Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
penganiayaan


__ADS_3

Tuan Alwan segera menyuruh sang sopir untuk mengantarkannya ke kantor urusan agama. Pria itu berniat mengajukan gugatan cerai atas nama sang anak. Kesabarannya telah habis menunggu Bimo untuk melakukannya. Seorang petugas datang dan menerimanya. Selang beberapa menit kemudian mereka terlibat pembicaraan serius mengenai latar belakang yang memicu perceraian itu.


Tuan Alwan sangat ambisius dan meminta sidang segera dilakukan setelah peninjauan berkas usai. Berapa pun biaya yang diminta akan dipenuhinya. Dia sudah membenci Bimo yang telah memukul anak perempuannya itu. Nalurinya sebagai seorang ayah sangat kuat. Dia berprinsip, jika sekali seorang pria memukul wanita maka suatu saat akan dilakukannya lagi terhadap wanita itu.


Usai mengurus semuanya, dia undur diri hendak kembali ke kantornya. Sang petugas yang melayaninya berjanji akan menghubungi via ponsel jika ada yang diperlukan. Masuk di mobil, pria itu memijat pelipisnya. Sungguh hari yang melelahkan pikiran, gumamnya. Sang sopir hanya menatap majikannya melalui kaca spion tanpa berkomentar apa pun. Mobil terus melaju bersama kendaraan lainnya berpacu dengan waktu.


............


Heni sudah pulang dari rumah sakit, sementara bayinya masih dirumah sakit. Dia kecewa tapi sang ibu terus menguatkannya agar bersabar. Pihak rumah sakit paham tindakan yang dilakukan oleh mereka.


Heni duduk melihat ponsel, sebuah pesan masuk dan dibacanya. Pesan dari Bimo, hatinya berdesir. Dia baca isi pesan itu sekali lagi. Yang membuatnya heran, ibu Ratih sedang sakit dan memintanya untuk datang menjenguk. Sulit dipercaya, jika mertuanya itu membutuhkan keberadaannya saat ini? Bukankah wanita itu selalu menolaknya dengan berbagai hinaan? Atau apakah dia ingin meminta maaf dan memperbaiki hubungan dengannya? Mungkin nalurinya sebagai ibu dalam keadaan ' on. Apakah wanita itu tahu jika dia telah melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik? Jika tahu bagaimana responnya? positif atau sebaliknya? apakah dia ingin menggendong dan menyayanginya? Entahlah,,,


Heni mencari sang ibu di dapur karena tak menjumpainya dikamar. Nyonya Alwan tengah duduk berbincang dengan bibik. Namun apa yang dibahas Heni tidak mengerti dan tak mau tahu. Ibunya memutus pembicaraan dan menatap Heni.


" Ma, aku mau keluar sebentar, " pamitnya.


" Kau mau kemana? " tanyanya heran. Anaknya baru saja melahirkan dan ingin keluar. Setidaknya tunggulah sampai jahitan kering, apa karena pengaruh mama muda jaman now?


" Mama ikut denganmu, " pintanya. Tapi Heni menolak, dan menambahkan jika dia akan segera pulang. Dengan berat hati nyonya Alwan pun mengiyakannya meski ragu. Heni segera berganti pakaian tanpa mempedulikan rasa sakit bekas jahitan diperutnya. Yang dia pikirkan dia ingin melihat ibu mertuanya dirumah kontrakannya. Ketika menuju keluar pintu utama, dia bertemu dengan sang ayah yang baru pulang. Tuan Alwan menatapnya curiga.


" Kau mau kemana? " tanyanya.


" Aku mau pergi sebentar pa, " jawabnya. Pada saat itu ponselnya berdering, saat ingin menjawab panggilan yang berasal dari Bimo, tuan Alwan segera merebut ponsel itu memdekatkan ke telinga dan mulutnya. Matanya hampir melotot.


" Jangan mendekati anakku lagi. Sudah cukup kelakuanmu yang membuatku marah! " jawabnya kemudian memutus sambungan telepon. Heni hanya diam, dia takut membantah pria itu. Dia menyadari jika papanya ingin melindunginya dengan menjauhkannya dengan Bimo.

__ADS_1


" Apa kau sudah gila, Hen? Kau ingin melakukan apa yang dimintanya setelah kau dipukul olehnya? " tanyanya.


" Bukan seperti itu pa? mungkin mas Bimo sudah sadar dan ingin meminta maaf padaku, " jawabnya.


Sebenarnya dia ingin menemui mertuanya bukan Bimo. Tapi dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya karena sang ayah juga sangat membenci wanita itu. Dia mengerti jika ayahnya mengetahui perbuatan mertuanya yang selalu meremehkannya melalui salah seorang tetangga.


" Kau sudah berselingkuh darinya yang menandakan hatimu tak nyaman. Dan sekarang kau ingin menjalin ikatan itu lagi dengan bertemu dengannya? Papa tak habis pikir, kau harus punya pendirian anakku. Agar ke depan kau tak jatuh dilubang yang sama, " selorohnya.


" Aku tidak sampai hati pa, mungkin mas Bimo sudah sadar dan ingin memperbaiki diri" terangnya. Sebenarnya apa yang dikatakannya benar, dia berselingkuh karena lelah bersama Bimo.


" Buang rasa kasihanmu, lihatlah terlalu besar kau mengasihaninya dia lupa tanggung jawabnya sebagai suami. Sudah masuk, jangan pedulikan dia, " tuan alwan berapi-api.


" Dia saja tega memukulmu dan tidak datang kemari. Kau masih tak sampai hati? Heni kau benar-benar aneh, " tambahnya lagi lalu pergi meninggalkan Heni yang mematung dibalik pintu. Lagi-lagi Heni membenarkan teguran ayahnya, dia pun mengurungkan niatnya pergi, kembali menuju ke kamarnya untuk beristirahat. Memulihkan tenaga pasca persalinan caesarnya.


" Sialan, brengsek. Kenapa pria tua itu mengatur hidup Heni? bagaimana aku bisa sedikit ' bermain dengannya? oh astaga???? " gerutunya. Bimo lupa jika selama ini dia juga diatur oleh ibunya. Dia menghempaskan tubuhnya di kursi. Matanya nyalang ke depan. Diraihnya sebatang rokok, dinyalakan dan diisapnya membuang rasa bergemuruh didadanya. Padahal rencananya sudah matang, tinggal menunggu kedatangan Heni saja. Gagal sudah. Aku harus mencari cara lain. Kali ini tidak boleh gagal. Jangan sampai pria tua itu mengetahuinya lagi, gumamnya sendiri.


Bimo mulai berubah sejak mengetahui perselingkuhan istrinya. Sikap lembut yang dimilikinya seolah telah menguap seiring rasa cintanya. Kini dia seperti orang lain, ibunya yang merasakan perubahannya mulai ketakutan dan tidak nyaman berada didekatnya agak lama. Satu sampai dua hari saja dia menginap, lalu segera pulang ke kampung. Dia juga tidak pernah menanyakan tentang Heni. Dia tahu prahara yang menimpa rumah tangga sang putra. Tapi untuk berkomentar bebas seperti dulu, dia tidak berani. Sekali mulutnya mengucap kata Heni, Bimo langsung melempar gelas ke arahnya hingga pernah mengenai pelipisnya dan berdarah. Saat wanita itu menegurnya, Bimo dengan enteng segera mengusirnya dan tak peduli jika itu saat tengah malam sekalipun. Bimo benci nama itu. Jika dia bisa mengubah masa lalu, dia tidak akan pernah mengenal dan menjalin cinta dengan nama itu. Tapi semua telah dijalani meski meninggalkan luka dihatinya yang sulit diobati kecuali dengan menikah lagi?


Saat rokok yang diisapnya telah hampir terbakar seluruhnya, Bimo mencabut dari bibirnya dan membuangnya asal. Dia sudah tidak peduli dengan kebersihan rumah itu. Hingga rumah itu kini nampak sangat kotor, catnya yang pudar menambah kesan itu. Dia hanya peduli dengan dirinya dan sakit hatinya saja. Dia bangkit bergegas untuk mandi dan berangkat kerja. Bertemu dengan bu Rahma yang selalu mengajaknya untuk berbicara tiada guna dan lainnya. Itulah hari-harinya kini. Sendiri, sepi, dan dendam. Entah kapan saat itu tiba dan bisa membalas dendam dengan menyakiti fisik Heni.


Hari berganti hari, minggu pun juga. Hingga pada suatu hari saat Bimo pergi untuk pulang, dia melihat Heni berada di suatu tempat yang tidak jauh darinya. Dia tersenyum menyeringai. Ditaruhnya motor ditempat penitipan. Dia berjalan menghampiri wanita itu. Saat lengannya ada yang memegang, Heni sangat terkejut. Dia menoleh.


" Mas? ada apa? " tanyanya sedikit ragu. Esok adalah hari dimana sidang akan dilakukan.


" Aku ingin bicara padamu. Ikut aku, "

__ADS_1


Bimo menarik tangan Heni, mengajaknya naik motor lalu meninggalkan tempat itu. Motor terus melaju ke sebuah tempat yang jauh, Heni tidak merasa curiga. Hingga disebuah rumah yang agak jauh dari pemukiman, mereka berhenti.


" Rumah siapa mas? " tanyanya. Bimo diam tidak menjawab. Tangannya menariknya untuk segera masuk. Saat didalam rumah itu, Bimo mendorong Heni hingga terjatuh.


" Mas sakit, apa yang mau kau lakukan? " tanyanya sembari memegang pergelangan tangannya. Bimo mendekat lalu mencengkeram kerah blouse yang dikenakan olehnya.


" Mas, hentikan. Kau ingin bicara denganku bukan seperti ini, "


Bimo melepas cengkeramannya dan berjalan untuk mengambil sesuatu. Heni bangkit untuk segera meninggalkan tempat itu. Firasatnya mulai merasa tidak tenang. Saat tangannya meraih gagang pintu, Bimo menariknya dan menjatuhkan disebuah kamar. Sebelah tangannya memegang sebuah cambuk. Heni menangkupkan kedua tangan untuk meminta maaf dan memohon agar pria itu tidak melakukan apa menurut perkiraannya.


Cetarrrr......sebuah pukulan dari cambuk itu mengenai punggungnya. Panas akibat cambuk itu meresap sampai disekujur tubuh. Heni berteriak sembari menutup kedua wajahnya karena takut.


" Mas ampun jangan cambuk aku. Besok adalah sidang perceraian kita, aku akan memberikanmu seperempat harta papaku. Tolong jangan pukul aku lagi, " pintanya dengan terisak. Dia mulai menangis ketakutan. Pria yang pernah dicintainya itu kini seperti seorang penjahat berdarah dingin. Bimo terus melayangkan cambuk itu ke udara, Heni berusaha menghindar. Tapi karena cambuk itu terlalu panjang, sia-sia saja apa yang dilakukannya. Cambuk itu terus mengenai punggungnya, rasa sakit yang ditimbulkannya merasuk sampai ke tulang.


" Aku tidak peduli dengan harta papamu, kau harus tahu rasa sakit yang ada dalam hatiku. Begitu kejamnya kelakuanmu dibelakangku, "


Cetaar....cambuk itu melayang lagi. Kali ini Heni bisa menghindar, hingga alat itu mengenainya sedikit. Tapi tetap sama, panasnya luar biasa saat mengenai kulit. Bimo melakukannya lagi.


" Cukup mas, " lirih Heni.


Usai mengucapkan kata itu Heni tak sadarkan diri. Bimo puas atas apa yang telah dilakukannya. Dia mengangkat tubuh penuh luka itu lalu membaringkannya diranjang. Saat dilihatnya wanita itu timbul keinginannya untuk bercinta. Dia kecup bibirnya, tangannya membuka pakaian yang dikenakan olehnya lalu melakukan apa yang dia mau.


Saat Bimo beralih ke bagian bawah, Heni membuka mata karena merasa tubuhnya ada yang menindih. Netranya membulat menatap Bimo sudah berada diatas.


" Mas apa yang akan kau lakukan? " tanyanya. Heni yang lemas dan sakit berusaha menepis tangan itu. Bimo sudah berada pada fase *******. Dia buka dengan kasar lalu menghunuskan bagian sensitifnya ke dalam liang itu. Dia maju mundurkan berusaha mencairkan milik Heni. Heni yang tidak berdaya pun pasrah.

__ADS_1


__ADS_2