ada yang di beda-beda kan. Kamu berdua Anak Ayah! Ayah terp-"



ucapan Ayahnya di potong Zahirah



"Sama Apanya Yah? Zahirah sama Mba Sarah jauh berbeda! Ayah selalu memprioritaskan Kebahagiaan Mba Sarah. Dan Zahirah tidak"



"Ayah akan bilang kalo Ayah terpaksa kan melakukan ini? apa Ayah tau perasaan Zahirah saat mendengar Mas Zaidan akan menikahi Mba Sarah? Sakit Yah, itu sungguh menyakiti Zahirah!"



"Maafkan Ayah Nak sungguh. Ayah tidaklah ingin ini semua terjadi! Ayah tidak menyangka akan terjadi seperti ini"



"Jika Ayah menyayangi keduanya. Ayah tidak akan membiarkan salah satunya terluka!"


__ADS_1


"Nak Ayah harus bagaimana? Ibu Rosita dan Bunda Zaidan yang merencanakan ini. ayah tidak-"



Zahirah kembali memotong ucapan pak Hamdan dengan wajah yang memerah menahan marah



"Tidak cukup kah Ayah berbuat tidak Adil sama Zahirah dari dulu hingga sekarang?"



"Taukah Ayah seberapa kerasnya Zahirah bertahan hidup hingga detik ini?


kemana Ayah ketika Zahirah sakit? kemana Ayah ketika Zahirah menangis merindukan Ayah?"



"Dari dulu Hidup Zahirah sungguh banyak hal yang menyakitkan! banyak yang membenci Zahirah, mengolok menghina, memfitnah. Zahirah anak haram, Zahirah anak pembawa sial, Zahirah anak simpanan. Dan masih banyak lagi! Kemana Ayah yang seharusnya menjadi pelindung itu?"



Hati pak Hamdan sakit seperti di tusuk ribuan belati, mendengar ucapan Zahirah barusan. Ini kali pertama nya Zahirah bercerita panjang seperti ini. Sungguh mengejutkan



"Nak demi tuhan, Ayah tidak tahu kalo kehidupan mu seperti ini. Maafkan Ayah Zahirah" ucap pak Hamdan dengan menitikkan air mata nya



"Bukan tidak tau, tapi memang Ayah tidak ingin tahu!"



"Banyak orang bilang seorang Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Tapi Zahirah tidak meresakan itu"



"Setiap malam Zahirah dan Mama sering menangis berpelukan. Meratapi nasib kami yang begitu kejam"



Zahirah bicara dengan masih dengan suara yang terisak. Sungguh sebenarnya ia tidak ingin menceritakan ini kepada Ayahnya, tapi mendengar tadi ayah nya bilang kalo dia menyayangi anak nya tanpa di bedakan ini yang membuat Zahirah naik pitam.



"Taukah Ayah bahwa Zahirah ingin sekali membenci Ayah. Ingin tidak mengakui kalau Ayah ini Ayah nya Zahirah. Tapi Mama melarangnya"



"Mau bagaimanapun darah daging ayah masih mengalir di dalam tubuh Zahirah"



Pak Hamdan menangis tanpa suara. Jika waktu dapat ia putar kembali, ingin Rasanya ia menolak permintaan orang tuanya untuk menikahi ibu Rosita. dia akan memperjuangkan Mama Rina dengan sekerasnya. Dan tidak akan membiarkan Zahirah terluka. Tapi, itu sungguh sangat mustahil



"Maafkan Ayah nak sungguh tolong maafkan Ayah" ucap pak Hamdan parau



Zahirah menatap ayah nya intens, menggenggam kedua tangannya yang sedikit keriput dengan lembut, lalu menciumnya dengan air mata yang masih mengucur..



"Ayah Zahirah sudah memaafkan Ayah! Ayah jangan terus merasa bersalah karena Pernikahan Mba Sarah. Sungguh Ayah! Masa lalu Zahirah lebih menyakitkan dari ini"



"Merenunglah dengan kesalahan Ayah yang lalu. Karena Ayah perlu mempertanggungjawabkan nya kelak di hadapan Allah"



Aina Zahirah putri. Anak yang ia tinggalkan begitu saja, Anak yang tidak mendapatkan keadilan darinya sedikitpun. Ia memaafkan kesalahannya yang sangat banyak dengan begitu saja. Zahirah tidak menuntut apapun darinya. Malah Zahirah mengkhawatirkan Akhiratnya.



"Rina kau sukses mendidik anak kita dengan baik. tanpa aku mendampingi mu. Maafkan aku Rin" bisik Pak Hamdan dalam hati



"Ayah terlihat kurus sekarang. jaga kesehatan Ayah dengan baik. panjang umur lah Ayah! Zahirah juga sama halnya dengan Mba Sarah. Sama-sama ingin, Ayah yang menjadi wali nikahnya"



Zahirah bicara dengan tersenyum lembut, menatap Ayahnya yang menunduk dengan bahu yang masih terguncang.



"Maafkan Zahirah bila ada ucapan Zahirah yang membuat Ayah sakit hati"



Zahirah melepaskan genggaman tangan Ayahnya lalu berdiri



"Zahirah izin pulang. Takut Mama nungguin, karena Zahirah sudah janji tidak akan lama. Assalamu'alaikum Ayah"..



Pak Hamdan mendongkak menatap Zahirah yang melengganng pergi tanpa menunggu jawaban sallam darinya..



"Nak... maafkan Ayah..."

__ADS_1


__ADS_2