
Keesokan harinya Heni bangun pukul setengah delapan, dia kesiangan efek Tania yang ngajak begadang dari tengah malam sampai dini hari. Bayi itu mengajak ditemani olehnya. Sementara Tama hanya menemaninya sebentar dan terlelap lagi. Karena dirumah sakit ada acara penting dan mengharuskannya berangkat awal.
Heni bangkit untuk mandi secepatnya karena khawatir bayinya bangun dan menangis. Juga tidak ada yang menjaga saat dia lama di kamar mandi. Dia secepat kilat berganti pakaian dan mendatanginya lagi guna memastikan bayi itu masih terlelap atau malah sudah bangun dan tengkurap?
Rupanya dia masih tidur.
Heni menuju ke dapur mencari sarapan. Dapur minimalis itu sangat bersih. Semua barang tertata dengan rapi, wadah aneka bumbu seperti lada, ketumbar, garam, gula berada di toples kecil berderet dengan tempatnya yang terbuat dari anyaman. Panci, wajan dan lainnya berada didalam laci tertutup. Piring, gelas dan botol juga tertata apik. Diatas kompor agak ke atas sedikit ada tulisan penyemangat, mungkin agar lebih membara jiwanya saat memasak. Maklum jiwa millenialis sang kekasih hati. Bersih dan teratur. Bahkan debu sekalipun ogah menempel. Dapurnya juga harum karena ada pengharum berbentuk persegi panjang dan bulat bagian atasnya di sudut ruangan. Dia jadi berpikir Tama sosok perfeksionis dalam hal kebersihan beda dengannya yang agak malas. Semua dibiarkan berantakan sampai sang mama berkoar baru dirapikan.
Mungkin bangun tidur Tama segera membersihkan semua ruangan, pikir Heni takjub.
Ada roti dan soft drink. Dia membuka lemari pendingin melihat apa saja bahan yang di benda itu. Dan anehnya semua bahan ada, seperti sengaja sudah disiapkan oleh Tama. Timbul keinginannya untuk masak, meski masakan rumahan. Dia ambil beberapa bahan dan mulai mengiris.Menit kemudian Tania menangis, suaranya menggema seantero ruangan. Heni tergopoh-gopoh menghampirinya diranjang. Cepat di gendongnya bayi itu. Bayi itu langsung diam saat merasakan belaian emaknya. Tanpa pikir panjang Heni menggendong dan mulai mengiris lagi bahan melanjutkan untuk memasak lagi. Beras yang sudah dibersihkan dimasukkan ke alat penanak nasi listrik paling ujung.
Semua bahan sudah diiris dan dicuci, lalu menyiapkan wajan di atas kompor dan diberinya minyak sedikit. Dia masak jamur ayam saos tiram pedas dan sayur sop. Tania hanya diam dan tubuhnya terguncang saat Heni mengaduk bahan di wajan.
" Apa kau sedang masak sayang? " tanya seseorang yang berhasil mengagetkannya. Heni menoleh ke sumber suara. Tama tengah berdiri disamping pintu melihat apa yang dilakukannya. Heni tersenyum.
" Aku ingin buat sarapan sekalian makan siang untuk kita. Kau sudah pulang? " tanya Heni. Tama berjalan mendekatinya.
" Aku hanya ikut rapat saja. Selebihnya aku ingin bersamamu disini, " ujarnya lalu memeluk Heni dan Tania dari samping.
" Sudah Tama, lepaskan. Aku sedang masak, " tolak Heni. Tama melepas pelukannya.
" Sini biar sama aku si Tania, " ujarnya. Heni mengecilkan api dan melepas tali pengait gendongan. Selanjutnya menyerahkan bayi itu kepadanya. Dengan sigap Tama menggendong bayi itu dengan sedikit kaku karena belum terbiasa. Dia pergi dari ruangan itu yang mulai tercium aroma menusuk efek masakannya yang pedas.
" Kau suka pedas? " tanya Heni. Tapi tak ada jawaban, Heni menoleh. Dia lupa jika Tama mengajak Tania ke ruangan lain. Ups....
Tama meletakkan Tania perlahan. Bayi itu menggerak-gerakkan tangan dan kakinya secara aktif. Tatapannya lurus kearah Tama dengan mulutnya terbuka. Dia mengucap sembarang kata dan membuat Tama tersenyum. Sungguh dia sangat bahagia. Tiba-tiba ponsel disaku kemejanya bergetar, panggilan telepon dari mertuanya. Segera dia angkat.
( Halo Tama, kau bersama Heni? aku mencemaskannya. Kenapa tidak pulang semalam?)
" Iya tante, dia bersamaku. Maaf tante saya tidak memberi kabar. Nanti sore saya antarkan pulang. " Jawab Tama.
__ADS_1
Telepon pun terputus. Tama menemani lagi Tania. Heni datang dan mengatakan sarapan sudah siap dimeja makan. Dia akan menyusul setelah memandikan Tania. Tama sarapan lagi? mendadak perutnya memang merasa lapar. Dia duduk dikursi menatap sajian di atas meja dan meraih piring.
Saat menyantap sarapannya, tatapannya tertumbuk pada leher Heni yang terlihat. Dia menelan salivanya kasar. Tak dipungkirinya bersama dengan wanita yang dicintainya diruangan yang sama membuatnya sangat berhasrat. Semalam dia tak bisa tidur nyenyak karena aroma tubuh Heni yang terus menggoda jiwa kelelakiannya. Tapi ditahannya gelombang itu sekuat tenaga. Dia tak mau menerjang batasan yang pernah dilakukannya. Dialihkan tatapannya yang lemah iman ke arah lain.
Heni berjalan mendekatinya dan duduk. Dia juga akan sarapan seperti yang dilakukannya. Lagi-lagi Tama memandang Heni dengan tatapan yang tak biasa.
" Ada apa? " tanya Heni.
" Tadi mamamu telepon dan mengkhawatirkanmu. Bagaimana kalau kubelikan kau ponsel. Agar aku dan siapa saja yang mencarimu bisa dengan mudah menghubungimu, " tawar Tama. Tapi Heni menggeleng.
" gak usah, Aku ingin lepas dari benda itu dulu, " tolaknya. Tama mengernyit, hari gini betah gak pake benda itu? gak salah denger? bagaimana nasib followers nya?
" Oh ya? terus kalau aku mencarimu gimana? " tanya Tama.
" Kau bisa menghubungi ponsel mamaku, " jawab Heni tanpa beban. Padahal Tama hampir gila jika tak melihatnya.
" Ehm, gini aja nanti aku antarkan kamu pulang sekalian kita ngurus surat nikah. Aku pengen cepet sama kamu terus Yang, " rengek Tama. Heni tertawa geli. Kayak abg aja??
" Biar aku gak tersiksa jauhan sama kamu Yang. Kalau udah sah kita tinggal berdua disini, " terangnya. Heni tak menjawab, dia masih sibuk makan dengan menggendong Tania.
" Kau mau resepsi seperti apa? outdoor? atau indoor? " tanya Tama. Heni membuang napas perlahan.
" Temui dulu orang tuaku dan lamar aku kepada mereka. Konsepnya belakangan aja, " sahut Heni.
" Tapi mungkin aku akan datang melamarmu dengan papiku. Mamiku sepertinya tak menyukaimu, maaf ya sayang. Kau tak apa-apa kan? " tanyanya.
Dari dulu juga kali?
" Aku hanya ingin bersamamu bukan mamimu. Meski mungkin ke depannya jalan yang kita hadapi berat tapi jika kita terus bersama dan saling menguatkan pasti kita bisa menghadapinya. Aku percaya kepadamu dan kuharap kau juga begitu. Meski dulu aku sempat merusak kepercayaan dari mantan suamiku karenamu, " ujar Heni. Tama tercekat. Kata-kata kekasihnya menancap dalam. Heni sudah pernah berumah tangga dan merasakan pahit getirnya. Meski dia tak begitu paham penyebab detail perpisahan mereka, tapi baginya Heni adalah wanita yang berpendirian dan mandiri. Itulah poin yang disukainya selain berparas cantik. Wanita itu selalu bisa menarik hatinya hingga saat ini.
" Jangan menyebut mantan suamimu disini, aku tidak suka, " ujar Tama. Heni mengulum senyum.
__ADS_1
" Hanya mantan, sekarang aku bersamamu bukan? " tanya Heni.
Sungguh Tama membenci lelaki yang menurutnya bodoh itu. Lelaki yang tak bisa memberi kabahagiaan sempurna untuk Heni. Meski akhirnya Heni jatuh ke pelukannya lagi. Dia cemburu, sekedar mantan jangan membahas tentangnya sedikit pun.
Heni merangkul bahu Tama,
" Kau marah? " tanya Heni sedikit gemas melihat lelaki itu mencebikkan mulut dan membuang muka. Dia memegang dagu Tama dan mendekatkan ke wajahnya.
" Antar aku pulang dan minta aku dari mamaku, " ujarnya. Tama berdebar-debar dengan permintaannya. Hatinya serasa jumpalitan dengan aneka rasa. Perasaan ragu, takut, cemas dan bahagia melebur jadi satu.
Heni juga terkejut dengan perkataan yang meluncur begitu saja dari mulutnya untuk sekedar menghibur Tama. Dia tidak percaya diri karena predikat janda yang melekat padanya. Walau dari perbedaan umur mereka tak nampak, justru Tama selalu berusaha mengimbanginya dengan berpenampilan agak melebihi dari usianya.
" Jadi? " tanya Heni.
" Nanti sore saja, aku akan menyuruh asisten ku untuk membawakan mobil kemari. Aku masih ingin bersamamu disini, " ujar Tama. Dia sangat senang.
Tania terus bergerak karena tak nyaman dalam pelukan sang mama. Heni membaringkannya di ranjang. Tania langsung tengkurap dengan kepala terangkat menatap ke depan. Heni duduk mengusap punggung sang anak.
" Sayang Mmm.... "
" Apa? " tanya Heni tak mengerti maksud dari bibir Tama yang monyong. Tama mengulanginya lagi. Heni menepuk bibir itu dengan telapak tangannya.
" Aw.. sakit Yang, " rengek Tama manja.
" Minta kisssssss........ " rengek Tama. Lelaki muda ini benar-benar membuat Heni geleng-gelang kepala dengan tingkahnya. Heni mendaratkan ciuman ringan dan segera menarik menjauhkan dirinya dari Tama yang merem melek karena melihatnya. Sungguh Heni membuatnya semakin gelinjangan jika berdua. Nalurinya terpantik dan semakin menegang saja. Dia tahan lagi rasa itu.
Sebaiknya aku tidur diruang tamu.
Tama bangkit menjauh dari Heni. Dia takut tak bisa menahan hasratnya lagi yang sedemikian dahsyatnya menggelora membakar otot-otot bawahnya. Dan adrenalinnya yang berpacu kencang melebihi putaran jarum jam. Heni menatapnya datar tak tahu keanehan yang dirasakan kekasihnya itu. Tama pun tidur disofa ruang tamu yang menghadap ke televisi layar datar. Jiwanya mulai netral.
Sorenya mereka bersiap untuk ke rumah Heni. Mereka sudah berpakaian rapi. Tinggal menunggu Tania yang sedang dimandikan.
__ADS_1
Mobil segera melaju menuju tempat tujuan. Tama terus bersiul bahagia dengan mengemudi. Lelaki yang kini jauh lebih bersemangat untuk hidup. Dia sudah tak pesimis lagi menjalani harinya tanpa Heni. Wanita itu sudah bersama dan mewarnai kesendiriannya.
Mendung kelabu menggelayut melukis langit cakrawala, menandakan hujan deras akan segera mengguyur. Tama melajukan kendaraannya agar cepat sampai. Dia khawatir putri kecilnya terkena tetesan hujan saat turun nanti. Bukankah itu bisa mendatangkan penyakit untuknya? pikiran paranoidnya sebagai seorang bapak mulai mendeteksi hal yang masih berdasar kemungkinan belaka.