Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Kehadiran baby T


__ADS_3

Taksi yang membawa Heni dan sang ibu sampai di rumah sakit terdekat. Perawat segera membawa dua brankar untuk mereka. Orang-orang yang mengantar menunggu sampai ibu Heni tersadar. Sementara Heni langsung diberikan penanganan di ruang unit gawat darurat.


" Bagaimana ini? " tanya pria berbaju kotak kepada salah seorang temannya yang ikut mengantar.


" Jangan-jangan ibu ini nipu kita nanti, " tambahnya memprovokasi yang lain.


" Sabar, ditunggu saja dulu. Seandainya ibu ini tidak memberi kita imbalan, sudahlah ikhlaskan saja, " timpal yang lainnya. Seseorang menengahi dengan memintanya untuk duduk menunggu.


" Sesama makhluk ciptaan Tuhan kita harus saling tolong menolong. Kau tidak kasihan anak perempuannya tadi? sudah hamil ditabrak orang lagi. Coba bayangkan jika itu istri atau saudara perempuanmu. Gimana perasaanmu? " tanya temannya dengan menatap ponsel.


Pria yang mengharapkan imbalan nyonya Alwan terdiam. Lantas dia duduk mencoba tenang. Memang benar apa yang dikatakan temannya tadi. Apa jadinya jika orang yang tertabrak berhubungan darah dengannya? pasti materi urusan belakang, nyawa terpenting.


Beberapa menit kemudian,nyonya Alwan tersadar setelah mendapat penanganan. Dia bangkit mencari orang-orang yang membantunya dan sang anak. Langkahnya terhenti saat melihat beberapa pria duduk diruang tunggu. Dia mengingat salah satu diantaranya sebelum tak sadarkan diri. Dihampirinya dengan tersenyum meski wajahnya masih menampakkan kekhawatiran yang hebat. Tangannya mengambil beberapa lembar kertas berwarna merah dari dompet besarnya. Lalu mengangsurkannya kepada pria tadi.


" Terima kasih atas bantuan kalian. Entah apa jadinya? " gumamnya sendu. Seorang pria menerima dan mengucapkan banyak terima kasih. Kemudian mereka pamit undur diri setelah memastikan nyonya Alwan baik-baik saja.


Selepas kepergian mereka, nyonya Alwan segera menghubungi suaminya mengabarkan bahwa anaknya tertabrak dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit. Seketika tubuhnya menegang saat dokter menyarankan operasi untuk mengeluarkan bayi dalam kandungan Heni, karena telah kehabisan cairan ketuban. Nyonya Alwan menguatkan hati saat melihat brankar yang membawa putrinya menuju ke ruang operasi. Dia memanjatkan doa agar operasi berjalan lancar.


Sementara ditempat lain, mobil hitam yang telah menabrak Heni berhenti di tempat yang sepi. Si pengemudi tersenyum puas. Akhirnya dia berhasil mencelakainya. Dendam yang dia simpan setelah Heni menolak menggugurkan kandungan terbalas sudah. Jauh hari dia memang ingin berniat jahat kepadanya. Saat yang dinantikan pun tiba. Rupanya semesta berpihak kepadanya saat tengah berjalan-jalan dipertokoan bersama calon menantunya, netranya melihat Heni. Lalu tanpa berkompromi dengan nuraninya, dia ingin menabrak Heni. Berharap wanita pujaan anaknya itu tak selamat, sedangkan penumpang cantik disebelahnya menangis terisak.

__ADS_1


" Kenapa kau menangis Mona? " tanyanya kesal. Penumpang cantik yang menjadi saksi kejahatan tabrak lari tadi adalah Mona Zafalina, tunangan Tama. Dia menatap si pengemudi yang tidak lain adalah madam Roxanne dengan nanar. Wanita berhati iblis, gumamnya.


" Madam, kau wanita kejam, " ujarnya dengan tergugu. Dia merasa kasihan terhadap bayi yang dikandung Heni. Sangat malang nasibmu, semoga kau dan ibumu selamat, pikirnya.


" Kau mengasihaninya? harusnya kau bahagia. Tidak ada yang akan merebut Tama darimu, kau akan menjadi satu-satunya wanita yang akan menjadi nyonya Tama jika Heni mati, " terangnya berapi-api.


" Oh Tuhan, jaga ucapanmu madam. Dia akan selamat, aku yakin, " ujar Mona dengan berlinang airmata.


Madam Roxanne menatap Mona dengan tidak percaya. Sungguh bagaimana pemikiran gadis ini? dia mengasihani rivalnya? sulit dimengerti. Dia menatap Mona lekat-lekat. Dia menghembuskan napas perlahan, mengendalikan emosinya.


" Aku bahagia kau menjadi istri anakku. Aku ingin pernikahan ini dipercepat. Tapi ingat, diam dan jangan katakan ini kepada siapa pun. Kalau sampai kau buka mulut, kau akan tahu akibatnya, " ancamnya.


Mona bergidik ngeri, dia mengusap kasar airmatanya lalu keluar dari mobil. Hati nuraninya menolak kebersamaan dengan wanita kejam disampingnya. Lebih baik dia berjalan kaki daripada semobil dengannya.


" Bukan urusanmu, !! " jawabnya dengan kasar.


Gadis itu sangat marah atas perbuatan calon mertuanya. Dia memang sangat mencintai Tama, dan dia tahu jika lelaki itu belum bisa melupakan Heni. Dia juga tahu jika Tama belum menyadari tentang kehamilan Heni. Jauh hari dia berniat akan mundur dan mengikhlaskannya suatu saat. Pria itu tidak pernah menatapnya dengan penuh cinta, itu yang dirasakan selama didekatnya. Dia membenci Heni tapi bukan dengan cara seperti ini, terlalu keji. Juga merebut pria lain bukan etikanya. Dia ingin dicintai dengan tulus bukan paksaan.


Gadis itu terus melangkah meninggalkan madam Roxanne. Dia menyesalkan tindakan tak berperasaan sang mertua. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, dia sangat mengagumi sosok wanita blasteran keturunan bangsawan itu. Wanita itu selalu terlihat sangat elegan dihadapan semua orang, namun baru kali ini melihat sisi buruknya, membuat hatinya kecewa. Dia menendang-nendang kerikil yang dijumpainya. Melepaskan stres yang mendera akibat ketidaknyamanan hatinya menjadi saksi hidup perbuatan kejam tadi.

__ADS_1


Seandainya aku tidak menuruti ajakan madam, pasti Heni baik-baik saja. Oh Tuhan ampunilah aku. Tunjukkan jalanmu, apa yang harus aku lakukan??? doa nya.


..........


Operasi telah usai, bayi itu telah berhasil dilahirkan dengan jalan caesar. Dia sangat cantik dengan bobotnya dibawah tiga kilo dengan kulitnya yang pucat karena memang prematur. Dokter dan perawat membawanya ke ruang perawatan bayi guna mendapatkan perawatan lanjutan. Tuan Alwan mengikuti mereka untuk mengadzankan cucu perempuannya itu. Dia menatap haru sang cucu dari belakang para perawat yang membawanya. Hatinya sangat bahagia akan kehadiran bayi mungil itu meski sisi lain hatinya juga sedih melihat anaknya masih lemah.


Nyonya Alwan meneteskan airmata menatap Heni yang belum sadarkan diri. Dia kehilangan banyak darah. Dilengannya masih terpasang transfusi. Diusapnya puncak kepala sang anak, sementara airmatanya terus berlinang.


" Kau akan selamat dan baik-baik saja. Kuatlah untuk anakmu, " pintanya.


Setelah mengucapkan kata itu, dia bangkit menangis disudut ruangan. Hatinya sangat perih melihat anaknya masih terbaring lemah. Dia berandai seharusnya yang tertabrak adalah dirinya bukan sang anak. Dia menyesalkan kejadian naas yang menimpa didepan pertokoan tadi siang.


Tidak mau terus-terusan menyesali nasib anaknya, nyonya Alwan mengusap airmatanya. Dia menatap jauh ke depan memikirkan nama yang indah untuk cucunya. Apa nama yang bagus dan indah untuknya? aku tunggu Heni sadar dulu. Aku akan mendiskusikannya, pikirnya. Dari arah pintu masuk suaminya,


" Bagaimana cucu kita? " tanya nyonya Alwan.


" Dia sehat, dia sangat cantik, " jawab tuan Alwan. Dia tidak menerangkan jika bayi mungil itu masih harus dibantu dengan beberapa alat untuk membantu organ dalamnya yang belum sempurna.


Mata nyonya Alwan berbinar, dia pergi untuk bergantian melihat cucunya. Sungguh dia sangat berbahagia. Kehadirannya yang begitu lama dinantikan dan kelahirannya yang begitu menyayat hati. Bisa menjadi sebuah cerita kelak ketika dewasa. Kakinya trrus melangkah menuju ke ruangan bayi. Alangkah terkejut wanita itu saat melihat badannya sangat kecil dan berada di inkubator.

__ADS_1


Semoga kau sehat nak.


Karena tidak tega melihat terlalu lama, dia pergi menuju ke ruangan Heni. Tuan Alwan sudah pergi kembali ke kantornya. Dia berpesan jika Heni sudah sadar harus memberinya kabar secepat mungkin.


__ADS_2