
Tama mengalami luka serius dikepala dan kehilangan banyak darah saat kecelakaan itu. Tuan Hendri sangat mencemaskan keadaan putra keduanya saat ini. Dia mondar-mandir menunggu operasi yang sedang berlangsung. Tidak lupa dia juga selalu memanjatkan doa agar operasi berhasil. Pria itu benar-benar syok.
Tidak lama kemudian, Madam Roxanne, sang istri datang menghampiri suaminya hampir berlari. Matanya sembab karena dia terus menangis saat perjalanan menuju ke rumah sakit. Dean, kakak Tama berada dibelakang sang ibu. Lelaki yang tidak kalah tampannya dengan sang adik itu nampak menatap ayahnya serius, memastikan kondisi Tama. Tapi tuan Hendri hanya menggeleng perlahan. Mengisyaratkan bahwa Tama mengalami luka yang serius.
" Bagaimana pi, operasinya sudah selesai? " tanya madam Roxanne. Tuan Hendri menggeleng. Sebenarnya pria ini ingin menumpahkan kekesalannya kepada istrinya, tapi ditahannya karena ada putra pertamanya. Dia tidak mau teguran kerasnya menjadi Dean bertambah benci dengan ibunya yang baru berdamai.
Menurut keterangan saksi dan penuturan seorang polisi kepadanya, kecelakaan itu disebabkan oleh Tama yang mengendarai kendaraan dengan kecepatan maksimal. Dia mengendarai dengan sadar, karena tidak ada bau alkohol tercium dimulut Tama. Kemungkinan dia memang sengaja melakukannya. Beruntung sang sopir truk hanya mengalami luka ringan karena membanting setir ke kiri dan menabrak sebuah pohon rindang. Sementara mobil Tama terus melaju sampai menabrak tiang lampu lalu lintas. Lalu dia pun tidak sadarkan diri.
Tuan Hendri mengambil kesimpulan jika Tama sedang melakukan percobaan bunuh diri. Dia tahu Tama masih mencintai Heni, mantan karyawannya. Jauh hari sebelum acara pertunangan dimulai, Tama mendatanginya dan memohon agar acara dibatalkan dengan hampir terisak. Tapi saat ingin mengatakan sesuatu sang istri sudah menyela dan ingin acara itu terus berlanjut dengan alasan sudah mengundang banyak tamu dari kalangan atas. Mau ditaruh dimana muka keluarga, jika Tama membatalkan acara itu? mau tidak mau Tama harus mengikuti apa yang diinginkan ibunya, yang selalu mencarikan pendamping yang sekelas dengannya.
Acara pun tetap dilaksanakan tapi sungguh tidak pernah dia mengira jika sang anak akan mengambil keputusan senekat ini. Betapa dia sangat menyayangi Tama melebihi jiwa raganya. Jika saja waktu bisa diulang, pasti akan dibatalkan saja acara itu. Dan dia akan dengan tegas menegur istrinya. Untuk apa memaksakan kehendak jika anak tidak bahagia? Toh anak sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.
" Kau puas mi? anakku sekarang sedang berjuang untuk hidupnya saat ini karena keegoisanmu, " bisik tuan Hendri. Sungguh dia sangat marah. Madam Roxanne membelalak karena tersinggung. Sorot matanya tajam ke arah suaminya. Sebelum menjawab dengan ribuan kata, Dean menyela dan mengajak ibunya pergi keluar. Ditariknya sang ibu dengan susah payah.
" Apa-apaan sih papimu? Aku yang disalahkan! " gerutunya saat diluar ruangan. Dean hanya mengusap punggung sang ibu untuk menenangkan amarahnya yang hampir meledak. Sudah mi, sabar, begitu ucapnya.
__ADS_1
Dean paham apa yang terjadi sebenarnya antara kedua orangtuanya dengan sang adik. Ibunya memang egois dan keras. Semua kemauannya harus dituruti. Dulu pun demikian dengannya, Dean dijodohkan dengan gadis pilihannya. Tapi Dean segera menolak dan kabur meninggalkan rumah sampai tuan Hendri yang menemukan dan memintanya untuk pulang. Dia pun menikah dengan pilihannya sendiri. Dia tidak peduli saat pernikahannya berlangsung sang ibu tidak hadir, hanya tuan Hendri dan adiknya saja. Baginya Tama terlalu penurut. Dan dia sangat terkejut mendengar kabar dari ayahnya jika Tama melakukan percobaan bunuh diri?
" Mi, mari kita mencari makan dilesehan yang ada di depan rumah sakit, " ujar Dean kepada ibunya. Madam Roxanne mengangguk. Mereka berjalan menuju depan rumah sakit. Dia menuruti putra pertamanya karena memang perutnya mendadak lapar. Amarahnya yang memuncaklah yang jadi penyebabnya.
Didalam hati, Dean sangat prihatin dan menyesalkan tindakan adiknya yang ceroboh. Dia tahu adiknya mencintai orang yang salah, tapi jika harus mengakhiri hidup bukanlah jalan keluar yang tepat. Belum tentu juga Heni berpisah dengan suaminya untuk dirinya. Dihembuskannya napasnya kuat-kuat karena dadanya terasa sesak seperti terhimpit batu besar. Dia sangat menyayangi adiknya dan sudah lama tidak bertemu. Kabar didapat malah seperti ini? Dia mengambil sebatang rokok dari sebuah gelas dagangan si pemilik warung lalu menyalakan dan mengisapnya. Madam Roxanne kesal melihatnya merokok. Wanita itu tidak pernah suka dia melakukannya. Sedari remaja jika Dean merokok langsung dikuncinya digudang gelap agar jera dan dibiarkannya kelaparan sampai meminta maaf. Dean menatap ibunya, dia paham maksud sang ibu.
" Kenapa mi, aku lagi gabut, " jawabnya singkat.
" Terserah, " ujarnya. Dia memalingkan muka karena muak melihat Dean mengisap dan menghembuskan asap rokok seperti tengah mencemoohnya.
" Kak, gimana kabar Risa? aku dengar dari papi jika istrimu sedang hamil? " tanyanya kepada sang anak. Dia mencoba mengalihkan pikirannya. Karena perbuatan Tama membuatnya sedikit pusing.
Dean tersenyum, dia buang rokoknya yang masih setengah dan menghadap ke arah ibunya yang mulai menampakkan wajah bersahabat. Mereka memang jarang bertemu karena setelah menikah tanpa restu ibunya, Dean pindah. Tuan Hendri memberikan sedikit modal untuknya karena tidak mau meneruskan usaha sang ayah. Ayahnya tidak tahu jika ibunyalah yang melarang Dean ikut terjun diperusahaan sang ayah. Bagi wanita itu membantahnya sama dengan meninggalkan semuanya. Tapi Dean tidak mengatakan apa pun kepada ayahnya. Dia berkeyakinan harta bisa dicari, kebahagiaan jauh lebih penting. Dia bahagia bersama dengan Risa. Meski gadis itu berasal dari keluarga biasa tapi sikapnya yang lembut dan penyayanglah yang membuatnya jatuh cinta dan bahagia.
" Ya, mi. Jalan lima bulan. Kapan mami berkunjung? " tanya Dean mencoba mengetes apakah ibunya sudah legowo menerima Risa?
__ADS_1
" Setelah adikmu sembuh, mami akan mengunjungi kalian, " jawabnya. Mereka pun meneruskan makan.
Lampu operasi sudah mati, itu berarti jika operasi sudah usai. Seorang dokter yang masih mengenakan baju khusus bedah mendatangi tuan Hendri.
" Terjadi penggumpalan darah di otak putra anda, tapi kami sudah berhasil mengangkatnya. Kami juga sudah melakukan transfusi, tinggal menunggu kesadarannya pulih, " terangnya.
...........
Heni meletakkan gelas berisi jus yang sudah diminumnya. Dia merasa senang karena kinar, salah seorang temannya memintanya bekerja di apotek milik kenalannya.
" Besok kuantar kau kesana, " ujarnya. Heni mengangguk. Akhirnya setelah sekian lama mencari kerja, dia dapat. Dia usap perutnya seolah berkomunikasi dengan janinnya. Besok mama akan kerja, mama akan giat bekerja untuk persiapan kelahiranmu.
Keesokan harinya, sesuai yang dijanjikan Kinar datang ke rumah. Wanita yang sudah memiliki tiga anak itu sangat ramah. Dia juga menyapa hangat Bimo yang terus menatapnya curiga. Heni merayu agar bisa bekerja lagi, karena melihat suaminya menampakkan wajah tidak setuju. Sungguh jika dia hanya dirumah saja, tidak bisa dibayangkan betapa tersiksanya dia tidak pernah memegang sepeser uang?
Sebenarnya Bimo hanya ingin Heni sedikit menurut dengannya. Dirumah saja sebagai ibu rumah tangga lainnya. Dia tidak mau istrinya tampil cantik dihadapan orang. Setiap kali dia berangkat kecemburuannya selalu terbit. Tapi melihatnya bersikeras dan dia belum bisa menafkahi secara penuh, akhirnya dia pun mengiyakan meski setengah hati. Heni berangkat dengan riang berboncengan dengan Kinar.
__ADS_1