
"Bagaimana keadaan anak saya Dok?"
Pak Yusuf langsung bertanya kepada dokter yang baru selesai menangani Zaidan
"Tidak terjadi sesuatu yang serius pak. Luka nya ringan dan sudah saya bersihkan"
"Kenapa anak saya masih pingsan dokter?"
"Kemungkinan terjadinya karena beberapa tekanan fikiran. Karena kelelahan pun bisa jadi. Tidak ada penyakit yang serius pak"
Mereka yang berkumpul di sana menghela nafas lega..
"Loh Suster Sarah?" Dokter menatap Sarah terkejut
"Apa kabar Dokter Haidar?" Sarah menyapa dengan senyum yang canggung
"Alhamdulillah baik sekali" Haidar menjawab dengan senyum bahagia
Bunda Irma memperhatikan keduanya. Dapat di lihat bahwa Dokter yang sedang bicara di hadapannya ini. Menampakkan wajah ketertarikan terhadap menantunya.
"Sarah ini menantu saya Dok. Isteri dari anak saya yang dokter periksa barusan" Bunda Irma mengapit tangan Sarah.
Haidar yang mendengarnya pun terkejut.
"Kamu kapan nikah Sarah?"
"Udah sebulan lebih Dok"
"Kenapa tidak mengundang Saya?" Haidar menatap Sarah dengan mimik wajah yang aneh..
"Maaf ya Dok, saya ingin melihat suami saya dulu. Izin permisi dokter" Sarah membungkukkan badan nya sebelum pergi. lalu menarik tangan Ibu mertua nya agar mengikuti nya..
Pak Yusuf duduk di sebelah tempat tidur Zaidan, menggenggam tangan Zaidan. memperhatikan beberapa luka yang di tutup oleh perban, pikirannya berkelana kemana-mana. Apa yang sebenarnya terjadi, dari luka Zaidan sampai luka yang ada pada Sarah..
"Apa kata Bunda kan, tidak akan terjadi sesuatu sama Zaidan Yah. Seharusnya Ayah jangan langsung menyudutkan Sarah begitu saja" ucap Bunda Irma, ia datang langsung menghampiri suami nya
Engghhhhh Zaidan melenguh lemah, Zaidan berusaha bangun tapi Pak Yusuf lebih dulu menahannya.
"Jangan dulu bangun Nak. Begini saja sudah"
"Aku dimana Yah?" Zaidan bertanya dengan suara yang parau
"Kamu di rumah sakit, tadi kamu pingsan"
"Dimana sekarang wanita itu?"
"Siapa yang wanita itu kamu maksud?" Bunda Irma mendekati Zaidan, menuntun Sarah agar mengikutinya.
"Maksud kamu Sarah?"
"Bunda tolong pelan kan suaranya. Ini rumah sakit!" Pak Yusuf melotot menatap Bunda Irma.
"Apa yang kamu lakukan sama menantu Bunda?" Bunda Irma menatap Zaidan tajam
"Tidak bisakah kamu melihat bahwa disini Zaidan yang terluka?" Pak Yusuf berdiri menghadap Bunda Irma
"Perhatikan wajah Sarah. Apakah dia tidak terluka?"
"Jangan biarkan Bunda menyesal karena telah melahirkan mu Zaidan. Kamu hanya perlu menjalani pernikahan mu dengan sebaik mungkin, dan Bunda akan menganggap kamu telah menjadi anak yang berbakti kepada orangtua mu"
Pak Yusuf sangat geram dengan ucapan istrinya. Ia segera menghampiri Bunda Irma, mencekal lengan nya lalu menariknya membawa keluar.
Sedari tadi tatapan Zaidan kosong. Sarah yang memperhatikan buru-buru mengambil minum. ketika Sarah ingin menyodorkannya ke Zaidan. Zaidan lebih dulu menangkisnya
"Puas kamu telah membuat Bunda membenci Saya?" Zaidan berucap masih dengan pandangannya yang kosong
"Mas demi tuhan Sarah tidak ada nia--"
__ADS_1
"Saya tidak pernah menolak keinginan orang tua saya seperti apa. Tapi untuk yang ini, sungguh saya merasa tersiksa Sarah" Zaidan berucap dengan suara yang lemah
"Sudah Sarah katakan jika Mas berniat menikahi wanita itu Sarah akan mengizinkannya Mas"
"Saya tidak mau berbagi, sedikitpun Sarah! Saya berniat menikahi nya, tapi kita harus bercerai terlebih dahulu. Dan saya akan memulai memperjuangkan nya kembali sampai saya dapat menikahi nya"
Sudah seperti biasa Sarah di sakiti dengan ucapan Zaidan barusan. Hingga air matanya tidak mampu lagi untuk keluar. Sarah menatap Zaidan pilu.
"Apakah setelah Mas Zaidan mengatakan ini, Mas Zaidan tidak merasa bersalah?"
"Ini menyakiti hati Aku Mas. Apakah tidak ada niatan untuk Mas meminta Maaf kepada Sarah?" Sarah masih tetap berdiri mematung, menatap wajah Zaidan
"Saya sama sekali tidak merasa bersalah Sarah. Kamu yang ingin mepertahankan ini bukan? Sudah kali ke barapa saya sarankan untuk mundur. Tapi, kamu selalu kekeuh ingin seperti ini!"
"Sudahlah Mas tidak perlu memperpanjang masalah kita. Keadaan Mas seat ini sedang tidak baik" Sarah berusaha mengalah, mau bagaiman pun ia tidak ingin semakin memperburuk suasana
"Tidak ada niatan untuk meminta maaf kah kamu Sarah?"
Sarah menatap Zaidan bingung. Meminta Maaf untuk apa? bukankah dari awal menikah Zaidan yang selalu memperlakukan dia buruk.
"Kamu lucu Mas, Aku harus meminta maaf untuk apa?" Sarah bertanya dengan sedikit tawa yang di paksakan "Seharusnya Mas kan yang meminta maaf sama Sarah? Bukan Sarah!"
"Tadi di Rumah kamu menghina wanita yang saya cintai! Bahkan kamu telah memfitnah suamimu sendiri berzina. Apakah kamu tidak ingin meminta maaf untuk kesalahan mu itu Sarah?" Zaidan menatap Sarah serius
"Apa kabar dengan semua kesalahan kamu selama ini. Perlakuan kamu sama aku dari awal menikah sampai detik ini?"
Sarah menatap wajah suaminya tidak percaya, Sarah bangun dari duduknya meninggalkan Zaidan, tanpa menunggu jawabanya.
Ketika sampai di kamar mandi. Sarah terduduk lemah. Sarah memukul-mukul dadanya yang sesak.
"Wanita mana yang ingin hidup seperti ini? Aku juga ingin mundur jika tidak memikirkan perasaan kedua orangtuaku"
Sarah terisak. Jika Zaidan tidak mencintai nya mengapa ia datang sendiri ke rumah untuk melamarnya. Mengapa ia bersedia menikahinya. Sarah berdiri menghampiri cermin. Ia mengusap air matanya, mencuci wajah nya kasar. Setelah merasa baikan Sarah keluar..
"Zaidan Tante tau ini berat buat kamu. Tapi jangan membuat fisik kamu juga ikutan hancur. Jika kamu ingin memperjuangkan cintamu kembali, pulihkan tubuh mu terlebih dahulu"
"Aku mencintai Zahirah" Zaidan menitikan air matanya.
"Iya Tante sangat tau itu Zai. Tapi Tante mohon kamu harus sembuh"
Sarah yang mendengarkan percakapan mereka dari tadi, hanya meremas dadanya yang semakin sesak. Zahirah nama itu seperti tidak asing di telinganya. Sarah merapikan tampilannya. Berjalan dengan perlahan menghampiri mereka berdua
"Sudah dari tadi Tante disini"
Sarah bertanya hingga membuat Tante Risa dan Zaidan terkejut. Tante Risa segera melepaskan pelukannya, lalu menatap Sarah gelagapan. Apakah Sarah mendengarkan percakapan nya barusan. pikirnya...
"Tidak lama kok"
Zaidan ungu. merebahkan tubuhnya kembali, Sarah ingin membantunya. Tapi, keduluan oleh Risa.
"Saya juga masih mampu membantunya" Risa bicara tanpa menatap Sarah sedikit pun
"Tanpa perlu Tante bantu saya masih mampu merawat suami saya" Balas Sarah memaksakan senyum
Risa menatap Sarah intens. Benar apa yang di katakan keponakan nya, dekat-dekat dengan wanita ini sungguh sangat membuatnya jengkel
"Jika kamu mampu merawatnya. Tidak mungkin keponakan saya sakit separah ini, dan banyak nya luka di beberapa bagian tubuh nya"
"Apakah saya perlu menjelaskan beberapa kronologi yang terjadi tadi siang. Lihat bekas tamparan ini? Siapa yang melakukan nya?" Sarah melihatkan beberapa luka di wajahnya
"Tidak akan ada asap kalau tidak aada api! Jangan hanya mempermasalahkan luka yang kamu miliki, seharusnya kamu bertanya terlebih dahulu, kesalahan apa yang kamu lakukan hingga mendapat kan luka seperti itu!"
Risa menatap Sarah dengan senyum yang mengejek. Sarah yang mendengar ucapan Risa barusan hampir membuat nya limbung. ia sekuat tenaga memaksakan senyum. Sarah tidak ingin menampilkan wajah sedihnya.
"Aku Pikir Tante bisa--"
ucapan Sarah terpotong oleh Zaidan
__ADS_1
"Sudah lah jangan berdebat disini Tante. Dan kamu" Zaidan menatap Sarah "Wanita yang di sebelah ku ini adalah Adik dari Ayahku, dia Tante ku. Tidak sepantasnya kamu berbicara seperti itu kepada orang tua. Kamu memiliki pendidikan tinggi bukan? seharusnya kamu mengerti tata Krama kepada seseorang yang umurnya lebih tinggi dari kita!"
Sarah menggelengkan kepalanya. Ia tertawa sumbang "Baiklah Tante Aku meminta Maaf untuk perkataanku barusan jika memang ada yang melukai perasaan Tante" Ucap Sarah memaksakan senyum
Dan Risa tidak menanggapi nya sama sekali..
"Tante keluar dulu ya Zai... Kamu istirahat yang cukup" Zaidan hanya menganggukkan kepalanya.
Risa melewati Sarah. menyenggol lengan nya hingga membuat Sarah mundur beberapa langkah.. Sarah meremas kedua tangannya menahan kesal. Dia, disini benar-benar tidak ada harga dirinya sama sekali.
"Besok antar aku ke toko buku ya Zah"
Fitri bicara sesekali menatap Zahirah yang masih sibuk dengan aktifitas handphone nya
"Kayanya ngga bisa deh Fit" Zahirah menjawab dengan masih sama, memainkan handphone nya
"Dihhh kenapa?" Fitri melirik Zahirah aneh, tidak biasanya ia menolak ketika Fitri meminta antar.
"Besok Jadwal aku donor darah di rumah sakit X Fit"
"Emmhhhh"
Zahirah menatap Fitri "Kamu Marah karena bisa ngga bisa antar?"
"Bukan itu!"
"Lalu?"
"Lu dari tadi sibuk main handphone terus Zah!"
"Maaf Fit. Si Bos ngga kira-kira nih ngasih kerjaannya banyak banget. Aku ngga mau terlalu malam ngerjainnya di rumah, takut Mama marah"
"Bukan Masalah emak loh marah-marah, tapi lu ngga mau kegiatan nonton Drakor lu ke ganggu kerjaan iya kan"
Zahirah tertawa menanggapi perkataan sahabatnya ini
"Ya itu juga salah satunya Fit" jawab Zahirah cengengesan menatap Fitri
__ADS_1