Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
sebuah kotak


__ADS_3

Heni cepat-cepat menyelesaikan makan. Dia merasa tak nyaman dengan sang pemilik yang tak lain adalah mantan suaminya. Bertemu dengan Bimo bukan kekhawatirannya tapi cenderung kepada sang istri, Rahma. Meski dari luar nampak biasa dan humble, tapi dalam hati siapa tahu?


Bimo menghampirinya bersama seorang karyawannya dan memintanya untuk membungkus sisa makanan Heni, karena memang terlalu banyak. Bahkan ada yang masih utuh. Dia duduk didepan Heni dengan menatap ke layar ponsel, sesekali jemarinya lincah bergerak. Rahma masih sibuk menggendong bayi. Tak mau membuang waktu, Heni berniat meminjam ponsel Bimo.


" Maaf, boleh aku pinjam ponselmu? aku akan memesan taksi online, " pintanya. Bimo segera merogoh benda pipih itu dari saku celananya dan memberikannya kepada Heni. Heni segera melakukan apa tujuannya. Setelah selesai dia juga melambai kepada Rahma untuk memberikan Tania. Dia akan pulang karena senja sebentar lagi menyambut.


Saat hendak berdiri, Bimo menahan kepergiannya dan memintanya untuk menunggu. Rahma duduk menemaninya.


" Kau sudah menikah lagi? " selidik Rahma. Heni mengangguk agar wanita itu tak berusaha menyelidikinya. Dia seperti sedang cemburu dan itu dapat dirasakan oleh Heni.


Beberapa menit kemudian Bimo datang dengan membawa sebuah kotak agak besar berhias tali merah muda. Heni segera menerima dan membukanya. Alangkah terkejut dan senang hatinya, benda itu berisi ponsel dan tasnya yang disimpan oleh Bimo. Heni menatap Bimo ragu dan gusar. Dia teringat malam yang hampir membuatnya gila itu.


" Sebenarnya mau aku kirimkan ke alamat rumahmu. Tapi terlupa terus, dan aku tiba-tiba saja ingat. Ini milikmu. Tenang saja aku tak mengambilnya sepeser pun. Maafkan kekhilafan ku saat itu. Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri, " ujarnya. Heni tercekat mendengar permintaan maaf dari mantan suaminya. Dia juga berterima kasih Heni tak mengadukan perbuatannya kepada pihak berwajib. Heni tersenyum samar.


" Oh ya rumahku disebelah restoran ini. Kau bisa mampir lain waktu. Ajak juga keluarga barumu, " ujarnya datar. Heni mengangguk, dan bangkit. Dia kesulitan membawa banyak barang. Mau tak mau Bimo pun membantu membawakan sampai di pinggir jalan sembari menunggu taksi datang. Rahma terus mengikuti suaminya dengan melakukan hal yang sama meski setengah hati.


Bimo menatap Tania, bayi yang menjadi penyebab kebenciannya kepada Heni. Tapi kebenciannya sudah sirna. Dia tersenyum melihatnya sangat lucu dan cantik dengan pipi yang tembem. Dengan gemetar disentuhnya pipi bayi Heni.


" Mirip dia, " ujar Bimo.


Heni memandang ke arah lain karena Rahma bergelendotan di lengan Bimo. Dia merasa risih meski hal itu wajar. Dia juga merasa tak nyaman. Seperti Rahma dengan terang-terangan tengah menyindirnya menyatakan bahwa Bimo adalah miliknya seorang. Keberadaan Heni tak bisa menggantikan posisinya. Wanita cantik itu tengah cemburu karena melihat Bimo memperlakukannya dengan sopan. Taksi datang dan berhenti didepan Heni. Heni masuk dan Bimo membantu memasukkan barang lainnya termasuk makanan menu spesial pemberiannya. Setelah memastikan semua masuk tanpa tertinggal, dia mengisyaratkan sopir untuk melaju.

__ADS_1


Bimo menggandeng istrinya untuk masuk ke restoran kembali. Rahma menghentikan langkahnya.


" Apa kau masih mempunyai rasa terhadapnya? " tanya Rahma dengan kesal. Bimo terbahak-bahak.


"Kau cemburu? " tanya Bimo dan mencubit hidung Rahma yang bangir. Dia terus melangkah ke restoran.


" Jawab Bimo, " cecar Rahma. Bimo pun berhenti dan berbalik. Dia menghampiri Rahma dan memegang kedua lengan istrinya.


" Dia hanya masa laluku. Saat ini aku sangat mencintai dan menyayangimu. Kau adalah napasku, jiwaku, dan hidupku. Kau masa kini dan masa depanku Rahma. Dia hanya sepenggal kenangan masa laluku yang tak perlu dibahas dan membuat keruh rumah tangga kita. Apa kau tak percaya padaku? " tanya Bimo dengan wajah serius. Rahma tersipu. Bimo terduduk dengan lutut jadi penopang dan menghadap ke arahnya. Dia buka pakaiannya menunjukkan dadanya terbuka. Tapi bentuknya bukan kotak-kotak melainkan bergelambir karena tertutup banyak lemak, perutnya juga seperti orang hamil. Rahma menatapnya setengah geli, dia mengulum senyum. Suaminya sangat lucu bertingkah untuk membuat amarahnya reda. Sungguh dia sangat mencintai Bimo dan takut lelaki ini berpindah ke lain hati.


" Belah dadaku, kau akan menemukan namamu disini, " ujarnya. Rahma tertawa dan menutup dada suaminya dengan segera. Mereka berbaikan lagi dan menganggap biasa kehadiran Heni yang diluar kendali.


Heni bernapas lega telah meninggalkan Bimo dan istrinya. Dia merasa tidak enak dan nyaman. Pasalnya Rahma terus menatapnya dengan tak suka. Meski samar tapi dia bisa membaca raut wajah itu. Bimo juga banyak berubah, mungkin karena pengaruh cinta yang besar dari istrinya. Heni merasa malu dengan tingkahnya dulu. Dan sikap Bimo yang ramah dan baik padanya meski dia pernah menyakitinya. Tapi memang pada dasarnya Bimo adalah orang baik jauh bertolak belakang dengan ibunya yang kasar. Meski dulu dia sempat berbuat kasar kepadanya, itu juga buah dari perbuatan Heni sendiri.


Karena benci mengingat itu semua, Heni kembali menutup dompet dan memasukkannya disalah satu kantong bawaannya yang bercampur dengan lainnya agar lebih ringkas.


..........


Hari kedatangan keluarga Tama telah tiba. Tuan Alwan menyambutnya dengan penuh suka cita. Dia terus menyunggingkan senyum lebar menatap beberapa tamu yang masih mempunyai ikatan darah dengan calon menantunya. Meski kecewa ibu Tama tak bisa turut serta bersilaturahmi. Mereka terlibat pembicaraan yang serius mengenai kelanjutan hubungan Tama dengan Heni.


" Jadi kapan tanggal baiknya untuk melaksanakan akad? dan dimana tempatnya? " tanya tuan Alwan langsung pada inti pembicaraan.

__ADS_1


Mereka lalu mulai mengusulkan beberapa tanggal, dan bertukar pendapat mengenai tempat akad berlangsung. Tama meminta agar dilaksanakan secepatnya dan mengundang tawa lainnya. Karena terlihat Tama seperti terburu-buru. Dan resepsi bisa dilakukan beberapa hari kemudian.


Kedua keluarga nampak lega saat sebuah tanggal baik telah ditentukan. Mereka lalu menyantap makan siang yang telah disiapkan oleh tuan Alwan. Tama mencari keberadaan Heni disetiap penjuru rumah, hingga menemukannya tengah duduk disamping rumah dengan Tania dan baby sitternya. Tama memeluk Heni dari belakang, sontak membuatnya terkejut dan risih. Karena baby sitter masih berada bersama mereka. Tama mengedipkan mata agar baby sitter itu pergi.


Selepas kepergiannya dengan menggendong Tania, Tama mendaratkan ciuman di kening kekasihnya. Dia duduk menghadap kepada Heni yang sibuk bermain ponsel. Tama mengernyit melihatnya.


" Bukankah itu ponselmu? tau dari awal ponselmu sudah ada, aku bisa menelponmu sesuka hati, " ujarnya.


" Oh, ya. Aku juga baru menemukannya setelah raib, " kilahnya tak mau memperpanjang gerutuan Tama. Dia menatap wajah kekasihnya.


" Bagaimana sih kau bisa ceroboh hingga ponselmu hilang? " tanyanya kesal. Dia tak suka Heni tak berusaha memberinya kabar tentang ponselnya yang sudah ketemu via pesan. Tak tahukah dirinya jika Tama seperti orang tak waras. Harus menahan mengirim pesan privasi jika menghubunginya melalui ponsel nyonya Alwan.


" Apa kau mau merusak suasana hatimu dengan terus menggerutu tentang ponselku? " tanya Heni balik. Heni lalu duduk diatas pangkuan Tama, hal yang tak pernah dia lakukan. Dan ekspresi Tama berubah seketika. Aroma parfum kekasihnya tercium menusuk hidungnya. Dia tergemap, dirinya mulai berperang, antara ingin memeluk tapi dirumah calon mertuanya.


" Apa yang mau kau lakukan? ini masih dirumahmu, turunlah nanti aku bisa dihajar sama papamu, " ujar Tama dan memindahkan Heni agar duduk di kursi dengan benar. Heni terkekeh. Tingkahnya berhasil membuat Tama tak marah lagi. Lelaki itu memang cerewet tapi romantis.


Menit kemudian suara panggilan dari dalam rumah membuat Tama bergegas masuk, Heni mengikutinya. Keluarga Tama hendak berpamitan akan pulang karena senja telah nampak. Papa Tama mendekati Heni dan menariknya ditempat yang agak sepi.


" Maaf istriku tidak bisa turut karena ada kesibukan mendadak, " terangnya. Heni tersenyum kecut. Dia tidak mengharapkan restu dari wanita itu. Tak datang pun juga tak masalah. Jika Tama tak bersikeras mau menikahinya, Heni juga tak mengharap lebih. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa drama.


" Tidak apa-apa om, saya maklum, " jawab Heni.

__ADS_1


Setelah berpamitan, mereka segera masuk ke mobil dan pulang.


" Apa kau yakin dengan Tama? " tanya tuan Alwan meyakinkan sang anak. Heni mengiyakan.


__ADS_2