
"Selamat pagi Ibu Ayah" seorang gadis cantik tersenyum memakai pakaian perawat, menuruni anak tangga dengan gembira.
"Selamat pagi nak" di jawab serempak oleh kedua orang tuanya, yang juga ikut tersenyum..
"Ayo makan sayang, Ibu udah siapkan makanan sepesial kesukaan anak cantik ibu ini, di makan ya sayang"
Bu Rosita sambil menyiapkan piring untuknya anaknya. Dan tidak melepaskan senyum sedikit pun di wajahnya..
"Buuuu.. please deh Sarah bukan anak kecil lagi yang setiap makan harus Ibu siapin, ngerepotin Ibu kan jadinya" d
engan bibir yang mengerucut. hingga membuat ibunya tersenyum, sambil mengelus kepala Sarah. Tapi sungguh, tidak mengurangi rasa kebahagiaan nya saat ini. makan bareng dengan kedua orangtuanya, adalah makan yang paling istimewa menurutnya.
"Sama sekali tidak lah nak. Justru ibu seneng kita bisa kumpul gini, biasanya kan kamu sama ayah sibuk terus. Jarang banget kita makan bareng"
Sambil menuangkan makanan ke piring anak dan suaminya..
"emmm... ibu pasti kesepian ya kalo ngga ada kita?" tanya Sarah dengan menyelidik
"Tentu kesepian. Makanya nanti setelah kamu nikah sama Zaidan, jangan menunda kehamilan kamu ya, biar rumah kita ramai sama anak kecil" ucap Bu Rosita dengan seulas senyum, Hingga membuat wajah Sarah tersipu malu.
__ADS_1
Sedetik kemudian Sarah memandang wajah sang Ayah, yang sejak tadi hanya makan dalam diam. seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Lalu memandang sang ibu kembali dengan raut bertanya.. Ibu hanya mengedikan kedua bahunya. Seperti menjawab entahlah...
"Emmm..Ayah, menurut penilaian Ayah mas Zaidan itu seperti apa yah?" sambil memandang sang ayah dengan wajah yang tidak lepas dari senyuman..
"Ayah tidak tau banyak tentang Zaidan nak"
duduk dengan tegak sambil melihat wajah Sarah.
"Ibumu yang dekat sama Tante Irma bundanya Zaidan, pasti Ibu tau banyak tentang anak itu. Yang Ayah tau Zaidan orang nya ramah, baik, yang in syaa Allah Zaidan Sholeh" Sarah menganggukkan kepalanya..
pak Hamdan meneruskan perkataan nya dengan ragu-ragu.
Ibu rosita mendelik memandang wajah Suaminya "Kenapa harus tidak yakin, Zaidan adalah calon suami terbaik untuk Sarah, Dia tampan, baik, sholeh, keluarga nya berada seperti kita. Apalagi Ibu sangat kenal dengan Bundanya Zaidan, Lalu apa lagi yang dapat membuat anak kita tidak yakin akan Zaidan? Dan ayah lihat apakah ada kecacatan dari anak kita, sehingga Zaidan enggan menerimanya? Anak kita cantik, berpendidikan, yang pastinya Dia lahir dari keluarga baik-baik dan diasuh oleh lingkungan yang baik! "
Ibu Rosita berucap dengan nada sedikit emosi.
Sarah mengelus tangan kanan Ibunya dengan lembut, "Buu.." memandang sang ibu dengan teduh seperti memberi instruksi agar berhenti bicara. Lalu bergantian memandang sang ayah "Ayah mengapa bertanya seperti itu? Bukankah akhir-akhir ini ayah yang selalu mendesak Sarah untuk membawa pasangan ke rumah? apakah Ayah tidak Yakin dengan mas Zaidan?"
pak Hamdan diam menunduk, di hati kecil nya dia seperti tidak ingin pernikahan ini terjadi? Sudah cukup Zahirah menderita selama ini karena ulahnya. Di tambah dengan kesalahan pahaman yang terjadi saat ini. di sisi lain dia juga tidak ingin mengecewakan Sarah.
__ADS_1
"Bukan tidak yakin Sarah.. hanya saja ini sangat singkat.."
Sarah tersenyum "Doakan Sarah saja ayah agar mas Zaidan menjadi suami baik buat Sarah. menerima sisi kekurangan yang ada pada Sarah. Walaupun ini perjodohan, Tapi Sarah yakin sama mas Zaidan."
Sarah memandang kedua orang tuanya dengan senyum jahil
"emmm.. bukankah Dua pasangan serasi ini juga hasil dari perjodohan nenek? Tapi Alhamdulillah Sarah lihat ayah sama Ibu baik-baik saja sampai sekarang, Sampai-sampai Ayah sama Ibu ini adalah pasangan favorit Sarah"
Perkataan Sarah membungkam mulut kedua manusia yang saling berdiam, entah mereka memikirkan apa..
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik buat anak semata wayangnya Ibu ini" sambil mengusap tangan kanan Sarah dengan seulas senyum yang lembut.
"Makasih Buu.." Sarah memandang sang ayah "apakah Ayah tidak mendoakan yang terbaik juga buat Sarah?"
"Ayah sama halnya dengan Ibu Nak, pasti mendoakan yang terbaik untukmu.. dan kebahagiaan mu"
"Makasih ya ayah.. "
mereka bertiga melanjutkan makan dengan diam, hanya dentingan sendok saja yang terdengar di ruangan itu....
__ADS_1