
Keluar dari kamar mandi, Heni melihat mertuanya tengah menjerang air. Air itu akan digunakannya untuk dibuatkan kopi dan air mandi putranya. Heni selalu heran, dialah yang mencabut kewajibannya sebagai istri dirumah saat kedatangannya. Semua urusan melayani Bimo di ' handle nya, mulai dari urusan kopi, makan, sampai mencuci baju Bimo. Namun saat sesuatu menimpa sang putra, kesalahan itu selalu dilampiaskan ke dia. Bukan sekali bahkan sudah hampir ribuan kali. Tetapi sosok wanita yang selalu berkaca mata minus itu tidak pernah menyadarinya. Dia selalu melupakan keberadaannya. Dimatanya hanya ada Bimo dan Bimo. Baginya sang putra telah bersusah payah mencari nafkah dan menghidupi Heni dirumah kontrakan. Dia tidak pernah tahu jika Heni juga banyak berkorban untuk keseharian mereka. Dengan terus bekerja.
" Kau sudah mandi? lekas rawat suamimu. Aku mau belanja dan masak untuknya, " perintah ibu Ratih. Meski pelan tapi terdengar sangat mendikte. Bukankah selama bertahun-tahun dia juga merawat putranya itu? tapi tidak pernah ucapan manis yang didapat.
Heni tidak menjawab, dia melangkah masuk ke kamar. Dilihatnya sang suami masih berbaring di karpet yang berada di lantai. Ditatapnya lelaki yang dicintainya itu hingga tarikan sebuah tangannya terasa mengejutkan.
" Aku mencintaimu, hen, " bisiknya lirih. Dia mencium tangan istrinya bertubi-tubi. Ada getar sesal menyusup hatinya saat suaminya mengucapkan kata itu. Sementara ibunya yang berada di dapur berteriak agar Heni menyuguhkan kopi dan bubur yang sudah siap untuk Bimo. Heni kesal, dia bangkit.
" Ini berikan ke putraku, dan berikan juga obat dari dokter kemarin. "
Ibu Ratih menyerahkan nampan berisi kopi dan bubur kepada Heni. Dia juga meminta agar hari ini Heni dirumah saja guna merawat Bimo. Seperti yang sudah-sudah, wanita itu akan menjadikannya ibarat pembantu jika bimo sakit atau tertimpa nahas lainnya. Seperti menyiksa tanpa terdeteksi. Ada saja suruhannya mulai dari a sampai ke z.
" Ini makanlah bubur itu tapi jangan diminum kopinya, " ujar Heni. Kopi tidak baik untuk penderita lambung. Bimo paham tanpa banyak bertanya. Dia segera melahap bubur untuk sarapan. Lalu dia meminta obat dari dokter untuknya. Heni pun memberikannya. Kemudian dia bangkit menuju ke lemari disudut kamar. Dia mengambil blouse biru muda dan celana hitam. Sebuah kunci juga dimasukkan ke dalam tas. Bimo menatap apa yang dilakukan sang istri.
" Kau mau kerja? " tanya Bimo. Heni mengiyakan. Sebenarnya dia ragu atas apa yang akan dilakukannya. Namun dia enggan jika mertuanya masih melemparkan kesalahan kepadanya perihal sakitnya Bimo.
" Aku masuk kerja mas. Jangan banyak pikiran dan lekaslah sembuh, " ujar Heni. Dalam ucapan istrinya dia jelas menangkap isyarat bahwa istrinya tidak akan pulang lagi.
" Kau mau kemana? " tanyanya lagi.
__ADS_1
Airmata Heni menggenang di sudut kelopak matanya. Namun lekas dihapusnya dengan mengusapnya dengan lengan baju. Dia tidak mau sampai lelaki yang saat ini sedang sakit itu melihatnya. Pasti pikirannya akan kacau dan stres. Dia khawatir sakitnya tidak akan segera sembuh.
Mungkin aku akan pergi untuk sementara waktu.
Namun bibirnya kelu mengucapkan kata itu hingga senyumnya yang manis yang dia perlihatkan. Dia tidak sampai hati meninggalkan lelaki itu. Jika saja orang ketiga alias mertuanya tidak selalu ikut campur pasti hidupnya baik-baik saja. Sungguh egois jika mengambil keputusan itu.
" Seandainya aku tidak pulang malam ini, tidak usah risau. Aku akan pulang dengan suasana hati yang baik, " terangnya. Bimo terpekur, firasatnya selalu benar.
" Kau berutang penjelasan denganku mengenai cincin itu, " ujar Bimo menunjuk cincin yang terpasang di jari manis istrinya. Dia masih penasaran akan keberadaan cincin itu. Heni nampak kebingungan dia pun menjawab dengan asal.
" Jangan pikirkan cincin ini. Jika kau tidak suka aku memakainya akan ku jual, " ujar Heni. Sayang sebenarnya tapi jika benda ini sumber masalah, aku lepas saja. Toh Tama juga tidak keberatan, pikirnya.
" Hen, kau mau kemana? Kenapa sudah rapi begitu? lekas pel rumah ini, " perintah ibu Ratih. Heni menoleh dengan kesal. Jika tidak bekerja mau makan apa? pertengahan bulan ini saja nafkah dari bimo sudah tidak ada. Sebagian sudah diminta olehnya.
" Bu, aku mau kerja. Besok aku akan ambil libur, " ujar Heni menerangkan. Tapi ibu Ratih kecewa.
" Lekas telpon atasanmu, ambil hari ini saja. Kau tahu suamimu sedang sakit begitu. Kalau kau tidak berani telpon, biar ibu saja. Mana ponselmu? " tanya ibu Ratih.
Heni menolak permintaan mertuanya. Mengambil libur untuk besok saja dia masih mikir ulang, apalagi harus dadakan pagi ini? ini konyol.
__ADS_1
" Tidak bisa hari ini, bu. Besok saja, " tawarnya sembari menatap bimo meminta dukungan. Bimo akhirnya bicara,
" Sudahlah Bu, biarkan dia kerja. Aku sudah mendingan, lagipula kerja ikut orang kan tidak boleh seenaknya, Bu, " rayu bimo.
Ibu Ratih keluar kamar dengan menggerutu. Niatnya ingin mengerjai menantunya gagal sudah, karena putranya menggagalkan rencananya.
Heni segera merapikan penampilan dan berdandan sewajarnya. Sebelum berangkat, dia meminta suaminya untuk pindah tidur di ranjang. Dikecupnya kening dan pipi Bimo yang nampak tirus. Sakit dua hari saja sudah menguruskan tubuhnya drastis. Dia pun keluar dari kamar menuju ke ruang tamu dan mengeluarkan motor maticnya. Dia berangkat dengan naik motor karena Bimo masih ijin. Toh dirumah juga masih ada motor satunya meski butut.
" Cepat pulang bantu aku merawat Bimo. Memang kau ini selain obat, kau tidak punya keahlian lainnya( maksudnya hamil dàn punya anak ), " ujar ibu Ratih didepan pintu. Kedua tangannya melipat didada. Kepalanya agak terangkat dengan kedua matanya yang nyalang ke arah Heni. Heni mendengar kesal,
" Selain mengejekku, apa tidak ada keahlian lainnya yang ibu mampu? " tanya Heni ketus. Dia muak mendengar ejekan mertuanya jika menyangkut masalah keturunan. Ingin dia jawab jika yang mandul adalah putranya tapi dia masih memiliki hati nurani. Pasti hati wanita itu akan hancur seketika jika mengetahuinya.
" Ada, buktinya aku bisa melahirkan dan membesarkan Bimo. Kau menyedihkan, " ejek ibu Ratih dengan senyuman sinisnya. Meski putranya hanya satu tapi sombongnya setinggi langit. Entah Heni tidak bisa membayangkan jika lebih dari satu mungkin kepalanya bertambah besar tiga kali lipat.
" Terserah apa kata ibu. Aku juga tidak tahu pulang atau tidak nanti, " jawab Heni.
Ibu Ratih marah, dia tidak suka ucapan sang menantu. Sekarang bimo sedang sakit, kau harus tahu diri dan rawat suamimu sendiri. Jika dia segar bugar kau tidak ada gunanya. Begitu arti dari tatapan tajamnya ke arah Heni.
" Entah bu, lihat saja nanti. Aku pamit, " ujarnya seperti menjawab tatapan mertuanya. Lalu segera menyalakan mesin motor. Melajukannya perlahan keluar dari halaman rumah menuju ke jalan besar. Ibu Ratih terus mengawasinya nanar, sungguh dia semakin membenci menantunya. Jika dia bukan berasal dari orang kaya, pasti dia sudah mendepaknya dengan kaki. Hanya dengan mengejek senjatanya agar hatinya terluka.
__ADS_1