Affair Dengan Seorang Dokter?

Affair Dengan Seorang Dokter?
Tama dilema


__ADS_3

Tama menghubungi nyonya Alwan memberitahukan musibah yang menimpa Heni melalui sambungan seluler. Sementara Bimo masih menatapnya tajam. Meski kini duduk dan diam tapi aura kemarahan masih terpancar jelas. Rahma juga diam disamping suaminya, dia masih was-was karena aura masih terasa mencekam. Ibu Ratih berusaha menasihati Tama agar bisa mengendalikan kesedihannya yang juga turut merasa kehilangan calon buah hatinya. Heni sudah tak meraung dan berteriak lagi, dia tertidur karena pengaruh obat bius.


Nyonya Alwan tiba, begitu melihat Tama, wanita itu menghampirinya. Rasa keheranan yang luar biasa menyergapnya saat dilihatnya Bimo juga mantan besannya juga berada ditempat yang sama.


" Bimo, mbak Ratih? kalian disini juga? " tanyanya.


" Mereka yang mengetahui dan menolong Heni, ma, " terang Tama. Ada getar dan sesak yang mendalam dibalik ucapannya. Wanita itu lalu ganti menghampiri Bimo, mantan menantunya yang kini bersama seorang wanita disampingnya. Dia mengambil kesimpulan jika wanita itu adalah istrinya.


" Ma, aku tidak sengaja menolongnya, " jawab Bimo saat nyonya Alwan mencecarnya. Wanita itu mengangguk, dia merasa tak enak hati dengan Tama. Lelaki itu terlihat murung dengan kesedihan yang mendalam tentunya. Dia tahu menantunya sangat mendambakan janin itu. Dan harus kehilangan dengan cepat dengan cara yang tak terduga.


" Sabar Tama, ini adalah ujian. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita semua, " lirih nyonya Alwan kepadanya. Tama mengangguk dan pamit ingin menemui ibunya. Nyonya Alwan meminta agar bersikap lembut. Tama mengangguk tapi tidak janji, dia juga marah karena ibunya bertindak kejam terhadap istrinya. Meski dia juga ragu akan pernyataan Bimo yang masih praduga karena tidak berada ditempat saat kejadian. Segera dia melaju dengan kencang menuju ke rumah kedua orang tuanya.


Tama menerobos para tamu arisan ibunya dengan kasar. Dia juga berteriak memanggil ibunya yang tentu saja mengundang perhatian para emak kaum sosialita itu. Madam Roxanne menundukkan wajah karena malu dengan sikap anaknya. Hingga anak keduanya kini sudah berdiri disampingnya dengan aura yang tak kalah menakutkan.


" Apa yang kau lakukan pada istriku, mi?? " tanyanya.


Beberapa tamu arisan ikut mendengar apa yang ditanyakan oleh Tama. Mereka saling berbisik membuat madam Roxanne disergap rasa malu yang tak terkira. Wanita itu segera menarik pergelangan tangan Tama dan pergi menjauh dari ruangan arisan. Diruang makan, madam Roxanne melepas pegangan tangannya. Sorot matanya juga tajam.


" Aku tidak berbuat apa pun kepadanya, " kilahnya. Dia menampakkan aura tenang meski secuil hatinya yang lain merasa panik. Dia takut jika ketahuan sudah menjatuhkan Heni.


" Kau menjatuhkan Heni dan sekarang dia keguguran, mi, " terang Tama dengan emosi yang meluap-luap. Madam Roxanne terkejut sekaligus senang mendengar berita itu. Walau dia tak bermaksud membunuh janin itu dari awal. Dia berubah menjadi sendu dalam sekejap mata, bahkan dia juga memeluk Tama dengan air mata palsunya.


" Aku tidak berbuat seperti itu, Tama. Dia jatuh sendiri saat aku ingin memeluknya. Aku turut sedih. Sekarang dimana dia? " tanyanya. Kini make up nya hampir luntur karena terkena air mata palsunya. Dia harus berakting semaksimal mungkin agar menarik simpati sang anak.

__ADS_1


Tama menarik napas panjang mendengar penuturan ibunya. Ternyata ibunya juga sedih, dia mulai ragu dengan tuduhan yang dialamatkan kepada ibunya. Dia membantah praduga Bimo. Dia meredam amarahnya hingga beberapa menit kemudian Emosinya pun reda dengan napas yang teratur lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk pulang menanyakan kejadian yang menimpa istrinya kepada kedua asistennya. Mereka pasti tahu penyebab istrinya jatuh.


Madam Roxanne menatap penuh suka cita kepada Tama yang pergi tanpa meluapkan emosinya lagi didepan teman-teman elitnya. Jika itu sampai terjadi, mau ditaruh dimana mukanya? Apalagi saat arisan seperti ini mereka saling membanggakan anak dan suaminya masing-masing. Menceritakan tentang karir, kekayaan sampai menantu yang berasal dari circle yang sama. Meski mereka juga tahu jika Tama menikah tanpa restu darinya. Hanya yang berpikiran sempit yang kadang masih menghujat Roxanne dengan menyindir tentunya.


" Kau apakan menantumu? apa kau memberinya etika? " tanya Dewi, sang pemilik butik. Madam Roxanne hanya tersenyum samar tanpa menjawab apa pun. Dia melengos dan pergi menghindari wanita itu yang berusaha mengulik sang menantu.


Sesampainya dirumah, Tama mendatangi bik Siti yang tengah ngemong Tania bersama Dina. Tama segera bertanya bagaimana Heni bisa sampai jatuh hingga mengalami keguguran.


" Maaf tuan, saya tidak tahu secara pasti. Nyonya berteriak dan sudah terjatuh. Kami menolongnya dengan segera, hingga ibu Ratih dan anaknya datang untuk membantu membawa nyonya ke rumah sakit, " terangnya dengan takut.


" Pagi sekali madam Roxanne datang, tapi tak mendapati nyonya hingga memutuskan untuk menunggunya diruang tamu, " terang Dina.


Dina juga menambahkan saat kedatangan wanita itu, dia sedang menggendong untuk menidurkan Tania. Sementara Heni keluar rumah karena ada keperluan. Karena melihat kejengkelan madam Roxanne, Dina menyarankan wanita itu agar menunggu karena sang majikan segera kembali. Lalu Dina masuk untuk membaringkan Tania di boks bayinya sembari melipat baju Tania didalam kamar. Tapi tiba-tiba dia mendengar Heni berteriak dan segera keluar. Dan Heni dalam posisi sudah terjatuh. Dia meminta maaf karena tidak tahu apa dan bagaimana Heni sampai mengalami insiden hingga janinnya luruh. Tama berdecak kesal, dia menyesal dan menyayangkan tidak memasang kamera pengawas diruangan itu. Jika alat itu ada pasti bisa menerangkan semua yang telah terjadi.


Hanya nyonya yang bisa menjelaskan yang sebenarnya, tuan.


Ucapan bik Siti kembali terngiang di telinganya. Tama menyugar rambutnya dengan frustasi. Dia dilema antara ingin pergi ke rumah sakit atau tidak. Karena ditempat itu juga ada Bimo yang membuatnya semakin tertekan. Pikiran buruk pun menghantuinya, dia takut jika Bimo akan merebut Heni kembali karena dia lalai. Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Apa pun yang terjadi dia tidak mau berpisah.


Didalam ruangan Heni sudah bisa tersenyum. Dia senang karena mantan mertuanya datang untuk meminta maaf padanya. Akhir yang bagus meski harus diawali dengan begitu banyak drama, Rahma juga ikut bergabung dengan wajah ramah. Bahkan istri Bimo itu juga mengusap punggung tangan Heni guna menenangkan hatinya. Nyonya Alwan ikut lega, sang anak sudah tidak bersedih lagi. Masih ada Tania yang harus diperhatikan.


Kedatangan Tama tentu membuat Bimo kesal tak terkira. Dia berusaha menahannya masuk untuk menemui Heni. Mereka terlibat perdebatan sengit hingga mengundang reaksi para pengunjung lainnya yang berlalu lalang.


" Pulang sana, Heni tidak butuh kau! " usirnya. Dia masih sangat sakit hati atas perlakuan ibu kandung Tama terhadap Heni. Juga tentu saja Tama dianggapnya suami yang lalai.

__ADS_1


" Kau siapanya berani-beraninya mengusirku? aku suaminya, kau hanya mantan. Ingat itu!! " ujarnya tidak kalah kesal. Rahma dan ibu Ratih berhambur keluar daruli ruangan Heni dan segera melerai mereka.


" Kau tidak berguna sebagai suami, ingusan, anak mami, " ejeknya.


" Ingat Kau tidak bisa membahagiakannya hingga dia lari ke pelukanku, " balas Tama. Bimo mengepalkan tangan dengan gigi yang gemelutakan. Sungguh dia ingin menghajar Tama habis-habisan.


" Sudahlah Bimo, kenapa kau bersikap seperti itu? dia suaminya, " ingat Rahma dengan lembut. Bimo masih tidak Terima, dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Tama. Alih-alih marah Tama hanya menatapnya sekilas dan segera masuk menemui Heni. Dipeluknya sang istri hingga membuatnya tersentak. Dadanya bergetar karena terguncang. Heni mengelus punggung suaminya agar jangan sampai menangis. Wanita itu sudah tidak berteriak lagi, dia sudah legowo. Dan pemandangan yang nampak menunjukkan hal berkebalikan. Justru Tama yang sangat terpukul hebat. Sementara Heni berusaha menyikapi dengan dewasa.


" Tama jangan seperti ini, aku baik saja, " tandasnya. Dia sudah berusaha ikhlas. Meski dia juga marah kepada madam Roxanne tapi sebisa mungkin tidak bersikap demikian kepada suaminya. Karena dia tahu jika Tama sangat mencintainya. Dia menyadari jika kejadian naas hingga janinnya gugur itu masih berupa awal dari drama yang akan dilakonkannya bersama sang mertua agungnya dimasa mendatang. Dia berniat ingin membalas dendam agar wanita itu jera.


" Kata mamiku kau terjatuh karena menolak dipeluk olehnya, " terang Tama. Heni mendelik mendengar penuturan suaminya. Dia menatap Tama dengan tersenyum kecut.


" Kau percaya? " tanya Heni.


" Entahlah aku bingung. Sekarang aku tanya padamu apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Tama meminta Heni mengungkapkan insiden yang sebenarnya.


" Aku terjatuh karena ulahnya, apa kau percaya denganku? " tanyanya balik. Tama malah semakin pusing saja. Dia ingin membenarkan ibunya yang sempat berurai air mata tapi dia juga percaya dengan istrinya. Dia benar-benar dilema.


Bimo masuk untuk pamit pulang. Dia juga menyarankan jika ada sesuatu yang penting dan Tama tidak ada, dia bisa meminta bantuannya. Rahma mengiyakan dengan cemberut membuat Heni sangat tidak enak. Bagaimana tidak, minta tolong kepada suami orang? bukankah itu ide buruk?


" Nomorku tidak ganti kok Heni, oke! " ujarnya sekali lagi. Heni tersenyum dan mengangguk. Rahma bahkan memeluknya sebelum keluar dari ruangan Heni. Melihat kedua mantan suami istri itu masih akrab, Tama mengepalkan tangan ke udara karena kesal. Mantan suami Heni membuatnya benar-benar muak.


" Kau cemburu? kau sungguh lucu, " ujar Heni tertawa melihat Tama. Bahunya berguncang dengan air mata yang hampir menetes. Sungguh menikah dengan Tama membuat hidupnya lebih berwarna. Selain sikapnya yang childish juga lelaki itu sangat lucu dengan segala tingkah polahnya. Heni memegang jemari Tama berharap esok dia sudah boleh pulang. Dia akan kembali ikut papanya ke kantor, berusaha tabah dan kembali menjalani harinya bersama suami dan Tania. Jangan berlarut dalam kesedihan. Bukankah matahari masih bersinar terang? masih ada harapan.

__ADS_1


__ADS_2