
Persidangan berjalan tanpa kehadiran Heni, hanya pengacara dan tuan Alwan yang mengikuti jalannya sidang. Bimo juga terus hadir. Dari tempatnya dia menatap mertuanya yang sebentar lagi akan menjadi mantan. Dia heran, sebab pria itu tidak marah kepadanya atas apa yang terjadi terhadap sang anak.
Pasti Heni tidak mengatakan bahwa pelakunya adalah aku, tebaknya dalam hati.
Yang dinantikan pun tiba, hakim membacakan putusan dan memutuskan bahwa pernikahan antara Bimo dan Heni resmi berpisah. Dan lembar akta cerai pun telah jadi. Bimo maju untuk mengambilnya dan menyalami hakim. Dia juga menghampiri mantan mertua dan menyalaminya tanpa berkata apa pun.
Diakuinya hatinya terasa perih membawa lembar akta cerai di tangannya, tapi dia berusaha sedemikian rupa untuk tegar dan ikhlas. Kecewa, sedih, marah melebur menjadi satu. Dia terus melangkah keluar dari pengadilan menuju ke seorang wanita yang melambaikan tangan ke arahnya. Wanita itu tersenyum dan menggandeng tangannya.
" Aku akan mengajakmu ke suatu tempat yang bisa membuat suasana hatimu membaik, " ajaknya.
Heni masih terpaku ditempatnya, sementara Tama setia menunggunya untuk mengeluarkan rasa yang masih tersimpan untuk Bimo. Kedua matanya berkaca-kaca, kesedihannya menguar kembali atas ucapan tuan Alwan bahwa mereka resmi bercerai. Akta pun juga sudah dibawa oleh pria itu. Heni membuka dan membaca lembar yang telah meresmikannya menjadi seorang janda. Janji sucinya sehidup semati dihadapan penghulu dan para saksi telah runtuh. Ruang hatinya sedikit terkoyak. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan membelakangi Tama yang masih menemaninya dititik terendah dalam hidupnya saat ini. Dia menangis sesenggukan.
" Sudahlah, mungkin ini jalan terbaik untuk kalian berdua, " ujar tuan Alwan menghibur. Pria itu merasa malu karena Tama masih berada dalam satu ruangan dan mengetahui sedikit permasalahan mereka.
Aku telah bercerai?
Tama mengusap punggung kekasihnya berusaha menenangkannya. Dokter itu menampakkan rasa prihatinnya tapi didalam hatinya begitu gembira luar biasa. Perjuangannya mempertahankan rasa itu sampai detik ini berbuah hasil. Selangkah lagi dia akan mendapatkan Heni seutuhnya.
" Mari kita beberes, bukankah siang ini kau boleh pulang? " tanyanya mengingatkan. Heni mengusap kasar pipinya yang basah. Tama duduk dan terus mengawasinya. Wajahnya sangat rupawan karena energi bahagia yang terpancar dalam sanubarinya. Dia ikut membersihkan meja di ruangan yang sebentar lagi akan ditinggalkan oleh penghuninya.
Setelah tuan Alwan menyelesaikan administrasi mereka pun meninggalkan rumah sakit itu. Heni duduk dijok belakang dengan Tama. Lelaki itu sangat bahagia, tak hentinya dia memperhatikan Heni disampingnya. Andai bukan bersama dengan orang tuanya, pasti dia sudah memeluknya erat.
Didepan rumah mobil berhenti, Tama ikut turun. Tapi tidak untuk tuan Alwan dan sopirnya langsung putar balik menuju ke tempat pekerjaannya. Nyonya Alwan menyambutnya dengan menggendong seorang bayi diteras. Heni merasa jengah karena ada Tama, dia takut lelaki itu tahu siapa bayi itu yang sebenarnya. Tama menghampiri sosok cantik mungil itu, dan melemparkan senyum.
Heni menatap bayi mungilnya sekilas karena dia ingin mandi membersihkan sisa aroma rumah sakit yang masih menempel ditubuhnya terlebih dahulu. Sementara Tama hanya mencuci wajah, tangan dan kakinya dikeran yang ada dihalaman. Lelaki itu meraih bayi mungil itu digendongannya. Nyonya Alwan menyerahkannya lalu mengejar sang anak ke kamarnya.
" Kenapa dia ikut kemari? " tanyanya.
__ADS_1
" Biarlah ma, mungkin sebentar lagi juga pulang, " jawab Heni.
Setelah merapikan penampilannya dia menghampiri sang bayi yang tertidur didekapan Tama. Bayi itu sangat nyaman dan terlelap.
" Tidurkan dia di stroller, " pintanya dan membawakan stroller didekat Tama. Tama diam, dia masih menggendongnya.
" Namanya siapa? dia sangat cantik, " ujarnya dan tersenyum lagi.
" Tania Revania, " jawab Heni datar.
" Panggil aku daddy ya sayang, " ujar Tama.
" Tapi Tam....." ucapannya tertahan karena Tama sudah menyelanya.
" Heni, kumohon berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu dan anak Bimo. Aku masih mencintaimu, " ujarnya.
" Aku tak peduli bayi ini milikmu dengan Bimo, aku ingin membahagiakanmu. Bukankah saat kita bersama dulu kau juga milik orang? Beri aku kesempatan, " ujarnya.
" Bisakah jangan bahas ini dulu? biarkan aku berpikir. Aku juga dalam masa iddah Tam, " ujarnya.
Alangkah kejamnya dia menduakan sang suami dulu dan berakhir seperti ini.
Tiba-tiba bayi itu menggeliat dan menangis. Heni segera meraihnya dalam dekapannya bermaksud memberinya susu formula. Begitu mulut bayi itu tersentuh dot, tangisannya reda dan mengisap susu itu.
" Kau memberinya susu formula? " tanyanya menyelidik.
" Iya, asiku tidak lancar, " kilahnya agar tama tak terlalu banyak bertanya tentang bayinya.
__ADS_1
" Sudah sore pulanglah, " pinta heni mengusir Tama. Tama melihat jam dipergelangan tangannya. Memang waktunya dia harus pulang, tapi Heni dan bayinya seperti magnet tersendiri untuknya. Meneliti Heni yang menjanda dan bayinya yang tanpa figur seorang ayah membuatnya sedih.
Tama menjejeri Heni yang masih memberi Tania susu formula. Tangannya memegang erat jemari Heni yang memegang Tania. Tangan satunya memegang tengkuk heni mendekatkan kepadanya, sebuah kecupan mendarat dikeningnya.
" Aku mencintaimu Heni, " lirihnya lalu bangkit. Saat dia hampir mencapai pintu, dia menoleh.
" Pamitkan aku kepada mamamu atas kepulanganku, " ujarnya lalu melenggang keluar rumah diiringi tatapan Heni.
" Jelaskan kepada mama, siapa dia yang sebenarnya Heni? " tanya nyonya Alwan yang langsung mengagetkan Heni. Rupanya wanita itu mencuri dengar pembicaraan mereka dibalik tirai penghalang antara ruang tamu dengan ruang keluarga.
" Cuma teman ma, " jawab heni sekenanya. Sungguh dia masih ingin belum mau menceritakan yang sebenarnya.
" Apakah dia ayah kandung Tania? benar begitu? " cecarnya kesal.
" Sebenarnya iya ma, " jawab heni. Nyonya Alwan mengelus dada.
" Harusnya kau katakan sejujurnya kepadanya. Bukan malah menutupinya, biarkan dia bertanggung jawab atas perbuatannya, " ujarnya kesal dengan sikap sang anak yang tidak tegas sama sekali.
" Ma, berikan aku waktu. Aku masih ingin menata hidupku yang porak poranda, tolong. Aku masih bingung menghadapi semuanya ma, " ujarnya. Sementara sang bayi terlelap kembali dalam stroller.
" Terserah kau saja. Aku bingung dengan jalan pikiranmu, " ujarnya masih dengan kesal lalu mendorong stroller masuk ke dalam.
Sebenarnya nyonya Alwan membenci Bimo yang tak bisa memberikan kebahagiaan untuk anaknya, tapi dia juga menyayangkan perceraian atas pernikahan sang anak yang hampir memasuki tahun keempat. Apa mau dikata memang Henilah penyebab perceraian itu. Dan nasib sang bayi ke depan yang belum jelas ayah kandungnya membuatnya pening karena pertanyaan para rekannya sesama arisan yang terus mengusiknya kala berkumpul. Seolah-olah menyindirnya dengan gelar bayi har**. Kadang dia harus absen saat acara itu diadakan, dia tersinggung sang cucu cantiknya diberi gelar itu.
Tama pulang dengan taksi online. Kegembiraannya membuncah sampai ke ubun-ubun. Dia terus sumringah saat melakukan apa pun dirumahnya. Membuat sang ibunya nan agung keheranan.
" Apa yang membuatmu bahagia? kau menang main game? " tanyanya. Madam Roxanne menebaknya seperti itu karena sang anak selain dari rumah sakit hanya menghabiskan waktunya berjam-jam dengan bermain game online. Untuk urusan kekasih dia tak mau ikut campur lagi.
__ADS_1
" Mami akan tahu saat waktunya tiba, " ujarnya dengan senyum yang masih tercetak diwajahnya. Ketika diperhatikan Tama memang kelihatan lebih tua dari umurnya. Dia sudah lama menantikan memiliki seorang bayi dengan heni. Hanya Heni itu saja dibenaknya dan semesta berpihak kepadanya mendekatkan kembali dirinya dengan wanita itu.