Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Berterus terang


__ADS_3

Mereka telah sampai ke rumah Heni. Satpam yang mengetahui kedatangan mereka, segera membuka pagar. Hujan mengguyur deras. Tama menahan Heni keluar dari kendaraannya karena khawatir Tania terkena tetesan hujan. Tama meminta nyonya Alwan untuk mengambilkan payung guna melindungi mereka.


Nyonya Alwan tergopoh-gopoh mendatangi Tama dengan membawa payung yang cukup besar, muat untuk mereka bertiga. Tama menghampiri Heni dan memintanya keluar dengan memakai payung yang dipegangnya. Mereka segera masuk ke dalam rumah. Heni duduk dan meletakkan Tania di sofa. Bayi itu senang dan langsung menggerak-gerakkan tangannya ke udara dengan pandangan lurus. Sesekali tawanya menguar ke ruangan tamu itu.


Tak lama kemudian, tuan Alwan pun datang dan ikut duduk bersama mereka. Tama menata sikap sebelum mengutarakan keinginannya.


" Selamat malam, om, tante. Maaf kemarin malam Heni menginap ditempat saya, karena mereka kemalaman. "


Kedua orang tua Heni menatapnya kesal. Heni pura-pura tak mengetahuinya, dia sibuk ke bayinya. Padahal hatinya ketar-ketir takut kena marah karena perbuatannya kemarin.


" Ehm... lain kali jangan diulangi lagi, " ujar tuan Alwan. Pria itu menjejeri Heni untuk melihat sang cucu yang terus tertawa.


" Dan maksud kedatangan saya, saya ingin melamar Heni, " ujar Tama gugup. Dahinya berkeringat. Tuan Alwan dan istrinya terkejut tapi kembali menata sikap.


" Lusa saya akan membawa keluarga saya kemari untuk meminta Heni secara kekeluargaan, " tambah Tama.


Tuan Alwan masih mencerna permintaan lelaki tampan itu yang berani meminta anaknya. Dia tak percaya begitu saja padanya. Heni seorang janda dan mempunyai anak dari selingkuhannya yang tak diketahui siapa dia. Apakah lelaki ini tulus? Apakah lelaki ini sanggup bersama Heni dengan membawa seorang anak? Apakah orang tuanya mau menerimanya secara terbuka akan status anak perempuannya? Apakah dia bisa membahagiakan Heni yang pernah gagal? Pertanyaan itu berkecamuk dalam pikirannya.


" Sebenarnya saya sudah lama menjalin hubungan dengan Heni. Saya sangat mencintai putri om. Saya ingin menikahinya, " ujar Tama bergetar.


Tuan Alwan sedikit tersentuh, tapi lidahnya masih kelu untuk berucap kata. Heni tak pernah terbuka dengannya tentang hubungannya dengan lelaki manapun setelah berpisah dengan Bimo. Pria ini masih trauma.


" Dan sejujurnya saya adalah ayah kandung Tania, " ujarnya perlahan. Betapa sangat menyesalnya dia tak tahu akan keberadaan darah dagingnya sendiri.


Tuan Alwan terkejut, dia berdiri. Sorot matanya nyalang kepada Tama yang menunduk.


" Jadi kau menghamili Heni dan menyebabkan retaknya rumah tangga anakku? ck. Kau keterlaluan! " bentaknya. Nyonya Alwan mendekati suaminya dan memegang punggungnya untuk memenangkan amarahnya yang menggelegak.


" Maaf om, saya benar-benar khilaf dan terbawa suasana. Beri saya kesempatan untuk bertanggung jawab dan membahagiakan mereka. Restui kami, karena saya tak bisa kehilangan mereka. Mereka separuh nyawa saya om, " ujar Tama sungguh-sungguh. Dia benar-benar tidak mau kehilangan Heni kali ini. Dia rendahkan harga dirinya didepan kedua orang tua Heni agar tidak terjadi penolakan. Jika tuan Alwan menyutuhnya bersimpuh sekalipun akan dilakukannya. Tekadnya sudah bulat, dia ingin hidup bersama Heni dan bayinya.


" Terserah kalian saja, aku pusing mikir anak muda jaman sekarang, " tandas tuan Alwan terduduk kembali di sofa. Dia memegang keningnya yang mulai berdenyut. Heni masih dengan sikapnya, masa bodoh meski takut setengah mati jika sang ayah akan melakukan tindakan anarkis kepada Tama. Teringat dulu pernah meninju Bimo. Heni yakin sang ayah masih mampu untuk melakukan hal itu meski usianya telah senja.

__ADS_1


" Restui saja pa, dia lelaki mapan. Dokter pula. Sepertinya dia benar-benar sangat mencintai Heni. Lihatlah caranya memperlakukan anak kita saat dia dirawat dulu. Dia sampai tak kerja berhari-hari sampai Heni pulih, " bisik nyonya Alwan ditelinga suaminya. Wanita itu menjadi pendukung Tama nomor satu. Karena Tama baginya calon suami ideal dan tak bisa dilepaskan begitu saja. Ibarat bebatuan dia adalah emas. Tama harus menjadi menantunya.


" Apa kedua orangtuamu sudah tahu siapa Heni? " tanya tuan Alwan.


" Sudah om. Mereka setuju, " jawab Tama berbohong. Setuju atau tidak, baginya tidak masalah. Tapi mengingat perlakuan hangat dari papinya, dia yakin papinya mengiyakan walau maminya berkebalikan. Wanita itu masih berpegang teguh dengan pendiriannya, agar Tama menikah dengan Mona. Hal yang tidak bisa Tama lakukan. Perjodohan bukan keinginannya, hanya Heni dan Heni.


Tuan Alwan masih menatap Tama, tapi raut wajahnya sudah biasa lagi.


" Baiklah, aku akan menyambut kedatangan keluargamu esok lusa, " ujar tuan Alwan menyudahi pembicaraan lalu beranjak masuk ke dalam. Nyonya Alwan bernapas lega, suaminya mau merestui mereka. Tama menjejeri Heni dan memeluk lnya dari samping.


" Ehmm.. masih ada mama nih, " ujar nyonya Alwan mengingatkan kelakuan Tama. Heni tersipu, dia tak berani menatap wajah ibunya.


Dikediamannya, tuan Hendri masih berusaha membujuk istrinya yang marah. Seharian wanita itu diam, tak seperti biasanya. Dia hanya menghabiskan waktu berada dikamar saja. Bahkan makan pun harus diruangan itu. Tuan Hendri geleng-geleng kepala menahan amarahnya akan sikap istrinya yang masih tidak menyetujui anaknya dengan Heni. Perlahan dia membuka pintu kamar yang tak terkunci. Istrinya sedang duduk dengan membaca sebuah tabloid. Dia duduk di samping istri yang telah menemaninya selama ini dan merangkulnya.


" Redakan kemarahanmu mi, biarkan Tama dengan wanita pilihannya. Bukankah dia lelaki yang setia? dari dulu tetap wanita itu pilihannya. Mau kau sodorkan beribu Mona, tetap ditolaknya. Simpan usahamu yang sia-sia itu dan berilah mereka restu, " bujuknya.


" Anak itu juga sudah memberi kita seorang cucu. Cantik dan manis sekali dia, " ujar tuan Hendri dan tersenyum mengingat wajah bayi perempuan itu. Istrinya memandang sekilas dan tersenyum kecut.


Diruang baca, madam Roxanne menghentikan langkah dan masuk ke ruangan yang penuh dengan buku itu. Tak lupa ditutupnya pintu itu rapat dan meraih sebuah album foto di dalam laci. Dibukanua lembar demi lembar foto kenangan kedua anaknya yang masih bayi sampai menginjak remaja. Lembar pertama saat Dean lahir, dan membuat hidupnya jadi berubah drastis karena usaha suaminya hampir jatuh akibat sabotase kawannya.


Dia merawat Dean dengan tidak mudah karena kesulitan yang terus mendera, mulai dari masalah keuangan sampai Dean yang sakit-sakitan. Berulangkali dia keluar masuk rumah sakit demi kesembuhan putra sulungnya saat itu. Tak hanya itu saja, dia juga sempat menggugat cerai suaminya karena tidak kuat menghadapi. Empat tahun kemudian lahirlah Tama. Bayi yang sebenarnya tak diharapkan kehadirannya. Dia ada karena lupa memakai pengaman saat berhubungan badan dengan suaminya. Tapi keberadaannya membuat kehidupannya berangsur membaik dari hari ke hari. Usaha suaminya mengalami kemajuan yang cukup pesat dibidang properti. Kesehatan Dean juga stabil. Dia tak pernah masuk ke rumah sakit lagi. Kehadiran Tama benar-benar anugerah luar biasa untuknya.


Dan sikap arogannya mulai muncul. Wanita itu mulai mengatur langkah kedua putranya. Mulai dari tempat menempuh pendidikan, bersosialisasi, sampai urusan jodoh. Dean yang patuh mulai menampakkan sikap membangkang padanya. Dia lelah karena sang ibu yang terus campur tangan dengan semua kehidupannya. Imbasnya dia hengkang, meninggalkan rumah dan kedua orang tuanya.


Wanita itu mulai membuka lembaran lagi, foto Tama yang merentangkan kedua tangannya menghadap ke arah pantai dengan rambutnya yang berkibar tertiup angin. Tama sangat gembira, karena keinginannya mengunjungi pantai terwujud. Dia berhasil menjadi juara kelas selama tiga tahun berturut-turut. Prestasi gemilang yang tak mudah begitu saja diraihnya. Wanita itu terus menemani belajarnya dengan membawa sebilah tongkat. Karena takut akhirnya Tama belajar giat, dibuangnya rasa malasnya. Dia hadapi buku dengan ketakutan mendalam yang sewaktu-waktu sang ibu melayangkan tongkat itu kepadanya jika tertangkap basah tertidur saat belajar. Wanita itu hanya ingin dia menjadi orang sukses.


Madam Roxanne memegang dadanya yang mulai merasa sesak. Betapa manis sikap kedua putranya dulu kepadanya sebelum mengenal seorang wanita selain dirinya. Salahkah dia jika ingin terus mengendalikan putranya? dia takut putranya salah langkah. Dan jika suatu saat kesulitan mendera rumah tangganya, mereka bisa meminta tolong kepada mertuanya. Dia hanya ingin kedua putranya selalu hidup berkelimpahan. Jangan sampai kesulitannya dalam membina rumah tangga yang dialaminya dulu menimpa mereka. Airmatanya menetes, mami menyayangi kalian. Dan menumpahkan tangisannya diatas meja disamping foto album usang itu.


.........


Di sebuah tempat, Heni resah. Tak ada taksi pun yang melintas. Dia baru saja berbelanja, dan ingin segera pulang. Mengistirahatkan bahunya yang mulai terasa pegal karena terus menggendong. Dia menyesal menolak ibunya yang bersikeras ikut. Lalu dia duduk di sebuah bangku yang tak jauh darinya. Suara perutnya yang lapar membuatnya sadar. Dia harus mengisi perut. Akhirnya dia bangkit dan mencari tempat makan disekitarnya duduk.

__ADS_1


Sebuah restoran, membuatnya bergegas. Dia masuk. Banyak pengunjung yang tengah menikmati makanan ditempat itu. Heni duduk dan memanggil seorang pramusaji perempuan. Dia memesan dan duduk menunggu. Seseorang yang sangat dikenalnya terlihat dari kejauhan. Heni menyipitkan mata dan terus memperhatikan. Benar, itu dia. Sedetik kemudian tatapan mereka beradu. Heni menarik napas, dia gusar. Lelaki itu malah berjalan ke arahnya tanpa beban.


Saat hendak berdiri, lelaki itu sudah disampingnya. Heni menatap dan mulai salah tingkah. Kekhawatiran dan ketakutan menjalar di hatinya.


" Heni, kau kah itu? " tanyanya. Heni mengangguk.


" Maaf, aku akan pergi jika kau tak berkenan, " ujar Heni. Namun langkahnya terhenti, saat lelaki itu memegang tangannya dan mengisyaratkan agar duduk kembali. Lelaki itu tersenyum lebar. Senyuman terus tersungging dibibirnya. Dia juga nampak semakin subur dengan pakaiannya yang rapi dan necis. Dan dia adalah Bimo.


" Kau pesan apa tadi? aku akan memberimu menu spesial di restoranku. Tunggu, awas jika kau pergi, " ujar Bimo dan melesat kebelakang.


Apa? restoran miliknya? aku tak salah dengar?


Tiba-tiba seorang wanita cantik dengan dress hijau muda menghampiri dan duduk di hadapannya. Heni mengernyit mencoba mengingat sosok wanita cantik itu.


" Maaf aku tak mengenalimu. Siapa anda? " tanya Heni dengan sopan. Wanita itu melemparkan senyum.


" Aku adalah istrinya Bimo. Dia tadi berkata padaku jika mantan istrinya tengah makan di tempat ini. Tapi jangan khawatir, aku tidak bermaksud mengganggumu, " terangnya. Heni diam dan sibuk memberi bayinya susu.


" Awal perceraian kalian, dia sangat terpukul. Lama dia membuka hatinya untukku. Dan kau tahu aku sangat mencintainya. Kuharap kau tidak merusak kebahagiaan kami, " ujarnya perlahan.


" Maaf, aku tidak tahu kalau ini restoran milik kalian. Aku hanya kebetulan lewat di jalan ini. Jika aku tahu dari awal dan mengusikmu, aku tidak akan mampir, " ujar Heni.


Bimo datang dengan membawa nampan berisi pesanan Heni dan menambahkan menu spesial di tempat itu. Senyumnya melebar saat pandangannya tertuju kepada istrinya yang tengah duduk manis didepan Heni. Dirangkulnya wanita itu setelah menyajikan semua di meja. Kedua insan itu saling melempar senyum.


Hati Heni berdesir, dia merasa kecil hati. Pasangan didepannya sangat romantis. Meski mantan, dia ikut bahagia. Bimo sudah menemukan tambatan hati yang jauh lebih mencintainya.


" Dia Heni sayang. Dan Heni, dia adalah istriku, namanya Rahma, " ujarnya sembari mendaratkan sebuah kecupan di kening wanita cantik itu. Wanita itu tersipu dan semakin mengeratkan pegangannya dipinggang Bimo. Bukan cemburu tapi Heni merasa tak nyaman lebih kepada dirinya yang masih merasa bersalah terhadap Bimo. Secercah rasa untuk Bimo masih ada dalam kotak yang terkunci rapat direlung hatinya. Tapi dia tak mengharap kembali. Bagaimanapun pernah bersama dan menjalin kisah kasih selama bertahun-tahun, masih teringat jelas semuanya meski tinggal kenangan.


" Kau mau aku bungkuskan untuk mamamu? mintalah makanan yang kau mau, aku memberimu percuma, " ujar Bimo ramah.


" Ini sudah terlalu banyak. Sisanya dibungkus saja, " ujar Heni yang merasa keberatan akan kebaikan Bimo. Sementara Rahma terus menatapnya dengan wajah datar yang sesekali tajam, sulit diartikan.

__ADS_1


" Sini biar aku gendong bayimu. Umur berapa dia? " tanya Rahma. Heni menyebut sebuah angka dan kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Bimo sudah pergi menghampiri pengunjung lainnya. Dia sangat ramah, jauh dari sikapnya yang pendiam dulu.


__ADS_2