
"Langit malam ini sungguh bagus ya kak" Ucap Nadira tanpa menatap lawan bicaranya
"Nggak nyangka banget Kaka bisa nikah sama wanita itu, gimana pikiran nya Bunda sama Ayah. Padahal jauh segalanya sama Kak Zahirah" Nadira menghela nafas panjang
"Kemarin Aku melihat postingan terbaru Kak Zahirah bersama anak kecil, memang Kak Zahirah punya adik?" tanya Nadira menatap Zaidan
"Nggak" Jawab Zaidan masih teru fokus memainkan gitar miliknya
Nadira yang kesal pun melempar satu bungkus cemilan yang masih penuh "Kamu kenapa" Tanya Zaidan heran menatap gadis di depannya ini
"Aku kaya ngomong sendiri dari tadi Kak" Nadira menatap berkacak pinggang
"Aku kan udah jawab"
"Tau ah" Nadira menutup wajahnya dengan bantal sofa, Zaidan hanya terkekeh melihatnya
Hingga sampai ada suara isak tangisan kecil, Zaidan menghampiri adik kecilnya itu.
"Kok nangis?" Zaidan mengusap kepala Nadira pelan
"Aku aneh dari tadi, kenapa semuanya orang yang ada disini beda sama Aku. nggak suka ya aku datang kesini?" Ucap Nadira di sela-sela tangisan nya
"Kalau nggak suka kamu datang ke sini, nggak mungkin Bunda sibuk masak dari siang hanya buat nyambut kamu datang, Kaka dan Mami kamu Sampai cuti buat nunggu kamu di bandara. Mba Raisa juga usahin pulang hari ini dari Bali, tadinya kan mau pulang Minggu depan" Zaidan bicara panjang lebar, dengan tangannya yang masih sibuk mengelus pucuk kepala Nadira...
"Tapi Aku ngerasa kalau kita ini seperti orang asing, aku nggak suka suasana keluarga seperti ini" Cicit Nadira
"Banyak sekali yang berubah Nad, dan Kamu melewatkan itu semua. Keluarga yang sering kamu banggakan di media sosial mu itu sudah berubah, dalam beberapa bulan terakhir ini. Dan itu semua Karena kesalahan Aku" Ujar Zaidan pelan
Nadira mengangkat wajahnya yang sembab, menatap wajah Zaidan yang berkaca-kaca.
"Kakak..." Nadira berucap pelan
Zaidan tersenyum balas menatap Nadira " Kita tidak perlu memimpikan sesuatu apa yang kita inginkan, jika kondisi yang sebenarnya saja tidak mendukung. Kita hanya perlu berjalan dengan semestinya, bukankah segala sesuatu sudah ada yang mengatur. Mau sekeras apapun kita berusaha, jika takdir berkata lain apa yang harus kita lakukan, selain menerima nya dengan lapang dada"
"Aku sedang belajar menata kembali Hatiku yang mulai menghilang, beramai dengan keadaan, mencoba menerima semuanya. Walaupun Aku selalu merasa terjebak dalam labirin yang mengerikan"
__ADS_1
Nadira memeluk. "Jika Kakak tidak bahagia, mari kita sama-sama usahakan mencari kembali apa yang selama ini membuat Kakak bahagia" Ucap Nadia menatap Zaidan iba, Sudah ia pastikan jika Kakak sepupu nya ini tidak bahagia akan pernikahan nya ini
Zaidan menatap Nadira lembut "Kebahagiaan Kaka sudah hilang, sudah pergi dan mungkin tidak akan kembali lagi. Jika kita terus berusaha mengejar atau mencarinya, jika kembali pun, nanti ada beberapa bagian yang akan patah kembali"
"Kita perbaiki bagian mana yang patahnya"
"Tidak segampang itu Nadira" Zaidan menggelengkan kepalanya
"Apa Kaka sudah mencobanya?"
"Sudah tidak terhitung"
"Ngurusin baju yang mau kawinan orang, terus kapan Kita yang kawin"
Zahirah terkikik geli menatap Fitri, jelas sekali dari wajahnya bahwa ia sedang kecapekan
"Perasaan Kamu dari tadi diam tuh, sama sekali nggak membantu" Jawab Zahirah tanpa menatap Fitri
"Pala lu nggak bantu, jangan lupa otak gua yang muter ya" Fitri berdecak sebal menatap Zahirah
"Lama banget bebenyit satu itu" Ucap Fitri menatap kesana kemari mencari keberadaan seseorang yang sedang ia tunggu
__ADS_1
"Maaf gua telat" Reza duduk dengan nafas yang tersengal-sengal karena berlari, mengambil minuman yang ada di meja hingga tandas
"Emang ya Lu lama-lama gua pencet hidung lu Ampe ilang" Fitri menendang kaki Reza tambah kesal
"Nape Lu?" Tanya Reza heran
"Gua doain lu mati di gurun pasir" Ucap Fitri bersungut-sungut
"Kenapa temen kamu Zah?" Tanya Reza pada Zahirah
"Kamu habisin minuman dia Za" Jawab Zahirah terkekeh menatap dua orang yang tidak pernah akur ketika bertemu
"Yaelah lu kaya orang miskin aja Lu, gua ganti sama kedai nya beli perlu" Reza menatap Fitri dengan wajah nya yang menyebalkan
"Udahlah Fit, punya Aku aja buat Kamu, belum di minum ini" Zahirah menyodorkan satu gelas jus miliknya di hadapan Fitri
"Kak Zahirah"
__ADS_1
Mereka bertiga serempak menoleh pada asal suara teriakan tersebut.