
Mereka saling berpandangan menyelami perasaannya masing-masing. Ada cinta, rindu dan takut kehilangan terpancar jelas disorot elang mata anak madam Roxanne itu. Lelaki tampan itu mendekatkan wajahnya, memindai wajah bulat Heni ke dalam pikirannya. Lalu dengan perlahan dia mengecup bibir Heni. Heni pun membalas kecupannya. Karena mendapat respon diluar dugaan, Tama pun menggigitnya dengan lembut. Mereka saling berciuman mesra, sementara tangan Tama melingkar dipinggang Heni. Untuk beberapa saat mereka menikmati perasaan yang membuncah didalam dada hingga lupa waktu.
Heni pulang menjelang malam. Dia diantar oleh Tama sampai ke gang menuju ke rumahnya. Dia melaju dengan kecepatan sedang menuju kontrakan. Dia membuang jauh-jauh pikirannya tentang kekhilafan yang telah terjadi antara dirinya dengan Tama. Meski hanya berciuman.
" Tidak akan terjadi apa-apa padaku. Tenanglah Heni, " ujarnya terus memotivasi dirinya.
Saat Bimo membukakan pintu untuknya, dia merasakan aliran tubuhnya seperti tersengat daya listrik ribuan volt. Dia terpaku ketakutan. Dia tersadar jika masih istri sah dari lelaki dihadapannya itu.
" Ada apa? kenapa masih berdiri disitu? " tanya Bimo heran. Heni berusaha menyembunyikan wajahnya. Nalurinya menunjukkan gestur yang tidak biasa karena telah berbuat kesalahan. Dia berusaha menutupinya dengan menggeleng dan mengangguk saja.
Heni segera masuk ke kamar mandi. Dibasahinya dari atas kepala sampai ke mata kakinya. Dia ingin sisa aroma tubuh Tama menghilang, tak berbekas. Sementara ibu Ratih menatapnya sekilas sembari terus asyik menonton televisi.
" Dasar aneh, " ujarnya ketus. Karena melihat menantunya bersikap agak lain.
Selesai membersihkan diri, dia berganti pakaian tidur. Dia ingin segera tidur dan melupakan kejadian di kediaman barunya tadi.
" Kau tidak makan? " tanya Bimo. Heni menjawab tidak. Dia memejamkan mata kembali. Bimo melakukan hal yang sama, berbaring disamping istrinya. Memeluk pinggangnya yang tak berselimut. Heni merasa risih dia tepis tangan suaminya dan membenamkan dirinya kedalam selimut. Dia takut bimo merasakan aroma tubuh Tama yang mungkin masih saja menempel. Bimo menatap istrinya dengan heran, lalu memeluknya lagi meski berlapis selimut.
Esoknya Heni bangun seperti biasa dan akan menjalani rutinitasnya di rumah sakit. Dia sentuh kening suaminya, demamnya sudah berkurang. Dia tersenyum. Bimo juga sudah mau makan meski serba halus.
" Bimo, ibu pulang ya. Ayahmu sudah sangat membutuhkan ibu. Jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa lekas kabari ibu, " ujarnya. Heni berjingkrak kegirangan didalam kamar. Dia senang akhirnya setelah lima hari yang terasa seperti sebulan itu telah berakhir. Wanita itu akhirnya pulang ke tempatnya yang memakan waktu lima jam perjalanan disebelah barat daya kotanya.
Heni keluar dari kamar menuju ke dapur, menyiapkan sarapan. Ibu Ratih masih sempat memperhatikan apa yang akan dilakukan olehnya.
" Kau mau apa? Makanan sudah siap semua. Ada juga yang aku taruh di lemari pendingin sisa kemarin. Jangan lupa panaskan. Kau itu bisa apa?! " ejeknya. Heni mendengus kesal. Dia beralih menuju ke kamar. Mendiamkan diri sampai wanita itu benar-benar ikhlas meninggalkan rumah kontrakannya.
Heni tidak habis pikir, mertuanya pamit sudah dua puluh menit yang lalu tapi belum beranjak juga? masih menunggu anak lanangnya sungkem mungkin? Heni membangunkan Bimo dan memintanya menghampiri ibunya yang masih duduk tenang di ruang tamu. Ucapan dan actionnya tidak selaras.
Bimo berjalan dengan masih sedikit limbung. Dia melakukan apa yang diminta oleh istrinya. Dan benar, setelah sungkeman wanita itu benar-benar pergi dengan taksi online. Heni bernapas lega seperti orang yang habis tercekik.
__ADS_1
" Aku akan merawatmu, katakan apa yang kau inginkan? " tawarnya.
" Bukankah kau harus bekerja. Kau bilang akan ada acara bakti sosial dirumah sakit? " tanya Bimo mengingatkan. Heni menepuk keningnya, dia lupa saking senangnya telah terbebas dari pantauan dan celaan mertuanya. Heni segera berganti pakaian kerja. Dia berpamitan dengan suaminya, meski bukan dengan mencium punggung tangannya Bimo. Bimo mendaratkan kecupan di kening. Dan tatapannya mengisyaratkan hati-hati di jalan untuk sang istri tercinta.
Sebenarnya acara itu hanya diperuntukkan bagi para dokter dan pemilik rumah sakit. Acara sosial menyumbang panti asuhan dari dana amal para karyawan yang dikumpulkan setiap hari jum'at. Dan akan disalurkan ke panti yang telah disepakati. Dokter yang ditunjuk akan melakukan pemeriksaan gratis untuk anak panti dan warga sekitar. Setelah pemeriksaan, warga akan diberikan brosur pengenalan rumah sakit serta cara berobat.
Acara itu dilakukan setiap enam bulan sekali. Tujuannya selain beramal juga untuk mempromosikan rumah sakit itu yang baru beberapa tahun beroperasi. Akan ada beberapa orang penting yang turut serta seperti bapak Hendri Prasetya, pemilik rumah sakit beserta istrinya, dan dokter lainnya.
Heni sudah sampai di depan rumah sakit. Para karyawan nampak hilir mudik. Yang lain tengah memasukkan beberapa kardus berisi dana sumbangan dan barang lainnya ke sebuah mobil. Heni segera menuju ke tempatnya. Dia tidak mau ikut pusing karena dia tidak pernah turut serta.
" Hai, hen. " Sapa Sella. Dia menoleh dengan tersenyum.
" Dengar-dengar dari Arini, kau diajak ke acara amal ini lho, " ujarnya. Heni mengernyit. Bukankah biasanya dokter Ruslan Nugraha yang biasanya diajak sebagai penanggung jawab obat?
" Kenapa bukan pak Ruslan?? " tanya Heni.
" Beliau tadi kecelakaan saat berangkat. Jadi mereka sepakat kamu sebagai penggantinya. Itu juga saran dari pak Tama, " bisiknya takut didengar yang lain padahal diruangan itu hanya ada mereka berdua saja.
" Ayo ikut, " ajak seseorang dari luar ruangan Heni. Sella mencolek bahu rekannya itu agar dia menoleh ke sumber suara. Si tampan favorit jomblowati dirumah sakit.
" Aku sedang tidak enak badan, ajak Sella saja, " tolaknya. Dia memakai jaketnya yang sudah digantung di sudut ruangan untuk menunjukkan betapa sakitnya dia. Tapi lelaki itu hanya tertawa.
" Aku tahu kau berbohong. Apa kau gugup bertemu dengan papiku? " tanyanya.
" Tidak bukan begitu. Aku benar-benar sakit, " ujarnya. Sella yang melihat kelakuan rekannya itu hanya bisa menyimpan keheranannya dalam hati. Sudah nampak sekali jika dia hanya berpura-pura. Heni bukanlah seorang pembohong yang handal.
" Sudahlah ayo, kita sudah mau berangkat. Pakai saja jaketnya jika masih sakit. Kau harus ikut menemaniku, "
Tama menarik tangan Heni untuk segera menuju ke halaman rumah sakit. Dia terus memegang tangannya khawatir jika siempunya berbalik arah. Banyak mata iri memandang ke arah mereka. Madam Roxanne yang mengetahui tingkah putranya dari kejauhan mengerucutkan bibir, apa sihir wanita itu? kenapa putranya sangat menggilainya? padahal dia sudah berstatus istri orang.
__ADS_1
" Lihatlah anak kita, cepat atur pertemuan dengan Mona ke sebuah tempat untuk kita kenalkan ke Tama, pi. " bisiknya kepada suaminya. Namun beliau tidak menjawab, tapi tatapannya terus ke arah kedua insan yang ditunjuk oleh sang istri.
Mona adalah anak dari rekan tuan Hendri. Gadis itulah yang akan dikenalkan dan dijadikan sebagai calon menantu. Mereka sangat yakin, jika gadis yang berprofesi sebagai dokter penyakit dalam itu serasi dengan anaknya. Karena memiliki keahlian dalam bidang yang sama, pasti pemikirannya juga selaras. Begitu pemahaman mereka. Sedangkan Heni, mungkin hanya cinta sesaat bagi Tama. Mereka berpikiran jika Tama hanya menjadikannya tidak lebih hanya sebagai pengenalan cinta monyet yang tidak bisa memberikan harapan pasti untuk masa depan.
Heni semakin mendekat ke rombongan. Dia menunduk saat beradu pandang pada tuan Hendri Prasetya dan sang istri. Masih ingat jelas saat istrinya mengeluarkan kata ' pemecatan beberapa waktu silam. Didalam hati dia terus berdoa semoga wanita blasteran itu tidak mengeluarkan kata yang memalukannya kepada tuan Hendri.
" Tenanglah tidak apa-apa, jika kau selalu bersamaku, " bisik Tama menenangkan kegundahan kekasihnya. Tangannya memegang erat jemari Heni. Dia seperti tahu jika kekasihnya tengah gugup bertemu kedua orangtuanya.
Para rombongan masuk ke mobil setelah memastikan semua barang yang dibawa tak ada yang tertinggal. Heni dengan Tama di mobil yang berbeda dengan kedua orang tuanya.
" Mesra terus nih pasangan kita? wah jomblo jangan dengki ya, " gurau dokter Pramu. Yang lain ikut tersenyum dan tertawa. Tama menjawab dengan menyunggingkan senyum manisnya. Sungguh jika Heni masih gadis pasti senyum itu hanya diperuntukkan untuknya saja. Senyum yang sangat menawan, pikirnya.
" Kenalkan dong ke orangtuamu, kapan nih diresmikannya? " tanya dokter Ima yang tidak tahu latar belakang Heni, karena baru menjadi dokter di rumah sakit itu.
" Nanti jika saatnya tiba, " jawab Tama mantap, tidak ada keraguan sedikit pun didalam ucapannya. Heni terus menunduk karena menjadi bahan gurauan. Dia tidak tersinggung tapi malu. Tama semakin mengeratkan pegangan tangannya, seperti khawatir jika Heni akan keluar melompat dari mobil yang tengah melaju menuju ke panti.
" Jangan memegangku seperti ini, Tama. Aku malu, " bisik Heni ke telinga kanan kekasih gelapnya itu. Tama tersenyum tapi tidak mengubah apa yang dia lakukan. Dunianya adalah Heni.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tujuan. Warga juga sudah ramai di halaman ingin memeriksakan diri dan berkonsultasi secara gratis karena melihat spanduk yang terpasang di depan jalan panti. Mereka terdiri dari berbagai kalangan. Mulai dari balita, anak-anak, remaja sampai dewasa.
Heni terkejut melihat betapa tinggi antusias para warga sekitar panti. Maklum karena baru pertama kali ikut serta. Dia terpaku dan kebingungan melayani obat yang diberikan oleh pasien yang sudah diberikan resep oleh dokter Pramu dan dokter lainnya. Mereka seolah tidak mau mengantri. Pemeriksaan dan pengobatan sudah mulai berjalan. Riuh rendah suara orang yang berjubel menambah Heni agak bingung. Sementara Tama, kedua orangtuanya serta karyawan yang bertugas memberikan sumbangan masuk ke panti.
Hingga tanpa sadar, sinar matahari sudah semakin terik pertanda hari sudah siang. Warga yang berjubel juga mulai berkurang, tinggal beberapa orang saja yang memeriksakan diri. Tama duduk disebelah Heni untuk membantunya.
" Terima kasih untuk sumbangannya semoga tambah lancar,semakin maju dan berkembang untuk rumah sakit anda, " ujar pemilik panti.
Tiba-tiba seorang anak panti berdiri disamping meja Heni. Anak perempuan itu mengenakan kerudung senada dengan warna pakaian yang dikenakannya. Dia sangat manis dengan lesung pipit di kedua pipinya. Tanpa sadar jemari Heni memegang pipinya. Anak itu terkejut, dia menatap Heni dengan tersenyum,
" Tante itu obat apa saja? " tanyanya polos. Heni menyebutkan nama beserta kegunaan obat tersebut. Nampak anak perempuan yang berumur tujuh tahun itu mengangguk paham. Heni sangat senang, dia elus puncak kepala anak itu yang mengundang keheranan dari Tama. Lelaki tampan itu melihat Heni seperti baru pertama kali melakukannya. Bukan hanya mengusapnya saja, Heni juga meminjamkan ponsel dan mengajaknya untuk duduk disampingnya sembari melayani pasien yang meminta obat darinya. Tama pun bergeser dengan kecewa. Maksud hati ingin terus mepet dengan Heni kalah dengan anak perempuan itu.
__ADS_1
Apakah Heni tidak punya anak? pikirnya. Dia benar-benar tidak tahu latar belakang kekasih hatinya. Yang dia tahu dia sangat mencintai Heni, itu saja.