Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Marah


__ADS_3

Heni terkejut mendengar ucapan wanita di hadapannya. Dia tidak mengira jika akan dipecat sepihak. Dia berusaha untuk menginterupsi ucapan madam Roxanne,


" Maaf, jangan hanya mencari kesalahan saya saja. Tanyakan kepada putra anda kenapa berada di ruangan saya? urus putra anda jangan mengurusi rumah tangga saya, " tegas Heni. Madam Roxanne menatap tajam atas ucapan yang dilontarkan olehnya. Untuk beberapa saat dia tidak berkutik. Wanita muda ini benar berkata benar adanya, jika dia berada di ruangan Tama pantas teguran itu dia ucapkan.


" Dan jangan memecat saya secara sepihak, " tambah Heni.


" Mami ini kesalahanku. Jangan memecatnya, aku mohon mi, " ujar Tama menghiba. Madam Roxanne tidak percaya putranya bisa sangat membela wanita itu. Sebenarnya dia mengetahui bahwa putranya sangat mencintai wanita itu, tapi dia tidak suka dan bermaksud untuk memisahkannya.


" Kau benar-benar tidak tahu malu, " ujar madam Roxanne.


Lalu Heni mengisyaratkan agar ibu dan anak itu segera keluar dari ruangannya. Dia jengkel dan marah mendapat teguran dari istri orang nomor satu di rumah sakit itu. Tama menggandeng ibunya untuk segera meninggalkan ruangan Heni. Dia merasa bersalah karena sang ibu menegur keras kekasihnya.


Seusai kepergian mereka, buliran bening menggenangi kedua matanya. Dia menangis terisak-isak. Sungguh hari ini benar-benar hari sial untuknya. Didamprat kaum emak-emak pemilik lelaki yang sama-sama mengisi hatinya.


" Ya Tuhan tidak bisakah aku mengecap manisnya berhubungan dengan lelaki? " tanyanya.


Tiga tahun bersama dengan Bimo juga mendapat hal serupa. Ibunya tidak suka dengannya. Dia merasa lelah jiwa. Dia juga ingin merasakan ketenangan dan kedamaian tanpa campur tangan pihak ketiga. Dia merasa sangat kesepian.


Sementara dirumah, Bimo terkejut melihat ibunya tengah duduk sambil menonton televisi saat dia pulang kerja. Dia bertanya kapan kedatangan ibunya? dan dijawab pagi tadi oleh sang ibu. Bimo juga menanyakan tentang Heni. Ibu Ratih meradang, dia teringat penolakan menantunya saat berusaha meminta perhiasan sang besan.

__ADS_1


" Aku tidak tahu. Jangan tanyakan wanita itu, aku tidak suka, " ujarnya tegas. Bimo menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan tidak percaya. Dari dulu sampai sekarang kenapa sang ibu tetap tidak pernah menyukai Heni? apa yang salah dengannya? jika tidak bisa memberi seorang cucu, itu bukan suatu alasan yang tepat.


" Bu, dia istriku. Kenapa ibu sangat membencinya? dia bukan musuh kita, " Bimo berusaha mengingatkan sang ibu.


" Aku tidak peduli. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai menantuku. Kau pun sudah tahu siapa dulu orang yang ibu setujui untukmu, kau sendiri yang bodoh, " ujarnya.


Bimo pun pergi meninggalkan ibunya. Perdebatan itu tidak akan pernah selesai. Sang ibu membencinya sudah sangat mendarah daging. Padahal selama berumahtangga dengannya Heni selalu berusaha menjadi menantu idaman. Tapi kenyataannya yang didapat justru penolakan dan ejekan. Bimo menggelengkan kepala merasa kasihan terhadap istrinya yang tidak pernah dia bela sekalipun saat bersilat lidah dengan ibunya. Dia mulai menarik kesimpulan pantas saat ibunya datang berkunjung dia selalu pergi. Dia baru menyadari hal itu. Sungguh betapa cueknya dia selama ini? Dia mencoba menghubungi istrinya menanyakan keberadaannya. Tapi tidak ada jawaban yang didapat. Apakah Heni benar-benar masih marah dengan sikapnya? Bimo mencoba menghubungi Sella, teman istrinya.


Ya, Heni sedang bekerja.


Bimo bernapas lega. Dia senang sudah tahu keberadaannya. Dia merebahkan diri sembari menatap foto di ponsel miliknya yang menunjukkan Heni dengan seorang lelaki yang sudah dikenalnya, yakni Tama. Lelaki itu memang tampan dan kaya.


Benarkah kau ada main dengannya Heni? Apakah cincin yang kau kenakan juga pemberian darinya? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Kenapa kau terus menutupinya dariku? Aku sudah berusaha maksimal untuk membahagiakanmu. Kenapa kau sampai berbuat seperti itu jika benar adanya? pikiran Bimo terus berkecamuk. Dia tertidur sampai melupakan dirinya belum mengisi apapun perutnya sedari kemarin malam.


" Ya, ibu. Ada apa? " tanya Bimo dengan mengusap matanya yang masih mengantuk. Pekerjaannya sangat menguras banyak energi tadi karena ada sebuah perayaan.


" Bimo, putraku kenapa keningmu panas sekali? pasti kau demam. Mari ku antar ke klinik dekat sini, " ajak ibunya.


Bimo bangkit mengusap keningnya memeriksa kebenaran sang ibu. Memang benar rasanya sangat panas sekali. Kepalanya juga terasa berat. Dia mencoba bangkit namun terhuyung-huyung. Ibu Ratih kebingungan, dia berlari mencari bantuan hingga didapatnya di sebuah kursi panjang pinggir jalan yang tidak jauh dari rumah kontrakan itu. Beberapa tetangga masuk untuk membantu mengangkat Bimo berdiri melangkah untuk segera diperiksakan. Seorang tetangga mendudukkannya di sebuah motor dan diapit dibelakangnya agar tidak terjatuh. Lalu motor meluncur menuju ke klinik terdekat. Ibu Ratih sangat cemas. Dia juga berusaha mengabari via ponsel. Meski sangat membencinya tapi sakitnya sang anak lelaki yang dibanggaknnya, Heni harus tahu.

__ADS_1


Dirumah sakit, Heni melihat panggilan diponselnya. Segera dia menjawab panggilan itu yang tidak lain dari mertuanya. Dia terkejut saat mendapat kabar bahwa Bimo dibawa ke klinik. Dia menutup panggilan usai mengucap salam dan mengemasi barangnya untuk segera menuju ke klinik, tempat dimana suaminya diperiksa.


" Kau mau kemana? "


Heni sudah bisa menebak sumber suara itu. Dia tidak menjawab dan terus memasukkan barangnya di tas kecil miliknya.


" Kau masih marah padaku? " tanyanya. Namun Heni tetap dingin. Dia keluar dan melewati lelaki tampan lawan bicaranya itu.


" Heni!!? " teriaknya membuat orang yang berlalu lalang di koridor tidak jauh dari mereka pun menoleh. Heni menghentikan langkahnya.


" Kenapa kau diam saja? Aku bertanya padamu, jawab!!!? "


Heni berbalik arah mendekatinya dan berbisik di telinga sebelah kanan lelaki tampan itu.


" Aku sedang terburu-buru, pulanglah putra madam Roxanne yang terhormat, " bisiknya. Tama menatapnya tajam, dia tidak suka Heni menyebut ibunya.


" Aku bertanya kepadamu jangan bawa mami ku, " ujarnya.


" Dan aku menjawab pertanyaanmu, kau belum puas? " tanyanya balik. Lalu meninggalkan Tama yang masih terpaku di tempatnya.

__ADS_1


Lelaki itu tahu Heni sedang tidak baik-baik saja setelah mendapat teguran dari ibunya. Heni tidak tahu saat pulang dari rumah sakit siang tadi dia bertengkar hebat dengan ibunya. Ibunya dengan gamblang menolak wanita itu sebagai kekasihnya. Dia tidak mau Tama menjadi seorang pebinor dan menyarankan akan mengenalkannya dengan gadis pilihan sang ibu. Setelah itu akan diadakan acara pertunangan di sebuah hotel berbintang dan tentunya dihadiri oleh kaum yang selevel dengan mereka.


" Aku mencintaimu Heni. Aku tidak mau berpisah darimu, tolong selamilah hatiku. Aku hanya ingin kau seorang yang menjadi istriku kelak. Kau adalah masa depanku, " bisiknya lirih. Lalu dia berjalan menuju koridor untuk pulang ke apartemennya. Dia malas pulang ke rumah.


__ADS_2