Zahirah

Zahirah
Episode 36


__ADS_3

"Semuanya akan baik-baik saja Tante" Ucap Zahirah pelan


"Sudah yang ke berapa kalinya operasi ini di lakukan, tapi semakin hari semakin kecil harapan keluarga Tante atas kesembuhan Aisyah"


"Aisyah anak yang kuat. Dan Dokter Haidar hebat, apalagi kita memiliki kehebatan tuhan tanpa keraguan sedikitpun"


"Apa Tante menyerah?" Lanjut Zahirah


Wanita paruh baya itu hanya menundukkan kepalanya, seberapa yakin ia kepada Aisyah tapi jika ia terus menerus melihat keadaan Aisyah yang semakin memburuk, membuat ia berkecil hati.


Ummi Hana meremas tangan yang ada di genggaman nya, Zahirah membiarkannya begitu saja. Ia tau orang tua Haidar ini pasti gugup. Sudah empat jam mereka menunggu di depan ruang operasi tapi belum ada tanda-tanda operasi selesai.


"Minum dulu ya Tante" Zahirah menyodorkan botol minum yang sedari tadi ia pegang


Ummi Hana mengambil botol tersebut meneguknya perlahan-lahan, menatap Zahirah dengan senyumannya yang lembut.


Zahirah, nama yang beberapa hari ini tidak ada bosannya Haidar ceritakan padanya.


Ummi Hana merasa pantas saja putranya begitu menyukai wanita di hadapannya ini. Dia yang perempuan saja jatuh hati padanya. Cantik, lembut, sopan. dan jangan di lupakan suaranya yang begitu menenangkan...


Beberapa jam berlalu dan pintu ruang operasi terbuka lebar, menampilkan Haidar dengan raut wajah lelahnya. Ummi Hanna gegas menghampiri Haidar. di susul Zahirah di belakangnya


"Abang gimana operasinya Aisyah?" Tanya Ummi Hana cepat. Haidar tersenyum lembut.


"Semuanya berjalan lancar Ummi, terimakasih untuk doa dan support kalian ya" Haidar menatap dua wanita cantik di hadapannya


Zahirah dan Ummi Hanna yang mendengarnya pun tersenyum lega.


"Kalian udah makan?" Tanya Haidar


Ummi Hanna dan Zahirah menggerakkan kepalanya bersamaan, Haidar terkekeh melihat nya


"Sebaiknya kita makan dulu ke bawah okey"




"Mengertilah Bunda, mau bagaimana manapun Zaidan tetap anak Bunda!" Ucap Raisa frustasi



"Katakan saja dimana anak itu sekarang Raisa" Suara Bunda Irma memaksa "Tiga hari ini kalian membawa pergi Zaidan tanpa memberitahu Bunda dimana kalian berada. Seharusnya Dia sebagai laki-laki harus mempertanggungjawabkan setiap permasalahan yang ia buat. Bukan pergi begitu saja" Cerocos Bunda Irma di sebrang telpon



Raisa heran akan sikap orang tuanya tersebut. Apakah tidak bisa memahami keadaan anaknya sedikit saja.


__ADS_1


"Intinya Zaidan aman bersama Raisa, lagia-" ucapan Raisa terpotong



"Kamu jangan pernah lupa kalau Zaidan sekarang sudah memiliki Istri Raisa!" Bentak Bunda Irma.



"Kalau menghubungiku hanya untuk marah-marah tidak jelas, aku tutup telponnya" Raisa menutup panggilan tersebut, tanpa menunggu jawaban dari yang bersangkutan...



"Pokoknya aku harus mempertemukan Zaidan dan Zahirah sebelum pulang ke rumah" Gumam Raisa



Raisa beranjak pergi menghampiri Zaidan ke kamarnya. Ketika sampai Raisa membuka pintu kamarnya perlahan, Raisa menghela nafas berat, ketika matanya di suguhkan pemandangan adiknya



"Zaidan Mba akan berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan kebahagiaanmu Zai" Lirih Raisa yang masih terdengar jelas di telinga Zaidan



"Terimakasih Mba" Jawab Zaidan pelan




"Nanti aku makan" Ucap Zaidan masih memejamkan matanya



"Tidak perlu di habiskan. Kamu hanya perlu makan beberapa suap hanya untuk mengganjal perut sebelum minum obat" Raisa menyodorkan sendok yang berisi bubur ke mulut Zaidan ,Zaidan masih diam tidak merespon



Brakkkk Suara pintu terbuka keras, mengagetkan kedua insan tersebut.



"Kenapa Zaidan sakit baru memberitahu Tante hari ini Raisa"



Raisa menggelengkan kepalanya. Menghela nafas lega, akhirnya pawang adiknya datang juga


__ADS_1


"Zaidan yang melarang memberitahu siapa-siapa Tante"



Tante Rissa memandang Zaidan dengan hati yang berdenyut nyeri, ada luka lebam di wajah keponakan kesayangannya ini.



"Apa perlu ke Dokter Zai?" Tanya Tante Rissa cemas, Zaidan menggerakkan kepalanya seraya tersenyum.



"Badan kamu panas Zai" Tante Risa mengelus kening Ziadan khawatir.



"Apa belum minum obat Raisa?" tanya Tante Rissa tanpa menatap Raissa



"Jangankan minum obat. Makan saja Raisa membujuknya sampai setengah mati Tante" Jawab Raisa lemas sambil menunjuk mangkok yang masih utuh



"Tante suapin ya" Tante Rissa mengambil mangkok dari atas nakas. Zaidan tidak merespon sedikitpun



"Zai. Kamu nggak boleh sakit! KAMU NGGAK BOLEH SAKIT!" Bentak Tante Rissa



Zaidan masih memejamkan mata. Tapi ada beberapa bulir air mata yang berjatuhan di pipinya. Tante Rissa menyimpan mangkok yang sedari tadi ia pegang, lalu berhambur memeluk Zaidan kencang



Raisa memalingkan kepalanya. Dulu ia cemburu kenapa Tante Rissa lebih menyayangi Zaidan. Tapi sekarang ia bersyukur, setiap terjadinya pertengkaran antara Zaidan dan orang tuanya, setidaknya Tante Rissa lah yang selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi Zaidan.



"Zaidan melihat keadaan Kamu yang seperti ini membuat Tante takut Zai. Tante mohon seberapa banyaknya permasalahan yang sedang kamu hadapi, Kamu jangan sampai seperti ini" Tante Rissa mengelus punggung Zaidan



Raissa menghapus Air matanya, lalu berdiri



"Tante. Aku titip Zaidan sebentar, ada s keperluan yang sedikit mendesak" Izin Raissa pada Tante Irma, Tante Irma pun hanya menganggukkan kepalanya pelan

__ADS_1


__ADS_2