
Heni sudah boleh pulang, dia senang bisa bercengkrama lagi bersama Putri kecilnya. Saat sedang menunggu dan memperhatikan tingkah sang anak, Tama pulang dan memeluknya dari belakang bahkan juga mencium puncak kepala istrinya.
" Kau sudah pulang, mandilah dulu. Dan kita temani Tania, " ujarnya. Tama manut dan segera melakukan apa yang diminta oleh sang istri.
Tidak lama kemudian dia menyusul istri dan menemaninya. Heni tersenyum, dia juga menepukkan kedua tangannya dengan menyanyikan lagu untuk Tania. Tama nampak merenung, dia masih mengingat calon buah hatinya yang telah tiada. Hatinya masih sesak dan belum bisa mengikhlaskannya. Heni yang melihat perubahan wajah suaminya mengelus punggungnya.
" Sudahlah sayang, ikhlaskan. Lebih baik kita besarkan Tania dulu, " ujar Heni menenangkan.
Tama berusaha tersenyum, dan ikut merangkak dibelakang Tania. Bayi itu tertawa karena tingkah sang daddy. Bayi itu sangat bahagia melihat kebersamaan kedua orang tuanya meski belum bisa mengucap kata. Momen yang jarang dia dapatkan, mengingat kedua orang tuanya sama-sama sibuk.
Setelah dirawat dirumah sakit karena keguguran, Heni masih membatasi geraknya. Dia masih absen ikut sang ayah ke kantor. Hal yang sebenarnya ingin dilakukannya setelah diperbolehkan pulang. Karena dia bisa menghilangkan kerumitan pikirannya dengan kesibukan.
Tama meraih sang bayi dalam dekapannya. Dia sangat menyayangi bayi itu juga Heni. Situasi dirumah sakit yang membuatnya sakit kepala musnah saat bersama kedua perempuan itu.
" Aku dapat undangan dari papi, kita diminta datang hari sabtu. Kedua orang tuaku mengadakan happy universary ke dua puluh lima tahun, " terang Tama.
" Oh ya? " tanya Heni tidak bersemangat. Baginya acara apa pun di keluarga suaminya tak menarik hatinya karena pasti saat bertemu dengan Madam Roxanne yang ada malah ingin menutupi wajah wanita itu dengan kotak saja. Karena wajah wanita itu mirip penyihir, menurutnya. Jauh beda dengan ibunya yang selalu menampilkan wajah teduh bak malaikat.
" Papi juga mengundang kedua orang tuamu, " ujar Tama serta memberikan kartu undangan untuk Heni. Heni mengeryit, pasti acaranya besar dan meriah. Bagaimana jika nanti kehadirannya mengundang banyak perhatian dan tanya oleh para tamu mertuanya? Karena mereka belum sempat mengadakan resepsi pernikahan akibat kesibukan Tama dan madam Roxanne yang cenderung menutupinya dari khalayak umum. Heni ragu untuk menghadiri acara itu.
Tama yang mengerti keraguannya mengusap puncak kepala istrinya.
" Tenanglah ada aku disampingmu, meski sebagian dari mereka juga ingin berkenalan denganmu, " ujarnya. Heni terkejut, dia merasa belum siap go publik.
Heni takut dan merasa kecil hati atas penolakan dari madam Roxanne bisa menular kepada yang lainnya. Apalagi jika sampai mengetahui statusnya yang dulu menjalin hubungan dengan Tama saat masih jadi istri orang. Walau kemungkinannya kecil jika mereka akan dengan berani menanyakan hal itu secara langsung kepadanya.
Heni menatap suaminya meminta kepastian sekali lagi. Tama mengangguk dan menggenggam erat jemarinya.
Sementara dilain tempat, Mona baru tiba, dan langsung masuk menuju ke kamar madam Roxanne. Saat di luar pintu, dia mendengar wanita itu berkeluh kesah.
" Dia mengadu tidak kepada Tama ya? Apa yang harus aku lakukan jika Tama mencurigaiku? " tanyanya. Mona mendengar cukup jelas. Karena tak mau mengambil kesimpulan sendiri, dia mengetuk pintu. Terdengar langkah kaki mendekat dan terbukalah pintu itu. Wanita itu menyambutnya dengan pelukan.
__ADS_1
" Mari madam, bukankah hari ini kita keluar untuk bermain golf berdua? " ingatnya. Madam Roxanne segera mengambil tasnya dan menggamit lengan gadis cantik itu untuk turun.
Setelah memasang sabuk pengaman masing-masing, madam Roxanne segera menginjak pedal. Mobil pun meluncur ke jalan raya mengantar sang empunya ke tujuan.
.................
Kedua orang tua Tama mengadakan pesta pernikahan perak mereka di sebuah hotel berbintang. Ruangan itu sudah disulap sedemikian apik oleh event organizer ternama. Mereka menyambut kedatangan para tamu undangan dengan ramah yang kebanyakan berasal dari rekan bisnis tuan Hendri.
" Hai Rosi, selamat ya. Aku turut bahagia pernikahan kalian sudah masuk tahun kedua puluh lima. Semoga langgeng dan kebahagiaan selalu dilimpahkan untuk kalian, " ujar seorang pasangan rekan mereka.
" Terima kasih, " ujar madam Roxanne.
Tuan Hendri meminta pasangan itu untuk menikmati hidangan yang telah tersedia di meja berderet yang tersusun rapi di sebelah kanan ruangan. Mereka mengiyakan dan menuju ke tempat itu.
Heni masuk dengan ragu, keringat juga membasahi pelipisnya. Sementara Tama begitu percaya diri dan sangat antusias. Dia penuh suka cita karena akan bertemu dengan Dean di acara ini. Karena sang kakak mengajaknya bertemu melepas rindu.
Kekhawatiran Heni terbukti, beberapa wanita berbisik dan menunjuk ke arahnya. Diantara mereka juga menekuk wajah karena tidak suka dengan kehadirannya. Tama mengetahui tingkah mereka, dia mengeratkan tangannya dipinggang istrinya. Lelaki itu menunjukkan betapa berharganya Heni dihidupnya. Sesekali dia juga mendaratkan ciuman di kening sang istri. Heni malu sekaligus takjub kepada suaminya yang berusaha membesarkan hatinya dengan caranya.
Tama menoleh dan tersenyum kepada wanita yang memanggilnya. Wanita itu memakai gaun brokat hijau dipadu padankan rok hitam selutut. Rambutnya digelung dengan hiasan bunga.
" Kenalin dong istrinya? tidak tahunya kau sudah menikah tanpa mengundangku. Selamat ya, meski telat, " ujarnya.
Wanita itu mengulurkan tangan kepada Heni yang segera disambut olehnya.
" Heni, " ucapnya.
" Aku Silvana Diane, panggil aku tante Silvi, " ujarnya ramah. Heni mengangguk dan tersenyum, dia berusaha ramah kepada semua orang yang tidak dikenalnya.
Setelah kepergian wanita itu, beberapa yang lain mendekati mereka untuk memuaskan rasa keingintahuan mereka terhadap menantu keluarga Hendri yang belum mereka ketahui.
Dilain ruangan, madam Roxanne membawa segelas minuman dan tengah berbicara dengan seorang pria paruh baya. Yang membuatnya senang, ternyata dia adalah mantan kekasihnya saat masih kuliah dulu. Mereka saling bercerita tentang masa pacaran yang sering diwarnai pertengkaran dan memutuskan untuk berpisah. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu karena sudah bahagia dengan kehidupan masing-masing, hingga pesta ini jadi saksi pertemuan mereka kembali walau hanya sekedar bernostalgia.
__ADS_1
" Berapa anakmu? pasti sudah jadi orang hebat semua? " tanya lelaki itu.
" Dua, lelaki semua. Ya begitulah. Merawat dan membesarkan lelaki tidaklah mudah. Mereka sudah menjadi orang, " jawab madam Roxanne sembari tersipu. Dekat dengannya menguarkan rasa yang beraneka, senang, gugup, cemas dan lainnya.
" Kamu? " tanyanya.
" Dua perempuan tapi yang satu telah menghadap sang Pencipta terlebih dulu karena sakit. Adiknya menikah dengan anak Hendri Prasetya, " terangnya.
Madam Roxanne terkejut bukan kepalang. Ternyata anak mantan kekasihnya itu adalah menantunya yang sangat dibencinya? Raut wajahnya berubah cemas. Dia takut jika suatu saat Heni akan mengadukannya. Meski kemungkinan sangat kecil. Pria paruh baya yang tidak lain dan bukan itu adalah Alwan Salam memegang lengannya guna menenangkan perubahan wajah mantan kekasih itu.
" Kau tidak apa-apa? " tanyanya memastikan kondisinya.
Alangkah bodohnya, dia tidak tahu siapa papa dari Heni. Dia menyesalkan tindakannya tidak turut saat lamaran dan ijab dulu. Tahu dari awal pasti dia menolak dengan keras pernikahan mereka. Yang dia tahu hanya namanya saja yakni Alwan Salam bukan iwan, panggilannya dulu.
Tidak lama kemudian, tuan Hendri datang menghampiri istrinya yang masih berbicara dengan tuan Alwan. Pria itu mengeryit, istrinya seperti sedang cemas, karena nampak dari kebiasaannya menggigit kuku jari.
" Ada apa sayang, " tanyanya dan memeluk mesra madam Roxanne.
Tuan Alwan tak kalah terkejutnya melihat pemandangan antara suami istri tersebut.
" Jadi kalian suami istri? " tanyanya ragu. Meski bukan dalih cemburu hanya tidak mengira jika mantan kekasihnya itu kini menjadi besan wanitanya. Madam Roxanne hanya tersenyum dengan mengerjap-ngerjapkan mata agar dia tidak membuka mulut kepada suaminya mengenai hubungan mereka dulu. Pria paruh baya itu mengerti dan hanya diam.
" Iya dia istriku, maaf dia selalu saja sibuk hingga tidak bisa datang saat putranya mengucap janji suci dengan Heni, " terangnya.
Tuan Alwan mengangguk dan tersenyum lebar hingga terlihat barisan giginya. Berusaha memaklumi meski bukan itu alasan yang sebenarnya.
Sejurus kemudian, istri tuan Alwan datang, mengucap selamat kepada besannya dan membawa suaminya pergi ke sisi lain ruangan. Entah hatinya merasa cemburu melihat suaminya dekat dengan besan wanitanya. Karena dia juga sempat melihat rona lain diwajah keriput pria yang sangat dicintainya itu.
" Apa dia temanmu dulu? " tanyanya curiga. Wanita itu menatap netra suaminya melihat kejujuran disorotnya. Dan dengan biasa dia mengalihkan netranya dengan melihat ke lain arah. Jika sampai mengetahuinya pasti akan terjadi perang besar dirumah, betapa istrinya itu mempunyai sifat cemburu yang besar.
Tiba saat potong kue, kedua pasangan yang berulang tahun itu maju mendekati kue bertingkat dengan angka dua puluh lima. Mereka meniup bersama dan disambut tepuk tangan oleh para tamu undangan. Madam Roxanne memotong kue, diletakkannya diwadah yang tersedia dan menyuapkannya ke mulut sang suami. Yang lain pun bertepuk tangan lagi dan ikut menyanyi dengan para legendaris ternama yang diundang untuk mengisi acara tersebut.
__ADS_1